Indonesia
NovelToon NovelToon
EGO

EGO

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / CEO / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Persahabatan / Romansa / Tamat
Popularitas:16.2k
Nilai: 5
Nama Author: GoldenSpider

"Dia adalah anak perempuan lemah yang akan membawa nasib buruk keluarga ini."

Kalimat dukun perempuan itu tampaknya tertanam dalam ingatan kedua orang tuaku.
Akibat dari pernyataan tak berdasar itu, mereka selalu memandangku sebelah mata. Segala hal yang menjadi hakku mereka alihkan pada kakak laki-lakiku.

Karena hal itu juga, aku begitu membenci Teo, kakak laki-lakiku.
Aku bertekad untuk bisa menjadi sosok yang kuat seperti seorang anak laki-laki. Membuktikan bahwa aku bisa!

Sial! Masalah tidak sampai di situ.
Nasib buruk dan kecelakaan selalu menghantuiku.
Dukun itu berkata, jika aku tidak segera menikah di usia 21 tahun, maka aku akan mati.
Menikah, adalah salah satu cara agar aku bisa lepas dari rentetan kesialan atas waktu kelahiranku yang salah.

"Bagaimana jika kita menikah? Maukah kau menikah denganku?"

Di waktu yang tidak masuk akal, seorang pria asing tiba-tiba saja mengajakku menikah.

Entah harus mengrutuki nasib atau berterima kasih padanya, aku tidak tahu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GoldenSpider, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MALAM PERTAMA

Drtt.. Drtt...

Getar ponsel membuyarkan lamunanku dalam perjalanan pulang.

"Heh! Kemana saja kau? Dari tadi aku menunggumu. Kau bahkan tidak menjawab pesanku."

Aku menjauhkan ponselku dari telinga. Sedikit perih mendengar ceroscos Laura. Aku mencoba mengingat janji temu apa yang sudah aku buat dengannya sore ini?

Aku menepuk jidatku tepat saat menyadari kami seharusnya bertemu untuk melakukan tugas kelompok.

"Maaf-maaf Ra. Aku benar-benar lupa. Seharian ini aku ada urusan penting sampai lupa." Sesalku.

"Huh. Memang urusan apa sampai-sampai kau tidak merespon sama sekali?"

Sedikit ragu, aku mulai menceritakan kembali semua tentang Max pada Laura. Bagiku tempat teraman untuk bercerita saat ini adalah dia.

"Sepertinya kau sudah jatuh cinta. Kau rela berada di dekat Max meski kau tahu dia seperti itu." Opininya membuatku semakin mempertanyakan perasaanku yang sesungguhnya.

Jika benar seperti itu, aku akan merasa senang. Tidak akan ada rasa bersalah seperti yang aku rasakan saat ini. Rasa bersalah karena jantungku selalu berdebar tiap kali aku bersama kakakku sejak saat itu.

Aku mengacak rambutku dengan kasar. Tidak peduli jika orang lain memandangku aneh.

"Aku tidak yakin?" Sahutku.

"Hei. Coba sekarang pikir, kau jelas sakit hati jika melihat Max dengan wanita lain kan?"

Pertanyaannya cukup masuk akal. Aku tidak suka melihat Max berbincang dengan Lusy. Tapi bagiku, rasa kecewaku hanya karena Max tidak terbuka padaku sejak awal. Aku merasa tertipu dan tidak berguna sebagai seorang istri.

"Aku pikir kasus itu berbeda. Tapi aku yakin Max tidak akan bertingkah dengan wanita lain seperti itu. Dia bukan orang yang seperti itu. Kau tahu dia sangat perhatian padaku kan." Aku mencoba menepis kemungkinan pengkhianatan yang akan dilakukan Max.

"Eh tentu saja mungkin. Kau tidak pernah tahu isi hati seseorang. Kau bahkan tidak tahu isi hatimu bagaimana!"

Kalimat terakhir Laura benar-benar menusuk tepat di dadaku. Dia benar, aku bahkan tidak mampu memahami perasaanku yang sesungguhnya.

Bersamaan dengan itu, aku membuka pintu rumah yang tidak terkunci. Aku tercenung untuk beberapa saat. Tidak percaya dengan pemandangan di hadapanku.

Mengerjapkan mataku beberapa kali untuk meyakinkan apa yang aku lihat hanya halusinasi.

"Aku tidak ingin melihat Max suamiku bersama orang lain. Seperti saat ini." Aku menghentikan langkahku di depan pintu.

"Apa?" Laura terdengar bingung di seberang sana.

"Mereka berciuman. Aku melihat mereka berciuman." Imbuhku lirih, masih berdiri di depan pintu tak berkedip melihat suguhan di depanku.

"Siapa?!" Laura memastikan.

"Max."

"Dengan?"

"Ana. Pembantuku." Jawabku dengan nada putus asa.

"Em- Emma. Kau baik-baik saja? Apa kau menangis dan menutup pintu kemudian pergi? Hei jawab aku."

Aku tak menjawab sederet pertanyaan Laura. Segala skenarionya salah. Bukan tangis yang aku perlihatkan. Mata, hati dan kepalaku terasa terbakar. Aku tersulut.

