Naira Alesha telah lama mencintai Ravian Elvano, sahabat masa kecilnya. Namun hatinya hancur ketika Ravian justru memilih Selena, sahabat Naira sendiri.
Saat berusaha melupakan cintanya dan mengejar impian menjadi desainer fashion, Naira bertemu Mikael Arsen, pria tampan, kaya, arogan, dan tengil yang selalu membuatnya kesal.
Lebih menyebalkan lagi, Mikael ternyata sahabat sekaligus rekan bisnis Ravian.
Sebuah kesalahpahaman membuat Naira dan Mikael terpaksa berpura-pura menjadi pasangan. Awalnya mereka hanya bermain peran, tetapi semakin sering bersama, batas antara pura-pura dan cinta mulai menghilang.
Mikael jatuh cinta lebih dulu, sementara Naira perlahan menyadari bahwa hatinya telah berpindah.
Namun ketika sebuah rahasia terungkap, Naira merasa seluruh hubungan mereka hanyalah kebohongan.
Akankah cinta mereka bertahan, atau Naira kembali pada cinta pertamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16. Selena Cemburu
Selena berdiri di luar pintu ruang kerja Ravian, tangannya terangkat hendak mengetuk. Namun kata-kata yang terdengar dari dalam membuatnya membeku di tempat, jantungnya berdebar kencang karena perasaan yang menyakitkan.
"Bagaimana aku bisa tenang, Kirana?" suara Ravian terdengar penuh kekhawatiran dan kegelisahan. "Kita sudah berteman sejak masih anak-anak. Naira selalu ada setiap saat. Dan sekarang tiba-tiba dia berpacaran dengan Mikael? Sahabatku sendiri? Rasanya... rasanya seperti ada sesuatu yang berubah di tempat yang seharusnya tetap sama."
Selena menahan napas. Dadanya terasa sesak. Selama ini ia tahu Naira adalah teman dekat Ravian. Ia selalu menghormati persahabatan mereka.
Tapi tidak pernah sekalipun Ravian berbicara tentang Naira dengan nada yang begitu emosional, begitu terluka, dan seolah-olah kehilangan sesuatu yang sangat berharga.
"Memang mengejutkan," sahut suara Kirana. "Tapi mungkin ini hal yang baik untuknya. Naira berhak bahagia juga."
"Aku tahu," jawab Ravian. "Aku seharusnya senang untuknya. Tapi entah kenapa melihatnya bersama orang lain membuatku merasa aneh. Seolah-olah ada bagian dari masa laluku yang pergi tanpa pamit."
Hati Selena mencelos. Kalimat itu terasa seperti tusukan tajam di dadanya. Ia tidak perlu melihat wajah Ravian untuk tahu betapa terguncangnya pria itu.
Selama ini ia mengira perasaan Ravian kepada Naira hanyalah kasih sayang seorang sahabat. Tapi cara Ravian berbicara, cara suaranya bergetar, itu bukan sekadar persahabatan.
Selena menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Ia mengetuk pintu pelan lalu membukanya. Ravian dan Kirana serentak menoleh. Wajah Ravian terlihat pucat dan gelisah. Mata Selena langsung menatap tajam kepada Ravian.
"Jadi ini yang kamu lakukan saat aku tidak ada di sini?" suaranya terdengar tenang namun penuh ketegangan. "Membicarakan Naira dengan begitu banyak perasaan?"
Ravian terdiam. Ia tidak menyangka Selena akan datang. "Selena... aku..."
"Aku mendengar semuanya, Ravian." Selena berjalan masuk, menatapnya lekat-lekat. "Kamu merasa kehilangan? Karena Naira berpacaran dengan orang lain? Katakan padaku, siapa yang sebenarnya kamu cintai?"
Kirana berdiri canggung. "Aku keluar dulu ya." Ia segera meninggalkan ruangan, menutup pintu perlahan dan meninggalkan mereka berdua dalam keheningan yang menegangkan.
Begitu pintu tertutup, Selena kembali menatap Ravian. Matanya berkaca-kaca namun tetap tajam. "Jelaskan padaku. Mengapa kamu begitu terpukul? Mengapa kamu tidak bisa sekadar bahagia untuk sahabatmu?"
