Indonesia
NovelToon NovelToon
Terperangkap Di Balik Selendang Sang Putri

Terperangkap Di Balik Selendang Sang Putri

Status: tamat
Genre:Identitas Tersembunyi / Putri asli/palsu / Balas dendam pengganti / Reinkarnasi / Fantasi Wanita / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:944
Nilai: 5
Nama Author: Zaenal 1992

"Ketika Jaka, seorang pemuda modern, tiba-tiba terlempar ke masa lalu, ia mendapati dirinya berada dalam tubuh Dyah Pitaloka, putri Sunda Galuh yang menyimpan dendam membara terhadap Majapahit. Terjebak dalam pusaran intrik istana dan tragedi Bubat yang akan datang, Jaka harus belajar menjadi Pitaloka. Mampukah ia mengubah sejarah atau justru terperangkap dalam jejak waktu yang telah ditentukan?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaenal 1992, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Pertama dan Kekeliruan Agung Majapahit

Tirai sutra berwarna emas yang tebal telah ditutup, meredupkan cahaya obor di luar dan menyisakan kamar tidur kerajaan yang luas dalam nuansa remang-remang yang intim. Aroma melati yang kuat, sisa dari upacara pernikahan agung, berpadu dengan wangi kayu cendana yang menenangkan dari perapian kecil. Inilah kamar yang dinamakan Puri Kencana, dan di dalamnya, malam pertama antara Majapahit dan Sunda Galuh akan dimulai.

​Hayam Wuruk, setelah menanggalkan busana kebesarannya yang berat, kini berdiri hanya mengenakan kain dodot bermotif emas dan selendang tipis di bahunya. Ia tampak gagah dan tulus. Dyah Pitaloka, atau Jaka, masih mengenakan gaun pengantin sutra tebalnya, duduk kaku di tepi ranjang berkanopi yang dipenuhi ukiran.

​"Nimas," Hayam Wuruk menghampiri dengan langkah lembut, senyumnya sama tulusnya seperti saat di Balai Manguntur. "Akhirnya. Setelah segala drama politik dan upacara yang melelahkan, kita bisa berdua."

​Jaka/Dyah Pitaloka hanya mengangguk, berusaha keras menirukan ekspresi 'tersipu malu' seperti yang selalu ada di film-film. Padahal, jantungnya berdegup seperti genderang perang, bukan karena gairah, melainkan karena ketakutan murni.

​Jaka (dalam hati): Mati. Mati. Mati. Dia melepas baju. Aku harus bagaimana? 'Ambil inisiatif', kata mertua. Inisiatif apa?! Aku bahkan tidak tahu cara berinteraksi secara 'wanita' dengan seorang pria. Kalau ini duel silat, aku masih bisa cari jurus. Kalau ini… aku cuma bisa pasrah.

​Hayam Wuruk duduk di sebelahnya, menyentuh lembut bahu Jaka/Dyah Pitaloka.

​"Mengapa engkau tegang sekali, Dyah Ayu? Aku tahu, ini adalah pengalaman pertama. Aku akan bersabar. Kita punya waktu selamanya."

​"Bukan, Paduka," Jaka buru-buru menyahut, suaranya terdengar sedikit terlalu nyaring dan bernada serak. "Aku hanya... kelelahan."

​Melihat Hayam Wuruk mulai mendekat dengan tatapan yang semakin mesra, Jaka panik. Otaknya secara refleks mencari alasan untuk kabur—atau setidaknya, mengulur waktu. Ia teringat nasihat Retno Asih: 'Cari kesempatan untuk bergerak, jangan diam seperti patung!'

​Jaka memutuskan untuk berdiri, pura-pura mengambil minuman dari kendi di sudut ruangan.

​Jaka (dalam hati): Oke, Jaka, bergerak. Pura-pura haus. Anggap saja ini adalah misi mencari 'cheat code' di game RPG.

