2 Season dalam 1 novel☑️👇🏻
•Dear Al -2016-
Ku ceritakan kisah ku bertemu dengan
seorang lelaki yang selalu tersenyum walaupun dia sering tersiksa menjalankan hidupnya yang kejam.
"Kamu itu Bintang, selalu tersenyum menyinari hatiku yang gelap" -Jessie-
"Kamu itu bagaikan hujan, yang selalu datang tiba-tiba tanpa aku panggil namanya" -Alvin-
•After Dear Al -2020-
Percayalah jika Tuhan berkehendak, kita akan saling mencintai, meski di raga yang berbeda.
"Aku bulan, dia bintang, dan kamu malamnya!" -Alga-
"Kamu lah cahaya ku yang telah hilang!" -Jessie-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itsblue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18
~•~
"Shut up, jangan halu mulu"
Lala membungkam mulutku, dan aku langsung saja melepaskannya.
"Aku nggak lagi halu La... memang bener kak Alvin meluk akuuu"
Lala memutar bola matanya malas,
"Udah lah Jes, aku capek dengerin kata-kata halu mu"
Aku kesal, Lala masih saja tidak percaya denganku, kini ku kerutkan keningku dalam sambil menatap mata Lala.
kring... kring...
Bel sekolah membuat aku kesal, pengen saja suara itu aku bisukan, agar aku dapat bercerita selanjutnya mengenai aku dengan kak Alvin kepada Lala.
- - -
Kini waktunya ulangan Bahasa Inggris, aku lumayan sih bisa menguasai bahasa Inggris, karena aku sering lihat film-film luar negeri dengan memakai bahasa Inggris.
Saat dibagikan soal dan lembar jawaban, aku melihat satu persatu kata-kata Inggris itu, lumayan sih menurutku.
Sesaat kemudian, kejadian hari ini terlintas di pikiranku lagi, kak Alvin yang memelukku, hatiku rasanya sangat bahagia banget, badanku ku peluk dengan sendirinya, sambil tersenyum manis.
"Pak Jessie gila, meluk dirinya sendiri"
Itu suara Riko.
Kenapa sih selalu ada dia di hidupku, rasanya aku ingin menenggelamkan dia, kenapa dia begitu benci denganku.
Aku menoleh kebelakang,
"Apa sih Lo, sewot amat jadi orang!?"
"Jessie Riko, dikerjakan gak usah bertengkar!"
Aku refleks langsung menghadap depan, melihat pak Dani,
"Riko duluan pak yang cari masalah!?"
"Diam!!! Atau saya suruh kalian berdua mengerjakan diluar!"
Aku menghela nafasku besar, sambil ku putar bola mataku malas.
Kesal! kesal! kesal!
Aku benci Riko, selalu saja cari masalah sama aku.
Aku melihat ke arah jendela luar kelas, ku taruh daguku di atas telapak tanganku dan sesaat kemudian disana ada kak Alvin berjalan melewati kelasku, aku sedikit terkejut melihatnya.
Aku mempunyai ide, segera aku mengambil buku di dalam kolom mejaku, dan menyobeknya, dan ku tuliskan sebuah kata agar kak Alvin menerima permintaanku.
Setelah menulis, aku segera melipatnya lalu bejalan ke arah guru untuk permisi ke toilet, maaf bohong pak, ini demi kebaikan murid mu juga kok pak.
hehe.
Aku berjalan menelusuri koridor sekolah untuk mencari keberadaan kak Alvin, pasti dia masih belum jauh dari sini.
Oh ya, tadi ulanganku sudah selesai aku kerjakan kok guys, tenang saja, mungkin kalau aku belum kembali, Lala pasti mengambil jawabanku lalu mengumpulkannya.
It's oke.
Sekilas aku melihat kak Alvin masuk ke dalam perpustakaan, tak berpikir lama aku segera menghampirinya dengan berlari kecil ke arahnya.
Saat didalam perpus aku mencari sosok Alvin, sambil melihat-lihat buku yang ada disana.
Pandanganku tertuju pada sebuah buku yang judulnya menarik perhatianku, ku ambil buku itu dan betapa terkejutnya, tepat didepan mataku ada Alvin.
Kita berdua bertatapan seperti layaknya di film, mataku tidak bisa berkedip, tidak bisa melepaskan tatapan ini ke kak Alvin.
Berbeda dengan dia, menatapku tanpa ada ekspresi apapun, lalu dia berjalan meninggalkanku.
Dengan cepat aku menghampirinya dan berdiri didepannya, dia langsung berhenti ditempat sambil menatap mataku terkejut.
"Kak aku mau beri ini, jangan lupa dibaca ya" ucapku sambil menyodorkan sebuah kertas yang baru saja aku tulis.
Dia melihat kertas itu sedikit lama sih, aku menghela nafas samar, lalu mengambil tangan kak Alvin dan menaruh kertas itu ditangannya.
"Terima kasih buat yang tadi kak" tersenyum.
Dia menatapku sekilas, lalu melengos saja tanpa ada satu katapun yang muncul dari mulutnya.
Sumpah, dia benar-benar cuek banget, mungkin melebihi kecuek an papaku, dan itu membuat aku suka, karena itu lebih menantang.
°_°
Aku menunggu didalam aula, sambil memandangi isi didalam nya.
Sudah setengah jam saat pulang sekolah kak Alvin belum saja datang, aku terus saja menunggunya sambil melihat ke arah pintu.
Suara dari luar sudah mulai hening, semua murid sudah pulang, sementara aku seperti penjaga aula yang tidak tau harus apa cuman bisa duduk manis di kursi.
Sudah pukul 5 sore, tapi dia belum datang juga, benar dugaan Lala tadi kalau kak Alvin gak bakal datang, tapi... hatiku yakin kalau dia akan datang.
huft.
15 menit kemudian, masih saja belum datang, apa aku harus pulang? iya itu yang harus aku lakukan, tidak mungkin sampai sekarang dia masih ada disekolah ini, buat apa?
Aku mengambil tasku dan berjalan ke luar aula, mengapa kak Alvin begitu tidak suka denganku, apa aku terlalu berlebihan mendekatinya?
"Berhenti mengikuti gue, gue risih"
Aku menggelengkan kepalaku, itu baru pemula pdkt, jadi wajar saja lah dia seperti itu denganku.
Aku berjalan keluar aula, dengan memasang ekspresi sedihku.
"Jessie?!" aku tersentak mendengar panggilan dari seseorang dibelakang ku.
Lalu ku balikkan badanku perlahan, aku terkejut bukan main, yang memanggilku adalah kak Alvin, dia berdiri tak jauh denganku dengan tas yang masih ada di punggungnya.
Aku tersenyum manis ke arahnya, sementara dia masih memasang ekspresi datar nya.
🧚🏻♀️
yg season 2 kurang greget kak... mnurut ku trlalu bertele tele, smoga lebih baik ya kak..
penasaran ama ending nya
ayo thor semangat
Ditunggu up selanjutnya yup😘
Salam dari "UNSEEN."