Ravian mengusap wajahnya dengan kasar. Ia melihat rasa sakit di mata Selena dan merasa bersalah. "Karena aku kaget. Itu saja. Naira adalah bagian dari hidupku selama sepuluh tahun lebih. Tentu saja aku butuh waktu untuk terbiasa melihatnya bersama orang lain."
"Hanya itu?" Selena melangkah mendekat, menatapnya dalam-dalam. "Kamu yakin tidak ada yang lain? Tidak ada perasaan yang selama ini kamu sembunyikan bahkan dari dirimu sendiri?"
Ravian memegang bahu Selena dengan lembut. "Selena, dengarkan aku. Naira hanyalah sahabatku. Tidak lebih. Tidak pernah ada apa-apa antara kami selain persahabatan.
Kalau aku peduli padanya, ya. Tapi itu sama seperti aku peduli pada Kirana atau pada siapa pun yang dekat denganku. Perasaanku kepadanya tidak pernah seperti perasaanku kepadamu."
Selena menatapnya, mencari tanda kebohongan di matanya. Tapi yang ia lihat hanyalah ketulusan. Namun itu tidak cukup untuk menenangkan hatinya.
"Kalau begitu..." suara Selena bergetar.
"Mengapa kamu terlihat begitu menderita? Mengapa beberapa hari ini kamu sering melamun, sering terlihat tidak ada di sini? Semua itu dimulai tepat saat kamu tahu Naira berpacaran."
Ravian menghela napas panjang. Ia menarik Selena ke pelukannya, berusaha menenangkan perempuan itu. "Aku minta maaf kalau aku membuatmu merasa tidak aman. Aku hanya butuh waktu untuk menyesuaikan diri.''
''Melihat orang yang selama bertahun-tahun selalu ada di dekatmu tiba-tiba memiliki kehidupan yang berbeda, itu memang butuh penyesuaian. Tapi itu tidak berarti perasaanku kepadanya lebih dari sekadar persahabatan. Dan itu tidak berarti perasaanku kepadamu berubah sedikit pun."
Selena bersandar di dada Ravian, mendengarkan detak jantungnya. Kata-kata itu seharusnya menenangkannya. Pelukan itu seharusnya membuatnya merasa aman. Tapi entah mengapa, rasa cemburu itu tidak hilang. Justru semakin membara.
"Kamu berjanji?" bisik Selena, menatapnya. "Berjanji bahwa tidak ada apa-apa antara kamu dan Naira. Bahwa perasaanmu sepenuhnya milikku."
"Aku berjanji," jawab Ravian dengan tegas. "Perasaanku sepenuhnya untukmu. Naira hanyalah sahabatku. Tidak lebih."
Selena memejamkan mata, mencoba meyakinkan diri sendiri. "Baik. Aku percaya padamu."
Tapi di dalam hatinya, ia tidak percaya pada Naira. Selama ini ia selalu bersikap ramah kepada Naira, menganggapnya sebagai teman.
Tapi Selena sangat tahu. Ia tahu perasaan perempuan. Ia tahu cara Naira menatap Ravian selama ini. Dan ia tahu bahwa selama Naira masih ada di dekat Ravian, ia tidak akan pernah merasa aman.
***********
Beberapa hari kemudian, Selena berjalan menyusuri lorong kantor ketika ia melihat mereka. Ravian dan Naira berdiri di dekat jendela, berbicara. Tidak ada yang aneh. Mereka hanya berbicara seperti teman biasa. Tapi bagi Selena, pemandangan itu terasa seperti ancaman.
Naira tersenyum menanggapi sesuatu yang dikatakan Ravian. Senyuman yang begitu tulus, begitu hangat. Dan Ravian... Ravian menatapnya dengan tatapan yang begitu lembut, begitu penuh perhatian. Tatapan yang seharusnya hanya ditujukan kepadanya.
Selena mengepalkan tangannya di sisi tubuh. Rasa cemburu yang selama ini ia tahan meledak di dalam dadanya.
Ia berjalan mendekat dengan langkah tegap.
"Ravian," sapanya, suaranya terdengar lebih tajam dari biasanya.
Ravian dan Naira serentak menoleh. Naira langsung menunduk sedikit, menyadari kehadiran Selena dan ketegangan yang muncul di udara.
