Indonesia
NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Hitam

Pendekar Pedang Hitam

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Mengubah Takdir / Chicklit
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Salma Nadia

"Aku benci diriku sendiri. Kulit gelap ini kutukan yang tidak bisa aku hilangkan. Sialan! Aku bahkan tidak meminta untuk dilahirkan. Memang siapa yang mau hidup seperti ini?!"

Hanya karena perbedaan warna kulit, Jia Li didiskriminasi di sekte. Mendapat banyak hinaan, bahkan keluarganya sendiri tidak pernah menganggap dirinya ada. Apalagi Jia Li tidak memiliki kemampuan apa pun, yang semakin dipandang remeh dan rendah.

Hati kecilnya itu, terluka parah. Setiap malam tiba, dia menangis memandang nabastala. Mengutuk takdir kejam. Menyumpahi diri sendiri agar cepat mati, karena tidak kuat menanggung rasa sakit.

Sampai, dia melarikan diri dari sekte. Banyak hal yang terjadi sampai nyaris nyawanya terenggut. Semakin banyak pula orang-orang yang mengucilkan hanya karena warna kulit. Semakin banyak pula cacian yang dia dengar.

Sejauh Jia Li melarikan diri, semakin dirinya putus asa. Tidak ada obat penyembuh untuk kutukan itu. Yang ada dia malah jadi incaran sekte aliran hitam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salma Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16 - PERTARUNGAN II

Pendekar yang masih membawa bayi bernama To Mu. Dia adalah Pendekar yang sedang diserang oleh segerombolan musuh.

Lima orang sekaligus berjalan ke arah To Mu sembari menenteng pedang besar nan tajam.

"To Mu, serahkan kepalamu sekarang juga!"

Musuh bernama Wei Heng menunjukkan kemarahan. Dia bahkan tidak menurunkan pedang di depan wajah To Mu.

Aura membunuhnya begitu besar. Tapi To Mu masih bertahan dan dengan erat memegang pedang.

"Pertarungan akan semakin sulit jika Yong Shen tidak diletakkan di tempat aman." To Mu mengeraskan rahang. Melirik sekilas, ke bayi bernama Yong Shen di gendongan. Kemudian dia menatap Wei Heng nyalang.

"Kaulah yang harusnya memberikan kepalamu kepadaku, Wei Heng. Jika tidak, aku akan mengambil nya sendiri sama seperti kepala ayahmu."

Ucapan To Mu kontan menambah bara emosi lawan. To Mu sama sekali tidak takut jika melawan, tapi dia harus memikirkan bayi kecil ini.

Mata Wei Heng menatap tajam. Tangannya semakin erat memegang pedang tajam berumur darah. Dengan suara keras berkata, "To Mu, akan kubalas kematian ayahku dengan menghabisi seluruh keluargamu ...!"

Wei Heng melesat dengan mengayunkan tangan penuh tenaga dalam. Pedang tajam nya berbenturan keras dengan pedang lawan. Dalam sekejap pertarungan terjadi begitu sengit. Kedua nya sama-sama kuat dan memiliki gerakan berpegang hebat.

Walaupun To Mu hanya menggunakan satu tangan dan harus melindungi Yong Shen. Tapi kemampuan nya masih bisa mengimbangi lawan yang semakin cepat menyerang.

Rekan Wei Heng hendak membantu, tetapi Wei Heng dengan keras ingin menghabisi To Mu sendiri.

"Akan kubuat kematianmu menyedihkan, To Mu ...!"

Suara menggelegar Wei Heng membuat tangis bayi pecah. Konsentrasi To Mu sedikit teralih ke arah bayi. Bertarung dengan membawa nyawa manusia memang sangat berbahaya, tapi To Mu tidak memiliki cara lain.

Pedang Wei Heng nyaris mengenai kaki To Mu andai dia tidak segera menghindar dan langsung melentingkan tubuh. Menatap tajam musuh yang tidak menghentikan pergerakan.

To Mu menendang dua meja sekaligus ke arah Wei Heng, tapi dengan cepat Wei Heng membelah kedua meja menggunakan satu ayunan tenaga pedang.

Di bagian belakang, tiga rekan Wei Heng sudah menghabisi semua orang-orang biasa. Darah serta tubuh manusia bergelimangan tidak bernyawa. Ketiga rekan tersebut melesat ke arah depan, tidak tahu jika masih ada orang yang tertidur di salah satu kamar.

