Di kampus, Reyhan Arkananta Wijaya adalah dosen muda yang dikenal killer karena sikap tegas dan tanpa pandang bulu yang dimilikinya. Satu kesalahan kecil saja cukup untuk membuat nilai mahasiswa melayang. Di mata Nadhira, mahasiswi semester enam yang ceroboh dan ahli panik, Pak Reyhan adalah ancaman terbesar bagi kelangsungan hidup akademisnya.
Namun, hidup Nadhira mendadak jungkir balik ketika perjodohan rahasia antar keluarga memaksanya menikah dengan sang dosen killer.
Kini, Nadhira harus menjalani dua kehidupan yang saling bertolak belakang, berpura-pura tidak saling kenal dan saling membenci di area kampus, lalu pulang ke rumah yang sama sebagai sepasang suami istri. Di tengah kejaran tenggat tugas, ancaman nilai E, gosip kampus yang memanas, dan rasa cemburu diam-diam sang dosen galak, mampukah rahasia besar mereka bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Potongan Informasi
Langkah Kania terasa begitu terburu-buru saat menyusuri trotoar menuju Kopi & Artisanal, kafe bernuansa industrial yang terletak tidak jauh dari gerbang belakang kampus.
Rasa penasarannya sudah mencapai puncak. Kania bukanlah tipe sahabat yang bisa diam saja ketika melihat Nadhira bertingkah aneh. Ada insting pelindung yang bergejolak di dadanya.
Jika benar Bramantyo, pria yang sok berkuasa itu melakukan sesuatu yang tidak sopan pada Nadhira, Kania tidak akan tinggal diam.
Pintu kaca kafe berdenting pelan saat Kania melangkah masuk. Hawa dingin pendingin udara langsung menyambutnya, berpadu dengan aroma samar biji kopi yang baru digiling.
Suasana kafe sore itu relatif tenang, hanya ada beberapa laptop yang terbuka di meja-meja tengah.
Kania mengedarkan pandangan, mencari celah untuk mendapatkan informasi. Ia berjalan mendekati meja bar, menyapa barista muda berseragam yang sedang sibuk merapikan cangkir.
"Pagi, Kak," sapa Kania ramah, memasang senyum terbaiknya. "Gue mau nanya-nanya sedikit, boleh?"
Barista ber-nametag Fikri itu mendongak, menyambut senyuman Kania dengan ramah. "Pagi, Kak. Boleh, mau nanya soal menu atau ada yang bisa dibantu?"
"Bukan soal menu sih, Kak," Kania merendahkan suaranya sedikit, memajukan tubuhnya ke arah meja bar.
"Kemarin sore, sekitar jam empatan, temen gue ada yang meeting di sini. Cewek, rambutnya panjang, bawa-bawa tabung gambar hitam sama kertas kalkir banyak banget. Ketemu sama cowok sekitaran umur 30-an, panggilannya Bram. Kakak inget nggak?"
Barista itu mengerutkan kening sejenak, tampak mengingat-ingat jadwal tugasnya kemarin. "Oh... yang duduk di meja sudut bawah panel kayu itu ya?"
Mata Kania seketika berbinar. "Nah! Iya betul, di meja sudut, kakak inget mereka?"
Fikri terkekeh pelan sambil mengelap permukaan bar dengan kain pengering. "Inget banget, Kak. Soalnya kemarin sore meja sudut itu sempet bikin heboh se-kafe."
Jantung Kania berdesir tajam. Bingo. "Heboh gimana maksudnya, Kak? Ada kejadian apa?"
"Ya gitu deh, Kak. Kemarin tuh sempet ada cekcok lumayan tegang di meja itu," terang Fikri santai, tanpa menyadari spekulasi besar yang sedang terbangun di kepala Kania.
"Gue lagi ngeracik kopi di bar sini, tiba-tiba denger ada nada suara tinggi gitu dari arah meja sudut. Pas gue lirik, suasananya udah panas banget. Si ceweknya mukanya udah pucat bangat, kek nahan marah sama takut gitu, terus barang-barangnya langsung dirapiin buru-buru."
Kania menahan napasnya. "Terus cowoknya gimana, Kak?"
