Tiga tahun menikah, Rendy selalu dihina, diperlakukan seperti pembantu, dan dibeda-bedakan oleh ibu mertua serta iparnya karena hanya dianggap seorang sopir miskin tak berpendidikan. Clarissa, sang istri, hanya bisa diam menahan tekanan keluarga besarnya. Puncaknya, saat bisnis keluarga mengalami krisis, Rendy difitnah mencuri, dipaksa menandatangani surat cerai, dan diusir di tengah hujan deras tanpa membawa apa pun.
Namun, keluarga itu tak pernah tahu bahwa Rendy sebenarnya adalah satu-satunya ahli waris Pradipta Group—konglomerat terbesar yang sengaja menyamar demi menguji ketulusan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Mita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Penghinaan di Parkiran
Suasana di lorong restoran yang semula memanas berpindah ke area parkiran VIP di depan gedung hotel. Angin malam yang berembus kencang membawa hawa dingin yang menusuk tulang, namun amarah di dada Ibu Rosma jauh lebih membara.
Dengan langkah lebar dan napas terengah-engah, Rosma mengejar Rendy yang sedang melangkah tenang menuju deretan mobil mewah bersama Asisten Bagas dan para pengawalnya. Clarissa dan Dion mengekor di belakang dengan perasaan yang berkecamuk.
"Berhenti kamu, Rendy!" jerit Rosma melengking, memotong jalan Rendy di tengah pelataran parkir yang diterangi lampu sorot terang. "Jangan sok berwibawa di depan kami! Kamu pikir dengan memakai jas sewaan dan jam tangan palsu itu, kamu bisa berubah jadi orang kaya?!"
Dion melipat kedua tangannya di dada, tertawa sinis seraya meludah kecil ke samping. "Haha, benar kata Ibu! Paling-paling jas itu hasil pinjam dari tempat rental kostum, atau kamu mencurinya dari majikanmu! Dasar kuli tidak tahu diri! Sudah diceraikan masih saja kegatalan mendatangi Clarissa!"
Clarissa yang berdiri di samping ibunya meremas jemarinya kuat-kuat. Wajahnya yang memerah basah oleh sisa air mata tampak begitu tertekan. "Bu, Dion, hentikan! Mas Rendy cuma bekerja di sini! Jangan terus-terusan menghina dia!"
"Diam kamu, Clarissa!" bentak Rosma tanpa menoleh. Tangannya menunjuk-nunjuk wajah Rendy dengan tatapan sarat kebencian. "Lihat mantan suamimu ini! Dia sudah merusak kesempatan kita mendapatkan lima miliar dari Pak Hadi! Gara-gara pria pembawa sial ini, besok pagi rumah dan toko kita disita bank! Kamu mau kita jadi gelandangan hanya demi membela sopir melarat ini?!"
Rendy berdiri tegap di tengah cercaan itu. Postur tubuhnya yang kokoh dan kerah jas abu-abu gelap yang membungkus bahunya sama sekali tak tergoyahkan oleh teriakan Rosma. Wajah tegapnya tetap tenang, memancarkan wibawa dingin yang justru membuat suasana di pelataran parkir terasa makin mencekik.
"Sudah selesai bicaramu, Ibu Rosma?" tanya Rendy pendek. Suaranya rendah dan begitu dalam, mengikis habis keriuhan di sekitar mereka.
Rosma melotot, tersinggung oleh sikap tenang Rendy. "Apa kamu bilang?! Kamu—"
Sebelum Rosma sempat menyelesaikan makiannya, Rendy mendadak memutar tubuhnya menghadap Clarissa.
Dengan gerakan yang begitu cepat, tegas, dan tak terduga, lengan tegap Rendy melingkar kokoh di pinggang mulus Clarissa. Rendy menarik tubuh mantan istrinya itu merapat tanpa celah ke dalam dekapan dadanya yang bidang dan hangat.
SRET!
Clarissa terkesiap pelan, matanya membelalak kaget. Gaun marun yang dikenakannya menempel rapat pada jas abu-abu Rendy. Belum sempat wanita itu menyuarakan kebingungannya, jemari tegap Rendy menyusup ke belakang tengkuk Clarissa, menahan kepalanya seraya menundukkan wajah.
CUP!
Rendy mendaratkan bibirnya tepat di atas bibir lembut Clarissa secara langsung, menekan dan menguncinya dalam sebuah ciuman yang amat intens dan mendalam.
Sentuhan itu bukan lagi usapan penuh kelembutan seperti masa-masa pernikahan mereka yang lugu. Ciuman Rendy kali ini dipenuhi oleh dominasi mutlak, ketegasan seorang penguasa, dan gairah tersembunyi yang membakar habis seluruh pertahanan batin Clarissa.
Jemari Rendy yang mencengkeram tengkuk Clarissa memberikan tekanan yang menuntut kepatuhan, sementara lengannya di pinggang menyebarkan gelombang panas yang membakar persendian Clarissa hingga melemas pasrah.
Clarissa memejamkan matanya erat-erat. Remasan jemarinya pada dada jas Rendy makin erat saat ia merasakan napas hangat Rendy bersatu rapat dengan desahan napasnya yang tertahan. Gesekan bibir Rendy yang intens menyebarkan rasa manis bercampur sengatan gairah liar yang memanjakan seluruh kesadarannya. Di tengah riuh penghinaan ibunya, sentuhan dominan Rendy seolah menegaskan kepemilikan mutlak yang tak bisa dihapuskan oleh surat cerai mana pun.
Ibu Rosma dan Dion seketika membeku kaku di tempat. Wajah Rosma memerah padam, matanya hampir melompat keluar menyaksikan kemesraan yang begitu berani dan intens di depan matanya.