Daun pintu kamar yang digunakan Jia Li terbuka. Bocah itu kontan menutup mulut yang hampir berteriak melihat pemandangan ini. Tubuhnya melemas, termundur. Baru anyir menyeruak begitu saja. Sebenarnya dirinya mendengar bagaimana suara teriakkan menggema meminta tolong. Suara pedang yang menebas tubuh. Tapi Amdara tidak berani keluar kamar, dia hanya bisa menahan tangis agar tidak bersuara, dan sebisa mungkin agar tidak berteriak.

Dia memang mulai terbiasa melihat darah dan daging binatang. Tapi belum dengan manusia. Apalagi kondisi manusia yang sudah tidak bernyawa itu benar-benar mengenaskan.

"A-apa ada pembunuh?"

Jia Li menelan ludah susah payah. Dia berusaha, menenangkan diri. Tidak mengeluarkan isi perut dan menenangkan diri.

"Di mana Kakek Wang?" Jia Li tersentak. Entah di mana Wang Chunying, tapi dia harap baik-baik saja.

Kekhawatiran mulai menggerogoti. Dengan keberanian dadakkan, melewati para mayat berumur dari untuk menuju kamar Wangi Chunying. Namun, seketika kakinya tidak berkutik. Pandangannya mengarah ke dua orang yang sedang bertarung sengit.. Apalagi satu orang itu membawa bayi, yang jelas sangat berbahaya. Karena sebelumnya Jia Li terlalu syok hingga tidak menyadari ada pertarungan.

Kakinya perlahan mundur, takut jika mereka menyadari nya, nyawa akan segera melayang dalam hitungan detik.

Delapan orang tidak ikut andil dalam pertarungan. Mereka hanya melihat, tapi masih dengan kewaspadaan.

Denting pedang saling bertemu, menimbulna suara khas. Tangis bayi juga turut mewarnai. Banyak meja yang sudah hancur, bahkan di tempat yang tidak terlalu luas ini mereka tidak keluar penginapan agar bisa bertarung dengan leluasa.

"To Mu, sebentar lagi suara tangis bayimu akan lenyap. Kau juga akan melihat bagaimana bagian tubuh bayi itu akan terpotong dalam beberapa bagian."

Suara Wei Heng membuat To Mu tersulut emosi. Dia semakin berhati-hati dalam mengambil gerakan.

"Jika kau berani menyentuh nya barang secuil pun, kau akan tahu akibat nya." Tatapan kemarahan tidak sirna dari mata To Mu.

Wei Heng malah tertawa bringas. Dan melakukan kode kepada salah satu rekannya. Kode tersebut dipahami.

Jia Li ingin pergi, tapi suara tangis bayi itu membuatnya merasa kasihan.

"Bagaimana jika bayi itu tewas? Dia tidak bisa melihat kebahagiaan dunia."

Matanya melihat bagaimana To Mu mulai kesulitan dalam bertarung. Konsentrasi nya sudah terpecah akibat suara tangis. Jia Li membuka mata lebar saat rekan Wei Heng hendak menyerang dari arah tidak terduga.

"Di atasmu ...!"

Refleks Jia Li berteriak memberi peringatan. Suaranya membuat semua pandangan ke arah nya terkecuali To Mu yang langsung menghindar, dan si rekan Wei Heng.

Jia Li menutup mulut seketika. Jantung berpacu lebih cepat melihat rekan Wei Heng menatap nya tajam dengan aura membunuh.

"T-tidak. Aku melakukan kesalahan." Jia Li mundur perlahan. Dia yakin rekan-rekan Wei Heng akan langsung menancapkan pedang di jantung. Jia Li menghentikan langkah. Tatapan nya teralih ke bayi di gendongan pendekar.

"Jika aku pergi ... aku akan melakukan kesalahan lebih besar." Jia Li menggeleng. Tangannya memegang gagang pedang. Dia takut, tapi hatinya mengatakan lain.

Tanpa diduga, kakinya melesat begitu saja dengan pedang terlepas dari sarung. Menangkis serangan yang nyaris mengenai kepala si bayi.

Kedatangan nya yang begitu cepat sampai membuat rekan-rekan Wei Heng terhenyak. Termasuk To Mu yang menoleh kaget.

Jia Li sendiri berusaha menahan gemetar. Tangkisannya barusan cukup membuat lawan termundur.

"T-tuan Pendekar, berikan bayi nya padaku. Kau bisa bertarung lebih mudah."