"Selena..." Ravian menyapa. "Kamu ke sini?"
"Aku mencarimu." Selena berdiri di samping Ravian, secara tidak sadar menempatkan dirinya di antara pria itu dan Naira. Matanya menatap Naira dengan dingin. "Halo, Naira."
Naira tersenyum canggung. "Halo, Selena."
Selena tidak membalas senyuman itu. Ia hanya menatapnya dengan tatapan yang penuh ketidaksetujuan. "Kalian berdua terlihat sangat akrab. Bahkan setelah kamu berpacaran dengan Mikael."
Naira terdiam. "Kami... kami tetap berteman."
"Tentu saja." Selena tersenyum sinis. "Persahabatan yang sangat erat. Begitu erat sampai-sampai pacarku sendiri pun sepertinya masih belum bisa melepaskanmu."
Ravian menatap Selena. "Selena, jangan begitu. Kami cuma berbicara biasa."
"Berbicara biasa?" Selena menatapnya tajam. "Aku melihat cara kamu menatapnya, Ravian. Dan aku tidak suka itu."
Naira merasa tidak nyaman. Ia tidak ingin menjadi penyebab pertengkaran mereka. "Maaf... aku harus pergi. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan."
Naira berbalik dan pergi dengan langkah cepat, seolah-olah kehadirannya saja sudah menjadi dosa.
Begitu Naira hilang dari pandangan, Ravian menatap Selena. "Mengapa kamu harus begitu kasar padanya?"
"Kasar?" Selena menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Aku kasar? Sedangkan kamu... kamu membela dia di depanku sendiri?"
"Aku tidak membela siapa pun. Aku hanya tidak suka kamu memperlakukan temanku seperti musuh."
"Dia bukan temanku!" Selena meninggikan suaranya. "Dan mulai sekarang, kamu juga harus berhati-hati. Selama dia masih ada di dekatmu, aku tidak akan pernah merasa aman. Aku tidak akan pernah merasa tenang."
Ravian menghela napas panjang. Ia mendekat dan memegang bahu Selena. "Dia tetaplah sahabatku. Dan kamu tetaplah kekasihku. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
"Bagaimana aku tidak khawatir?" Selena menatapnya dengan penuh perasaan. "Setiap kali kamu bersamanya, kamu berubah. Kamu menjadi lebih lembut, lebih hidup.
Dan aku... aku merasa seperti orang asing di antara kalian berdua." Selena menelan ludah, menahan air matanya. "Aku tidak menyukainya, Ravian. Aku benar-benar tidak menyukai perasaan ini. Dan aku semakin tidak menyukai Naira karena itu."
Ravian menatapnya. Ia ingin mengatakan sesuatu untuk menenangkannya. Tapi ia tidak bisa menyangkal perasaan Selena. Ia tidak bisa menyangkal bahwa ada sesuatu yang aneh dalam cara mereka berinteraksi. Bahwa ada sejarah panjang di antara dirinya dan Naira yang tidak bisa dihapus begitu saja.
"Aku mengerti," katanya akhirnya pelan. "Aku akan berusaha lebih keras. Aku akan berusaha membuatmu merasa lebih aman."
Selena menatapnya. "Berjanjilah satu hal padaku."
"Apa itu Selena?"
"Jangan pernah menempatkan Naira di atas aku. Jangan pernah membiarkan dia menjadi alasan kamu ragu-ragu. Karena kalau itu terjadi..." Selena menatapnya tajam namun penuh kepedihan "...aku tidak akan tinggal diam. Aku akan melakukan apa pun untuk melindungi hubungan kita."
Ravian menatap matanya. Ia melihat ketakutan dan tekad di sana. Dan ia tahu bahwa Selena tidak main-main.
"Aku berjanji," jawabnya.
Tapi di dalam hati, ia merasakan kekhawatiran yang tidak bisa ia jelaskan. Karena ia tahu satu hal yang belum ia akui bahkan kepada dirinya sendiri. Selama Naira masih ada di dekatnya, selama ia masih melihatnya dan berbicara dengannya, ia tidak akan pernah benar-benar bisa bebas.
mudah2an cocok 💪