Indonesia
NovelToon NovelToon
The Ustaz'S Dark Secret

The Ustaz'S Dark Secret

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Di balik jubah dakwahnya sebagai ustadz muda karismatik, Musa menyimpan rahasia besar sebagai mafia yang disegani. Selama setahun, ia terus bayangi sosok wanita misterius yang pernah mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkannya dari jebakan musuh sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.

​Titik terang muncul ketika orang tua Musa, Kyai Adam dan Umi Sinta menjodohkannya dengan Musdalifah, putri seorang sahabat. Namun, kejutan besar menanti: wanita misterius yang dicarinya selama ini ternyata adalah Laila, adik kandung Musdalifah. Tanpa ragu, Musa menolak Musdalifah dan menuntut untuk menikahi Laila. Decision nekat itu tidak hanya memicu rasa sakit hati dan dendam Musdalifah, tetapi juga menyeret mereka ke dalam konflik keluarga yang sengit, dibayangi oleh rahasia masa lalu serta bahaya dari dunia kelam Musa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Sesampainya di rumah sakit, perawat Tika yang sedang berdiri di depan pintu ruang IGD membelalakkan matanya saat melihat Dokter Laila melangkah masuk.

Ia terperanjat bukan hanya karena melihat Dokter Laila kini mengenakan cadar hitam yang anggun, melainkan juga karena sosok pria tampan berwibawa dengan pakaian koko rapi yang berjalan tegap di sampingnya.

Bukankah itu Ustaz Musa? gumam Tika dalam hati, mengenali paras ustaz muda yang terkenal terpandang dan sangat dihormati itu.

Melihat raut terkejut rekannya, Laila menghentikan langkahnya sejenak dan tersenyum hangat di balik cadar.

"Tika, perkenalkan ini suamiku, Ustaz Musa," tutur Laila memperkenalkan pria di sampingnya.

Deg!

Tika sedikit terkejut ketika mendengar perkataan dari Laila.

Ia membelalak tak percaya bahwa dokter muda yang biasanya sangat tertutup tentang kehidupan pribadinya ini tiba-tiba sudah berstatus sebagai istri dari seorang ustaz terkemuka.

Namun, menyadari situasi darurat yang sedang mereka hadapi, Tika cepat-cepat menguasai diri dan mengangguk hormat pada Musa.

"Ayo Tika, kita ke ruang operasi sekarang," ajak Laila tegas, memfokuskan kembali pikirannya pada nyawa pasien yang harus diselamatkan.

Laila memalingkan wajahnya menatap Musa sejenak.

"Musa, aku masuk ke dalam dulu ya. Kamu tunggu di luar saja."

Musa mengangguk pelan, menatap istrinya dengan pendar mata hangat penuh dukungan.

"Semoga semuanya lancar, Istriku. Aku akan menunggumu di sini."

Sebelum menuju ke ruang operasi, Laila melangkah masuk ke ruang sterilisasi untuk mengganti pakaiannya.

Ia melepaskan cadar hitamnya dengan hati-hati, lalu menggantinya dengan masker medis serta gaun operasi steril berwarna hijau lengkap dengan penutup kepala.

Setelah memastikan seluruh perlengkapan medisnya siap dan steril, Laila melangkah mantap masuk ke dalam ruang operasi yang bernuansa dingin dan sarat ketegangan.

Di sana, tim medis dan perawat sudah bersiap di sekeliling meja operasi.

Laila mengambil posisinya di samping meja pasien, menatap cermat layar monitor tanda vital serta kondisi luka perdarahan hebat pada tubuh pasien.

"Sudah siap?" tanya Laila kepada dokter anestesi di depannya dengan nada suara yang begitu tenang dan profesional.

"Siap, Dok," jawab dokter anestesi mantap, menyuntikkan obat dosis awal untuk memulai proses pembedahan darurat malam itu.

Di dalam ruang operasi, suasana terasa teramat tegang dan hening.

Hanya terdengar bunyi bip... bip... bip... yang konstan dari monitor pendeteksi detak jantung serta desisan mesin respirator.

Bau cairan antiseptik dan amis darah menyeruak di udara.

"Klem pean, Tika. Cepat, perdarahannya di pembuluh darah utama," perintah Laila dengan nada tenang namun tegas, mengendalikan situasi dengan jemari jemarinya yang terampil memegang pisau pembedahan dan forceps.

Ceceran darah segar membasahi kasa steril, tetapi sorot mata Laila di balik masker tetap fokus dan tak menyipit sedikit pun.

Setiap jengkal gerakan tangannya begitu presisi, bertaruh dengan waktu demi menyelamatkan nyawa pasien di hadapannya.

Sementara itu, di lorong ruang tunggu yang temaram tak jauh dari ruang operasi, Musa duduk menanti bersama Yusuf.

