### KARIR MINGGUAN
Reyhan hanyalah pria biasa dengan kehidupan yang stagnan. Sampai suatu malam, sebuah sistem misterius muncul dan mengubah hidupnya.
**[SISTEM KARIR MINGGUAN TELAH AKTIF.]**
Setiap minggu, Reyhan akan mendapatkan profesi yang berbeda—kurir, guru, pedagang, mekanik, programmer, hingga pekerjaan yang tak pernah ia bayangkan.
Setiap profesi memiliki misi dan batas waktu tujuh hari.
Jika berhasil, **reward luar biasa** menantinya.
Awalnya Reyhan mengira semua ini hanya keberuntungan.
Namun semakin banyak profesi yang ia jalani, semakin ia menyadari bahwa semuanya saling terhubung.
**Sistem itu tidak sedang memberinya pekerjaan.**
Sistem sedang mempersiapkannya untuk menjadi seseorang yang jauh lebih besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmat Rachimullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saya Bukan Guru!
Senin pagi.
Reyhan baru saja menyeduh kopi instan di dapur kosnya yang sempit ketika layar holografik itu muncul lagi, mengambang tepat di depan wajahnya seperti biasa tanpa permisi, tanpa basa-basi.
> [SISTEM KARIR MINGGUAN — MINGGU KE-2 DIMULAI.]
> [Karier Anda minggu ini: **GURU**]
> [Penempatan: SMA Tunas Bangsa]
> [Durasi: 7 hari]
Reyhan menatap tulisan itu lama-lama, berharap kalau dia berkedip cukup keras, tulisannya akan berubah jadi sesuatu yang lebih masuk akal. Kurir, oke. Dia paham jalan, dia kuat bawa motor seharian. Tapi guru?
"Gue bukan guru," gumamnya pelan, seolah sistem itu bisa diajak berdebat. "Gue bahkan nggak tamat kuliah, Sistem. Ijazah saya SMA doang."
> [Kualifikasi formal tidak relevan dengan penugasan Sistem.]
> [Penolakan penugasan akan dikenakan penalti: -Rp50.000.000 dari saldo Anda saat ini.]
Reyhan langsung diam. Uang lima puluh juta itu masih utuh di rekeningnya, hasil jerih payah tujuh hari jadi kurir minggu lalu. Kalau harus lenyap begitu saja gara-gara dia menolak jadi guru dadakan, rasanya seperti ditusuk dari belakang oleh sistemnya sendiri.
"Sistem ini nggak punya hati," desahnya, sambil menyeruput kopi yang mulai dingin.
Tidak ada jawaban. Sistem memang tidak pernah berdebat dia hanya menunggu, seolah tahu Reyhan pada akhirnya akan patuh juga.
Dua jam kemudian, Reyhan sudah berdiri di depan gerbang SMA Tunas Bangsa, sebuah sekolah swasta di pinggiran kota yang catnya sudah mengelupas di beberapa sudut tembok. Papan namanya miring sedikit ke kanan, seolah ikut lelah menahan beban nama besar yang tidak lagi sesuai kenyataan.
Ruang tata usaha menyambutnya dengan aroma kertas lama dan kipas angin yang berputar malas.
Di balik meja, seorang perempuan paruh baya berkacamata tebal nanti Reyhan tahu namanya Bu Retno, kepala sekolah menatapnya dari atas ke bawah dengan raut wajah yang sulit disembunyikan 'skeptis'.
"Anda... guru pengganti yang dikirim yayasan?" tanya Bu Retno, memutar-mutar pena di tangannya.
"Iya, Bu. Reyhan." Ia mengulurkan tangan, yang disambut ogah-ogahan.
"Saya cek data, nggak ada CV Anda di sistem kepegawaian kami. Nggak ada riwayat mengajar sama sekali. Ini... aneh." Bu Retno menyipitkan mata. "Yayasan bilang ini penempatan darurat karena Pak Hendra guru yang seharusnya mengajar mendadak sakit dan cuti panjang. Tapi biasanya kami dapat guru pengganti yang setidaknya pernah PPL."
