Aura tidak pernah menyangka jika dirinya akan menikah dengan calon kakak iparnya sendiri yang bernama Daniel. Pernikahan di antara keduanya terjadi bukan atas dasar cinta, melainkan karena bayi kembar yang tengah tumbuh di rahim Aura.
Bagaimanakah kisah rumit yang terjadi dalam rumah tangga Daniel dan Aura? Akankah kehadiran bayi kembar mereka mampu membuat keduanya bertahan dalam membina rumah tangga? Yuk simak kelanjutan kisahnya di sini.. 😘
Follow ig @t_l_handayani 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T. L. Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mimpi Buruk
Aura semakin panik mendengar pertanyaan Daniel dan dia justru semakin kasar melepas tangan Daniel dari pinggangnya. Namun, tangan Daniel dengan sigap kembali meraih lengan Aura dan sedikit menariknya untuk mengikuti langkahnya.
"Lepaskan, mau kemana? Jangan macam macam!" bentak Aura dengan nada pelan dan pandangan yang tajam.
"Diam lah. Ikutlah denganku dan jangan berontak, nanti berisik!" jawab Daniel dengan tetap mencengkeram lengan Aura.
Demi mencegah keributan, Aura pun akhirnya menurut kata Daniel yang ternyata menuntunnya ke kamarnya. Mereka tinggal satu rumah, tetapi tidur di kamar yang berbeda.
"Mau ngapain kamu bawa aku kemari?" tanya Aura dengan nada tegas tapi pelan.
"Duduklah, biar tenang." ucap Daniel sembari kembali mengarahkan Aura ke arah sofa.
Setelah keduanya duduk di sebuah sofa yang tersedia di kamar Daniel, pria itu pun mulai mengutarakan niatnya membawa Aura ke kamarnya.
"Kenapa? Kamu takut aku berbuat macam macam sama kamu? Kalau aku mau, hal itu sudah ku lakukan waktu kita tinggal berdua di rumah kontrakan." Daniel menjawab pertanyaan Aura dengan santai.
Aura tidak menjawab karena jika di pikir pikir, ucapan Daniel itu benar. Tapi tindakan Daniel dengan membawa paksa dirinya ke kamar itu juga mengundang pertanyaan yang besar. Untuk apa?
"Aku membawamu ke sini karena rindu." tiba tiba Daniel bersuara.
"Apa? Rindu katamu?" tanya Aura.
"Iya, aku rindu pada bayi kembarku dan juga rindu pada..." ucapan Daniel terpotong.
"Pada apa?" tanya Aura dengan segera.
"Pada kebersamaan kita, aku yakin kamu pun juga merindukannya bukan?" Daniel balik bertanya.
"Nggak, aku nggak rindu. Kamu aja kePEDEan." Aura pun enggan mengakui kerinduannya. Padahal dia juga merasakan hal yang sama dengan yang di rasakan oleh Daniel.
"Kamu bohong. Tatap mataku dan katakan kamu nggak rindu? Apa kamu nggak rindu ketika kita berbagi nasi bungkus karena kamu selalu kurang jika makan hanya satu porsi? Apa kamu nggak rindu ketika cuaca panas dan kita saling berebut kipas angin yang cuma satu? Apa kamu nggak rindu ketika kita berebut kamar mandi di pagi hari?Apa kamu nggak rindu ketika... "
"Cukup!" mendadak Aura memotong kalimat Daniel.
"Kita tidak perlu mengenangnya. Itu bukan kenangan, tetapi itu adalah hukuman." ucap Aura dengan tegas.
"Tapi sayang nya, hukuman itu meninggalkan jejak yang begitu membekas di ingatanku." sahut Daniel.
"Sudahlah, jangan berlebihan. Kamu masih ingat karena kejadiannya baru kemaren. Nanti kalau sudah berlalu selama bertahun-tahun juga akan hilang sendiri. Pikirkan saja masa depanmu dengan Kak Rachel dan bayi kembar ini. Dan aku juga akan memikirkan masa depanku sendiri!" jawab Aura sambil berdiri lalu meninggalkan tempatnya duduk. Daniel berusaha menahannya, tetapi Aura tetap bersikeras untuk keluar sebelum Rachel tahu jika Aura berada di kamar calon suami kakaknya itu.
Malam itu Aura tidak dapat memejamkan mata karena ucapan Daniel selalu terngiang di telinganya. Semakin dia melupakannya, justru semakin dia teringat momen kebersamaan dengan Daniel ketika berada di kontrakan itu. Akan tetapi, sebelum hal tersebut akan memperkeruh keadaan, Aura berusaha untuk mengendalikan diri agar tidak larut di dalamnya.
Pagi telah menyapa, Daniel dan Rachel tengah menikmati sarapan pagi di meja makan mereka.
"Pagi sayang, gimana tidurnya semalam? Nyenyak?" tanya Rachel.
"Nyenyak kok. Kamu sendiri gimana?" Daniel balik bertanya.
"Aku kurang nyenyak karena semalam aku mimpi buruk." jawab Rachel.
"Mimpi buruk? Tentang apa?" tanya Daniel.
"Aku mimpi terjadi kebakaran pada saat pesta pernikahan kita dan pernikahannya pun gagal." jawab Rachel dengan wajah yang murung.
"Sudahlah, jangan terlalu di pikirkan. Itu kan cuma mimpi dan bisa juga hanya bunga tidur yang tidak ada maknanya." Daniel berusaha menenangkan hati Rachel yang sedang begitu gelisah memikirkan mimpi buruknya. Akan tetapi, Rachel belum bisa menenangkan diri. Bahkan dia sampai pergi ke kamar Aura lalu menceritakan semuanya.
Seketika Aura teringat pada kejadian tadi malam dimana Daniel membawanya masuk ke kamarnya. Aura khawatir jika mimpi buruk kakaknya ada hubungannya dengan dirinya.