Dila harus menjadi pendamping Azam dan merahasiakan hubungan mereka dari siapa pun.
Awalnya Dila mengira semuanya hanya tentang uang. Namun, semakin ia mengenal Azam, semakin banyak kejanggalan yang muncul.
Mengapa Azam memilih dirinya?
Dari mana pria itu mengetahui kehidupan Dila?
Dan mengapa ia memiliki foto masa lalu Dila?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 — Setengah Kebenaran
Perjalanan pulang dari gudang penggilingan padi tua itu terasa jauh lebih lambat dari perjalanan berangkat.
Di kursi belakang mobil Azam, Dilla memeluk Arif begitu erat seolah jika ia melepaskan sedikit saja, anak itu akan hilang lagi ditelan semak bambu. Arif yang masih berusia lima tahun itu tertidur di pelukan ibunya karena kelelahan menangis, wajahnya kotor oleh debu karung padi, celananya sobek di lutut, tapi napasnya teratur. Sesekali ia mengigau pelan, "Ibu... jangan tinggalin Arif..."
Setiap kali Arif mengigau, dada Dilla sesak.
Fadil duduk di sampingnya, satu tangannya memeluk bahu Dilla, satu tangannya lagi memegang tangan Arif yang kecil. Bahu Fadil yang memar karena menahan pukulan Suryanto tadi berdenyut hebat, tapi ia tidak mengeluh sama sekali. Rasa sakit di bahunya tidak ada apa-apanya dibanding rasa sakit melihat istri dan anaknya ketakutan.
"Pelan-pelan aja, Zam," bisik Fadil pada Azam yang menyetir di depan.
Azam mengangguk tanpa menoleh. Matanya terus menatap kaca spion tengah, bukan untuk melihat jalan, tapi untuk melihat Dilla yang memeluk anaknya. Ada rasa lega yang luar biasa di dada Azam, tapi juga ada rasa cemburu yang ia kubur dalam-dalam. Pemandangan Dilla dan Fadil yang berpelukan dengan anak mereka adalah pemandangan keluarga utuh yang tidak pernah ia miliki. Dan ia tahu, ia tidak berhak merusaknya.
Di mobil belakang, Jatmiko duduk bersama Sekar. Jatmiko tidak berkata apa-apa sejak dari gudang. Tangannya mengepal, matanya menatap kosong ke arah gudang yang semakin menjauh di kaca spion. Gudang itu bukan hanya tempat Arif disekap. Itu adalah makam hidupnya selama sebelas tahun. Bau padi busuk, rantai karatan di tiang tengah, gelap yang tidak pernah ada ujungnya — semua kembali menghantam kepalanya.
Sekar yang duduk di sampingnya memberanikan diri bersuara, "Pak Jatmiko... maaf..."
Jatmiko menoleh perlahan.
"Maaf karena ayah saya... Bagaskara... sudah buat hidup Paman seperti ini," kata Sekar dengan air mata yang jatuh tanpa suara. "Saya baru tahu hari ini dari Paman Pranoto kalau gudang itu... tempat Paman disekap. Ayah saya yang suruh Suryanto sekap Paman."
Jatmiko menarik napas panjang. Amarah yang tadi meledak di gudang kini berubah menjadi lelah yang sangat dalam.
"Kamu tidak perlu minta maaf atas dosa ayahmu, Sekar," jawab Jatmiko pelan. "Kamu hari ini sudah bantu selamatkan cucu saya. Itu lebih dari cukup."
Sesampainya di rumah aman, Bu Ratih dan Laras sudah menunggu di depan pintu dengan waslap, air hangat, dan kotak P3K. Begitu melihat Arif digendong Dilla, Bu Ratih langsung menangis dan berlari memeluk keduanya.
"Ya Allah... Arif... cucuku..." Bu Ratih yang selama ini dianggap pengkhianat, kini menangis seperti seorang nenek yang benar-benar kehilangan cucunya.
Laras segera mengambil Arif dari gendongan Dilla dengan hati-hati. "Biar saya bersihkan dulu, Bu Dilla. Badannya penuh debu karung."
Dilla mengangguk dengan mata sembab, tapi tangannya tidak mau lepas dari tangan Arif. "Aku ikut mandiin."
