Indonesia
NovelToon NovelToon
Kaget, Tiba-Tiba Jadi Istri Bos

Kaget, Tiba-Tiba Jadi Istri Bos

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Rizza Khan

Aisha Senjani mahasiswa matematika yang baru menyelesaikan pendidikannya di universitas luar negeri dan mendapatkan pekerjaan di sana. Setelah kurang lebih sebulan ia mengambil cuti untuk pulang ke tanah air, sejak menyelesaikan pendidikannya ia belum pernah sama sekali pulang kampung. Dihari kepulangannya ternyata di rumah sedang ada acara pernikahan sang kakak, ia tidak tahu sama sekali tentang hal itu.

Namun, sang kakak kabur disaat mempelai Pria dan rombongan sudah datang. Pihak pria tidak ingin membatalkan karena akan merusak nama baik keluarganya. Sehingga sang mempelai meminta Aisha jadi penggantinya.

Apakah Aisha akan menerima perkawinan tiba-tiba ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizza Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Aisyah menutup pintu ruangan Anton dengan pelan. Namun, tepat saat ia membalikkan badan, langkahnya terhenti.

"Astagfirullah!" pekik Aisha pelan seraya refleks mundur selangkah.

Ternyata, sesosok wanita bertubuh jenjang dengan gaya busana modis sudah berdiri tepat di belakangnya, hanya berjarak dua jengkal dari hidung Aisha.

Wanita itu menatap Aisha dengan pandangan selidik, diiringi senyum penuh arti yang melengkung di bibirnya.

"Eh... M-Miss Tania! Good Morning!" sapa Aisha terbata-bata, berusaha menetralkan debar jantungnya yang kaget bukan main.

"Morning, Aisha. Kenapa pagi-pagi begini kamu sudah keluar dari ruangan Pak Anton?"

"Oh... itu, Miss. Saya cuma menyerahkan hasil tugas yang kemarin Miss berikan ke saya. Karena tugasnya sudah selesai, jadi tadi langsung saya serahkan ke Pak Anton."

Tania mengangguk-angguk paham. "Oh... tugas yang kemaren itu? Sudah selesai kamu kerjakan?"

"Sudah, Miss!" jawab Aisha seraya tersenyum bangga.

Tania tersenyum tipis, lalu mencondongkan tubuhnya sedikit. "Ngomong-ngomong... kemarin sore kamu ke mana sih? Kok setelah nggak balik ke kantor setelah makan siang?"

"Ah... itu, Miss," sahut Aisha agak canggung.

"Kemarin saya ke rumah sakit, membantu korban kecelakaan di depan restoran."

Mata Tania membelalak sedikit, raut wajahnya mengendur. "Ooh... gitu? Saya pikir kamu ngambek sama Pak Anton?"

Deg.

Mata Aisha seketika membelalak bulat. "Hah?! Ngambek sama Pak Anton? M-maksudnya Miss?"

Tania yang menyadari lidahnya sedikit tergelincir buru-buru berdehem dan mengibas-ibaskan jemarinya di udara, membetulkan ucapannya dengan cengiran santai.

"Oh... enggak, enggak! Maksud saya, apa kemarin Pak Anton menyuruh kamu pergi atau memang ada tugas di luar kantor yang belum selesai?" elak Tania cepat, menyembunyikan maksud aslinya yang sempat mengira Aisha kesal karena sifat kaku Anton.

Aisha menghela napas lega, menggeleng pelan. "Oh... bukan, Miss. Sama sekali bukan karena tugas kantor."

Tania menatap pintu kayu ruangan Anton yang tertutup rapat, lalu beralih menatap Aisha lagi. "Kamu...nggak dimarahikan sama Pak Anton gara-gara kemarin menghilang?"

 "Eh, enggak kok, Miss! Sama sekali enggak dimarahi! Pak Anton cuma tanya keadaan dan memastikan tugas saya aman."

Aisha lalu membungkukkan tubuhnya sedikit dengan raut wajah serba salah. "Anu... Miss, saya juga mau mohon maaf ya gara-gara kemarin sore tidak sempat menelepon atau mengabari Miss secara langsung."

 "It's okay, Aisha. Chloe kemarin sudah bilang kok. Yang penting kamu selamat dan urusannya sudah beres. Tugasmu juga selesai tepat waktu, jadi tidak ada masalah."

"Alhamdulillah... Thank you so much, Miss," sahut Aisha lega luar biasa. "Kalau begitu, saya balik ke ruangan saya dulu ya, Miss."

"Okey, selamat bekerja kembali, Aisha," ujar Tania ramah.

Aisha pamit dengan senyuman manis, lalu melangkah menyusuri koridor menuju ruang divisinya.

Sepeninggal Aisha, Tania memutar knop pintu ruangan Anton perlahan-lahan agar tidak menimbulkan bunyi, lalu mengambil posisi mengintip dari celah pintu yang terbuka sedikit.

