Laluna adalah seorang jenderal wanita yang di bunuh oleh suaminya sendiri ketika itu juga ia terbangun dan berada di tubuh anak kecil berumur lima tahun.
banyak fakta dibalik kematiannya, Istana kerajaan berada diambang kehancuran. tetapi pangeran ke sembilan selalu berada di sampingnya untuk melindungi Laluna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Night Shade, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari keenam : Perjalanan
Setelah membukakan pintunya, ternyata orang itu adalah pemilik gedung ini mereka menawarkan beberapa pelayanan yang seadanya di gedung miliknya ini, aku tidak bisa begitu saja menolak dari pelayanan yang baik dari desa ini. akhirnya aku pun menerima beberapa tawarannya.
aku : "Saya pesan paket Soju saja, kami akan memikirkan beberapa tawaran anda yang lainnya."
Pemilik gedung : "Baik saya permisi dulu, Eh, tunggu dulu. maaf jika saya lancang apa kalian merupakan suami istri yang baru saja menikah?"
aku : "i,itu mengapa anda menanyakan itu?"
pemilik gedung : "Kami ada promo spesial dari pasangan yang baru saja menikah, katanya jika ada pasangan yang menikah di penghujung bulan ini menandakan suatu hal yang baik."
aku sangat tergiur, apa saja promo yang di sediakan, kalau itu sangat menguntungkan tentu saja aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan emas ini, bagi diriku yang sudah hidup miskin bertahun-tahun tentu hal tentang promo ini sangat berharga.
aku : "Ah, iya sebenarnya kami sedang berbulan madu berkeliling wilayah kerajaan yang indah ini, saya ini sebenarnya asal dari desa dekat perbatasan di gunung suci."
sekilas aku melihat wajah memerah dari Wei tapi ia juga sepertinya tidak mau mengkhianati tuannya. kalau aku jadi dia aku tidak perlu khawatir ini kan keputusan orang yang tinggi pangkatnya, eh maksudku kalau dari pangkat dialah yang lebih tinggi karena aku cuma gadis miskin dari desa. yah setidaknya dia harus mengambil keutungan dari promo yang kami dapatkan.
pemilik gedung : "kalau begitu baguslah, kalau begitu saya akan mengantarkan menu spesial dari gedung kami hanya dengan satu keping emas. anda juga bisa berendam di pemandian air panas kami"
wah ini sangat menggiurkan, tapi aku juga harus berhati-hati. takutnya ini hanyalah sebuah penipuan yang di persiapkan oleh pemilik gedung ini. untungnya aku selalu membawa jarum perak ku dan beberapa senjata kecil untuk keperluanku.
setelah pesanan itu berjalan sekitar sepuluh menit kemudian, makanan itu sudah tiba begitu saja. beragam menu dan makanan enak di hidangkan di atas meja kamar sewa kami. aku pun tidak berhenti meneteskan air liur.
tapi sebelum itu aku menunggu para pelayan itu pergi terlebih dahulu. setelah mereka menutup pintu aku mencek satu per satu makanan tersebut dengan jarum perak yang ku bawa, ternyata makanan yang mereka buat semuanya murni tanpa racun. aku sudah berburuk sangka, tapi aku masih penasaran apa motif pemilik gedung menawarkan promonya secara langsung.
aku : "Wei, apa kamu merasa aneh dengan pemilik gedung kenapa mereka begitu ramah dengan kita?"
Wei : "Sebenarnya saya baru ingat kalau di desa ini adalah tempat dimana selir ibu pangeran ke sembilan diasingkan selama beberapa bulan."
aku :" kau pikir aku percaya dengan perkataan mu Sekarang?"
Wei : "Tapi saya jujur, saya juga tinggal disini beberapa bulan dengan beliau untuk menjaganya bersama ayahku juga."
aku : "terus apa maksud semua ini!?"
Wei : "Tadi saya kaget dengan pemilik gedung ini dan ingin mengatakan beberapa sapaan padanya tapi nona tidak memberikan saya kesempatan berbicara."
aku :"Jadi ini semua salahku hah!? emangnya siapa pemilik gedung ini?"