Di kamar mandi kecil di belakang, Dilla memandikan Arif dengan air hangat. Ia mengusap lumpur di kaki kecil Arif dengan pelan, mengusap luka lecet di lututnya dengan kapas. Arif yang tadinya diam, tiba-tiba menangis lagi saat air hangat menyentuh lukanya.
"Sakit, Bu..."
Dilla langsung memeluk kepala Arif dan mencium ubun-ubunnya yang masih bau debu.
"Maafin Ibu ya, Nak... Maafin Ibu lama jemputnya... Ibu janji tidak akan ninggalin Arif lagi..."
Arif memeluk leher ibunya erat. "Tadi ada kakek-kakek baik, Bu... yang kasih kertas buat Ibu... dia bilang jangan kasih tahu om jahat..."
Kata-kata Arif membuat Dilla membeku. Ia teringat kertas kusut yang tadi diberikan Arif di gudang.
"Kakek-kakek? Kakek yang seperti apa, Nak?"
Arif mencoba mengingat dengan mata yang masih berkaca-kaca. "Rambutnya putih... pakai batik cokelat... dia kasih lewat jendela kecil... dia bilang... titip buat Ibu Dilla..."
Batik cokelat. Rambut putih.
Dilla langsung teringat sosok yang dilihatnya semalam di seberang sawah. Sosok yang meninggalkan amplop di pematang.
Mahendra.
Dilla buru-buru menyelesaikan mandi Arif, memakaikannya baju bersih milik Laras yang kebesaran, lalu menggendongnya kembali ke ruang tengah.
Di ruang tengah, semua orang sudah berkumpul. Fadil sudah diobati Bu Ratih, bahunya diperban seadanya. Jatmiko duduk menunduk, Azam berdiri bersandar di dinding dengan wajah tegang, Pranoto duduk di kursi dengan kartu nama Mahendra Holding di tangannya.
Dilla meletakkan Arif di pangkuan Fadil yang langsung memeluk anaknya. Lalu ia mengeluarkan kertas kusut yang tadi diberikan Arif — kertas sobekan halaman terakhir buku Larasati — yang masih penuh lumpur kering.
"Ini," Dilla meletakkannya di atas meja kayu di tengah lingkaran mereka. "Arif bilang ada kakek-kakek pakai batik cokelat yang kasih ini lewat jendela gudang. Dia bilang titip buat aku."
Pranoto langsung mengambil kertas itu dengan hati-hati. Tangannya yang tua gemetar.
Bu Ratih mengambil tisu basah dan mulai membersihkan noda lumpur di kertas itu dengan sangat pelan, takut kertasnya sobek. Semua orang menahan napas.
Perlahan, tulisan tangan Larasati yang hampir hilang itu mulai terbaca lagi.
Sebelumnya hanya terbaca: ...ayah kandungmu yang sebenarnya adalah Rangga, tapi Rangga bukan ayahmu. Ayahmu adalah...
Setelah dibersihkan dengan tisu basah, ada beberapa kata tambahan di bawahnya yang tertutup lumpur tadi yang kini samar-samar muncul.
Pranoto membaca dengan suara pelan, hampir berbisik, karena ia tahu kalimat ini akan menghancurkan Dilla lagi.
...ayah kandungmu yang sebenarnya adalah Rangga, tapi Rangga bukan ayahmu yang melahirkan darahmu. Rangga hanya nama samaran. Nama aslinya adalah Mahendra. Raden Arya Mahendra. Ayahmu adalah... Mahendra yang selama ini kau kira sudah mati. Maafkan Ibu, Dilla. Ibu harus berbohong bahwa Rangga adalah ayahmu agar Bagaskara tidak memburu Mahendra. Jika Bagaskara tahu anak Mahendra masih hidup, ia akan membunuhmu juga seperti ia mencoba membunuh Mahendra 28 tahun lalu.
Ruangan itu sunyi senyap. Hanya suara napas Arif yang sudah mulai tenang di pelukan Fadil.
Dilla terduduk lemas di lantai. Jadi selama ini... Rangga dan Mahendra adalah orang yang sama. Rangga adalah nama samaran Mahendra saat ia bersembunyi dari kejaran keluarga Wiratama.
