Indonesia
NovelToon NovelToon
KISAH BEBEK DAN ANGSA

KISAH BEBEK DAN ANGSA

Status: tamat
Genre:Cinta Terlarang / Nikah Kontrak / Persahabatan / Romansa / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:17.5k
Nilai: 5
Nama Author: Yusiko

Mengisahkan Mahasiswa Praktek Kedokteran melaksanakan Praktek Kerja Lapangan dengan menempuh perjalanan kehidupan yang penuh dengan konflik asmara, cinta dan dendam menambah keunikan kisah ini.

Sebuah keputusan tersulit harus di berikan dalam mencari dan memahami akan arti sebuah cinta yang menguji kesabaran dan keberanian untuk bisa menjalaninya sampai bertemu dengan cinta sejati tidak peduli seperti apa keberadaannya.

Pembaca di tuntut untuk menyimpulkan secara detail tanpa menggunakan logika akan tetapi berusaha memecahkan segala persoalan berdasarkan hati yang benar-benar sangat membingungkan untuk di tanggap secara akal.

Semoga menjadi cerita menarik untuk selalu di ikuti kisah demi kisahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18 : WAKTU TELAH BERUBAH

"Mati gue tik, ternyata cowo' yang gue kejar-kejar kemarin itu namanya Pak Ridwan, dosen pembimbing kita disini!" Kata Leni rada takut.

"Elo sih Len, gegabah kaga mau denger nasehat orang lain" timpal Tika.

"Iya Tik, gue salah, gue harus bagaimana nih!?" Tanya Leni.

"Ya elo minta ma'aflah Len!" Tegas Tika.

"Tapi Tik, serius nih. Gue mau kalau dia jadi pacar gue!" Balas Leni.

"Terserah elo lah Len!" Tika kesal.

Leni berjalan cepat di buntuti dengan Tika yang terasa keteteran mengimbangi langkah kaki Leni yang seperti berpacu dengan waktu melangkah ringan menuju Perumahan yang ada di sebelah Asrama Beras Kencur disitulah letak kamar mereka, niatnya sudah benar-benar bulat untuk bertemu dengan Pak Ridwan yang kemarin sempat mungkin di buat kalang kabut dengan kelakuan Leni yang menggebu-ngebu mengejar cowo' keren yang baru pertama kali di lihatnya.

"Assalamuallaikum...!"

"Walaikumsallam...!" Jawaban dari dalam perumahan membalas salam yang membuat si pemberi salam menjadi dag dig dug rasanya nih hati.

Pintu terbuka dan senyum manis muncul sesudahnya...! "Leni Sukesih dan Tika Agustina, silahkan masuk, dan silahkan duduk!" Sapa ramah si penghuni perumahan. "Adakah yang bisa di bantu nona-nona?!"

"Begini pak, maksud kedatangan...!!!" Leni mengambil jeda dari ucapannya tersebut. "Soal yang kemarin Pak, jujur eh terus terang eh sesungguhnya!" Leni terlihat gugup.

"Sebentar kalau begitu ya, tahan dulu deh bicaranya!" Pak Ridwan tetap dengan senyuman, dia berdiri meninggalkan Leni dan Tika yang masih saling pandang. Tidak berapa lama, beliau keluar lagi dari ruang dalam membawa 3 gelas jus jeruk plus es batu.

"Silahkan nona-nona di minum dulu biar tidak kering tenggorokannya ya!" Lanjut Pak Ridwan.

"Iiiiya pak!" Jawab Tika.

"Begini pak...!" Leni ingin meneruskan ucapannya akan tetapi tangan telunjuk pak Ridwan naik keatas menuju tengah bibir. "Sssssttttt...! Minum dulu baru nanti kita bicara lagi, okey!"

"Iiiiya pak!" Kini Leni yang menjawab. "Pak saya minta ma'af dengan kejadian kemarin pak, saya...!" Sebelum Leni menyelesaikan ucapannya!

"Assalamuallaikum...!"