Reyhan tersenyum kikuk. Tidak mungkin dia menjelaskan soal sistem holografik yang memaksanya jadi guru dalam tujuh hari demi menghindari kehilangan lima puluh juta rupiah.
"Saya... punya cara mengajar yang agak berbeda, Bu. Tapi saya jamin, saya serius," katanya, berusaha terdengar meyakinkan meski dalam hati dia sendiri panik setengah mati.
Bu Retno menghela napas panjang, seperti orang yang sudah terlalu lelah untuk protes lebih jauh. "Baik. Anda akan pegang kelas XI-C. Mata pelajaran umum, terutama matematika dan bahasa Indonesia kami kekurangan guru untuk dua-duanya minggu ini. Saya peringatkan dari sekarang,"
tambahnya, menurunkan suaranya seolah membagi rahasia berbahaya, "XI-C itu kelas paling... istimewa di sekolah ini."
"Istimewa gimana, Bu?"
"Anda akan tahu sendiri lima menit lagi."
Lima menit kemudian, Reyhan berdiri di depan pintu kelas XI-C, tangannya sedikit berkeringat memegang gagang pintu. Dari dalam, suara riuh sudah terdengar jelas teriakan, tawa keras, dan sesuatu yang terdengar seperti benda dilempar lalu jatuh berdebam.
Begitu pintu dibuka, tiga puluh pasang mata menoleh sebentar lalu kembali sibuk dengan urusan masing-masing seolah kedatangannya tidak lebih penting dari lalat yang lewat.
Di pojok belakang, seorang anak laki-laki berbadan tegap duduk di atas meja, bukan di kursi, dikelilingi beberapa teman yang tertawa mendengar ceritanya.
Di sudut lain, seorang anak perempuan duduk sendirian dekat jendela, menatap keluar dengan tatapan kosong, buku di depannya tidak dibuka sama sekali.
Dan di barisan tengah, seorang anak laki-laki lain tidur pulas dengan kepala di atas tas ranselnya sepertinya tidak terganggu sedikit pun oleh keributan di sekelilingnya.
"Selamat pagi," kata Reyhan, mencoba terdengar tegas.
Tidak ada yang menjawab. Bahkan tidak ada yang benar-benar mendengar.
Anak laki-laki yang duduk di atas meja belakangan Reyhan tahu namanya Bimo akhirnya menoleh, menilai Reyhan dari ujung sepatu sampai rambut dengan tatapan meremehkan yang sudah biasa dia pakai untuk menyambut guru pengganti.
"Guru baru lagi?" katanya, cukup keras supaya seisi kelas dengar. "Yang kemarin-kemarin aja nyerah dalam tiga hari, Pak. Situ kuat berapa lama?"
Kelas meledak tawa. Reyhan berdiri di depan, mencoba tersenyum, meski dalam hati dia mulai merasa bahwa lima puluh juta rupiah itu mungkin tidak sebanding dengan apa yang akan dia hadapi tujuh hari ke depan.
Di sudut layar holografik yang hanya bisa dilihatnya sendiri, sebuah notifikasi kecil muncul, seolah sistem menikmati momen ini tanpa berniat membantu sama sekali:
> [Misi Karier Guru telah diaktifkan.]
> [Target: Minimal 5 dari 30 murid kelas XI-C mengalami kenaikan nilai ujian tengah semester minimal 20 poin dalam 7 hari.]
> [Reward: Skill Komunikasi Lv.1 + Rp30.000.000]
> [Peringatan: Kegagalan memenuhi target minimum akan mengurangi reward secara proporsional.]
Reyhan menatap kelas yang masih riuh di depannya, lalu menatap notifikasi itu sekali lagi.
"Tujuh hari," gumamnya pelan, lebih untuk menenangkan diri sendiri daripada apa pun. "Cuma tujuh hari. Kalau kurir aja bisa, ini juga pasti bisa."
Ia belum tahu, kalimat itu akan jadi salah satu yang paling dia sesali di penghujung hari pertama.