"Si cowoknya itu... wah, mukanya keliatan panik bercampur malu banget," lanjut Fikri menggebu-gebu.
"Nggak tau gimana detail perdebatannya ya, Kak, soalnya suara musik kafe kan lumayan kenceng. Tapi yang jelas, perdebatan itu berakhir kaku banget. Si cewek langsung jalan keluar dari kafe sambil bawa tasnya, dan si cowoknya cuma bisa terduduk lemes di kursi kek habis kena vonis fatal. Habis itu si cowok langsung bayar bill dan pergi gitu aja sambil ngomel-ngomel sendiri."
Kania mengepalkan kedua tangannya di samping paha. Amarahnya seketika mendidih. Potongan cerita dari barista itu sudah sangat cukup bagi Kania untuk menyusun gambar utuhnya.
Di kepala Kania, segalanya mendadak masuk akal, Bramantyo pasti bersikap kurang ajar atau menekan Nadhira secara berlebihan saat meeting. Nadhira yang meski terlihat polos namun punya harga diri tinggi pasti memberanikan diri untuk melawan dan menolak tawaran.
Pria sengak seperti Bram pasti panik saat aksinya dilawan di tempat umum, dan Nadhira yang merasa terancam langsung memutuskan untuk membatalkan seluruh kerja sama tersebut.
Fikri yang melihat raut wajah Kania mendadak tegang pun menambahi, "Tapi hebat sih cewek itu, berani tegas. Cowok kayak gitu emang kudu dikasih pelajaran kalau sok kuasa."
"Iya, temen gue emang pemberani," sahut Kania dengan intonasi mantap, meski hatinya menggebu oleh rasa marah. "Thanks banget ya, Kak Fikri, informasinya! Ini sangat membantu."
"Sama-sama, Kak!"
Kania langsung berbalik dan melangkah keluar dari kafe dengan napas berburu. Rasa penasarannya kini berganti menjadi rasa bersalah karena sempat mencecar Nadhira tadi pagi di laboratorium.
...****************...
Sore harinya, matahari mulai terbenam memancarkan warna jingga di atas atap Gedung FSD. Koridor kampus sudah mulai sepi dari lalu lalang mahasiswa.
Nadhira sedang duduk sendirian di bangku taman depan fakultas, menunggu jam jemputan Reyhan yang berjanji akan menjemputnya di titik yang agak jauh dari keramaian kampus.
Di pangkuannya, sebuah buku sketsa terbuka, namun pikiran Nadhira melayang mengingat ketegangan kemarin sore dan betapa protektifnya Reyhan saat pasang badan di depan Bram.
"Nadhira!"
Panggilan nyaring dari arah koridor membuat Nadhira tersentak. Ia mendongak dan melihat Kania berlari kecil menghampirinya dengan raut wajah yang campur aduk antara cemas, bersalah, dan emosional.
"Kania? Lo kok belum pulang?" tanya Nadhira bingung saat sahabatnya itu mendadak duduk di sampingnya dan langsung menggenggam kedua tangannya erat-erat.
"Nad... maafin gue ya," ujar Kania dengan nada suara yang bergetar penuh penyesalan. "Maafin gue soal tadi pagi di lab. Gue nggak tahu kalau lo harus ngelewatin hal semengerikan itu kemarin sore."
Nadhira membelalakkan mata, kebingungan setengah mati. "Maksud lo gimana, Kan? Mencekam apa?"
"Gue tadi ke Kopi & Artisanal," aku Kania jujur, menatap lurus mata Nadhira.
"Gue nanya ke baristanya langsung. Gue tahu semuanya, Nad. Gue tahu lo sempet cekcok hebat sama si Bramantyo brengsek itu di kafe!"
Nadhira mendadak membeku di tempatnya. Suaranya tercekat di tenggorokan. "Kania ke kafe kemarin? Apa Kania tau tentang Pak Reyhan? Apa Kania tau kalau ada dosen mereka yang ikut campur dalam insiden itu?" batin Nadhira panik.
"Lo... lo tau dari barista?" tanya Nadhira hati-hati, berusaha menutupi kepanikan di dadanya.
"Iya!" potong Kania cepat, menggebu-gebu.
