Indonesia
NovelToon NovelToon
IBU TIRI LUAR BIASA

IBU TIRI LUAR BIASA

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Ibu Tiri / Ibu Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Duda / Cinta Murni
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: YoshuaSatrio

Karena tak tahan dengan desakan keluarga dan masalah yang bertubi menghimpit keluarganya, Sutami(28tahun) menerima pinangan Juragan Waluyo(45tahun), seorang duda kaya yang memiliki seorang putra dan dua putri yang berbeda watak.

Menjadi ibu tiri bukan impian Sutami, tapi demi menyelamatkan kehormatan keluarga dari stigma 'perawan tua pembawa sial', maka pernikahan pun dilangsungkan.

Mampukah Sutami menjalankan perannya sebagai istri sekaligus ibu tiri?
Bagaimana cara Sutami menghapus stigma masyarakat tentang 'ibu tiri jahat?’

Mari berimajinasi bersama. Semua tokoh dan kejadian dalam cerita hanya sebuah karangan. Jika ada kebetulan yang dibetulkan, silahkan disalahkan kebetulannya yang disama-samakan.
Semoga semua berbahagia. —yosh—

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PUDDING PEMERSATU RASA bagian 1

Taksi berhenti tepat di depan gerbang besi kediaman keluarga Waluyo. Sutami turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Dara.

Di halaman, matahari sudah hampir di tengah hari dan mulai terasa menyengat.

Dari arah dalam rumah, terdengar suara heels yang tergesa. Kirana keluar dengan langkah cepat sambil menempelkan ponsel ke telinga. Rambutnya dikuncir tinggi, dan wajahnya sudah penuh riasan.

Dan pandangan Sutami terpaku pada kaos putih yang dikenakan Kirana, yang tampak terpotong di atas pusar membuat perutnya kelihatan setiap kali ia mengangkat tangan.

Sutami tersenyum kecil saat ia berpapasan dengan gadis yang beranjak dewasa itu sambil mengangguk sopan, berniat menyapa. "Selamat siang, Kirana..."

Tapi Kirana tidak menggubris. Ia masih sibuk telponan. "Iya sabar, tunggu di depan ya. Aku udah jalan buru-buru nih!" serunya. Langkahnya pun langsung menuju mobil hitam yang sudah menunggu di depan gerbang.

Sutami hanya bisa diam menatap punggung Kirana yang menjauh. Lalu menoleh ke Dara.

"Dek," bisik Sutami polos. "Itu kakak tidak salah pakai baju? Kok perutnya sampai kelihatan? Jangan-jangan karena buru-buru salah ambil bajumu."

Dara yang dari tadi cemberut seketika tertawa terbahak. "Ya ampun Ibu... itu mode. Namanya crop top. Memang begitu, perutnya harus kelihatan. Kata kakak biar seksi!"

"Seksi?" Alis Sutami bertaut. "Dia bilang begitu sama kamu? Terus Ayahmu juga tahu?"

"Tahu," jawab Dara enteng sambil mengayunkan tangannya. "Aku juga punya yang model begitu. Dibelikan sama Ibuku dulu."

"Ah, begitu." Sutami menggeleng pelan sambil tersenyum kaku. "Ada-ada saja mode pakaian irit bahan," gumamnya menggandeng tangan Dara masuk ke dalam rumah.

Begitu masuk, langkah Sutami terhenti. Di balik pintu, tergeletak sebuah jaket denim warna biru muda. 'Pasti punya Kirana, terjatuh karena buru-buru!' pikirnya.

Dengan sigap Sutami memungutnya. "Dara tunggu di dalam ya sebentar. Jaket kakak ketinggalan."

Sutami berlari kecil keluar lagi. Mobil hitam Kirana belum jauh. Sutami melambaikan tangan dari pagar. "Kirana! Jaketnya!" teriaknya.

Di dalam mobil, Kirana melihat dari spion, tapi hanya m lihat Sutami yang melambaikan tangan. Temannya yang menyetir pun bertanya. "Siapa itu? Dia kayaknya manggil kamu deh?"

