135 tahun lalu perselisihan antara kerajaan Kin dan kerajaan Tin hampir membuat hancur pulau askara dan pulau hindi. Diatas langit pertempuran dua Naga besar terjadi hingga menimbulkan percikan kekuatan yang dahsyat ke daratan. Namun Naga Putih memiliki kekuatan yang istimewa hingga memenangkan pertarungan.
Namun itu semua belum usai pendekar naga hitam berpura-pura untuk merendahkan diri pada pendekar naga putih, alhasil pendekar Naga Putih diracun oleh sang Istri atas nama cinta oleh pendekar Naga Hitam. Berkat bantuan siluman rubah hijau yang memiliki sihir tingkat tinggi dengan kecapinya.
Pada 100 tahu lalu lahirlah penerus naga putih kembali mengalahkan naga hitam, namun takdir memangilnya. kini muncul kembali penerus Pendekar Naga Putih yang sebatang kara yang bernama Yun Huang, dalam kehidupan yang penuh pengkhianatan serta kejahatan putra mahkota yang kini naik tahta menggantikan ayahnya menjadi raja.
Ikuti terus keseruannya seperti apa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendra 31., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 ~ Duel Di Mulai.
Yun Huang berdiri, mengepalkan tangannya. Ia merasakan darah di dalam tubuhnya bergejolak, seolah-olah aura Naga Putih di dalamnya bereaksi terhadap kehadiran orang asing ini.
"Tangan yang salah?" Yun Huang menyahut dengan suara rendah namun tegas. "Kalian bicara seolah-olah aura ini adalah barang curian."
Pria yang lebih muda, yang sedari tadi tampak tidak sabaran, mencabut sedikit pedangnya dari sarung. "Bocah ingusan. Kau tidak tahu betapa bahayanya kekuatan yang kau simpan itu. Jika kau tidak bisa mengendalikannya, kau hanya akan mengundang bencana bagi gunung ini!"
"Cukup!" Paman Ling Zhi mengangkat tangan, dan seketika tekanan udara di sekitar mereka meningkat pesat, memaksa kedua pria abu-abu itu mundur setengah langkah. "Dia adalah muridku. Urusan kekuatannya adalah tanggung jawabku. Jika kalian ingin mengujinya, kalian harus melangkahi mayatku terlebih dahulu."
Suasana menjadi sangat tegang. Lin Mey hanya bisa terdiam kaku di seberang sungai, sementara Yun Huang merasa ini adalah momen pembuktian baginya.
"Paman," Yun Huang melangkah maju, berdiri di samping Paman Ling Zhi. "Tadi Paman bilang, jika kultivasi mereka di bawah Paman namun di atas aku, itu adalah ujian yang adil untuk latihan deteksi ku. Izinkan aku yang menghadapi mereka."
Paman Ling Zhi menatap Yun Huang lama, mencari keraguan di matanya. Namun yang dia temukan hanyalah tekad yang membara.
"Baiklah," Paman Ling Zhi melangkah mundur. "Gunakan apa yang baru saja kau pelajari. Rasakan setiap pergerakan Qi mereka sebelum pedang mereka bergerak. Lin Mey! Perhatikan dengan baik jika kau ingin belajar apa itu tekad!"
Lin Mey hanya bisa menelan ludah, menatap Yun Huang dengan pandangan yang sulit diartikan—antara cemas dan tak percaya.
Dua orang asing itu saling pandang, lalu tersenyum meremehkan. "Baiklah, bocah ingusan. Mari kita lihat apakah kau hanya besar mulut atau memang pewaris sejati."
Kedua pria berbaju abu-abu itu tidak langsung menyerang. Mereka berdiri dengan kuda-kuda yang sangat kokoh, namun anehnya, tubuh mereka tampak sedikit samar, seolah-olah menyatu dengan kabut tipis yang mendadak muncul dari sela-sela batu sungai.
Paman Ling Zhi memperhatikan lambang pedang bersilang di dada mereka dengan dahi mengkerut. Dia membisikkan sesuatu kepada Yun Huang tanpa mengalihkan pandangan.
"Waspadalah, Shou'er. Mereka berasal dari Sekte Bayangan Abu-abu. Mereka bukan aliran Hitam yang murni jahat, tapi juga bukan aliran Putih yang menjunjung tinggi keadilan. Mereka adalah 'Penjaga Keseimbangan' yang ekstrem. Jika mereka menganggap kekuatanmu bisa mengacaukan dunia, mereka akan menghancurkannya tanpa ragu."
Rahasia Teknik Aliran Abu-abu: "Qi Tak Berwarna"
Pria yang lebih tua mulai menggerakkan tangannya secara melingkar. Yun Huang mencoba merasakan arah serangannya, namun dia terkejut.
"Paman... Napas mereka... hilang?" gumam Yun Huang panik.
"Bocah, jika kau tidak bisa melihat kami, maka kau tidak akan bisa menyentuh kami!" ucap pria yang lebih muda.