Tampilan keduanya benar-benar menyedot perhatian—seorang ustaz berkharisma tinggi bersanding dengan tangan kanannya yang tampak agak canggung mengenakan sarung tenun.

Tiba-tiba, perhatian mereka berdua teralih pada sosok pria berjas putih dokter yang baru saja melangkah mantap masuk ke area lobby.

Pria itu memegang sebuket bunga mawar merah yang begitu segar di tangannya.

"Wah, romantis sekali dia, Bos," bisik Yusuf terkekeh pelan.

Musa hanya mengulas senyum tipis, menyandarkan punggungnya dengan tenang tanpa prasangka apa pun.

Pria tampan itu melangkah menuju ke ruang resepsionis, mengulas senyum ramah pada perawat yang berjaga.

"Sus, ada Dokter Laila?" tanyanya penuh perhatian.

Perawat di balik meja resepsionis mendongak. "Dokter Nakula? Maaf, Dokter. Dokter Laila saat ini sedang ada tindakan operasi darurat di dalam."

Dokter Nakula mengangguk paham, lalu menatap buket bunga mawar di tangannya.

"Baiklah, kalau begitu saya akan tunggu beliau di ruangannya saja."

Suara percakapan itu terdengar jelas di telinga Musa yang memiliki pendengaran tajam.

Detik itu juga, senyum tipis di bibir Musa luntur seketika.

Musa mencengkeram erat lengan kursi besi yang didudukinya hingga buku-buku jarinya memutih.

Tatapan matanya yang tadinya teduh berubah menjadi begitu kelam, tajam, dan sarat akan aura membunuh saat menyadari ada pria lain yang datang membawa bunga untuk istrinya.

Melihat perubahan raut wajah bosnya yang mendadak berubah menjadi monster pencemburu, Yusuf menelan salivanya gugup, lalu berbisik pelan pada dirinya sendiri.

"Aduh, perang dunia ketiga nih," gumam Yusuf merinding membayangkan nasib dokter berbunga itu.

Musa berdiri dari duduknya, merapikan baju kokonya dengan gerakan perlahan namun memancarkan aura dominan yang membekukan udara di sekitarnya.

Tatapan matanya lurus mengunci sosok Dokter Nakula yang baru saja hendak melangkah menuju koridor ruang kerja Laila.

Yusuf yang melihat reaksi sang bos cepat-cepat membenarkan lipatan sarungnya, ikut berdiri di belakang Musa dengan raut panik setengah mati.

Bisa-bisanya ada cowok nekat bawain bunga buat bidadarinya si bos! Nyari penyakit ini orang! bisik Yusuf dalam hati.

"Bos, santai, Bos. Ingat pesan Umi tadi, tampilkan Musa yang ustaz, jangan yang mafia," bisik Yusuf setengah berbisik sambil menahan napas.

Musa tidak menyahut, namun sudut bibirnya terangkat tipis—sebuah senyuman dingin yang justru tampak jauh lebih mengerikan daripada gertakan terbuka.

Ia mengayunkan langkah tegap menghampiri Dokter Nakula, menghentikan langkah dokter tampan itu tepat di tengah koridor.

"Assalamu'alaikum," sapa Musa dengan suara berat, dalam, dan teramat tenang.

Dokter Nakula menoleh, sedikit tertegun melihat pria bertubuh tegap berbusana muslim yang mendadak berdiri menjulang di hadapannya.

"Wa'alaikumsalam. Ya? Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Nakula ramah, masih menggenggam buket mawar merahnya.

Musa menatap buket bunga itu sekilas, lalu beralih menatap lurus ke dalam manik mata Nakula dengan pendar kecemburuan yang ditutup rapat oleh wibawa seorang ustaz.

"Saya mendengar Anda mencari Dokter Laila," ujar Musa santun, namun setiap suku kata yang diucapkannya berbobot begitu berat.

"Ah, iya. Saya Nakula, rekan sejawat Laila. Saya baru kembali dari seminar dan berniat memberikan ini untuk menyambutnya," jawab Nakula polos tanpa menyadari bahaya yang mengintip di depannya.

Musa mengulurkan tangan kanannya, mengajak berjabatan tangan.

"Saya Musa."

Nakula menyambut uluran tangan itu. Namun, detik berikutnya, wajah Nakula sedikit meringis.

Genggaman tangan Musa terasa begitu kuat dan kokoh bagaikan capit besi, menyalurkan tekanan tak kasat mata yang membuat buku-buku jari Nakula terasa remuk.

"Sudah lama kenal dengan Dokter Laila?" tanya Musa dingin.

"Sudah sejak kami berdua kuliah di kampus yang sama," jawab Dokter Nakula sembari terus memegang buket bunganya, mencoba bersikap santai meski heran dengan genggaman pria di hadapannya.

Nakula kemudian melambaikan tangan pada perawat di resepsionis.

"Suster, tolong pesankan kopi untuk saya dan Pak Musa."

