Indonesia
NovelToon NovelToon
My Husband The Mafia

My Husband The Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nabilah Tisyana

Takdir adalah kuasa Tuhan yang kerap membawa manusia menyusuri jalan berliku. Bagi Ruby Anastasya, rumah yang seharusnya menjadi tempat terhangat untuk pulang justru terasa begitu sesak dan menyiksa. Ironi menyelimuti hidupnya ketika orang tua yang mestinya menjadi pelindung utama, tega mengorbankan masa depannya demi tumpukan uang—melemparnya tanpa belas kasihan ke dalam neraka dunia. Di tengah luka dan impian yang dihancurkan, sanggupkah Ruby bertahan dan menemukan secercah kebahagiaan yang layak ia dapatkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nabilah Tisyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17

Kehadiran Danel dalam hidup Aprilia menjadi sandaran yang sangat berarti, terutama selama masa-masa sulit saat kehilangan Ruby. Hubungan mereka yang dahulu sebatas kedekatan masa kuliah kini telah berkembang menjadi ikatan asmara yang kuat dan saling mendukung.

Di tengah kesibukan Danel yang juga sudah mulai meniti kariernya, ia tak pernah absen mendengarkan cerita dan keluh kesah Aprilia. Danel ingat betul betapa terpukulnya Aprilia dan Tisa ketika Ruby menghilang secara misterius hampir satu tahun lalu. Sebagai sosok yang juga mengenali Ruby semasa kuliah, Danel menyimpan keprihatinan yang mendalam atas nasib tragis yang menimpa sahabat kekasihnya itu.

Malam itu, Danel menjemput Aprilia di depan gedung kantornya. Saat berada di dalam mobil, melihat raut lelah sekaligus melamun di wajah Aprilia, Danel mengulurkan tangannya untuk mengelus jemari Aprilia dengan lembut.

"Masih mikirin pembicaraan sama Tisa tadi sore ya, Sayang?" tanya Danel pelan seraya memecah keheningan di tengah kemacetan kota.

Aprilia menghela napas panjang lalu mengangguk tipis. "Iya, Nel... Nggak tahu kenapa, makin ke sini rasa kangen ke Ruby makin kerasa, tapi di satu sisi aku cuma bisa pasrah. Aku cuma berharap dia masih bernapas di luar sana."

Danel meremas pelan jemari Aprilia, memberikan kehangatan dan rasa aman. "Aku paham betul gimana berharganya Ruby buat kamu dan Tisa. Aku juga sering berdoa buat dia. Kita tahu Ruby itu gadis yang kuat, Pril. Walaupun sampai sekarang keberadaannya masih jadi teka-teki, aku yakin Tuhan punya cara tersendiri buat melindunginya."

"Makasih ya, Nel... kamu selalu ada buat nenangin aku," ujar Aprilia tulus, menatap pacarnya dengan senyum tipis yang lega.

"Selalu, Pril," jawab Danel lembut sebelum kembali fokus berkendara.

Danel tahu betul bahwa luka atas kehilangan Ruby mungkin tidak akan pernah benar-benar hilang dari hati Aprilia. Namun, ia berkomitmen untuk terus berada di samping Aprilia, menjadi tempat berpulang dan penguat bagi kekasihnya dalam menjalani hari-hari mendatang.

Telepon genggam Aprilia berdering kencang di atas dasbor mobil, mengagetkan Danel yang sedang menyetir. Nama Tisa menyala terang di layarnya. Begitu Aprilia mengangkatnya dan menempelkan ponsel ke telinga, suara Tisa terdengar panik dan terengah-engah dari balik telepon.

"Pril! Kamu masih sama Danel, kan? Jangan pulang dulu, kita harus ketemu sekarang!" seru Tisa tanpa basa-basi.

"Kenapa, Tis? Ada apa? Suara kamu panik banget," tanya Aprilia heran, merapatkan duduknya seraya melirik Danel yang ikut memasang wajah bingung.

"Aku baru aja nggak sengaja ketemu Teressa di mall! Teressa, adiknya Ruby!" potong Tisa cepat. "Dia ngamuk-ngamuk dan ketakutan setengah mati di depan aku. Dia bilang... Ruby sebenarnya udah kabur dari hampir setahun yang lalu!"

Mata Aprilia membelalak sempurna. "Apa?! Kabur?"

"Iya! Teressa bilang keluarga Archelio—si Kavano brengsek itu—lagi meneror keluarganya habis-habisan karena Ruby hilang! Dan yang paling parah, Teressa bilang kalau Ruby nggak ketemu atau nggak balik juga, Kavano mau maksa Teressa buat gantikan posisi Ruby sebagai jaminan utang!"

Kata-kata Tisa menyengat dada Aprilia bagai petir di siang bolong. Kenyataan bahwa sahabatnya tidak mati, melainkan berhasil melarikan diri dari neraka keluarga Archelio, membuat seluruh tubuhnya bergetar hebat.

"Kita ketemu di mana sekarang, Tis?" potong Danel cepat dari balik kemudi, menangkap keseriusan situasi setelah mendengar samar-samar percakapan mereka dari

*speakerphone*.

"Di kafe biasa dekat pusat kota, Nel. Aku tunggu kalian di sini sekarang. Kita harus bahas ini!"

Danel langsung memutar arah kemudinya, menancap gas menuju tempat pertemuan. Di sampingnya, Aprilia menggenggam ponselnya erat-erat dengan dada yang bergemuruh.

