Malam itu, Lorena—seorang perawat yang lelah membanting tulang demi menghidupi rumah tangganya—menemukan seorang pria sekarat berlumuran darah di tepi jalan, dan memilih menyelamatkan nyawanya. Ia tak pernah tahu bahwa pria itu adalah Ravi Dumont: penguasa kasino, seorang Don mafia yang dingin, dan sejak malam itu, terobsesi hanya pada satu perempuan—dirinya.
Ketika suami Lorena yang kecanduan judi terjerat utang setengah juta euro, ia memberikan satu-satunya "harta" yang tersisa untuk melunasinya: istrinya sendiri. Dalam sekejap, Lorena berpindah dari pernikahan yang menghancurkan ke tangan pria yang bersumpah takkan pernah melepaskannya.
Ravi bisa mendapatkan apa pun yang ia mau. Ia membelikan Lorena rumah sakit, menaburinya dengan kemewahan, memujanya seperti ratu—tapi cinta tak bisa dibeli, dan hati Lorena penuh amarah pada pria yang menjadikannya barang dagangan. Di balik senyum tenang Ravi tersembunyi sisi tergelap seorang mafia: kejam pada dunia, namun memuja perempuannya dengan obsesi yang berbahaya.
Di antara kilau meja judi, ancaman para pengkhianat, rahasia keluarga, dan gairah yang perlahan membakar segala pertahanan, kebencian mulai berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih menakutkan: keinginan untuk tinggal.
Bisakah cinta tumbuh dari sebuah transaksi? Bisakah seorang perempuan yang pernah dijual belajar mencintai pria yang membelinya—dan bisakah sang Don yang tak kenal ampun membuktikan bahwa perempuannya bukan lagi harta yang dimiliki, melainkan satu-satunya hal yang tak sanggup ia hidupi tanpanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dayane Castro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
POV Ravi
Aku suka datang ke sini untuk mengalihkan pikiranku. Bukan untuk berkencan dengan perempuan mana pun, apalagi aku bukan seorang master. Tapi, ketimbang menonton adegan seks lewat layar, lebih baik menontonnya langsung. Dan di sini, selalu ada seorang pria dan seorang wanita yang suka mempertontonkan diri. Entah mereka pasangan sungguhan atau bukan.
Kubawa mia bella ke ruang privat, karena aku menyadari dia tak nyaman berada di ruang bersama tadi. Kami duduk di sofa besar, dan sepasang orang itu segera masuk menyusul. Mereka langsung memulai dengan permainan pendahuluan, saling mengulum, lalu aku memandang Lorena, yang bahkan tak berkedip.
"Di sini lebih nyaman, mia bella?"
"Ya... iya." Suaranya melambat, dia mulai terangsang. Kuselipkan tanganku ke dalam gaunnya, lewat belahan di kakinya.
Kuremas pahanya dan kubawa tanganku semakin dalam menuju kewanitaannya. Dia memejamkan mata dan menyandarkan kepalanya ke belakang. Kudekatkan wajahku ke telinganya dan berbisik.
"Aku ingin kau klimaks di atas jariku, mia bella." Dia melepas satu embusan napas dan membuka mata, menatapku penuh gairah. "Aku tak akan menyetubuhimu di sini, ini cuma kenikmatan pembuka." Kutenggelamkan jariku lebih dalam, mencapai lubang mungilnya. Meski Lorena bukan lagi perawan, dia begitu ketat seperti seorang perawan.
Barang mantannya pasti sekecil ranting, kurasa jari kelingkingku lebih tebal daripada kejantanan pria itu. Kugosokkan jari-jariku dari bawah ke atas, membawa cairan pelicinnya sampai ke klitorisnya. Dia mencengkeram lenganku dan meremasnya, menatapku dengan mata setengah terpejam, penuh gairah.
Kumulai dengan gerakan memutar, pelan, tanpa terburu-buru. Kuciumi lehernya dan kubiarkan janggutku menggesek kulitnya. Kunaikkan mulutku ke telinganya, dan dia mengerut. Sekujur tubuhnya meremang, aku suka melihatnya begini, menyerah pada kenikmatan yang kuberikan padanya.
Dia memandang ke depan, ke arah pasangan yang mulai mendesah. Kutolehkan wajahku untuk memandang mereka, dan tepat pada saat itu si pria menghunjam sekuat tenaga ke dalam tubuh si wanita, membuatnya melepas desahan yang lebih keras. Kupercepat sedikit gerakan jariku, dan Lorena makin kuat mencengkeram lenganku. Tubuhnya mulai tersentak-sentak kecil, dan dia mengatupkan kakinya, menghalangi gerakanku.