"Walaikumsallam...!" Pak Ridwan dengan cepat membalas salam itu, di berdiri untuk menyambut tamu yang baru datang, sementara pembicaraan Leni terputus lagi.

"Lisa, apa kabar? Ma'af belum bisa main ke perumahan eh sudah kesini duluan malahan!" Pak Ridwan berkomentar setelah melihat siapa yang datang berkunjung.

"Iya gue tahu wan, gimana elo kalau sudah berkutit dengan kesibukan sendiri!" Jawab Lisa.

"Wah ini pasti Vita Mahania ya, apa kabar Vit!?" Sapa pak Ridwan ramah.

"Iya bang, Alhamdulillah baik-baik aja Vita bang! Abang gimana sehatkan? Katanya lagi sibuk buat penelitian nih!?" Papar Vita santai.

"Masuk dulu lah, baru nanti abang jawab semua pertanyaan adik abang ini!" Lanjut pak Ridwan.

" heeeeeeeeeee... Ada Leni dan Tika to, kebetulan ini!" Jelas Vita.

"Iya Vit... Bu Lisa!" Leni dan Tika bangun dari duduknya lalu menyalami Lisa dan Vita.

"Wah wah, baru datang saja sudah di kunjungi dua cewek nih!?" Canda Lisa.

"Hupz, empat kali Lis!" Canda pak Ridwan, mereka tertawa bersama.

-----------------------------------------

"Jika nanti aku bukan pelangi. Biarkan aku menjadi hujan yang pernah mengusahakan agar pelangi itu ada."

"Hujan adalah satu satunya hal yang membuat diri ku dapat merasa relaks dan tenang. Entah kenapa setiap kali awan mendung menyelimuti bumi yang diiringi dengan angin dingin yang berhembus, aku menjadi sangat senang. Mungkin karena banyak memori indah yang terukir saat hujan datang di saat orang orang menghindari agar tidak basah karena hujan, aku malah berdiri ditengah derasnya hujan untuk menikmati butiran butiran hujan turun dari langit."

"Merasakan butiran-butiran hujan membasahi tubuh, merasakan hembusan angin dingin yang menghantam tubuh, ku pandang langit yang luas dimana butiran-butiran hujan turun dari langit yang tak terukur luasnya."

"Membayangkan sampai berapa lama saya dapat merasakan kesenangan ini? Tak lupa sebuah lagu kenangan ku nyanyikan dibawah derasnya hujan, membuat jiwa ini bergetar dan seakan tak ingin hujan berhenti."

"Dari sinilah kisah ku berawal, hujan yang mempersatukan, karena hujan aku dapat mengenal seorang gadis yang sangat kukagumi semakin jelas."

"Karena menurutnya hujan itu suci, dapat membuat hati tenang, dapat menghilangkan semua penat di dada dan dapat menghapus air mata. Aku coba untuk lebih jauh mengenalnya, sosok gadis misterius dalam hatiku, sungguh besar kuasa Tuhan, tanpa aku sadari sepertinya aku mulai merasakan rasa yang aneh di dada, setiap kali tidak melihatnya aku merasa sepi, seperti halnya hujan tanpa pelangi."

"Aku belum berani untuk mengungkapkan rasa, namun Tuhan berkehendak lain, perhatian yang selama ini aku berikan ternyata tidak lebih di anggap sekedar perhatian ke teman, kucoba tuk tetap tegar, seperti halnya pohon besar yang bertahan diterpa hujan deras. Aku putuskan untuk mengenalnya lebih jauh, dengan tetap merahasiakan perasaan yang terpendam, seperti halnya pelangi yang tersembunyi dibalik awan hitam."

"Berhari-hari kita lewati sebagai seorang teman, sampai suatu saat gadis itu bercerita tentang orang lain yang menarik perhatiannya, hati ini bergetar tak mampu menahan emosi jiwa, seperti halnya gemuruh petir yang telah menghantam permukaan bumi, ku coba untuk tetap bertahan dan tetap disisinya, namun apa daya, gadis itu pun masih selalu mengharap menjalin kasih dengan orang tersebut.