Tidak ingin bertoleransi lagi akan hal ini. Mereka bahkan tak mendengarkan aku yang sempat berbincang dengan Laura.

Berjalan dengan sorot mata penuh emosi, aku mendorong tubuh Ana menjauh dari Max.

PLAK!

Satu.

PLAK!

Dua.

Belum puas, aku kembali memberikan tamparan ke tiga di pipi kirinya. Tak memberikan kesempatan pada Ana untuk membalas atau sekedar menghindar.

PLAK!

Aku terengah, emosiku tak terkontrol.

"Berani sekali kau?!" Aku meraih rambutnya dengan kasar. Menghadapkan wajahnya ke arahku.

Ana tersenyum licik, kemudian mengusap bibir.

"Kenapa? Aku hanya membantu melayaninya. Tuan Max, dia sangat pandai berciuman." Seperti tidak memiliki rasa takut, dia justru memancingku.

"Oh Tuhan. Jangan bilang kau tidak pernah mendapatkan ciumannya?" Entah terbuat dari apa hatinya, dia semakin bermain-main dengan perasaanku. Tak terlihat rasa bersalah sedikitpun di matanya.

Seperti yang aku katakan sebelumya. Tidak ada sedikit ampun kali ini. "Keluar dari rumah ini sekarang!" Aku menjambaknya, membawanya menuju pintu keluar namun urung kala Max menghadang kami.

Max mencengkeram tanganku, untuk pertama kalinya aku melihat sorot matanya penuh emosi.

"Lepaskan." Rintihku.

Dia tak mendengarkanku. Sosok yang kulihat saat ini seperti bukan dirinya yang aku kenal.

Aku bahkan tidak tahu Max yang saat ini aku lihat apakah benar karena ia sakit atau mereka memang berencana selingkuh dan membunuhku?

"Siapa yang menyuruhmu mengusir dia?" Max menatap tajam padaku.

"Max, tapi dia-"

"Berani sekali kau bertindak seenaknya di rumah ini! Kau pikir Siapa kau!"

Aku tertampar dengan kalimatnya. Semua janji yang ia ucap seolah lenyap begitu saja. Sebuah kekhawatiranku selama ini benar-benar terjadi. Janjinya hanya isapan jempol belaka.

Max meraih daguku, kasar. Bisa aku cium aroma alkohol dari tubuh Max dalam jarak sedekat ini.

"Siapapun yang saat ini di sini tidak boleh melawanku seperti Lusy! Wanita yang sempat ku puja-puja itu, dia tidak pernah mendengarkan ku. Dan sekarang kau! Kau tidak boleh melawanku!"

Mendengar kalimat Max, aku sadar akan penampilan Ana yang tidak biasa. Dia berpakaian rapi dengan riasan tebal persis seperti penampilan Lusy. Mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki.

Max tampak begitu kesetanan. Aku teringat kalimat Lusy yang mengatakan bahwa emosi Max tidak akan terkontrol jika teringat Ayahnya. Luka lamanya akan kembali terbuka.

Dan kini, Lusy telah menjadi bagian dari luka itu.

BLUK.

Aku menendang Max untuk menjauh dariku. Tidak tahu harus berbuat apa untuk menghadapinya pada fase seperti ini.

Max terhuyung. Tak menunggu lama, aku berlari menghindarinya. Dasar aku yang bodoh, aku justru berlari ke atas.

Sial! Aku terjatuh dari anak tangga dan Max menangkapku. Dia mulai menyeret tubuhku ke atas. Tidak peduli jika tubuhku kesakitan.

Aku berusaha berontak, mengigit tangannya namun tenaganya jauh lebih kuat dibandingkan aku.

Aku menamparnya. Berharap ia akan sadar dan mulai berpikir jernih. Namun apa yang aku lakukan tampaknya salah.

Max membantingku hingga terjatuh dilantai, kepalaku terbentur vas bunga yang ada di sudut balkon. Pening mulai menyergap hingga aku tak sadarkan diri.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Masih aku rasakan pening dikepalaku saat aku terbangun. Entah karena kali ini aku terbangun lebih pagi dari biasanya atau karena benturan keras tadi malam.

Aku merintih saat merasakan sakit dibagian tubuhku yang lain. Bukan, bukan di kepalaku. Kali ini aku merasakan nyeri dan perih di area vitalku.

Tanganku bergerak sedikit menyentuh area vitalku yang terasa nyeri, mencoba mencari tahu apa yang salah. Namun semua terasa semakin salah saat aku menyadari aku terlucuti.

Aku mengucek mata, mencoba menyadarkan diriku dari mimpi aneh ini. Tak membuahkan hasil, aku mulai menampar wajahku. Namun pemandangan yang aku dapatkan tetap sama, tubuhku terbalut selimut yang biasa aku pakai tidur dengan Max.

Aku melirik ke sisi kanan kasur dan mendapati Max masih terlelap di sana tanpa sehelai kain di tubuhnya.