Tiba-tiba, pria itu melesat. Gerakannya tidak meninggalkan jejak angin. Yun Huang hanya mengandalkan instingnya. Saat pedang lawan hampir mengenai pundaknya, Yun Huang teringat ucapan Paman Ling Zhi: 'Jika indramu tertutup, gunakan darahmu sebagai penuntun.'
Yun Huang memejamkan mata. Ia berhenti mencoba melihat lawan dengan mata atau telinga. Ia fokus pada Darah Naga Putih yang mengalir di nadinya.
"Di sana!" seru Yun Huang.
Dia memutar tubuhnya, menghindar dengan gerakan yang sangat tipis. Tangan kanannya yang dialiri sedikit Qi menghantam udara kosong—namun di sana, tiba-tiba muncul sosok pria muda itu yang terpaksa menahan serangan Yun Huang dengan gagang pedangnya.
BUM!
Benturan itu menciptakan gelombang kecil di air sungai. Pria muda itu terpental mundur dua langkah, wajahnya menunjukkan keterkejutan.
"Bagaimana mungkin? Aku sudah menyembunyikan kehadiranku!"
"Kau menyembunyikan napas mu dari udara," ucap Yun Huang dengan suara yang kini lebih tenang dan berat, "tapi kau tidak bisa menyembunyikan kehadiranmu dari aliran darahku. Keberadaan mu terasa seperti kerikil yang mencoba menghambat arus sungai."
Tekad di Seberang Sungai
Melihat Yun Huang mampu menahan serangan orang yang kultivasinya lebih tinggi, Lin Mey terpaku di atas batu besarnya. Rasa takutnya perlahan berganti menjadi sesuatu yang lain. Dia melihat betapa fokusnya Yun Huang, betapa tenangnya dia meskipun kekuatan musuh berada di atasnya.
"Dia... dia tidak hanya beruntung," gumam Lin Mey pelan. Dia mengepalkan tangannya sendiri, merasakan betapa lemahnya Qi yang dia miliki saat ini. Untuk pertama kalinya, ada rasa malu yang mendalam karena dirinya selama ini hanya mengandalkan emosi tanpa latihan yang sungguh-sungguh.
Pria berkumis tua itu tertawa kecil, suara tawanya terdengar hambar. "Menarik... bocah ingusan ini memang tidak bisa diremehkan." tawanya kini membesar.
Dua pria itu menyerangnya dengan kecepatan tinggi membuat pemuda bermata hitam pekat dan alis tebal itu menggunakan Qi nya menahan serangan bertubi-tubi agar menjadi sia-sia.
Dia kembali menghantam udara dengan tinju yang sangat keras menciptakan gelombang agar kecepatan lawan melambat. Tubuh mereka seakan berat dan seakan melawan udara menahan tubuhnya!
Penyerangan terjadi dengan lambat sementara Yun Huang melangkah mundur selangkah demi selangkah sambil tersenyum tipis.
"Kalian takkan bisa melukaiku, gerakan kalian hanya membuat tubuh kalian lelah." desisnya pelan.
Tubuh mereka berdua terasa lelah, penyerangan mereka hentikan tiba-tiba. Napas mereka tersengal-sengal lelah menyerang bocah ingusan target mereka.
Mereka saling pandang dengan wajah memerah karena amarah. karena penyerangan andalan mereka menjadi sia-sia.
"Sial." ujar pria yang muda dengan napas masih tersengal-sengal. "Dia cerdik dalam menahan serangan andalan kita!"
Pria berkumis menggelengkan kepalanya, pada akhirnya amarah mereda, wajahnya kini berubah pucat pasi dan punah harapannya.
"Apakah kalian masih meragukan kekuatan Naga Putih berada pada diriku?!" tanya Yun Huang sambil tersenyum lebar seakan mengejek tuduhan mereka bedua.
Mereka kembali saling pandang, kepala mereka mengangguk pelan. Sepertinya mereka yakin dengan tehnik ini mereka akan menembus pertahanan Yun Huang.
"Tehnik penyerangan kami belum pada puncaknya." berkata mereka dengan secara bersamaan. Suara bergetar memudarkan raga bangga Yun Huang seketika.
Senyum lebar Yun Huang berubah perlahan jadi merapat terdiam.
"Ternyata masih ada lagi," gumamnya dalam hati. "Baik! Silakan lakukan. Aku akan menunjukkan pada kalian, serangan kalian akan sia-sia saja."
Pria yang muda membalikan tubuhnya, tangan kirinya menggenggam tangan pria tua yang kosong tak memegang pedang. "Kami akan menunjukkan atraksi kami dengan tehnik andalan kami." pria berkumis berkata dengan suara bergetar sebelum menunjukkan sesuatu yang mereka yakni bisa menembus pertahanan bocah ingusan dengan Qi nya yang mengeras di udara.
"Mulai!" pria berkumis memberikan aba-aba dengan nada tinggi.