Kirana mengibaskan tangan dengan bibir mencebik kesal. "Ah, biarin aja," gumamnya dingin. "Cuma b4bu baru peliharaan Ayahku."

Mobil itu pun melaju tanpa peduli dengan usaha Sutami.

Sutami menurunkan tangannya pelan. Dadanya sedikit perih, tapi ia menghela napas. "Ah, sudahlah. Dia sudah termasuk dewasa. Salah sendiri ceroboh," gumamnya lalu ia berbalik masuk lagi ke rumah.

Di ruang keluarga, Dara sudah duduk di sofa sambil mengayunkan kaki. Begitu melihat Sutami, wajahnya kembali cerah. "Bu, bisa buatkan aku camilan?" pintanya semangat.

"Dara mau nyemil apa?" tanya Sutami sambil meletakkan jaket Kirana di sofa.

"Apa saja yang Ibu bisa bikin. Yang penting seger!"

"Baiklah kita lihat dulu ada bahan apa." ucap Sutami lalu menggandeng tangan Dara menuju ke dapur. "Aduh, maaf Mbak Rini, aku malah nggak bantu masak," seru Sutami merasa keki karena mbak Rini masih sibuk memasak sendiri di dapur.

"Nggak apa-apa, Bu. Ini sudah jadi tanggungjawab saya," sahut mbak Rini. "Apa ada yang Bu Tami butuhkan?" tanyanya lagi saat melihat Sutami tampak berpikir di depan kulkas yang terbuka.

"Dara minta camilan yang seger," jawab Sutami tanpa menoleh pada mbak Rini. Ia sangat fokus memindai isi kulkas, jika saja ada yang bisa ia gunakan.

Mbak Rini mendekat sambil mengupas bawang. "Dulu, Nyonya sering membuat puding, Bu. Salah satu makanan favorit di rumah ini, bahan agar ada di lemari itu," bisiknya sambil menunjuk rak kayu di samping kulkas.

Mendengar usul itu, Sutami tersenyum. "Hm, ada melon sama semangka... cukuplah." Ia mengangguk pelan. "Aku juga mau coba bikin puding saja. Makasih sarannya ya, Mbak."

"Siap, Bu," jawab Mbak Rini ikut tersenyum lebar.

Waktu memasak pun dimulai. Sutami bergerak cepat, tepat dan tangkas.

20 menit kemudian, Sutami menuang adonan agar-agar bening yang sudah matang ke dalam cetakan besar. Di dalamnya sudah rapi tertata irisan buah melon oranye dan semangka merah. Warnanya cantik sekali.

"Wah!" mata Dara berbinar. Ia berjingkrak di samping meja. "Aku nggak sabar nunggu dingin! Pasti enak!" serunya girang.

"Semoga Dara suka ya," kata Sutami sambil merapikan permukaan puding dengan sendok. "Kita biarkan dingin dulu. Sementara itu kita mau apa? Baca cerita di ruang baca, atau...?"

"Dara mau main dress up sama Ibu di gazebo!" seru Dara ceria. "Pakai baju boneka yang kemarin!"

"Oke, setuju!" Sutami tertawa kecil, melepas apron dan mencuci tangan. "Mbak Rini, kalau sudah dingin tolong masukkan ke kulkas ya, biar makin segar."

"Baik, Bu. Setengah jam lagi kira-kira cukup?" tanya Mbak Rini. Matanya tak lepas dari tatanan puding di cetakan. "Aduh, saya jadi ikutan ngiler," candanya jujur.

"Nanti semua boleh makan. Itu banyak kok, pasti kebagian," balas Sutami sambil mengelap tangan.

"Ayo, Bu! Kita ke depan!" Dara menarik lengan Sutami tak sabar. Keduanya lalu berjalan keluar menuju gazebo di halaman depan.

.....