"Baristanya cerita kalau kemarin meja lo sempet heboh karena perdebatan tegang. Dia bilang lo muka lo sampai pucat banget nahan marah, terus lo berani ngelawan dan langsung beresin barang lo buat pergi. Si Bramantyo langsung kicep dan lemes di kursinya!"
Nadhira berkedip beberapa kali, memproses ucapan Kania. Ia menyadarkan sesuatu, barista itu rupanya hanya melihat situasi dari kejauhan tanpa mendengar kata demi kata, dan Kania telah menyimpulkan sendiri bahwa 'cekcok' itu terjadi murni antara Nadhira dan Bram.
Kania sama sekali tidak menyadari kehadiran Reyhan yang duduk membelakangi bar dan menutupi situasi dengan dominasinya yang dingin.
Rasa lega yang teramat sangat seketika membuncah di dalam dada Nadhira. Rahasia pernikahan dan keterlibatan suaminya masih aman tersimpan.
"Kania... lo sampai segitunya nyari tahu?" gumam Nadhira pelan, meredakan ketegangannya.
"Ya iyalah!" seru Kania emosional.
"Lo itu sahabat gue, Nad. Kenapa lo nggak cerita ke gue kalau si Bram itu bersikap kurang ajar? Lo malah mendam sendirian dan pura-pura bilang 'beda visi'. Lo tahu nggak, gue emosi banget pas denger cerita barista tadi. Cowok kayak Bram itu emang pantes diamuk dan ditinggalin!"
Nadhira menatap Kania yang tampak begitu tulus mengkhawatirkannya. Senyuman hangat perlahan mengukir di bibirnya.
Meski alur cerita yang ditangkap Kania sedikit melenceng dari kenyataan, dimana sebenarnya Reyhan-lah yang membuat Bram tak berkutik, rasa kepedulian sahabatnya itu sangat menyentuh hati Nadhira.
"Gue cuma... nggak mau bikin lo khawatir, Kan," sahut Nadhira lembut, menggenggam balik jemari Kania. "Lagian kejadiannya udah lewat. Gue udah mutusin buat lepas dari proyek itu dan nggak mau berurusan lagi sama dia."
"Bagus! Keputusan lo udah seratus persen bener," tegas Kania mantap, mengangguk-angguk setuju.
"Persetan sama nilai proyek jutaan rupiah atau nama besar perusahaannya. Harga diri dan keselamatan lo jauh lebih penting. Kalau si Bram berani macam-macam lagi atau ngancam lo di luar, lo harus bilang ke gue sama Dimas. Anak-anak cowok angkatan kita siap pasang badan buat lo!"
Nadhira terkekeh pelan, rasa haru menyelimuti dadanya. "Iya, makasih ya, Kania. Lo emang sahabat terbaik gue."
"Selalu, Nad," balas Kania tersenyum lega. "Ya udah, sekarang lo mau pulang naik apa? Mau barengan ke depan gerbang?"
"Nggak usah, Kan," tolak Nadhira halus. "Gue... gue udah pesen jemputan ojek online kok. Lagi jalan ke sini."
Kania menepuk bahu Nadhira pelan lalu berdiri dari bangku taman. "Oke deh. Gue balik duluan ya, mau nyelesaiin draf cetak di kosan. Kalau ada apa-apa langsung telepon gue!"
"Siip, hati-hati di jalan ya, Kania!"
Nadhira memperhatikan langkah Kania yang perlahan menjauh menuju parkiran motor. Ia menghembuskan napas panjang, bersandar di bangku kayu taman dengan perasaan yang jauh lebih lega. Satu ancaman kesalahpahaman berhasil terlewati tanpa membocorkan rahasia besarnya.
Tak lama kemudian, ponsel di dalam saku jaket Nadhira bergetar. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang diberi nama Pak Reyhan.
Pak Reyhan: Saya sudah di depan gerbang samping dekat lampu merah. Jangan jalan sendirian, tunggu saya yang mengawasi dari jauh.
Membaca pesan bernada kaku namun sarat perhatian itu, senyum manis di bibir Nadhira makin lebar. Gadis itu merapikan tabung gambarnya, berdiri dengan semangat, lalu melangkah ringan menuju tempat suaminya sudah menunggu.
...Bersambung... ...