Hati ini tidak bisa berbuat banyak, disatu sisi hati ini ingin membuat gadis tersebut senang, namun disatu sisi hati ini ingin memisahkan sang gadis dengan orang yang di kasihinya tersebut, berhari hari telah terlewati, sampai akhirnya sang gadis pun bercerita bahwa ia sering tersakiti dengan hubungan dengan pengharapan ini, gadis pun meneteskan air mata, seperti halnya butiran hujan yang suci yang terjatuh dari langit, bergetar hati ini terjebak diantara perasaan sedih dan bingung, jika hati ini bisa berkata mungkin hati ini akan berkata "kenapa kau lebih memilih cinta yang rumit? sementara di samping mu selalu ada orang yang menyayangimu dengan tulus?"ucapku dalam hati."

"Lagi lagi ku tegaskan bahwa hati ini harus sekali lagi tersakiti, ku coba tuk menghibur sang gadis tersebut, memotivasinya untuk bertahan dan tetap berusaha meneruskan hubungannya dengan orang tersebut, biarlah hati ini saja yang tersakiti, aku tidak ingin melihat air matanya menetes lagi, biarlah ku pendam rasa ini."

"Hatinya bagaikan pelangi berwarna abu-abu, yang tidak bisa menyadari bahwa disampingnya ada orang yang rela berkorban dan tersakiti demi dirinya, namun biarlah akan ku tunggu saat dimana hatinya dapat memahami perasaan ini, seperti halnya pelangi yang muncul setelah badai berlalu, akan ku tunggu saat dimana pelangi yang berwarna abu-abu berubah warna menjadi warna warni."

"Kenapa kau lebih memilih cinta yang rumit?"

Batin Aditiya yang sedang asyik berdiri ditengah derasnya hujan untuk menikmati butiran butiran hujan turun dari langit karena kegalauan hati akan sebuah perasaan terhadap Bella Septiana, Aditiya sangat-sangat mencintai Bella tapi sebaliknya Bella sangat mencintai Fakih sedangkan Fakih Alfarizi sendiri lebih mencintai Vita Mahania dengan sebuah penjelasan yang cukup jelas sebenarnya namun karena ego Bella belum bisa menerima itu.

-----------------------------------------

"Terkadang hubungan terbaik adalah hubungan yang mengejutkanmu, hubungan yang paling tidak kamu harapkan terjadi".

Universitas Jurusan Kedokteran Kerakatau Lampung merupakan salah satu Universitas yang bisa di bilang paling banyak memenangkan kejuaraan. Baik dalam bidang pelajaran, olahraga, seni dan bidang umum lainnya.

Aku termasuk siswa di bidang olahraga. Khususnya tenis lapangan. Aku sering menjuarai kejuaraan. Sebenarnya, aku nggak tertarik sedikit pun dengan tenis. Awalnya aku cuma keisengan dan keseringan nemenin mama kursus tenis. Lama kelamaan, kayaknya tenis menyenangkan. Aku mulai mencoba.

Dan akhirnya berani ikut pertandingan. Sudah banyak pertandingan yang aku ikuti. Nggak disangka, karena kerja kerasku aku bisa juara Provinsi.

Universitas Jurusan Kedokteran Kerakatau Lampung sebenarnya bukan Universitas pilihanku. Aku masuk ke sana gara-gara papa ngebet banget aku agar menjadi dokter di sana. Ya mau nggak mau aku harus nurut. Kata papa kalau papa dan mama sakit tidak susah untuk berobat.

Namaku Tari Wahyuningsih. Biasa dipanggil Tari.

Di Universitas Jurusan Kedokteran Kerakatau Lampung ini ada satu cowok yang bikin aku heran.

Yaitu Rudiono. Lengkapnya Rudiono Aldinata. Satu Angkatan dengan ku tapi beda kelas. Aku Kelas A (Bebek) kalau dia Kelas B (Angsa). Kapten basket yang keren habis pake banget. Hampir semua cewe'-cewe' di kampus ngefans sama dia. Rebutan, siapa duluan yang jadi pacarnya. Aku nggak mau ikutan acara kayak begituan. Ngrebutin cowok yang nggak jelas.