Matahari semakin tinggi, hingga panasnya terasa seolah tepat berada diatas kepala. Mbak Rini sedang menata masakan di meja makan. Ada sayur lodeh, ayam goreng, dan sambal. Aromanya menguar ke seluruh ruangan.

Di gazebo, Dara masih asyik mendandani bonekanya. Sutami duduk di tepi, sambil sesekali membantu memasangkan pita dan mengawasi Dara. Di pangkuannya ada map berisi laporan perkembangan siswa TK yang harus ia selesaikan.

Dari tangga, terdengar langkah kaki, Arka baru turun sejak pagi. Kaosnya kusut, rambutnya sedikit berantakan. Ia langsung menuju dapur karena perutnya lapar.

Begitu sampai di meja makan, matanya langsung tertuju pada meja kecil di samping kulkas. Di sana ada cetakan puding buah yang warnanya menarik.

"Mbak Rini kreatif juga, bikin makanan penutup yang menggugah selera," gumamnya. Tanpa pikir panjang ia mengambil sendok, lalu memotong satu bagian puding dari cetakan, lalu menggigitnya. 'Dingin, manis, segar!' pekiknya dalam hati begitu potongan pertama puding itu menyentuh lidahnya.

"Hm, enak. Segar banget!" katanya sambil mengunyah. "Makasih ya, Mbak."

Mbak Rini yang sedang menuang nasi langsung berhenti. Ia menatap Arka dengan alis terangkat. "Jangan makasih ke saya, Mas. Bu Tami yang bikin karena Nona Dara yang minta."

Sontak kunyahan Arka terhenti.

'Jadi orang asing itu yang membuatnya! Sialan! Kenapa aku tadi nggak bisa menahan diri? Main ambil saja! Sialan!' batin Arka. Wajahnya tiba-tiba terasa panas. Rasa malu dan kesal bercampur jadi satu.

Tapi ia tidak menyahut, melainkan memilih pura-pura tidak mendengar. Hanya meneguk ludah dan duduk di kursi makan, masih memegang sisa potongan puding di tangannya.

Kemudian dari luar terdengar suara riuh.

"Asyik! Jadi boleh makan puding kalau sudah makan nasi, kan, Bu? Nggak sabar aku!" teriak Dara dari pintu depan.

"Ya dong. Biar perutnya kenyang dulu, baru boleh makan yang segar-segar sebagai pencuci mulut!" jawab Sutami sambil tertawa.

Mendengar itu, Arka langsung menegang. Ia buru-buru meletakkan sisa puding di tangannya ke piring yang ada di meja makan, lalu bangkit cepat menuju ke kulkas, dan mengambil sebotol air mineral dingin, dan melangkah lebar meninggalkan dapur.

Mbak Rini menatapnya heran. "Lho, nggak jadi makan, Mas?"

"Nanti saja. Tiba-tiba nggak nafsu makan," jawab Arka singkat. Ia melengos, lalu berjalan cepat naik ke tangga menuju kamarnya.

"Ada apa, Mbak?" tanya Sutami saat mendapati Mbak Rini senyum-senyum sendiri sambil melanjutkan menyiapkan meja makan.

...****************...

Bersambung....

1
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
waduh 😣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Sabar Tami,jgn sampai kau jadi stres 🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Ga bisalah,
rasain tuh 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
pengen ku lempar pk sendal tuh mulutnya 😤
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
berpindah duduk
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Enak aja, kamu hrs berusaha dari bawah
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
itu kan salahmu sendiri, kenapa korupsi 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
jangan bikin gara" 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
mau apalagi kamu 😤
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Dara biasa makan cake 🤭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
betul 🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
sembarangan 😤
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
ga sakit tuh tenggorokan Bu 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
semua itu bukan salahmu Tami 🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
apa ini jalan terbaik 🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
bicarakan dengan kepala dingin 🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
betul 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Dara dong 🤣
yosh—: 😮‍💨apesnya jadi author nggk ada yg dukung😁
total 1 replies
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
setuju 👍🏻
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Waduh jgn berantem diluar, malu sama tetangga 🥺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!