Aluna harus kuat menerima kenyataan bahwa dirinya dikhianati dan penuh percaya diri untuk hadir pada pernikahan sang mantan. Tapi hatinya tidak sekuat itu, hatinya rapuh. Ia akan pergi dari kehidupan lama dan mencoba mencari kebahagiaan. Sayangnya, Tuhan masih terus mengujinya sampai ia bisa menemukan kebahagiaan yang dicari.
Dia memang harus berjuang ketika kenyataan tak seindah yang dibayangkannya. Namun akhirnya, ia menemukan seseorang yang bisa membuatnya bahagia. Bukan hanya tentang cinta tapi juga bahagia dan rasa nyaman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
Aluna sadar. Ia mencium aroma obat, lalu membuka matanya. Matanya terasa silau, beberapa kali ia mengerjapkan matanya. Lalu melihat ke langit-langit kamar. Sepertinya ia berada di rumah sakit. Ia sendirian. Untunglah tangannya bebas tanpa infus.
Aluna segera duduk sambil memegang kepalanya yang sedikit berdenyut. Entah dimana Leo. Hal terakhir yang diingatnya seseorang menuduhnya. Suaranya seperti tidak asing.
Pintu terbuka, seorang dokter dan perawat masuk sambil tersenyum kearahnya. Aluna balas tersenyum.
"Gimana keadaannya?" Dokter Ilham bertanya. Aluna tahu dari name tag di dadanya.
"Sedikit pusing,"
"Tadi donor darah ya?" tanyanya sambil memeriksa tensi. Aluna mengangguk.
"Ok, sudah bagus. Itu efek kelelahan, efek donor dan juga ada trauma. Apa yang terjadi?" tanyanya lalu dokter Ilham menarik kursi dan duduk. Aluna jadi merasa tak enak.
"Tadi teman saya menabrak seorang gadis, sepertinya parah. Dimana gadis itu? Apa dia selamat?"
"Tenanglah, cerita perlahan," Dokter Ilham tersenyum.
"Tapi gadis itu..."
"Dia baik-baik saja. Belum sadar tapi kondisinya sudah membaik karena luka-lukanya sudah dijahit,"
"Parahkah?"
"Lumayan tapi untuk detailnya kita tunggu dia sadar. Dan aku bertanya padamu, bagaimana keadaanmu? Dan dimana kamu selama ini?"
"Maksudnya?" Aluna malah heran dengan dokter ini. Ia merasa dokter Ilham sok akrab.
"Selama ini kamu di kota ini? Apa kamu melupakan sesuatu? Aku misalnya?"
"Bagaimana aku melupakan sesuatu? Maaf tapi apa kita pernah kenal sebelumnya?" tanya Aluna.
"Alunaaaa.... Alunaaa... Kamu benar-benar lupa sama aku?"
"Siapa?"
"Aku Ilham, yang dulu pernah janji di perpustakaan bahwa setelah aku lulus menjadi dokter aku akan mentraktirmu," Dokter Ilham tersenyum. Aluna masih berusaha mengingat.
"Kamu beneran lupa? Yang suka narik kepangan rambut kamu waktu sekolah," katanya sambil melirik Aluna. Aluna berpikir sesaat kemudian teringat seseorang.
"Lah? Kamu?"
"Iya aku, si murid nakal suka nangisin kamu," Ilham tergelak. Aluna menunduk malu saat ingatannya kembali.
Dulu Aluna sering nangis karena ulah Ilham. Rambut panjangnya sering jadi bulan-bulanan. Ditarik hingga Aluna menangis. Terkadang Ilham suka menyembunyikan tasnya atau sengaja datang siang saat piket kelas. Sering membuat Aluna kesal tapi tak bisa membalas.
Namun saat kelulusan SMP mereka maalh bertemu di perpustakaan. Sama-sama mengembalikan buku pinjaman. Di saat itulah Ilham meminta maaf. Melihat kesungguhannya Aluna pun memaafkannya.
Aluna ingat saat mengembalikan buku. Ilham mengembalikan sebuah buku ensiklopedi tubuh manusia. Aluna mencibir melihatnya.
"Suatu saat, kalau kamu terluka di jahatin orang lain. Aku bakal ngobatin kamu. Sebagai permintaan maaf karena udah nyakitin kamu. Aku janji,"
"Berjanjilah kamu bakal jadi anak baik. Jangan jahatin anak-anak,"
"Siap bos!"
Aluna teringat percakapan mereka lalu tersenyum.
"Udah ingat?"
"Udah. Kamu nggak ada jahatin anak lain kan?"
"Nggak, kadang-kadang aja hehehe," Dokter Ilham cengengesan.
"Aluna?" Leo masuk ke ruangan Aluna di rawat.
"Ya? Kamu dari mana? Gimana gadis itu?" tanya Aluna bertubi-tubi
"Belum sadar, kamu gimana?" tanya Leo melewati dokter Ilham
"Aku gak apa-apa,"
"Oh ya, saya permisi dulu. Banyak istirahat dan makan jangan terlambat ya," Ilham segera bangkit dan pamit pada Leo.
"Terimakasih dokter," kata Leo, dokter Ilham mengangguk sedikit lalu keluar ruangan. Leo segera duduk di samping Aluna.