Rudiono Aldinata emang lumayan ganteng, jago basket, ramah, pokoknya multi talent. Tapi kalo mandang cowok dari kelebihannya aja, itu sih bukan tulus namanya.

Hari ini pertandingan basket yang di adakan Rumah Sakit Jiwa Magelang sebagai Tim Tuan Rumah dengan Universitas Jurusan Kedokteran Kerakatau Lampung sebagai Tim Tamu.

Hati-hati!

Tim Tamu memiliki The King Master Fakih Alfarizi juga yang pintar bermain basket tidak kalah dengan sang Kapten Rudiono, pintar membaca situasi dan keadaan. Seharusnya dia yang pegang Ban Kapten tapi Fakih Alfarizi menolak karena dengan menyandang Ban Kapten geraknya tidak akan bisa leluasa, karena biasanya dalam dunia olahraga sang Kapten pasti jadi sorotan.

Ada Aditiya Kesuma dengan tinggi badan yang cukup tinggi, walau tinggi tapi tetap lincah dalam mengolah bola. Ada Umar Rohim dan Agus Solihin benteng tangguh dalam bertahan dan menyerang dan semua anak-anak cowo' Universitas Jurusan Kedokteran Kerakatau Lampung se Angkatan baik kelas A (Bebek) dan kelas B (Angsa) rata-rata jago masalah olahraga.

Semua siswa, apalagi yang cewe'-cewe'nya berteriak memanggil nama Rudiono. Itu sudah menjadi hal biasa. Jadi nggak heran lagi itu terjadi setiap sang Kapten Rudiono tanding. Aku sama sekali nggak berminat untuk nonton. Tapi kali ini aku nggak bisa menghindar.

Sementara aku ketua P3K jadi terpaksa, aku harus nonton sampai selesai. Kalo aku nggak nonton, nanti ada yang cidera terus akunya nggak ada, bisa abis dimarahi aku.

Pertandingan sudah setengah jalan.

Universitas Jurusan Kedokteran Kerakatau jauh memimpin jalannya pertandingan. Sorak-sorak penonton terdengar semakin keras. Dan itu yang membuat aku semakin bosan untuk nonton.

Saat Rudiono ingin melakukan slum dunk, tiba-tiba ia didorong lawan sampek kakinya terkilir. Ia terlihat kesakitan, tapi ia tetap tegar dan bertahan. Aku hanya melihatnya dengan lamunan.

"Tari Wahyuningsih , itu ada yang cedera. Cepetan bantuin!" ucap Tika Agustina, menjadi salah satu anggota P3K.

"Tari, apa yang kamu lakuin!"kata Tutik Mahumere, sahabatku sekaligus anggota P3K juga.

Aku tetap tak menggubris.

"Tari!" teriak Tika sambil menepukku.

Aku tersadar dan langsung berdiri menuju Rudiono.

"Biarin aja dia yang nolongin. Dia kan nggak suka basket. Mungkin kalau nolongin kapten basket, dia bisa suka basket!" ucap Tika.

"Suka basket, atau suka yang main basket?" canda Tutik.

Mereka berdua saling tatap dengan senyum.

"Elo nggak papa Rud? Elo bisa tahan kan?" tanyaku sedikit terbata dan gugup.

"Aku bisa tahan kok" jawabnya singkat.

Tanpa basa-basi aku langsung meraih tangannya dan menaruhnya di pundakku. Lalu membawanya ke Ruangan P3K tidak jauh dari lapangan Basket tersebut. Entah aku sadar atau tidak telah melakukan hal itu. Tapi jujur aku benar-benar tidak sadar. Hal pertama yang aku lakukan, adalah melepas sepatunya.

"Eh tunggu-tunggu, biar aku sendiri aja yang ngelepasin sepatuku". Cegah Rudiono.

"Kok gitu?" Balasku.

"Udah biar aku sendiri" pintanya.