Kuselipkan satu kakiku di bawah kakinya dan kubuka lagi pahanya. Kulanjutkan gerakan jariku dengan lebih intens, membuat mia bella menyandarkan kepalanya ke belakang.
"Klimakslah, mia bella, klimakslah dengan nikmat di atas jari pria milikmu." Belum selesai aku bicara, dia sudah mulai bergetar hebat. Tiba-tiba dia membalikkan badan dan duduk di pangkuanku, memelukku erat. Kurasakan tubuh mungilnya di atas tubuhku, gemetar oleh orgasmenya. "Kau luar biasa, mia bella, dan kau seluruhnya milikku."
Dia tak berkata apa-apa, tapi menjauhkan tubuhnya dariku, dan aku tersenyum untuknya. Lorena turun dari pangkuanku dan berlutut di hadapanku. Tangannya menjelajahi dadaku, lalu menuruni perutku sampai mencapai celanaku. Dengan jari-jarinya yang lentik, dia membuka kancing dan menurunkan ritsleting, langsung mendapati kejantananku yang sudah keras. Melihat dan merasakan dia klimaks tadi yang membuatku begini.
Dengan tangannya, dia mulai memuaskanku perlahan, naik dan turun. Kubawa tanganku ke tali gaunnya dan kuturunkan keduanya. Kukeluarkan payudaranya satu per satu, dan mulai kuremas-remas lembut. Lorena sedikit mengangkat tubuhnya, dan menempatkan kejantananku di antara kedua payudaranya. Sungguh sensasi yang nikmat.
Diiringi desahan pasangan tadi, aku mulai menaik-turunkan pinggulku, menggagahi payudaranya dengan penuh nafsu. Lorena mencondongkan tubuhnya lebih ke depan, membuatku makin gila oleh pemandangan itu. Dia menunduk menatap kejantananku yang muncul dan menghilang. Aku tak akan menyangkalnya, pemandangan ini luar biasa, menaikkan gairahku ke tingkat tertinggi. Kuletakkan tanganku di sofa, kuangkat sedikit pinggulku, dan mulai menghunjam lebih keras, merasakan spermaku sudah hendak menyembur dengan deras.
Kusandarkan kepalaku ke belakang saat cairan itu keluar, melepas desahan yang lebih keras, seolah aku mengaum.
"Cazzo, mia bella... nikmat sekali!" Ketika tetes terakhir keluar, kurasakan lidah Lorena di ujung kejantananku. Kupandang dia, yang sedang menjilatinya sampai bersih. "Kalau begini aku bisa kena serangan jantung, Lorena. Sialan."
"Jangan sampai kena serangan jantung, Ravi, kita masih harus menyelesaikan yang ini." Dia bangkit dan duduk di pangkuanku. Kejantananku terhimpit di kewanitaannya. Lalu dia mulai bergerak maju dan mundur, dan gesekan kewanitaannya yang basah membuat semuanya terasa nikmat.
Dia mempercepat iramanya, dan aku memegangi pinggangnya, merasakan dia menggesek-gesek. Ujung kejantananku menyentuh klitorisnya, dan tak lama kemudian Lorena kembali klimaks. Dia memelukku, meremasku selagi merasakan gelombang orgasme. Tapi setelah reda, dia mengendur, tanpa turun dari atas tubuhku.
Kuusap punggungnya dan kurapikan tali gaunnya. Pasangan di ujung sana mengakhiri pertunjukan mereka dan keluar dari ruangan.
"Kita pulang, mia bella?"
"Tunggu sebentar dulu."
"Kenapa?"
"Sampai kakiku berhenti gemetar." Aku tertawa dan memintanya turun sedikit. Begitu dia turun, kurapikan kejantananku dan kututup celanaku. Dia berbalik hendak duduk di sofa, tapi aku menggendongnya dan membawanya keluar dari ruangan.
"Kurasa aku salah menagih taruhan ini, mia bella, aku benar-benar celaka."
"Maksudmu apa, Ravi?" Kududukkan dia di dalam mobil dan kutarik sabuk pengaman untuk mengunci tubuhnya.
"Karena aku gila memikirkanmu, aku jatuh cinta setengah mati padamu, amore mio."
"Mungkin kita seri." Aku tersenyum karena aku paham betul maksud ucapannya. Kudekatkan wajahku ke wajahnya, dan kucium bibirnya dengan segala cinta yang kurasakan untuknya.