Naina mengira akan hidup bahagia, setelah berstatus sebagai istri dari Romi, seorang pengusaha kaya dan terkenal di negaranya, tapi ternyata banyak cobaan hidup yang harus ia jalani sesudah pernikahan itu.
Awalnya, mereka menikah hanya sebatas kerjasama bisnis, dan Romi tidak mencintai Naina karena gadis itu tuna wicara. Namun, seiring berjalannya waktu perasaan Romi mulai berubah pada istrinya, dan mereka mulai tertarik satu sama lain.
Suatu hari, hal naas terjadi kepada Romi yang mengalami kecelakaan hingga ia menderita kebutaan.
Setelah kecelakaan itu Naina di perlakuan sangat tidak baik oleh keluarga Romi, terutama sang ibu mertua, karena mereka menganggap perempuan itu pembawa sial.
Bagaimana sebenarnya kecelakaan itu terjadi, dan apakah benar Naina penyebabnya? Akankah Naina terus bertahan dalam penyiksaan mertuanya, dan akan hidup bahagia bersama Romi ?
Yuk ikuti terus kisah mereka!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gentra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Mencari pendonor
Selama tiga hari Naina di rawat, Adam selalu mendampingi nya. Laki-laki itu tidak mau jauh dari gadis kecil yang selalu merepotkan nya, hati nya senang jika Naina selalu melibatkan dirinya di setiap masalah. Entah mengapa hati nya selalu terikat dengan Naina, ia merasa bahwa Naina adik perempuan nya yang menggemaskan. Apalagi saat tersenyum, ia seperti melihat sang Mama pada diri Naina. Tetapi itu semua tidak mungkin sebab Naina juga memiliki keluarga yang jelas.
Adam kehilangan adik perempuan nya pada usia 8 tahun itu di akibatnya karena kecelakaan, dan setelah itu keluarga nya pindah ke kota yang sekarang di mana tetanggaan dengan keluarga Naina. Sejak Saat itu Adam selalu memperhatikan Naina saat mau berangkat atau pun pulang sekolah, entah kenapa sejak dulu Adam selalu menjadi pelindung bagi Naina. Bahkan saat orang-orang mem-bully Naina ia yang selalu pasang badan untuk melindungi nya.
Adam selalu berfikir bahwa Naina adalah adik nya dalam wujud yang lain, sedangkan Naina juga merasakan hal yang sama. Selalu merasa aman dan di lindungi saat dekat dengan Adam.
Hari ini Naina akan pulang dari rumah sakit, ia di rawat akibat kena siram minyak panas. Selama itu juga keluarga Romi selalu datang mengunjungi nya setiap hari, sebab ia takut jika Adam melaporkan nya kepada pihak yang berwajib.
Adam dan Naina percaya bahwa sang mertua nya itu beneran berubah, tetapi entah lah. Itu beneran berubah atau hanya pura-pura, Adam juga belum begitu percaya. Tetapi Adam membiarkan Naina untuk kembali ke rumah suaminya, dengan satu syarat. Jika terjadi sesuatu lagi dengan Naina. Maka, Adam akan membuat perhitungan dengan semua orang yang berusaha untuk menyakiti Naina.
Dan syarat itu di setujui oleh Naina, ia akan menuruti semua perkataan Adam. Termasuk juga memisahkan Naina dengan Romi, meskipun Naina sangat mencintai suaminya jika keluarga sang suami selalu menyakiti Naina. Maka Adam akan memaksa Naina untuk jauh dari keluarga yang selalu menyakiti nya. Untuk apa juga bertahan dengan semua rasa sakit.
"Kali ini aku mau menuruti semua keinginan kamu untuk kembali ke rumah itu, tapi jika terjadi sesuatu dengan mu. Maka aku tidak akan pernah bertanya lagi kepada mu, terpaksa aku lakukan sesuatu untuk menjauhkan mu dari keluarga itu. Termasuk dari suami kamu" kata Adam yang di tulis di buku catatan kecil, yang selalu Naina gunakan untuk berkomunikasi dengan orang lain.
"Iya, aku akan nurut apa kata Kakak jika mereka menyakiti ku lagi"
"Bagus, anak pintar... ayok kita pulang sekarang" ajak Adam terhadap Naina yang sudah bersiap untuk segera pulang ke rumah sang mertua.
Akhirnya Adam dan Naina keluar dari rumah sakit, setelah menyelesaikan semu administrasi nya. Selama di perjalanan Naina hanya diam saja, sesekali Adam melirik ke arah perempuan itu.