Wei : "B,bukan nona. tapi dia adalah bibiku"
aku :"APA! Wei cepat jelaskan pada bibi mu, aku ini majikan mu. bukan istri mu kalau tidak ku bunuh kau atau ku laporkan pada pangeran kamu mencoba selingkuh dengan ku"
Wei : "b,baik nona"
dasar bocah sialan emang kenapa tidak ngomong dari tadi, keliatan aja kekar tapi saat bicara denganku seperti anak burung, mana gagap terus ngomongnya bikin jengkel emang anak zaman sekarang.
mumpung bocah itu sedang menemui bibinya, makanan ini resmi bisa aku kuasai sepenuhnya. emang rezeki ga kemana. aku memang orang paling beruntung di dunia, mana dah mati pun aku bisa hidup lagi. dunia ini sangat menyayangi ku.
***
Pagi-pagi bibi nya Wei sudah menyiapkan baju baru untukku, karena pada saat ini pangeran ke enam sangat ketat terhadap pengawalannya. ia berusaha menangkap ku untuk yang kedua kalinya. aku merasa jijik dengan semua pangeran anaknya si kaisar sialan itu sifatnya sama sama murahan dengannya.
aku lebih baik menikahi kudaku dibandingkan dengan para pangeran murahan itu, aku tau kalau aku ini sangat cantik. maka bersainglah dengan sehat. tapi keputusan akhir selamanya akan berada di tanganku.
saat kami siap untuk melanjutkan perjalanan kami, bibi Wei ini memberikan kami seekor kuda agar kami bisa sampai dengan cepat. setahuku setelah kami keluar dari desa ada seorang pengawal yang akan memeriksa kami dan menanyakan tujuan kami, aku harus menyiapkan sebuah rencana agar dapat lolos dari penjagaan itu.
Pemilik gedung : "Nona hati-hati, semoga pangeran baik-baik saja anda tidak perlu khawatir."
aku : "Terimakasih bi"
Wei : "Nona kita berangkat sekarang."
Aku : "Kamu tidak perlu menyuruhku lagi, aku sudah tahu!"
Wei : "b,baik nona."
aku berjalan menuju gerbang desa, rencana dalam otakku sudah selesai ku program. tinggal kerja sama dengan si bocah bodoh ini, apa ia bisa berakting atau tidak. aku sedikit meragukannya.
tetapi ketika kami sampai di gerbang wajah dan sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat. ia berhasil mengambil perannya sebagai kakakku, tinggal aku yang harus berakting sebagai adik yang sedang sakit-sakitan.
pengawal berkumis : "Periksa warga selanjutnya!"
aku : "Uhuk, Uhuk.., kakak apa kita tidak bisa cepat sampai di ibukota untuk bertemu tabib yang bagus itu?"
Pengawal kurus : "nona apakah anda baik-baik saja?"
Wei : "Tuan adik saya sedang sakit kronis, seperti batuk menular begitu saya juga menggunakan masker ini supaya tidak tertular olehnya."
aku melihat para pengawal itu sedikit menjauh, untungnya kau menaburkan sedikit bubuk cabai di sapu tanganku agar terlihat seperti darah, aku pun menunjukan betapa parahnya penyakit bohongan ku.
aku :"Kakak lihat aku mengeluarkan darah lagi."
Wei :"Wei ya ampun, kamu tahan sebentar paman - paman ini belum selesai memeriksa kita."
aku : "apa mereka tidak peduli jika aku mati disini?"
Wei : "sabar ya dek"
pengawal berkumis : "Kalian boleh keluar cepatlah kamu bawa adikmu menemui tabib!"
pengawal gendut : "sangat disayangkan gadis yang begitu cantik, tapi hidupnya Sepertinya tidak akan lama lagi."
Wei : "Terimakasih paman!"
kami pun pergi dengan lega melewati pemeriksaan itu. rencana ku memang hebat, seorang jendral sepertiku memang tidak ada tandingannya. seharusnya kaisar sialan itu bersyukur memiliki permaisuri seperti ku bukan malah membuangnya dan membunuhnya. kamp*et dasar kalau diingat-ingat jadi kesal juga.
perjalan ini tampaknya sama dengan jarak dari hutan menuju desa itu, tetapi kami harus sedikit memilih jalan memotong karena ceritanya kami sedang terburu-buru menemui tabib di ibukota.
kan di tangkep
kalo duit udh ad baru berkuasa dan ini mah blm
ada kekuatan malah pura pura takut aja demi masa depan baru
menginjak kalo dah kuat
itu apa