"Aku aja" kataku lagi.

"Udahlah aku aja" balas Rudiono.

Tanpa panjang lebar aku membentaknya. "Elo itu gimana sih Rud, udah bagus-bagus aku bantuin, malah sok pinter bisa sendiri. Mendingan tadi nggak usah aku tolongin. Toh elo bisa sendiri!" emosiku kuluapkan dalam kata demi kata.

Sejenak aku terdiam. Rudiono masih memandangiku. Anehnya ia sedikit tersenyum.

Aku tersadar.

"Ma... maaf! Aku kebablasan!" ucapku.

"Nggak papa! Nggak ada masalah kok". jawabnya, lagi-lagi dengan tersenyum.

"Elo kok senyum sih, nggak malah marah?" Tanyaku.

"Buat apa marah, kalo orang di depan aku ini nggak ngebuat aku marah" balas Rudiono.

"Tapi aku kan udah bentak-bentak elo!" Tegasku.

"Itu bukan bentak, tapi berjuang untuk membantu. Aku berpikir kalau elo berjuang buat bantuin aku" jelas Rudiono kembali.

"Nggak juga!" Terangku.

"Itu kan pendapat aku" tegasnya.

Aku melepas sepatunya dan mulai mengobatinya.

"Aduh, sakit tau!" helanya.

"Maaf!" Pintaku.

Lalu ia senyam-senyum lagi melihatku.

Aku balik menatapnya.

"Elo, kenapa senyam-senyum gitu. Ihh ngeri deh!" Tanyaku.

"Elo cantik Ri!" ucapnya.

"Heleh, aku nggak akan terbujuk rayuan elo Rud basi tahu! Meskipun semua temen bahkan semua cewe' di sekolah ini suka sama elo, aku nggak bakal kayak mereka. Camkan itu!" Balasku.

"Aku nggak ngeharusin elo suka sama aku. Tapi kayaknya..." Terangnya lagi.

"Apa?" tanyaku penasaran.

"Aku suk..." Tiba-tiba Semua cewe'-cewe' yang tadi nonton pertandingan masuk dan ngerumunin Rudiono. Saking banyaknya aku sampek terdorong ke belakang.

"Tari, kamu nggak papa kan?" tanya Tika Agustina.

"Nggak papa kok. Tenang aja, Tari tahan banting" balasku.

"Iya, percaya. Eh, gimana Rudiono?" Tanya Tika kembali.

"Udah aku obatin. Oh yaa, tadi Rudiono tuh senyam-senyum sama aku. Aku jadi ngeri deh" jelasku.

"Apa, senyam-senyum? Itu tandanya Rudiono, suka sama elo paling Ri!" Balas Tika.

"Ya nggak mungkin lah. Elo tuh ada-ada aja, Ka!" Balasku.

"He, em!!!"

Hari ini bete banget rasanya. Tika nggak masuk, padahal dia yang nemenin aku setiap saat.

"Kalo kebanyakan ngelamun, nanti bisa kesambet lo"

"Siapa juga yang ngelamun!"

"Ih.. ih.. ih udah ketauan tapi nggak mau ngaku"

"Kamu kenapa sih gangguin aku?"

"Emang nggak boleh, akukan juga butuh temen"

"Temen elo kan banyak, nggak aku aja. Lagi pula aku bukan temen dekat elo, beda kelas juga jarang temukan!".

"Kalo aku maunya elo yang jadi temen aku, gimana? Meski elo belum kenal dekat denganku, aku kan bisa kenal elo lebih dekat lagi."

"Terserah deh mau elo gimana Rud!"

Ketika suasana menjadi Hening di antara kami.

"Oh ya, gimana kaki elo Rud?"

"Udah mendingan kok. Kan yang ngobatin, ngobatinnya pake cinta"

"Elo apaan sih? Nggak jelas"

"Boleh ngomong sesuatu nggak?"

Aku mengangguk.