"Jadi..." suara Dilla pecah. "Rangga itu Mahendra... Mahendra itu Rangga... jadi ayah kandungku... tetap Mahendra..."
Jatmiko mengangguk pelan, air matanya jatuh. "Itu masuk akal. Larasati memang pernah cerita, dia punya pacar bernama Rangga, tapi Rangga itu orangnya pendiam, tidak suka difoto. Tidak ada yang tahu wajah Rangga. Ternyata Rangga itu nama samaran Mahendra agar tidak ketahuan Bagaskara."
Azam yang sejak tadi diam, mengepalkan tangannya. "Jadi Bagaskara tahu Mahendra masih hidup. Makanya dia suruh Suryanto culik Arif untuk pancing Dilla bawa buku. Karena kalau buku itu sampai ke tangan Mahendra, semua bukti pengambilalihan Wiratama Group akan terbongkar. Bagaskara bisa dipenjara seumur hidup, bukan cuma 10 tahun."
Pranoto menatap kartu nama di tangannya. "Dan tulisan di belakang kartu ini... Jangan percaya Pranoto... itu tulisan Mahendra. Dia masih menganggap aku pengkhianat karena aku yang antarkan Larasati ke rumah sakit palsu dulu. Dia tidak tahu aku juga dijebak."
Sekar yang mendengar semua itu, tiba-tiba berdiri. "Jadi... yang telepon Pak Azam semalam... yang kasih kertas ke Arif lewat jendela... itu Mahendra? Ayah kandung Kak Dilla? Dia ada di sini? Di Karangrejo?"
Semua orang menoleh ke arah jendela yang gelap. Sawah di luar sudah gelap gulita.
Fadil yang memeluk Arif, berbisik pada Dilla, "Tadi pagi di pematang... amplop itu... surat itu... itu dari dia, Sayang. Dia ada di sekitar sini. Dia jaga kamu dan Arif dari jauh."
Dilla memegang foto Larasati dan Mahendra yang tadi pagi ia temukan di sawah. Foto ibunya yang tertawa bahagia di pelukan Mahendra. Untuk pertama kalinya, Dilla melihat cinta yang tulus di wajah ibunya. Bukan cinta yang dipaksakan karena perjodohan.
Tiba-tiba Laras yang sejak tadi di luar menjaga motor, masuk dengan tergesa sambil membawa sebuah peti kayu kecil yang berdebu dan berlumut.
"Pak Azam! Pak Jatmiko! Saya bongkar lagi gudang tadi setelah polisi pergi. Di bawah karung paling bawah, di tempat Pak Jatmiko dulu dirantai... saya temukan ini terkubur!"
Semua orang menoleh.
Peti kayu itu terkunci gembok karatan. Jatmiko mengenal peti itu. Wajahnya langsung pucat.
"Itu... itu peti milikku... peti tempat aku simpan dokumen asli kepemilikan tanah Wiratama sebelum aku diculik 28 tahun lalu... Aku kira sudah dibakar Bagaskara..."
Azam mengambil linggis kecil dan mencongkel gemboknya dengan keras.
KREK!
Peti itu terbuka.
Di dalamnya bukan emas atau uang. Di dalamnya ada tumpukan dokumen yang sudah menguning, beberapa foto lama, dan sebuah kaset pita kecil.
Dokumen paling atas adalah Akta Pendirian Perusahaan. Tertulis jelas:
PT. MAHENDRA WIRATAMA SEJAHTERA - Didirikan 1985.
Pemegang Saham: Raden Arya Mahendra 70%, Ayahanda Wiratama 30%.
Jatmiko membeku. "70 persen... milik Mahendra... jadi selama ini... kami... keluarga kami... hanya numpang 30 persen... dan merebut 70 persennya..."
Azam mengambil foto di bawahnya. Foto tiga orang pemuda: Ayahanda Wiratama yang masih gagah, Mahendra yang masih muda dan tampan, dan Jatmiko yang masih kuliah, ketiganya merangkul bahu sambil tertawa di depan ruko kecil.
Di belakang foto tertulis: Glodok, 1985. Awal dari segalanya. - Mahendra.
Pranoto mengambil kaset pita kecil itu. "Ini... ini kaset rekaman Larasati. Kaset yang ia buat sehari sebelum ia meninggal. Ia bilang ia mau rekam sesuatu untuk Dilla kalau ia tidak selamat."
