“Genggam tanganku, karena hanya itu yang berhasil membuatku tenang. Karena hanya kamu, yang ada di hatiku.”
***
Ternyata, setelah berhasil melarikan diri dari kemarahan sang papa tak membuat Cello menyerah begitu saja. Hingga pada akhirnya dia terbawa arus menuju sebuah perjodohan dengan seorang gadis yang juga berada satu sekolah dengannya. Serena, gadis dari latar belakang Hedon dan kaya raya itu memiliki sifat yang hampir sama dengannya. Usut punya usut, gadis itu di jodohkan atas kasus yang lebih parah. Yakni lari dari rumah bersama kekasihnya.
Akankah mereka bisa berubah dan menerima status mereka sampai saat pernikahan tiba? Atau justru tetap menguatkan ego masing-masing?
Step by Step
by VizcaVida
©Juli 2023
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoonViKim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SBS-17
...Selamat membaca...
...Semoga terhibur ya kakbeb ❣️...
...Jangan lupa like, komentar, subscribe, vote dan hadiahnya jika berkenan ☺️...
...Terima kasih...
...[•]...
“Mas Ello, ada tamu didepan.” kata asisten rumah tangga yang bekerja dirumah Cello. Wanita muda itu mengetuk pintu kamar si majikan, lalu berteriak sopan di tempatnya berdiri.
Sedangkan Cello yang ada didalam kamar, mendecak sebal karena tau siapa yang datang dan siapa yang dimaksud si asisten rumah tangga tersebut.
Ia perlahan bangkit dari ranjang tidurnya, lalu berjalan malas untuk membuka pintu.
“Anu, mas. Ada mbak Serena, di bawah.”
Tanpa menjawab, Cello melewati si asisten rumah tangga begitu saja, berjalan menuruni anak tangga lantas berjalan ke arah Serena berada. Perempuan menyebalkan itu sedang duduk di sofa ruang tamu sambil menyilangkan kaki dan bermain ponsel.
Tanpa menyapa, Cello ikut duduk di sofa. Penampilannya sedikit acak-acakan karena sejak pagi belum mandi. Ah, malas sekali mandi. Apalagi dengan kondisi tangan di bebat seperti ini. Tapi tenang saja, dia masih tetap harum kok.
“Ada apa?”
Serena yang mendapati suara Cello, terkejut. Ia menghentikan kegiatannya bermain ponsel, kemudian menaruh atensinya kepada Cello.
“Ah, ini.” kata Serena sembari merogoh saku tas sekolahnya, lalu menarik keluar kunci motor Cello dan meletakkannya diatas meja. “Kunci motor Lo gua balikin. Gua gak mau ada beban.” lanjut Serena disemati senyuman kecil dibibir sewarna cherry miliknya.
Tak memberi jawaban, Cello hanya memperhatikan kunci berbandul X yang sekarang tergeletak diatas meja ruang tamu.
“Gua kemarin nggak sadar kalau kuncinya masuk lagi ke dalem tas. Pas dirumah, ngecek buku pelajaran, baru deh ketauan. Sorry ya.”
Cello hanya mengangguk kaku. Hingga mata keduanya bertemu, dan Serena mengalihkan tatapannya pada perban di tangan Cello.
“Udah mendingan belum?” tanya Serena dengan nada gengsi yang begitu kentara.
“Udah.” jawab Cello singkat, tak ingin buang-buang tenaga untuk berbasa-basi dengan perempuan dihadapannya. Ia justru ingin, Serena segera pulang agar dirinya bisa segera beristirahat.
“O ... h.”
Lengan Cello terulur meraih kunci motornya. Dia lantas menyimpannya di saku celana kolor santai berukuran pendek berlogo centang yang ia kenakan.
“Ya udah. Cepetan pulang gih.”
Sungguh terluka. Serena menghapus sisa ekspresi peduli dan khawatir di wajahnya. Ia menyorot Cello dengan seringai tajam disudut bibir.
Sialan. Gua diusir.
“Jadi, gua harus pergi sekarang ya?”
Cello mengedikkan bahu acuh.
“Nggak ada ucapan terima kasih buat gua yang nyempetin datang kesini pulang sekolah?”
“Lha kan udah gua bilang tadi, ngga usah diantar. Lu nya ngeyel.”