Di dalam ruangan, tampak Anton sedang duduk sendirian di balik meja kerjanya. Pria berjas rapi itu sama sekali tidak tahu bahwa adiknya sedang mengawasinya bagai detektif.

Tania menahan tawa saat menyaksikan pemandangan yang sangat langka di depannya. Anton sedang bersandar di kursi, pandangannya menatap kosong ke arah langit-langit ruangan dengan senyum-senyum sendiri yang sangat menggemaskan.

'Ya ampun... Parah banget Bucin-nya Si Bos ini,' batin Tania terkekeh geli.

Tania mendorong pintu lebih lebar lalu melangkah masuk secara mengendap-endap. Begitu jaraknya tinggal dua langkah dari meja kerja Anton, Tania sengaja mencondongkan tubuhnya dan berseru lirih di dekat telinga sang kakak.

"Ada yang lagi bahagia banget nih pagi-pagi..." goda Tania.

Puk!

Anton tersentak kaku bagai tersengat listrik. Ia buru-buru menegakkan posisinya, membelalak kaget menatap adiknya yang kini sedang berdiri bersedekap dada dengan senyum ejekan yang amat lebar.

"Tania?!" sergah Anton berusaha menguasai dirinya yang ketahuan basah kuyup. "Kamu... kamu sejak kapan ada di sini?! Kenapa tidak ketuk pintu dulu?!"

Tania tertawa renyah, mengambil kursi di depan meja Anton lalu mendaratkan tubuhnya dengan santai.

"Aku sudah ketuk pintu kok, tapi Bapaknya aja yang terlalu sibuk melamun sambil senyam senyum gitu. Kenapa, Kak? Jantungnya mau copot habis didatangi Aisha pagi-pagi?"

"Kamu ini ngomong apa sih?!" omel Anton kaku dengan suara dibuat-buat tegas. "Saya cuma... cuma agak sesak napas sedikit gara-gara pendingin ruangan di koridor luar terlalu dingin!"

"Masa sih karena AC?" cibir Tania, menaikkan sebelah alisnya seraya memajukan tubuhnya.

"Bukan karena Aisha baru saja pamitan dengan senyuman manis, terus bilang terima kasih gara-gara kamu perhatian banget sama dia?"

Anton membeku. Matanya melirik Tania dengan tatapan horor. "Kamu... kamu mengintip dan mendengarkan pembicaraan kami?!"

"Bukan mengintip, tapi tidak sengaja dengar pas mau masuk!" elak Tania santai dengan cengiran tanpa dosa. "Lagian ya, Kak... ekspresi kamu lucu banget pas tahu Aisha kemarin ke rumah sakit."

"Saya panik itu wajar! Dia kan staf saya. Kalau dia sakit atau pingsan gara-gara makanan kemarin, saya sebagai atasan yang bertanggung jawab!"

"Ooh... jadi cuma sebatas tanggung jawab atasan nih?" goda Tania lagi. "Terus kenapa senyum-senyum sendiri begitu Aisha keluar? Itu gaya tanggung jawab atasan jenis baru ya?"

"Tania! Cukup!" potong Anton seraya menunjuk adiknya dengan pulpen, meski wajahnya sudah merah padam sampai ke leher. "Kalau kamu ke sini cuma mau menggoda saya dan tidak ada urusan pekerjaan, lebih baik kamu balik ke ruangan kamu sekarang!"

Tania tertawa terbahak-bahak melihat reaksi kakaknya yang kian salah tingkah. Sangat jarang melihat Anton yang biasanya selalu bersikap dingin, profesional, dan kaku bisa dibuat kelimpungan hanya karena seorang wanita.

"Iya, iya, Pak Anton yang hatinya lagi berbunga-bunga," gurau Tania seraya berdiri dari kursinya. Ia merapikan pakaiannya, lalu menatap Anton dengan binar mata yang serius.

"Tapi beneran deh, Kak... Aisha itu anak yang sangat baik, tulus, pintar, cantik lagi. Pria mana pun yang mendapatkan dia pasti beruntung banget."

"Saya tahu..." gumam Anton pelan, hampir tak terdengar.

Tania tersenyum penuh arti. "Nah, makanya... kalau kamu mau jadi pria beruntung itu , dan kamu memang suka, jangan kaku-kaku amat jadi cowok. Nanti keburu diambil orang baru tahu rasa lho!"

"Tania!" gertak Anton lagi, membuat Tania tertawa geli seraya melangkah cepat menuju pintu keluar.

"Saya balik kerja dulu ya, Pak Anton! Jangan lupa wajahnya dikondisikan, kelihatan banget sedang berbunga-bunganya!" seru Tania jahil sebelum menghilang di balik pintu dan menutupnya rapat.

1
Rian Moontero
mampiir👍
Rizza: Makasih udh mampir Kak🙏 semoga suka ceritanya😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!