Dilla mengambil kaset itu dengan tangan gemetar. Kaset pita kecil yang sudah berdebu.
"Bagaimana cara memutarnya?" tanya Dilla dengan suara serak.
Laras menjawab cepat, "Di gudang tadi ada tape recorder tua masih ada, Pak. Saya lihat."
Saat Laras hendak berlari kembali ke gudang untuk mengambil tape recorder itu, ponsel Azam kembali berdering.
Nomor tidak dikenal lagi. Sama seperti semalam.
Azam mengangkat dengan waspada dan menyalakan loudspeaker agar semua orang dengar.
"Halo?"
Hening dua detik.
Lalu suara yang sama seperti semalam terdengar — suara tua, tenang, dalam, berwibawa — tapi kali ini terdengar lebih dekat, dan ada suara angin sawah di belakangnya.
"Azam..."
"Mahendra?" Azam langsung siaga.
"Jangan putar kaset itu di rumah itu," kata suara itu cepat. "Jangan malam ini. Ada penyadap di rumah aman kalian. Bagaskara pasang sebelum ia masuk penjara. Jika kalian putar malam ini, orang Jakarta itu akan dengar semuanya dan Arif akan hilang lagi."
Semua orang langsung menoleh ke sekeliling rumah, mencari penyadap.
Dilla yang memeluk Arif semakin erat, berbisik panik, "Arif baru saja kembali..."
Suara Mahendra di telepon melanjutkan, kali ini lebih pelan dan ditujukan pada Dilla, seolah ia tahu Dilla mendengarkan.
"Dilla... Nak... ini Ayah..."
Dilla membeku. Air matanya langsung tumpah deras tanpa suara. Lututnya lemas.
Fadil yang melihat istrinya gemetar langsung memeluknya.
"Dilla, ini Ayah..." suara Mahendra di seberang terdengar bergetar, menahan tangis seorang ayah yang 28 tahun menahan rindu. "Maafkan Ayah tidak berani masuk tadi... Ayah takut kamu benci Ayah... Ayah yang buat ibumu meninggal..."
Dilla tidak mampu menjawab. Hanya isak tertahan yang keluar dari mulutnya.
"Tolong... jangan baca halaman terakhir buku ibumu dulu sampai kita ketemu langsung besok pagi di Jakarta. Ayah tunggu di alamat yang ada di kartu. Ayah janji... besok Ayah ceritakan semuanya... kenapa Rangga harus jadi Mahendra... kenapa Ibu harus bohong..."
Sambungan terputus lagi.
Tut... tut... tut...
Dilla masih memegang kaset pita ibunya di satu tangan dan foto ibunya tertawa bahagia di pelukan Mahendra di tangan lainnya. Di pangkuan Fadil, Arif sudah tertidur pulas karena kelelahan, tidak tahu bahwa kakek kandungnya baru saja menelepon ibunya dari sawah seberang.
Jatmiko yang melihat Dilla menangis dalam diam, berjalan mendekat dan berjongkok di depan putrinya — putri yang bukan darah dagingnya, tapi ia besarkan dengan segenap jiwanya.
"Dilla..." Jatmiko mengusap kepala putrinya dengan lembut. "Besok... Ayah ikut ke Jakarta. Ayah ingin bertemu Mahendra juga. Ayah ingin minta maaf padanya... karena 28 tahun lalu Ayah menikahi Larasati tanpa tahu Larasati masih mencintainya."
Fadil memeluk Dilla dan Arif sekaligus. "Kita berangkat besok pagi-pagi. Bertiga. Sama Ayah Jatmiko dan Azam. Kita temui kakek Arif."
Di luar, mobil sedan hitam itu masih terparkir jauh di ujung jalan desa, lampunya mati. Di dalamnya, Mahendra menutup wajahnya dengan kedua tangan dan menangis untuk pertama kalinya setelah 28 tahun menahan air mata.
Besok, untuk pertama kalinya, ia akan bertemu anak kandungnya.
Dan besok, untuk pertama kalinya, Dilla akan tahu isi kaset terakhir ibunya — kaset yang dilarang Mahendra untuk diputar malam ini karena ada penyadap.
Bersambung...