Raka nekad syuting di Kampung Pitu meski dilarang Laras dan karena ia merasa ada kekuatan gaib yang memilih tempat itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suara dari Kegelapan
Suara itu masih terngiang di telinga setiap orang yang ada di ruangan itu lembut, penuh kerinduan yang tak terlukiskan, namun datang dari tempat yang tidak bisa dilihat oleh mata mana pun. Tidak ada bayangan di balik pintu, tidak ada bentuk yang terlihat di balik kaca jendela, tidak ada jejak yang bisa ditunjuk dengan jari. Hanya suara jelas, nyata, namun tanpa wujud, seakan melayang di udara, di mana saja dan tidak di mana-mana sekaligus. "Apakah kalian pernah melihatnya..." pertanyaan itu menggantung di ruangan yang hening, begitu sederhana namun bobotnya begitu berat hingga membuat siapa pun yang mendengarnya merasa sesak di dada, seakan udara di ruangan itu perlahan menipis.
Di dalam ruangan itu, semua orang saling berpandangan, mata mereka penuh kebingungan dan keraguan yang semakin dalam. Bagaimana cara berbicara dengan seseorang yang tidak bisa kamu lihat? Bagaimana cara memastikan bahwa suaramu sampai ke telinganya, ketika kamu bahkan tidak tahu di mana posisinya berada? Apakah ia benar-benar berdiri tepat di balik pintu kayu itu? Atau mungkin ia sudah berjalan menjauh ke halaman? Atau dan pikiran ini membuat bulu kuduk merinding mungkin ia sudah berada di dalam ruangan ini, berdiri di antara mereka, mendengarkan setiap napas, setiap detak jantung, tanpa mereka sadari? Tidak ada yang tahu. Tidak ada yang bisa memastikan. Dan justru ketidakpastian itulah yang membuat suasana menjadi begitu berat, begitu mencekam, dan begitu penuh rasa hormat yang bercampur rasa takut.
Laras berdiri diam di dekat pintu, tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya, kuku hampir menancap ke kulit telapak tangannya sendiri. Ia tidak berani mengetuk pintu, tidak berani membukanya, dan tentu saja tidak berani berbicara seakan-akan mereka sedang berhadapan langsung seperti orang biasa. Ia sadar sosok di luar sana bukan berada di sisi yang sama dengan mereka. Keberadaannya terjebak di batas yang tipis, di antara ada dan tiada, di antara yang terlihat dan yang tidak. Berbicara kepadanya seakan-akan ia berdiri di depan pintu seperti manusia biasa rasanya tidak sopan, rasanya tidak tepat, seakan memaksakan sesuatu yang bukan lagi milik dunia ini untuk kembali ke bentuk yang sudah ia tinggalkan.
Maka Laras hanya menatap pintu kayu itu bukan seakan melihat seseorang di baliknya, melainkan seakan berbicara kepada keheningan itu sendiri, kepada udara yang bergetar karena suara tadi. Ia berbicara dengan suara yang sangat pelan, lembut, namun penuh dengan ketulusan yang tidak bisa diragukan. Matanya berkaca-kaca, bukan karena takut semata, tapi karena ia merasakan betapa beratnya beban yang dipikul oleh sosok yang tidak terlihat itu.
"Kami tidak melihatnya..." ucapnya pelan, suaranya bergetar sedikit namun tetap tenang, tidak menunjuk ke arah mana pun, tidak berusaha mencari sosok yang tidak bisa dilihatnya. "Kami belum pernah bertemu dengan Ardita. Kami tidak tahu di mana ia berada. Tapi kami paham... betapa Bunda merindukannya. Betapa Bunda mencarinya setiap saat. Semoga... semoga Bunda segera menemukannya. Semoga Bunda tidak perlu mencari sendirian lagi."
Laras berhenti di situ. Ia tidak bertanya balik, tidak meminta jawaban, tidak berusaha melanjutkan percakapan yang sebenarnya tidak bisa dipastikan apakah terjadi atau tidak. Ia hanya menyampaikan apa yang ada di hatinya bukan kepada seseorang yang berdiri di depan pintu, tapi kepada kehadiran yang mereka rasakan ada di sana, di mana pun itu berada. Ia tidak berani berjanji, tidak berani menawarkan bantuan yang belum tentu bisa ia tepati. Ia hanya ingin sosok itu tahu bahwa ia didengar, bahwa ia tidak diusir, bahwa ia tidak dianggap sekadar ketakutan imajinasi semata.
Keheningan yang panjang menyusul kata-kata itu. Detik berlalu, satu per satu, terasa begitu lambat hingga setiap orang yang ada di ruangan itu bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Tidak ada jawaban langsung. Tidak ada suara yang segera terdengar. Hanya keheningan malam yang pekat, diisi oleh suara jangkrik yang samar dari luar, dan angin yang sesekali menggerakkan daun-daun di halaman. Namun di tengah keheningan itu, ada sesuatu yang berubah hawa di ruangan itu terasa sedikit lebih ringan, seakan beban berat yang menekan mereka perlahan-lahan terangkat sedikit.
Dan perlahan, sangat perlahan, suara itu terdengar lagi kali ini tidak dari arah pintu, tidak dari satu titik yang jelas. Suaranya datang dari mana saja, dari segala arah sekaligus, samar dan jauh, seakan pemiliknya sudah berjalan mundur perlahan, menjauhi rumah itu namun masih berada di sekitar mereka, di tempat yang tidak bisa dijangkau oleh mata maupun telinga manusia biasa.