Astaga naga. Sebenarnya Cello ini terbuat dari apa sih? Mengapa tidak ada hati dan perasaan sedikitpun saat mengusir Serena?
Serena akhirnya menyerah. Dia mengembuskan nafasnya besar-besar agar Cello tau diri. Dia juga meraih tasnya dan berdiri berniat pamit. Namun Cello berteriak memanggil nama salah satu asisten rumah rumah tangganya.
“Mbak Na.” teriaknya keras. “Mbak Na.” teriaknya lagi karena si pemilik nama belum menunjukkan diri. Lalu,
“Iya, mas.” kata Ratna, asisten rumah tangga yang usianya masih muda, sepantaran dengan kakak laki-lakinya, Arman.
“Tolong beritahu pak Agus. Minta tolong anterin si cabe pulang.”
Si cabe? Ratna melongo. Ia tidak tau harus bicara apa saat tau majikannya itu memanggil calon istrinya dengan sebutan cabe.
“Ca-cabe?”
Mendengar sebutan memalukan itu dari Cello, Serena meremas tali tas sekolahnya. Wajahnya mengeras sempurna. Benci sekali dia disebut cabe, karena dia pun tau apa itu arti cabe dimata anak muda jaman sekarang. Setau Serena, cabe itu sebutan untuk remaja yang tingkahnya melebihi wanita dewasa yang pekerjaannya sedikit memicu kontroversi.
“Nggak usah. Gua bisa pulang sendiri.” ketusnya kesal, kemudian berjalan hendak pergi.
“Gua nggak bisa anter kamu pulang. Jadi mending Lo diantar pak agus.”
“Nggak—” sahut Serena cepat, namun kembali terpotong oleh sergahan suara Cello yang menyahut tak kalah cepat.
“Bagaimana pun, Lo udah jadi tanggung jawab gua, Cabe. Kalau ada apa-apa sama Lo, orang pertama yang akan dihajar papa sampai mam-pus itu gua.”
Serena menyorot penuh amarah. Tidak bisakah Cello ini bersikap baik sebentar saja supaya dirinya nggak badmood.
“Gua ngga mau ambil risiko apapun karena keras kepala kamu ini.”
Serena tidak peduli. Dia terlanjur sakit hati.
“Apa Lo juga lupa isi perjanjian kita? Lo sendiri yang minta diantar jemput. Jadi, jangan nolak.” titah Cello tidak ingin dibantah. Dan seketika itu juga Serena menghentakkan kedua kakinya kehabisan kata-kata. Sedangkan Cello, dia menahan mati-matian tawanya saat melihat wajah ditekuk milik Serena.
Dia rasa, dirinya sudah berhasil mengerjai Serena hingga kesal. Dan dia bangga.
...***...
“Neng Serena, ini jalannya masih lurus kan?” tanya pak Agus dengan logat Sunda yang masih melekat di lidahnya. Pak Agus ini orang asli kota Bandung. Tapi, dia sudah puluhan tahun bekerja dengan calon mertuanya, Pradana.
“Iya pak.” jawab Serena ketus karena pada akhirnya dia tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti kemauan Cello yang memintanya pulang dengan supir keluarga cowok itu.
Pak Agus melirik Serena dari kaca di atas dashboard depan mobil, lantas tersenyum kecil menyadari jika perempuan muda itu sedang cemberut.
“Diantara anak-anaknya pak Pradana, den Cello memang yang paling sering bikin pusing, neng. Tapi ini menurut saya pribadi lho, ya. Tidak tau lagi dengan yang lain.” ceritanya membuat Serena mau tidak mau mendengarkan, meskipun ia keberatan.
“Kalau neng Diana itu orangnya tegas, neng. Kalau den Arman, orangnya lembut dan sangat sopan sampai saya terkadang sungkan. Nah, kalau Den Cello ini, selalu bikin bingung. Kadang juga pusing karena tingkahnya,” lanjut pak Agus yang berhasil membuat Serena tertarik dengan topik obrolan.
“Tapi, Den Cello itu sebenarnya anak baik kok, neng. Dia sering ikut donor darah dan juga menjadi salah satu donatur di salah satu panti asuhan besar yang ada di sudut kota.”
Mata Serena melebar. Benarkah? Bahkan di lihat ribuan kali pun, Cello tidak memiliki wajah yang bisa dianggap sebagai manusia budiman.