To Mu ragu, tapi merasakan bocah berkulit gelap ini orang baik, dia mengangguk. Memberikan anaknya pada Jia Li.

"Hati-hati. Mohon bantuanmu."

Jia Li mengangguk. Ini pertama kalinya dia menggendong seorang bayi.

"Bocah sialan. Bunuh dia!" Wei Heng bertambah marah. Menatap Jia Li penuh bara emosi.

Delapan pendekar sekaligus melesat hendak menyerang Jia Li. Tapi To Mu menangkis cepat sekaligus.

"Pergilah ke tempat yang aman. Aku akan melindungi," pesan To Mu.

Jia Li melesat pergi masih memegang pedang dan bayi di tangan kiri.

Suara dentingan pedang dan teriakkan Wei Heng terdengar menggema. Beruntung To Mu bergerak cepat menghalangi dan bertarung lebih bebas.

Jia Li harus melewati manusia yang tiada dj pintu belakang. Agak berjinjit saat melewatinya. Dia mengedarkan pandangan, gelap. Mencari tempat tersembunyi.

Dia terus berlari, mencari tempat aman. Suara tangis bayi itu membuat beberapa orang memperhatikan. Apalagi melihat warna kulit Jia Li yang berbeda dari orang biasa. Jia Li lupa bahwa dirinya tidak mengenakan tudung untuk menutup wajah.

"H-hei, tenanglah. Kau akan baik-baik saja." Jia Li menghentikan lari. Menggoyang-goyangkan pelan tangan kiri, berusaha menenangkan si bayi. Tapi bukan nya tenang, malah tangis nya semakin menjadi.

"Bagaimana menenangkan seorang bayi? Aish." Jia Li menggigit bibir. Memutar otak mencari cara.

Wajahnya tiba-tiba berubah. Menampakkan kekonyolan. Berharap itu berhasil menghibur. Tapi itu hanya harapan semu.

"Nak, apa adikmu belum makan?"

Suara seorang wanita membuat Jia Li kontan menoleh. Dirinya menaikkan alis, belum sempat menjawab tapi wanita itu memberikan satu tusuk tanghulu.

"Berikan itu pada adikmu. Aku tidak memiliki susu untuk nya," jelas nya.

Ragu Jia Li melihat tanghulu tersebut. Tapi tangis bayi ini membuatnya terpaksa mengambil nya setelah memasukkan pedang ke sarung.

"Terima kasih, Nyonya."

Dengan sopan Jia Li sedikit membungkukkan badan. Wanita tersebut mengangguk dan melenggang pergi tanpa mengatakan sepatah kata lagi.

Jia Li mendekatkan tanghulu ke mulut bayi. Di luar perkiraan, bayi itu terdiam dan mulai menjilat sedikit tanghulu di dalam mulut kecilnya. Kebetulan sekali tanghulu tersebut jauh lebih kecil dari tanghulu biasanya.

Jia Li menghembuskan napas lega. Dia memandang si bayi sambil tersenyum. Bayi itu terlihat berwajah bersih. Jia Li yakin, bayi tersebut akan tumbuh menjadi remaja tampan.

"Beruntung sekali kau."

Ada rasa sedih menggerogoti. Mengingat dirinya berkulit sangat gelap. Jia Li segera menggeleng sadar. Sekarang bukan waktunya merenungi nasib.

"Aku harus mencari tempat aman."

Dia kembali pergi mencari tempat aman. Pandangannya mengarah ke lorong sedikit gelap. Tanpa pikir panjang dia bersembunyi di sana.

Jia Li duduk bersila, di samping nya ada tong besar yang menutupi nya. Beruntung nya si bayi bisa di ajak kerja sama dengan tidak menangis.

Dirinya menghembuskan napas lega. Tersenyum ke arah bayi lalu buka suara, "ini keajaiban bagi ku memiliki keberanian."

"Sayang sekali keberanianmu hanya sampai hari ini, bocah."

Suara asing mengagetkan Jia Li yang sontak berdiri. Matanya terbuka lebar melihat pria yang merupakan rekan Wei Heng.

1
Cipta Hendra
udh 21 bab crtany msh gtu aj tdk berkembang sma skali ...
Cipta Hendra
lambat alur nya ...
Sribundanya Gifran
lanjut💪💪💪💪💪
Sribundanya Gifran
lanjut thor💪💪💪💪
Sribundanya Gifran
lanjuuuuuttttttt
Ama_Shuxiang: InsyaAllah 🙏🏼
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!