​Ia bangkit dengan tergesa-gesa. Namun, bencana tak terduga terjadi. Karena fokusnya terpecah antara panik internal dan medan ranjang yang asing, kaki gaun sutranya menyangkut pada ukiran ranjang.

​GEDEBUK!

Tubuh Dyah Pitaloka yang anggun itu jatuh terjerembap dengan bunyi yang cukup keras. Hiasan kepalanya yang belum sepenuhnya terlepas terlepas dan menggelinding di lantai.

​Hayam Wuruk sontak berdiri, wajahnya panik. "Nimas! Ya dewa! Kau tidak apa-apa?"

​Jaka/Dyah Pitaloka meringis saat mencoba bangkit. Rasa sakit tajam langsung menjalar dari pergelangan kaki kirinya.

​"Astaga..." ia bergumam pelan. "Pergelangan kakiku..."

​Hayam Wuruk segera menghampiri, berlutut, dan dengan sigap membuka tali sutra di pergelangan kaki Dyah Pitaloka.

​"Sepertinya terkilir, Nimas. Aku akan panggil tabib..."

​"Jangan!" Jaka/Dyah Pitaloka menahan tangannya. Panggil tabib? Itu berarti tabib itu akan melihat seorang pria di dalam tubuh wanita, mungkin saja dengan 'aura' yang berbeda. "Tidak perlu, Kanda. Biar... biar kanda saja yang obati. Dulu, di Sunda Galuh, aku sering berlatih memanah dan jatuh. Ayahanda selalu mengobatinya dengan pijatan."

​Jaka berharap Hayam Wuruk tidak terlalu ahli dalam pengobatan, karena ia hanya perlu balsem dan istirahat.

​Hayam Wuruk mengangguk, matanya menunjukkan kekhawatiran yang tulus. Ia mengambil minyak rempah wangi dari meja dan menuangkannya ke telapak tangan. Dengan sangat hati-hati dan lembut, ia mulai memijat pergelangan kaki Dyah Pitaloka.

​Jaka memejamkan mata, menggigit bibir. Pijatan Hayam Wuruk ternyata jauh lebih kuat dan efektif dari yang ia duga. Pria ini memang seorang Raja, tapi juga seorang kesatria. Ketika ibu jari Hayam Wuruk menekan titik yang sangat sakit, Jaka tidak dapat menahannya.

​"AAH! Aduh! Sakit!" rintihan Dyah Pitaloka yang diucapkan Jaka terdengar melengking, bercampur dengan desisan napas yang tertahan.

​Hayam Wuruk terkejut, segera menghentikan pijatannya. "Ya ampun, Nimas, maafkan aku! Aku terlalu keras?"

​"T-tidak, Kanda," Jaka/Dyah Pitaloka mencoba menarik napas. "Hanya... hanya kaget. Tolong, la-lanjutkan. Harus sedikit 'keras' memang agar sembuh."

​Jaka (dalam hati): Aduh, sakit banget! Aku salah bicara! 'Keras'? Kenapa aku pakai kata 'keras'?! Dyah Pitaloka, kau bodoh!

​Hayam Wuruk tersenyum canggung. Ia kembali memijat, kali ini ia lebih berhati-hati, namun Jaka masih merasa ngilu dan nyeri. Setiap gerakan Prabu membuat Jaka mengerang.

​"Ssssh... Ah! Jangan... di situ!" Jaka/Dyah Pitaloka kembali merintih pelan, tetapi rintihan itu terdengar sangat ambigu di tengah keheningan malam.

Sementara itu Ratu Agung Tribhuwana Tunggadewi tidak bisa tidur. Kekhawatiran akan takhta Majapahit membuatnya gelisah. Ia telah berjanji pada dirinya sendiri untuk mendengar 'tanda-tanda' pertama bahwa pernikahan itu berjalan lancar. Ia ingin cucu. Sekarang.