"AAA!!!" Aku histeris. Spontan aku menendang Max hingga terjatuh dari kasur. Untuk pertama kalinya aku benar-benar melihat sesuatu seperti ini. Cepat-cepat aku melempar segala macam benda untuk menutupi tubuhnya. Cukup terganggu dengan hal itu.

Aku menggeleng berharap semua ini mimpi.

Max mengerjap, ia tampak linglung. Tak berselang lama dia mulai sadar. Kemudian naik ke atas kasur untuk mendekatiku.

Aku menarik selimut dengan erat sembari memasang kuda-kuda. Tidak ingin hal yang tak pernah aku harapkan itu terjadi lagi.

"Maafkan aku, apa aku melukaimu?" Max merasa bersalah.

"Sungguh aku tidak bermaksud melakukan apa-apa tadi malam. Semua benar-benar di luar kendaliku. Aku tidak tahu bagaimana ini terjadi."

Aku melirik tajam ke arah Max. Ingin sekali aku mengatakan dia telah lancang. Aku menarik nafas dalam-dalam. Mencoba mengontrol emosiku. Benar, dia yang tadi malam bukan dia yang sebenarnya. Dia sakit.

Namun perasaanku lebih sakit. Aku menggeleng, berpura-pura semua baik-baik saja. Tapi, menjelaskan pada Max juga sepertinya akan sia-sia saat ini. Dia sedang tidak dalam kondisi yang baik.

Bagaimana pun, aku harus bisa mengobatinya. Sedikit bingung bagaimana aku harus mengajaknya berobat sementara dirinya tidak pernah mencoba terbuka padaku.

Air mataku menetes sejak pagi itu. Mandi, sarapan dan perjalanan ke kampus pun aku menitikkan air mata. Tak mampu membendung air mataku karena merasa telah ternodai.

"Kenapa matamu sembab?" Laura menghampiri ku yang kini berjalan loyo melewatinya. Tatapanku kosong, sangat tidak bersemangat.

"Heh, kau tidak apa-apa? Katakan ada apa? Apa yang terjadi semalam? Kau bahkan tidak menjawab telponku. Aku sangat mengkhawatirkanmu." Ceroscosnya lalu menyenggol lengan Audrey. Berharap ia akan membantu membujukku untuk bercerita.

"Max"

"Ada apa?"

"Dia melakukan itu padaku." Masih dengan tatap kosong, aku menjawab pertanyaan mereka dengan lirih. Nyaris tak bisa di dengar. Orang yang melihatku pasti akan menganggapku gadis frustrasi dan tak memiliki semangat hidup.

Sejenak mereka saling bertatap, kemudian saling senggol lengan berbicara dengan tatapan mata. Tak paham dengan maksudku.

"Dia sudah mendapatkanku seutuhnya." Jelasku lalu mewek tak terkontrol.

"Apa?!" Serempak, mereka membuka mulut terkejut.

Menyembunyikan wajahku dibalik telapak tangan, aku tak mampu menahan tangis. Tubuhku bergetar.

"Hei-hei Berhentilah. Ini bukan Emma yang aku kenal. Kau tidak pernah menangis selama bersamaku." Lauren menggoyangkan bahuku.

"Kenapa kau menangis? Kau takut dosa?" Lanjutnya yang aku jawab anggukan. Hatiku begitu sakit.

Lauren menepuk jidat. "Kau benar-benar gila ya. Dia kan suamimu. Wajar saja lah."

"Meski suami tapi kalau Ema tidak siap kan tidak benar juga dia memaksa." Audrey mengusap bahuku.

"Tapi apa dia memaksa mu?"

Aku mengangguk, sementara Lauren mengusap wajahnya dengan kasar. Paham apa yang terjadi semalam.

Geram, Lauren mengepalkan tangan. "Pasti semua ini karena ulah pembantu itu! Pecat saja dia!"

"Pembantu?" Audrey menaikkan satu alisnya, tentu saja dia bingung. Dia satu-satunya yang tidak tahu ceritaku sebab aku belum sempat menceritakan apapun padanya.

1
Sri Astuti
bener kan Lusy ternyata mmg mantan istri Max.. ayahnya di penjara ternyata krn bunuh istrinya
Sri Astuti
kok makin mencurigakan ya
Sri Astuti
misterius
Sri Astuti
mencurigakan
Sri Astuti
siapa perempuan dan anak kecil itu.. apa istri dan anak Max yg membuat dia ninggalin Emma
Sri Astuti
kemana Max.. Teo lagiiii
Sri Astuti
semoga mrk berdua makin dekat
Sri Astuti
Teo suka Emma
Sri Astuti
terlalu parno dgn ramalan tp kt nya ga percaya
Sri Astuti
syukurlah Max beneran.suka
Sri Astuti
ah Audrey
Sri Astuti
waduh..ciumannya sm Teo
Sri Astuti
wah...🤔🤔🤔
Sri Astuti
kayaknya seruu ini
Hap£!π
bagus thor karyamu....semangat ya utl membuat crt baru yg lbh baik lagi agar pembaca bisa ikut masuk dalam atmosfir crtmu
canyouseeme^^
semangat thor
SUKARDI HULU
Nih sudah mampir kk, jangan lupa like, follow dan beri hadiah y❣️❣️🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!