"Terima kasih..." suara itu lemah, hampir hilang tertiup angin malam, namun setiap orang mendengarnya dengan jelas di dalam hati mereka. "Terima kasih... karena tidak mengusirku. Karena tidak berpura-pura aku tidak ada. Aku... aku hanya ingin menemukannya. Hanya itu... terima kasih..."
Suara itu semakin lama semakin pelan, semakin samar, seakan perlahan-lahan menjauh, melayang ke atas, ke arah bukit, ke arah rumah kedelapan yang gelap dan sunyi di sana. Dan disertai suara langkah kaki yang juga semakin samar tap... tap... tap... terdengar tidak jelas, tidak berirama seperti langkah kaki manusia biasa, seakan ia berjalan di atas tanah yang berbeda, di jalur yang tidak sama dengan dunia mereka. Tidak ada bunyi daun yang terinjak, tidak ada bunyi kerikil yang bergeser. Hanya suara langkah yang lembut, halus, dan perlahan-lahan lenyap ditelan keheningan malam.
Semua orang di ruangan itu tetap diam sampai suara itu benar-benar hilang, sampai keheningan kembali menyelimuti halaman rumah Bu Wiyati dengan utuh. Tidak ada yang berani bergerak, tidak ada yang berani membuka pintu untuk melihat karena mereka tahu, kalau pun pintu itu dibuka lebar-lebar, tidak akan ada yang terlihat di luar sana. Tidak ada sosok, tidak ada bayangan, tidak ada jejak. Dan justru itulah yang membuat suasana semakin mencekam dan semakin menyentuh hati mereka tidak tahu apakah sosok itu benar-benar pergi, atau masih berdiri di sana, diam, menunggu, di antara ada dan tiada, di tempat yang tidak bisa disentuh oleh dunia mereka.
Raka perlahan mendekati pintu, tangannya terangkat perlahan namun tidak membukanya. Ia hanya berdiri di belakangnya, bersandar sebentar sambil menghela napas panjang yang terasa berat, seakan baru saja melepaskan sesuatu yang besar dari pundaknya. Wajahnya tampak pucat, matanya masih penuh kebingungan namun juga penuh pemahaman yang perlahan tumbuh.
"Kita tidak berbicara dengan hantu," ucapnya pelan, suaranya terdengar lemah namun tegas, seakan menjelaskan pada dirinya sendiri maupun pada mereka semua yang masih berdiri diam dalam keheningan. "Tapi kita juga tidak berbicara dengan orang yang berdiri di depan pintu seperti kita. Keberadaannya... berbeda. Ia bisa mendengar dari mana saja, bisa berada di mana saja, dan kita tidak akan pernah tahu pasti. Kita tidak bisa memperlakukannya seperti percakapan biasa. Kita tidak bisa menentukan di mana ia berdiri, seberapa dekat atau seberapa jauh ia sebenarnya dari kita. Dan itu... itu yang harus kita pahami dengan baik."
"Benar," Dimas mengangguk pelan, wajahnya serius dan penuh kesedihan yang mendalam. Ia melangkah maju, berdiri di samping Raka, menatap pintu kayu itu seakan melihat melampaui dinding, melihat ke arah tempat yang tidak bisa dilihat orang lain. "Di antara dua dunia, jarak dan posisi tidak lagi seperti yang kita kenal. Ruang dan waktu tidak lagi berjalan dengan cara yang sama. Ia bisa berada di depan pintu dan sekaligus di teras rumah kedelapan. Ia bisa mendengar bisikan kita dari jarak yang jauh, dan tidak mendengar teriakan kita saat ia berada tepat di samping kita. Semuanya berubah. Semuanya tidak lagi sederhana. Itulah sebabnya kita harus berhati-hati bukan karena ia jahat, tapi karena kita tidak pernah tahu seberapa dekat atau seberapa jauh ia sebenarnya dari kita, dan apa yang ia rasakan dari kata-kata yang kita ucapkan."
Malam semakin larut, lampu-lampu di ruangan itu tetap menyala terang, namun tidak ada yang merasa ingin tidur. Mereka berkumpul di ruang tengah, duduk berdekatan satu sama lain, dan berbicara dengan suara pelan bukan lagi tentang ketakutan, bukan lagi tentang hantu yang menakutkan, tapi tentang keluarga Candra Wijaya, tentang nasib yang begitu kejam menimpa mereka, dan tentang Ardita yang entah berada di mana, mungkin mendengarkan mereka dari sisi lain yang tidak bisa mereka lihat, mungkin juga sedang mencari, mungkin juga takut, sendirian di tempat yang tidak diketahui siapa pun.
Dan di atas sana, di rumah kedelapan yang gelap itu, sosok itu berdiri di teras, menatap ke arah jalan setapak yang menuju ke bawah, ke arah cahaya lampu yang samar dari rumah Bu Wiyati. Ia tidak masuk ke dalam rumah itu. Ia masih berdiri di sana, memeluk dirinya sendiri di tengah udara malam yang dingin, dan berbisik pelan ke arah kegelapan di sampingnya seakan berbicara pada seseorang yang berdiri di dekatnya namun tidak bisa dilihat oleh siapa pun, bahkan oleh dirinya sendiri.
"Mereka baik... mereka mendengarku... mungkin... mungkin suatu hari nanti kita bisa bertemu lagi... di tempat yang lebih baik..."
Namun tidak ada jawaban. Hanya angin malam yang berhembus pelan, menggerakkan daun-daun di sekitar rumah itu, seakan ikut berbisik namun tidak pernah memberikan jawaban yang ia cari. Dan di kejauhan, di antara pepohonan yang gelap, terdengar suara halus seperti bisikan anak perempuan yang memanggil nama, lembut dan samar, lalu hilang begitu saja ditelan kegelapan.