​Ia berdiri di balik pilar dekat bilik Puri Kencana, ditemani oleh Dewi Lara Linsing, ibu Dyah Pitaloka, yang juga tidak bisa tidur karena khawatir dengan putri satu-satunya.

​"Sudah hampir dua jam, Tribhuwana," bisik Dewi Lara Linsing, cemas. "Aku cemas dengan Dyah Pitaloka. Dia sangat pendiam. Apa Prabu Hayam Wuruk tidak menyukainya?"

​Tribhuwana Tunggadewi tersenyum licik. "Sabarlah, Besan. Hayam Wuruk adalah pria yang bertanggung jawab. Ia tidak akan mengecewakan. Aku sudah memberinya 'dorongan' di awal. Dan Dyah Pitaloka... ah, dia gadis yang cantik. Aku yakin puteraku senang."

​Tiba-tiba, dari dalam kamar, terdengar suara.

​"AAH! Aduh! Sakit!"

​Kedua ibu ratu itu langsung terdiam, saling pandang dengan mata terbelalak.

​Tribhuwana Tunggadewi tersenyum bangga. "Nah, itu dia. Suara pertama. Tampaknya Hayam Wuruk mengambil inisiatif yang aku sarankan."

​Kemudian, terdengar lagi desisan Dyah Pitaloka, dipenuhi oleh kepedihan dan desahan napas yang tertahan.

​"Ssssh... Ah! Jangan... di situ!"

​Dewi Lara Linsing tersipu malu, menutup mulutnya dengan tangan. "Ya ampun, anakku... Ia begitu terbuka."

​Tribhuwana Tunggadewi mengangguk penuh kemenangan. "Dia mengikuti saranku dengan baik. Tidak pasif. 'Jangan di situ', katanya! Hayam Wuruk pasti sangat terkejut dengan keberanian Dyah Pitaloka! Bagus! Kita akan segera punya pewaris!"

​Mereka berdua berdiri dalam keheningan yang tegang, hanya terdengar suara gesekan samar dan rintihan tertahan dari dalam kamar. Kedua wanita agung itu, yang tadinya bersitegang politik, kini bersatu dalam kesalahpahaman yang sangat besar dan sangat memuaskan.

​Di dalam kamar, Jaka/Dyah Pitaloka kembali merintih pelan karena pergelangan kakinya terasa seperti terbakar.

​Jaka (dalam hati): Ya ampun, Prabu Hayam Wuruk ini ternyata pawang tukang urut! Sumpah, kalau dia tidak jadi Raja, dia bisa buka praktik pijat refleksi laris manis! Tapi, tolonglah, Prabu, sedikit lebih lembut... kalau begini terus, aku bisa-bisa pingsan sebelum sempat menjelaskan kalau aku hanya perlu kompres es!

​Hayam Wuruk memijat lagi. Jaka/Dyah Pitaloka kembali menahan napas, wajahnya basah oleh keringat.

​"Ah! Kuat! Kuat sekali! Oh...!"

​Di luar, Tribhuwana Tunggadewi tersenyum lebar. Ia berbisik kepada Besannya, "Lihat? Putri Anda sangat menikmati upacara penyatuan ini. Ia menyukai 'kekuatan' puteraku! Majapahit beruntung!"

​Dewi Lara Linsing hanya bisa mengangguk malu-malu, merasa bangga sekaligus terkejut dengan keberanian putrinya di malam pertama.

​Di tengah rintihan Jaka/Dyah Pitaloka, kesalahpahaman itu bersemi, memastikan bahwa seluruh istana Majapahit kini yakin: pernikahan politik itu berjalan sangat, sangat lancar.

1
soy_sole_
Gemes sendiri deh sama tokoh-tokohnya, alur ceritanya bikin tegang senyum-senyum sendiri 😄
Akina
Duh, jleb banget!
Takahashi HitomiLửa
Aku jadi pengen kesana lagi karena settingan tempatnya tergambar dengan sangat baik.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!