Indonesia
NovelToon NovelToon
Hujan Yang Tak Pernah Reda

Hujan Yang Tak Pernah Reda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:479
Nilai: 5
Nama Author: Rico Warsa

Hujan yang Tak Pernah Reda
Delapan tahun Kirana pergi tanpa kabar. Kini ia pulang saat Bapak sekarat, hanya untuk menemukan rahasia keluarga yang selama ini disembunyikan—rahasia yang jadi alasan sesungguhnya ia dulu memilih pergi. Antara cinta lama yang bersemi kembali dan kebenaran yang bisa menghancurkan keluarganya, Kirana harus memilih: lari lagi, atau bertahan menghadapi badai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rico Warsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Menyusun Kekuatan Terakhir

Meski hasil pemeriksaan independen soal surat kuasa masih dua minggu lagi, Pak Wibowo mengingatkan bahwa pertemuan pemegang saham lanjutan, yang akan menentukan hasil akhir soal kendali perusahaan, tinggal beberapa hari lagi—dan tidak bisa ditunda hanya karena ketidakpastian status hukum itu. Ratna, seperti yang diperingatkan, tidak menyerah begitu saja—ia mulai menghubungi beberapa pemegang saham minoritas lainnya, mencoba membangun koalisi untuk mendukung agendanya sebelum hasil pemeriksaan keluar.

"Kita perlu strategi yang lebih matang untuk pertemuan final ini," Pak Wibowo menjelaskan dalam pertemuan strategi malam itu, kali ini diadakan di ruang tamu rumah keluarga Wijaya, dengan Bapak yang meski masih dalam pemulihan, bersikeras untuk ikut serta dalam diskusi. "Ratna sudah mulai mendekati beberapa pemegang saham kecil, menjanjikan keuntungan finansial jika mereka mendukung pembentukan dewan pengawas yang ia usulkan."

"Berapa banyak suara yang dia butuhkan untuk menang?" tanya Sari, mencatat setiap detail dengan seksama di buku catatannya.

"Secara teknis, dia butuh mayoritas suara dari pemegang saham yang hadir," jelas Pak Wibowo. "Keluarga kita memegang enam puluh persen saham secara total, tapi jika beberapa pemegang saham minoritas memilih abstain atau tidak hadir, persentase kehadiran bisa berubah secara signifikan."

Bapak, yang duduk di kursi rodanya dengan wajah serius, akhirnya angkat bicara. "Aku ingin hadir dalam pertemuan itu."

Semua orang di ruangan itu menoleh kaget mendengar pernyataan itu.

"Pak, kondisi Bapak belum cukup kuat untuk—" Sari mencoba membantah, tapi Bapak mengangkat tangan, memotong dengan lembut namun tegas.

"Aku tahu risikonya," Bapak menjawab mantap. "Tapi ini perusahaan yang aku bangun dari nol. Aku tidak bisa hanya duduk diam di rumah sementara masa depannya dipertaruhkan tanpa kehadiranku. Lagipula, kehadiranku sendiri, meski singkat, akan menjadi bukti kuat bahwa aku masih dalam kondisi sadar dan kompeten untuk mengambil keputusan, mematahkan argumen Ratna soal ketidakmampuan mentalku."

Raka, yang kebetulan hadir untuk pemeriksaan rutin dan diminta memberikan pendapat medis, mempertimbangkan permintaan itu dengan hati-hati. "Secara medis, saya bisa mengizinkan kehadiran singkat dengan pengawasan ketat, asalkan tidak lebih dari tiga puluh menit dan disertai kursi roda serta akses oksigen cadangan jika diperlukan."

"Itu cukup," Bapak mengangguk puas. "Tiga puluh menit sudah lebih dari cukup untuk menyampaikan apa yang perlu aku sampaikan."

Keputusan itu memberi keluarga strategi baru yang kuat. Selama beberapa hari berikutnya, mereka mempersiapkan segala sesuatunya dengan detail—dari aspek hukum bersama Pak Wibowo, hingga aspek medis untuk memastikan kehadiran Bapak berjalan aman.

Di sela persiapan itu, Kirana juga akhirnya menghadapi keputusan pentingnya sendiri soal karier. Ia menelepon Pak Anton, memutuskan untuk jujur sepenuhnya tentang situasinya.

"Pak Anton, saya ingin bicara jujur," Kirana memulai, suaranya mantap meski jantungnya berdebar kencang. "Keluarga saya sedang menghadapi situasi yang sangat kompleks—bukan hanya soal kesehatan ayah saya, tapi juga pertarungan hukum yang menentukan masa depan bisnis keluarga. Saya tidak bisa memberikan komitmen penuh untuk presentasi klien minggu depan."

Ada jeda panjang di seberang telepon sebelum Pak Anton menjawab. "Kirana, aku menghargai kejujuranmu. Tapi aku juga punya tanggung jawab pada perusahaan dan klien kita."