Yusuf yang berdiri di belakang Musa seketika menahan tawanya setengah mati saat mendengar panggilan 'Pak' yang disematkan Nakula pada bos besar dunia bawah tanah itu.

Tak berselang lama, perawat datang membawa nampan berisi dua cangkir kopi hitam yang masih mengepulkan uap panas.

Ia meletakkannya di atas meja bundar ruang tunggu dengan senyum sopan sebelum kembali ke posisinya.

Musa menatap cangkir kopi di depannya, lalu beralih menatap Dokter Nakula yang masih tersenyum santai tanpa beban.

Di balik raut wajahnya yang tampak tenang dan teduh layaknya seorang ustaz, jemari Musa yang berada di bawah meja sudah terkepal amat erat. Rahangnya mengeras tajam.

Rasanya Musa sudah tidak sabar untuk mendaratkan pukulan mentah dan menghajar lelaki di hadapannya ini sampai tak berdaya karena berani-beraninya menaruh rasa pada wanita miliknya.

Yusuf yang berdiri tak jauh dari sana, tepat di balik pintuan kaca koridor, bisa merasakan aura membunuh yang perlahan menguar dari tubuh bosnya.

Mengerti betul tanda-tanda bahaya itu, Yusuf menyenggol kaca pelan untuk menarik perhatian Musa.

Dari balik kaca, Yusuf membuat isyarat tangan menenangkan, menepuk-nepuk dadanya sendiri sambil menyatukan kedua telapak tangan dengan raut wajah memohon.

Sabar, Bos. Sabar! Ingat pesan Umi Laila! gerak bibir Yusuf memberi sinyal tanpa suara, panik setengah mati membayangkan Rumah Sakit Hasta Utama berubah menjadi tempat pertumpahan darah jika Musa sampai lepas kendali.

1
Muft Smoker
mungkin km bisa punya rencana buat ngejebak Musa.
tp km juga jgn lupa ,, kalo kejahatan gx kn pernh menang lawan kebenaran ,,
kalo pun menang tu hanya kemenangan semu 😏😏😏😏
Muft Smoker
jgn sampe deeh rencana si Musdalifah berjalan mulus kak
Muft Smoker
Dy fikir menjebak Musa adalah hal yg mudah x ,,
tp kak ,, khawatir juga sih kalo org udh gelap mata oleh rasa iri gx bisa di bendung ,, bisa berbuat nekat senekat nekat ny ,,
jgn sampe deh rumah tangga Musa dan Laila di ganggu oleh fitnah Musdalifah
Muft Smoker
msh juga nyalahin org ,,
😒😒😒😒😒🥱🥱🥱
Muft Smoker
dtggu versi mini kalian yx ,, 🤭 ,, dan semoga Musdalifah udh jera setelah ini ,, tdk mengganggu Laila dan Musa lgi ,,
Muft Smoker
cuma sgtuu bang kalajengking dan dokter Nakula????
makany jgn coba2 ngusik umi Laila ,,
jd hancur lebur kn Hrga diri kalian ,, 😏😏😏😏😏
Muft Smoker
semoga setelah ini ,,
umi Sinta bisa menerima Laila dg baik ,,
sri hastuti
dokter gila ya thor, apa lg musdalifah , huuhhh, bikin jengkel aja, ksh balasan yg setimpal thor, ayo musa km hrs bisa ,kerahkan semua kekuatan mu 😡😡😡
Muft Smoker
Musdalifah ma Mak ny sama2 manipulatif. ,,
bisa2 ny pak kiyai nikahin perempuan model gtuu ,,
Muft Smoker
lanjuuut kak
Muft Smoker
trnyata Laila pernh ngalamin hal mengerikan di masa lalu ,,
semangat Musa berantas semua org2 yg udh nyakitin Laila ,,
Muft Smoker
si umi kudu di ruqyah 7 hari 7 malam ni ,, buat ngilangin pengaruh makhluk halus ,,
my name is pho: 🤭 hehe
total 1 replies
Muft Smoker
semoga mereka bisa melewati badai yg di bawa keluarga Laila sbntar lgii ,,
Muft Smoker
turun ranjang kah???
Muft Smoker
ooooallaaa cuma bibi ny Laila ternyata ,,
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
wah jgn sampe tuh Nakula bersekutu dg Musdalifah buat hancurin rumah tangga Laila dg Musa ,,
Muft Smoker
Musa yg berhadapan dg Nakula ,, si Yusuf yg panik setengah mati 🤭🤭🤭 ,,
sedangkan Nakula ny B aj ,, 🤭🤭🤣🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
ni juga mak ny si Musa ,, udh liat adab menantu yg di pilih ny bgtuu ,, sangat baguuus cenderung lampir ,,
msh aj di pilih ,, buka mata mu lebar2 umiiiiii
Muft Smoker
jgn2 bukan ibu kandung Laila niih ,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!