“Nyonya yang sering bawa den Cello. Dan setelah nyonya pergi, den Cello masih selalu datang kesana untuk mendonasikan uang dan terkadang kebutuhan sehari-hari yang ia beli dari sisihan uang jajan sekolah.”
Serena ingin tahu sesuatu.
“Lalu, mengapa Cello seperti malas sekali bertemu orang, apalagi bicara dengan orang yang bertemu dengannya.” tanya Serena. Siapa tau dia mendapatkan jawaban atas sikap menyebalkan Cello dari pria paruh baya bernama pak Agus ini.
“Kalau itu, saya kurang tau, neng. Den Cello juga jarang bicara dengan saya.” jawab pak Agus lurus. “Kalaupun saya mengantarnya ke sekolah atas permintaan pak Pradana, den Cello juga tidak pernah bersuara didalam mobil. Dia selalu diam, memakai headset, dan mendengarkan entah apa saya juga tidak tau, dari ponselnya.” jujur pak Agus panjang lebar.
“Den Cello sepertinya memang malas bicara dan lebih suka memendam apapun yang seharusnya bisa di selesaikan dengan bicara.” lanjutnya beritahu.
Serena mengangguk paham. Bisa jadi, Cello ini memang sengaja menghindari orang lain karena memiliki trauma. Tapi, entahlah.
“Setau pak Agus, apa Cello memiliki ... ” Serena ragu. Tapi dia penasaran. Oke, tanya saja, toh hanya bertanya iseng. Dan semoga saja, pak Agus tidak melaporkannya kepada Cello. Bisa malu tujuh turunan kalau sampai Cello tau dirinya mengulik kehidupan pribadi cowok itu, dari orang lain. “Eummm ... kekasih?”
Pak Agus melirik lagi sosok Serena di jok belakang mobil.
“Kayaknya tidak, neng. Mas Cello enggak pernah bawa anak gadis orang pulang,”
Serena bisa melihat ada gurat ragu di wajah pak Agus. Dan kalimat yang selanjutnya diucapkan pria paruh baya itu berhasil membuat Serena yakin, jika tebakannya sial perempuan yang disukai Cello tempo jari itu, tidak salah.
“Kecuali neng Ika. Anak tetangga depan rumah.”
Tetangga? Depan rumah?
Wow, berita yang amat sangat mengejutkan. Jadi Ika dan Cello itu bertetangga? Jadi hal itu yang membuat Cello terlihat mengagumi sosok Ika?
Mengejutkan. Apa Serena bisa mempergunakan informasi ini, suatu saat nanti? []
...To be continue...
###
Hati-hati El. Salah satu kartu As Lo, di pegang Serena 😁
"yup!kalian tidak salah lihat,kalian juga tidak salah baca.itu adalah gambar an-jing.
Dan pasti kalian penasaran siapa yang ada di seberang sana menunggu respon,bukan?"
"Tapi coba tebak siapa?"
dan masih banyak banget yang lainnya.
kalo menurut aku pribadi,di bacanya jadi ga enak,lagi meng hayati,membayangkan dan pemasaran. auto buyar dengan paragraf² yang begitu. ini komentar bukan untuk menjatuhkan,juga bukan untuk mencela.
semangat selalui buat autornya. 😊😊 maaf jika dalam menyampaikan kurang berkenan 🙏🙏🙏
"yup!kalian tidak salah lihat,kalian juga tidak salah baca.itu adalah gambar an-jing.
Dan pasti kalian penasaran siapa yang ada di seberang sana menunggu respon,bukan?"
"Tapi coba tebak siapa?"
dan masih banyak banget yang lainnya.
kalo menurut aku pribadi,di bacanya jadi ga enak,lagi meng hayati,membayangkan dan pemasaran. auto buyar dengan paragraf² yang begitu. ini komentar bukan untuk menjatuhkan,juga bukan untuk mencela.
semangat selalui buat autornya. 😊😊 maaf jika dalam menyampaikan kurang berkenan 🙏🙏🙏
sehat sll yaa 🤗🤗
✌️ kabuuuuuur 🏃🏃
makasih
makasih
👍👍👍
semangat mba buat karya barunya yg udah rilis
yg banyak ya Thor