Setahun ini mereka mengira Ruby telah tewas atau lenyap ditelan bumi. Namun kini, rahasia besar itu membentang di depan mata mereka: Ruby masih hidup dan sedang bersembunyi di suatu tempat, sementara bahaya besar yang tak mereka ketahui justru sedang mengintai dari bayang-bayang Kavano dan imperium Luca Oliver.

Napas Aprilia tertahan, matanya membelalak tak percaya menatap Tisa di seberang meja kafe. Informasi yang baru saja dimuntahkan dari mulut Teressa rasanya terlalu gila untuk diterima akal sehat.

"Menikah?!" seru Aprilia setengah berbisik, suaranya bergetar hebat. "Ruby... menikah sama Kavano Archelio?!"

Danel yang duduk di samping Aprilia ikut terperanjat. "Tunggu, Tis. Kamu yakin Teressa nggak asal bicara? Pria sekelas Kavano Archelio menikah tanpa ada pemberitaan media sama sekali? Itu nggak masuk akal buat pengusaha ternama kaya dia."

"Aku sumpah demi apa pun, Nel, Pril!" Tisa mencengkeram tepi meja, matanya menatap kedua sahabatnya bergantian dengan raut cemas yang memuncak. "Teressa sendiri yang ngomong sambil nangis dan marah-marah di mall tadi. Dia bilang pernikahan itu benar-benar terjadi secara tertutup beberapa bulan sebelum Ruby hilang! Cuma keluarga inti yang tahu, tanpa pesta, tanpa wartawan, tanpa ada kabar sama sekali di media cetak atau internet!"

Aprilia menutup mulutnya dengan telapak tangan, merinding membayangkan nasib sahabatnya. Selama ini, publik hanya mengenal Kavano sebagai pengusaha muda kaya raya yang tampan dan berpengaruh. Tak ada satu pun berita miring tentangnya di televisi atau majalah bisnis. Tapi kenyataan di balik pintu tertutup itu sungguh mengerikan.

"Pantas aja..." gumam Aprilia dengan suara bergetar dan mata yang mulai berkaca-kaca. "Pantas aja Ruby nggak pernah cerita apa-apa ke kita waktu akhir-akhir kuliah... Dia disembunyikan. Dia dijadikan istri sekaligus jaminan utang sama keluarga brengsek itu."

"Dan sekarang aku paham kenapa Kavano makin gila nyari Ruby," potong Danel dengan rahang mengeras, mencoba mencerna teka-teki besar ini. "Status Ruby bukan cuma jaminan utang biasa... Ruby itu istrinya yang sah secara hukum atau perjanjian mereka. Kalau Ruby hilang, harga diri dan aset Kavano ikut terancam."

Tisa mengangguk cepat. "Teressa bilang, Kavano ngancam bakal ngancurin seluruh keluarga mereka dan jadiin Teressa penggantinya kalau Ruby nggak ditemukan. Ruby kabur dari suaminya sendiri... dari neraka yang diciptakan pria itu."

Atmosphere di meja kafe itu mendadak menjadi sangat pekat dan mencekam. Ketiga anak muda itu kini menyadari betapa besarnya pusaran bahaya yang melingkupi hidup Ruby. Sahabat mereka bukan sekadar melarikan diri dari penculik, melainkan sedang bersembunyi dari kekuasaan monster bernama Kavano Archelio—tanpa pernah tahu bahwa saat ini Ruby berada di bawah lindungan pria yang jauh lebih berkuasa dari Kavano.

Rasa syok yang semula menghantam Tisa, Aprilia, dan Danel perlahan berganti menjadi secercah harapan. Meski kenyataan yang dibeberkan Teressa begitu mengerikan, ada satu hal besar yang kini menyalakan kembali api di dada mereka: **Ruby masih hidup.**

"Teressa mungkin ngomong karena panik dan emosi," ujar Danel pelan namun tegas, memecah hening di meja kafe. "Tapi informasi dari dia justru jadi petunjuk paling berharga buat kita. Selama ini kita buta karena mengira Ruby udah nggak ada. Sekarang kita tahu targetnya, kita tahu siapa yang dia hindari."

Aprilia mengusap air mata di pipinya lalu mengangguk mantap. "Benar kata Danel. Kita nggak boleh diam aja setelah tahu Ruby berjuang sendirian buat kabur dari iblis kayak Kavano. Kalau dia berhasil kabur setahun lalu, artinya sampai detik ini dia masih sembunyi di suatu tempat."

"Tapi kita harus super hati-hati," potong Tisa seraya mendekatkan tubuhnya ke meja, menyuarakan kekhawatirannya. "Kavano itu pengusaha berkuasa. Kalau dia yang punya semua akses aja belum bisa nemuin Ruby selama setahun ini, artinya Ruby sembunyi di tempat yang benar-benar aman—atau... ada orang lain yang melindunginya."

"Kita nggak perlu bentrokan langsung sama Kavano," sahut Danel tenang, mencoba menyusun rencana secara rasional. "Kita mulai lacak pelan-pelan tanpa menarik perhatian. Kita bisa manfaatkan jaringan di tempat kerja kita, atau nyari info lewat jalur relasi yang jauh dari jangkauan keluarga Archelio."

Ketiganya saling bertatapan, mengunci tekad yang sama. Rasa menyerah yang sempat membelenggu mereka selama berminggu-minggu kini menguap sepenuhnya.

Mereka bersyukur pertemuan tak sengaja dengan Teressa telah membukakan jalan. Kini, pencarian sahabat mereka resmi dimulai kembali—tanpa mereka sadari bahwa langkah kecil yang akan mereka ambil ini perlahan-lahan bakal bersinggungan langsung dengan kubah kekuasaan Luca Oliver yang menyimpan Ruby rapat-rapat dari dunia luar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!