"Ku-kurang ajar! Rendy! Melepaskan putriku!" jerit Rosma histeris, hendak maju memisahkan mereka.
Namun, dua pengawal tegap berjas hitam di belakang Rendy melangkah maju satu pijakan, memasang badan dan memberikan tatapan mengintimidasi yang membuat langkah Rosma dan Dion terhenti seketika oleh rasa gentar yang luar biasa.
Rendy memperlama ciuman intens itu selama beberapa detik yang menyiksa batin Rosma, membiarkan Clarissa terengah-engah dalam buaian gairah dan kehangatan fisiknya. Setelah melepaskan tautan bibirnya secara perlahan, Rendy membiarkan ibu jarinya mengusap bibir basah Clarissa yang memerah.
"Ingat rasa ini, Clarissa," bisik Rendy tepat di celah bibir Clarissa yang gemetaran. Suaranya rendah, sarat akan bisikan gairah yang membakar jiwa. "Karena ini adalah terakhir kalinya kamu merasakan sentuhanku sebagai pria yang pernah mencintaimu."
Clarissa menatap Rendy dengan mata sayu yang dipenuhi kerinduan dan keputusasaan mendalam. "Mas... jangan pergi..."
Rendy melepaskan rengkuhannya secara perlahan. Ia membalikkan badan tanpa memedulikan tatapan murka Rosma dan Dion.
Pada saat yang bersamaan, sebuah mobil sedan kemewahan tingkat tinggi—Mercedes-Maybach S-Class berwarna hitam berkilau dengan kaca gelap eksklusif—meluncur halus dan berhenti tepat di hadapan Rendy. Pintu belakang mobil berharga belasan miliar rupiah itu terbuka secara otomatis.
Tak hanya itu, dari pintu samping pelataran parkir, empat unit sepeda motor besar bermesin ganda (escort bike) yang dikendarai oleh petugas pengawal berseragam tegap meluncur rapi, membentuk formasi pengawalan ketat di sekeliling sedan Maybach tersebut. Raihan lampu strobo biru memantul elegan di atas permukaan marmer dan aspal parkiran.
Asisten Bagas membungkuk sembilan puluh derajat di samping pintu sedan yang terbuka. "Silakan masuk, Tuan Presdir Rendy."
Rendy melangkah masuk ke dalam kabin kemewahan sedan tersebut dengan gerakan yang amat elegan. Pintu mobil menutup rapat dengan dentuman halus yang memantulkan kedap udara sempurna.
empat motor besar itu menyalakan sirine pengawalan secara serentak. Suara raungan mesin berkapasitas besar menggelegar hebat di pelataran parkir hotel bintang empat tersebut.
Ibu Rosma terduduk lemas di atas aspal dengan mulut ternganga lebar. Dion berdiri mematung bagaikan patung batu, ponsel di tangannya hampir terlepas saat menyaksikan sedan Maybach super mewah itu meluncur mulus membelah malam, dikawal ketat oleh empat motor besar yang memecah kegelapan kota.
Sambungan Bab 17
Raungan mesin empat motor pengawal berkapasitas besar itu perlahan memudar di kejauhan malam, menyisakan kepulan asap tipis dan keheningan yang amat membekukan di pelataran parkir VIP.
Ibu Rosma masih terduduk lemas di atas aspal dingin. Tangannya yang gemetaran mencoba menopang tubuhnya yang mendadak kehilangan seluruh tenaga. Matanya menatap lurus ke arah jalan raya utama tempat mobil sedan Maybach hitam itu meluncur pergi.
"Dion..." suara Rosma keluar bergetar, hampir tak terdengar di antara tiupan angin malam. "Itu... itu tadi mobil apa? Kenapa... kenapa ada pengawal motor besar yang membukakan jalan untuk Rendy?"
Dion menelan ludahnya yang terasa sepahit empedu. Wajahnya yang semula penuh kesombongan kini pucat pasi bak mayat. "Itu... itu sedan Maybach, Bu. Harganya belasan miliar rupiah... Bahkan jam tangan dan jas yang dipakai Rendy tadi... itu bukan barang sewaan."
DEG!
Kesadaran itu menghantam dada Rosma bagaikan godam besi. Pengusiran di tengah hujan deras, penandatanganan surat cerai, serta tuduhan pencuri yang mereka lontarkan kepada Rendy berputar kembali di dalam benaknya seperti mimpi buruk yang mengerikan. Pria yang selama tiga tahun mereka injak-injak, mereka beri makanan sisa, dan mereka usir tanpa membawa uang sepeser pun... ternyata adalah pimpinan tertinggi dari konglomerat yang memegang nasib hidup dan mati bisnis mereka.
Di sisi lain pelataran parkir, Clarissa berdiri mematung. Sentuhan bibir Rendy yang intens masih meninggalkan rasa panas yang membakar di bibirnya yang memerah. Jemari lentiknya perlahan terangkat, mengusap bibirnya sendiri seraya menatap kegelapan jalanan.
Air matanya kembali meledak deras, menyusuri pipinya yang dingin.
Mas Rendy... jerit Clarissa dalam hati dengan keputusasaan yang tak bertuan. Apa yang sudah kami perbuat padamu...?
Clarissa menyadari dengan sangat menyakitkan bahwa ciuman dominan di depan ibunya tadi bukanlah bentuk rekonsiliasi, melainkan sebuah tanda perpisahan mutlak—sebuah batas tegas bahwa Rendy Pradipta telah kembali ke takhtanya, dan ia telah kehilangan pria itu selamanya.