"Saya mengerti, Pak," Kirana menjawab tenang, meski hatinya bergetar. "Kalau memang keputusan terbaik adalah menugaskan orang lain untuk memimpin proyek ini, saya menerima itu. Tapi saya ingin Bapak tahu, saya sangat menghargai kesempatan yang diberikan selama ini, dan saya berharap suatu hari bisa kembali berkontribusi penuh setelah situasi keluarga saya lebih stabil."

Pak Anton terdiam sejenak, mempertimbangkan kata-kata itu. "Kirana, aku sudah lama mengenalmu sebagai salah satu desainer paling berdedikasi di tim ini. Aku tidak ingin kehilangan itu hanya karena situasi sementara. Bagaimana kalau kita cari jalan tengah—kamu tetap terlibat dalam proyek dengan kapasitas konsultan, sementara rekan tim lain memimpin presentasi langsung. Kamu bisa berkontribusi dari jarak jauh sesuai kemampuanmu, tanpa tekanan harus hadir fisik."

Tawaran itu memberi Kirana kelegaan yang luar biasa. "Terima kasih banyak, Pak. Saya sangat menghargai fleksibilitas ini."

Setelah menutup telepon, Kirana merasakan beban besar terangkat dari pundaknya. Ia menyadari bahwa kejujuran, sesuatu yang baru saja dibuktikan keluarganya sebagai kunci penyembuhan, ternyata juga berlaku dalam aspek lain kehidupannya—termasuk dalam hubungan profesionalnya.

Malam sebelum pertemuan pemegang saham final, seluruh keluarga berkumpul sekali lagi untuk memastikan semua persiapan matang. Denis, yang selama beberapa hari terakhir aktif membantu riset tambahan soal latar belakang bisnis Ratna, membawa temuan yang menarik.

"Aku menemukan sesuatu yang menarik," ujarnya, membuka laptop untuk menunjukkan hasil risetnya. "Ratna ternyata punya utang bisnis yang cukup besar di perusahaan lain yang ia kelola sendiri. Beberapa sumber mengindikasikan dia butuh suntikan dana segar, dan mengambil alih kendali PT Wijaya Sejahtera mungkin jadi salah satu caranya untuk mengatasi masalah keuangannya sendiri."

"Ini bisa jadi informasi penting," Pak Wibowo menganalisis dengan seksama. "Kalau kita bisa membuktikan motif finansial pribadi di balik usahanya mengambil alih perusahaan, ini akan sangat melemahkan kredibilitasnya di mata dewan direksi dan pemegang saham lain."

Sari mengangguk setuju, matanya berbinar dengan strategi baru yang mulai terbentuk. "Kita punya cukup amunisi sekarang. Dokumen pengakuan anak yang menunjukkan integritas Bapak, catatan medis yang membuktikan kompetensi mentalnya, dan sekarang bukti motif finansial Ratna. Besok, kita hadapi dia dengan kekuatan penuh."

Bapak, meski tubuhnya masih lemah, tersenyum bangga menyaksikan keluarganya bersatu dengan strategi dan tekad yang kuat. "Aku bangga pada kalian semua. Apa pun hasil pertemuan besok, kalian sudah membuktikan bahwa keluarga ini, meski penuh luka dan kesalahan masa lalu, mampu bangkit dan berjuang bersama."

Malam itu, sebelum semua orang beristirahat untuk mempersiapkan diri menghadapi hari penting esok, Kirana menyempatkan diri menelepon Raka, yang telah menjadi sumber dukungan yang tak ternilai selama beberapa minggu terakhir.

"Besok hari besar," ujar Kirana di telepon. "Aku merasa gugup, tapi juga entah kenapa yakin kita akan berhasil."

"Kalian sudah mempersiapkan segalanya dengan matang," Raka menjawab menenangkan. "Dan yang lebih penting, kalian menghadapinya sebagai keluarga yang solid. Itu kekuatan yang tidak bisa diremehkan."

"Terima kasih sudah selalu ada, Raka," Kirana berkata tulus. "Entah sebagai dokter Bapak, atau sebagai... teman yang selalu mendukungku."

Ada jeda singkat di telepon, seolah Raka mempertimbangkan sesuatu. "Kirana, setelah semua ini selesai—pertemuan besok, urusan Ratna—aku ingin mengajakmu bicara. Tentang kita."

Jantung Kirana berdebar mendengar kalimat itu, campuran antara gugup dan harapan yang telah lama ia simpan. "Aku juga ingin itu, Raka."

Mereka mengakhiri percakapan dengan janji tak terucap untuk masa depan yang mungkin mereka bangun bersama, sebuah harapan kecil di tengah badai besar yang masih harus mereka hadapi esok hari.

---

*Bersambung ke Bab 23...*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!