Perjalanan yang di tempuh tidak terlalu jauh sehingga mereka sudah sampai di rumah, Naina langsung turun dari kendaraan setelah mengucapkan terimakasih kepada Ada. Lalu berjalan perlahan untuk segera masuk, Adam masih menatap kepergian Naina hingga tidak terlihat lagi. Dan akhirnya Adam memarkirkan kendaraannya untuk segera pulang.
Naina sudah berada di dalam rumah,yang ada di dalam rumah tanpa memperdulikan kedatangan nya. Ia langsung pergi ke kamar belakang untuk segera mengistirahatkan tubuh nya.
Waktu bergulir begitu cepat, satu minggu telah berlalu dan selama itu pula tidak ada lagi kekerasan dari sang mertua. Entah itu sudah berubah atau sedang menyusun rencana untuk mencelakai Naina. Tetapi Naina tidak mau ambil pusing, ia terus melakukan pekerjaan sebagai mana mestinya. Sandra juga masih tinggal di rumah ini, dengan alasan kedua orang tuanya masih belum pulang ke rumah. Upaya untuk menjodohkan Romi dan Sandra terus di lakukan oleh Rasti, dan sampai sekarang siksaan batin masih di terima. Hanya lahir nya saja yang tidak mendapatkan kekerasan untuk saat ini.
Pagi hari Naina sudah selesai mengerjakan semua aktivitas nya, termasuk juga menu sarapan yang sudah terpampang di dinding dapur di tulis Rasti agar Naina tidak salah dalam mengerjakan tugasnya di rumah ini.
Di ruang keluarga, Rasti baru saja mendapatkan panggilan telepon dari dokter yang menangani Romi. Ia memberi tahu bahwa sampai saat ini belum juga mendapatkan pendonor untuk Romi.
Berbagai cara telah di lakukan termasuk membuat iklan di semua sosial media, Rasti juga tidak sepenuhnya mengandalkan dokter. Rasti hampir putus asa untuk mencari pendonor untuk sang anak, hal itu membuat nya uring-uringan. Hingga Naina yang menjadi korban pelampiasan atas semua kemarahan nya.
Hari ini Rasti sudah berhasil membuat Naina tersungkur di lantai gara-gara, salah membuat menu sarapan.
Rasti pergi ke dapur untuk sarapan pagi, meskipun hatinya sedang tidak baik-baik saja tetapi perut nya ingin mendapatkan asupan makanan. Ia langsung menuju meja makan, di sana sudah tersedia dengan menu yang di siapkan oleh Naina. Tetapi Rasti merasa kesal dengan menu yang ada, ia langsung berjalan cepat untuk segera menemui Naina. Selama satu minggu ia tidak menyiksa Naina, saat ini kemarahan nya semakin memuncak. Ada masalah lain di lampiaskan terhadap sang menantu yang sama sekali tidak bersalah.
Di saat sampai di kamar Naina, Rasti melihat Naina sedang memainkan ponsel sambil senyum-senyum sendiri. Dan kemarahan itu semakin memuncak, ia langsung menarik rambut panjang Naina hingga tersungkur. Pada saat itu Naina sedang duduk di kursi plastik hingga mudah sekali untuk jatuh.
"Dasar perempuan nggak tahu di untung, di kasih hati minta jantung. Kerja nggak ada yang bener coba kamu liat meja makan apa yang di masak hari ini, apa kamu juga ikut buta sehingga tidak bisa membaca dengan benar" kata Rasti dengan penuh amarah.
Naina perlahan bangkit sambil mengelus jidatnya yang terasa sakit.
Aku pikir ibu telah berubah tidak akan pernah menyakiti ku lagi, tapi nyatanya itu semua palsu. Dia melakukan ku dengan baik saat di hadapan kak Adam, memang kemarahan nya pada ku sudah menjadi darah daging sehingga tidak mungkin berubah dalam waktu sekejap. Semoga saja dia memiliki umur yang panjang, agar punya kesempatan untuk memperbaiki dirinya nanti.
Naina bangkit dengan perlahan dan mengikuti langkah ibu mertuanya hingga sampai di meja, dan Rasti langsung memberi tahu kesalahan Naina. Perempuan itu tidak membaca dengan teliti catatan yang sudah di siapkan oleh Rasti, ia mengakui bahwa salah untuk kali ini. Dan mengganti makanan dengan yang baru, sementara Rasti kembali ke ruang tengah di mana ada Sandra dan juga Rini di sana.
Buktikan kepada Naina bahwa kamu mencintainya
Wahai emakkkk kenapa sifatmu bikin orang darah tinggi ga ada baiknya sedikitpun