"Kamu dari mana?" tanya Luna
"Aku abis dari kamar Anggi, gadis itu namanya Anggi dan dia...."
Tiba-tiba suara gaduh terdengar dari luar hingga Leo urung berbicara.
"Aku sudah tau dari awal! Memang ya tu orang nggak ada jeranya!"
"Sudahlah! Ini rumah sakit dan bukan salah dia!"
"Nggak! Minggir! Aku kasih dia pelajaran!"
Aluna duduk tegak, ia kenal suara itu. Itu suara Cindy dan Dirga! Ada apa mereka di rumah sakit ini? Tentu ini bukan sebuah kebetulan.
Pintu terbuka. Cindy dan Dirga masuk ke ruangan Aluna.
"Hei, kamu jangan selalu mencari gara-gara ya. Nggak puas kamu dengan yang selama ini kamu lakuin?" Cindy menunjuk Aluna.
"Please sudahlah!"
"Apa sih kamu? Kamu belain dia? Gitu?" Bentak Cindy pada Dirga yang menarik tangannya.
"Udah lah, ini di rumah sakit. Pelankan suaramu," Bujuk Dirga.
"Terus kenapa? Kamu malu karena belain mantan kamu terus? Bukannya belain istri,"
"Ingat kehamilan kamu!"
"Alaaah, sudahlah. Ini urusanku dengan dia," tunjuk Cindy ke arah Aluna.
Kepala Aluna agak berdenyut dengan suara keributan suami istri di depannya.
"Ada apa lagi? Kalau ada yang belum selesai, kita selesaikan. Aku muak di tuduh yang bukan-bukan,"
"Ooo... bagus. Akhirnya kamu sadar. Setelah kamu menggoda suamiku sekarang kamu bikin hidup sepupuku sekarat,"
"Dia tidak sekarat, dia akan segera sadar. Aku lah yang menabrak. Jangan salahkan Luna lagi," kata Leo tiba-tiba bangkit.
"Oooh kamu belain perempuan ini? Pelakor..."
"Siapa sebenarnya pelakor? Aku malas berdebat denganmu. Kalau kamu masih buat keributan aku laporkan kamu,"
"Ngelunjak kamu," Cindy geram dengan Aluna yang berani melawannya. Cindy berlari dan akan menjambak Aluna tapi dibentengi oleh Leo. Sementara tangannya ditarik Dirga agar mereka keluar.
Mereka berdua segera keluar. Dirga menarik Cindy dengan paksa. Aluna hanya terdiam di atas tempat tidurnya.
"Kamu nggak apa-apa? Maafin aku yang bikin kamu berada di situasi begini,"
"Bukan salah kamu, ini salah kita,"
"Terimakasih sudah mendonorkan darah untuk menolong Anggi. Sayang sepupunya memiliki attitude yang buruk,"
"Aku nggak bisa bantu apa-apa selain donor. Syukur darahnya cocok. Aku ingin istirahat sejenak. Rasanya lelah sekali,"
"Istirahatlah, aku akan menemanimu," kata Leo yang membaringkan diri di kursi tamu.
Tapi mereka berdua bukannya tidur. Semua sibuk dengan pikiran masing-masing. Malam yang berat. Mereka harus melalui semua ini. Dan ternyata Anggi adalah sepupu Cindy sungguh membuat Aluna semakin terpojok. Ia berharap masalah ini selesai malah menambah masalah baru.
Perlahan Aluna bangkit setelah menunggu waktu Leo tertidur. Ia segera beranjak dan pergi keluar ruangan. Perlahan ia menuju ruangan Anggi. Gadis itu terbaring dengan perban membalut kepalanya. Aluna masuk dan duduk di samping tempat tidur Anggi.
"Hai, kamu belum kenal aku. Tapi aku mohon kamu segera sadar. Aku minta maaf karena aku kamu terluka. Aku ingin kamu bangun dan sehat kembali. Aku..." Aluna tak melanjutkan kata-katanya. Ia lelah berurusan dengan Cindy. Dan semua tuduhan-tuduhannya.
"Aku mohon bangun dan pulih kembali. Maaf tak ada yang dapat aku lakukan," Aluna segera beranjak dan keluar ruangan. Suasana sepanjang lorong rumah sakit sepi. Mungkin ini telah lewat tengah malam. Aluna tak ingin berlama-lama. Ia segera memesan taksi online lalu pulang ke apartemennya. Ia harus beristirahat.
Entah kenapa ia seperti pengecut, menghindari semua masalah yang terjadi meski bukan dia penyebabnya. Tapi semua itu malah berhubungan dengannya semakin membuat Cindy membencinya.
Mungkin memang benar cinta Cindy sangat besar untuk Dirga. Sungguh beruntung Dirga. Sayangnya Dirga terlalu lemah pada wanita sehingga Cindy bisa menuduh Aluna dan menjebaknya. Akankah Aluna mendapatkan kebahagiaannya?
masih mending tuh dirga bilang maaf. aq bilang gentle drpd mantan aq yg minta maaf malah oeang tuanya, pengecut bukan? tapi aq bersyukur sekarang aq mendapatkan cinta yg besar dr suami aq.