"Aku sebenernya, udah tau elo sejak awal masuk kuliah di Universitas Jurusan Kedokteran Kerakatau Lampung. Saat itu elo lagi sendirian, dan mau test kesehatan kita naik mobil microlet yang sama dan aku duduk di hadapan elo Ri. Padahal semua sudah ikut ujian test kesehatan cuma kita berdua saja yang terlambat, itu yang pertama. Yang ke dua ketika elo duduk di taman kampus sedang asyik baca buku. Padahal yang lain, bahkan semua murid lagi nonton pertandingan basketku.

Sejak itu aku penasaran sama elo. Elo tuh terlihat beda sama cewe'-cewek' yang lain. Tapi jujur ya Ri, aku nggak berani deketin elo, aku kira elo nggak bakal suka sama aku. Oh ya, soal kemarin aku sengaja ngebuat diri aku cedera. Aku dapat informasi kalo yang jadi ketua P3Knya itu elo. Karena point dari kita, Universitas Jurusan Kedokteran Kerakatau Lampung tidak mungkin di kejar lagi oleh tim basket Rumah Sakit Jiwa Magelang, aku sempat ngobrol singkat dengan Fakih Alfarizi dan dia setuju. Lalu aku minta bantuan ama kapten basket Rumah Sakit Jiwa Magelang untuk sengaja dorong aku saat aku slam dunk. Agar aku bisa ketemu, dan bisa bicara sama elo. Jadi aku minta maaf, udah ngerepotin elo. Dan thanks juga!"

Aku hanya terdiam tak percaya. Bukan masalah Rudiono udah kenal aku, tapi kemarin Rudiono udah sengaja nyelakain dirinya sendiri dan bohong, cuma buat bisa ngomong sama aku.

"Jadi kamu bohong sama aku!"

"Bukan gitu maksud aku Ri, dengerin aku dulu!"

"Tapi elo bohong kan sama aku. Aku nggak percaya elo bisa lakuin itu. Elo mau ngomong sama aku, ya ngomong aja, nggak perlu bohong segala!"

"Emang jadi masalah kalo aku bohong sama elo, Ri?" Tanya Rudiono.

"Ya Iyalah, akukan paling nggak suka sama orang yang bohong. Meskipun Bohongnya sekecil apapun. Apalagi bohongnya sampek nyelakain dirinya sendiri, kayak elo itu Rud!" Balasku.

"Elo tuh lebay ya! Kayak anak kecil!"

"Elo bilang apa, aku lebay, kayak anak kecil? Elo tuh yang kayak anak kecil. Apa-apaan coba, pake bohong segala!" Aku tidak mau kalah.

"Eh, elo kok ngomong gitu. Aku kan cuma becanda. Elo malah ngata-ngatain aku!" Balas Rudiono.

"Yang mulai duluan siapa, elo kan!"

"Eh, cewe' nggak jelas elo tuh emang agak sinting ya! Nyesel aku ngomong sama elo Ri!" Balas Rudiono.

"Ya udah, trus kenapa masih di sini? Males tau ngeliat elo Rud!"

"Oke! Aku pergi. Jangan harap aku bicara lagi sama elo ya! Rudiono berlalu". Sepertinya ia sungguh-sungguh marah.

Matahari bersinar dengan hangatnya. Burung-burung terbang melintasi angkasa sesekali bertengger di atas dahan pohon yang rimbun banyak terdapat di lokasi Asrama Lembah Hijau ini, entah usia tuh pohon berapa?

Mungkin bisa jadi sudah ratusan tahun melihat dari tinggin dan lebatnya pohon-pohon tersebut dan apalagi kalau malam berjalan sendirian seperti di kelilingi raksasa yang sangat besar.

Semua orang berusaha bangun dari mimpi panjang mereka dan segera melakukan apa yang telah menjadi tradisi dan aktifitas yang dikerjakan mereka tiap harinya. Entah kenapa aku bangun kesiangan hari ini, mungkin aku lelah atau terlalu memikirkan masalah kemarin dan masalah-masalah lainnya.

"Aduh Tik, aku udah telat nih. Aku nggak sempat untuk sarapan lagi ini! Elo kaga bangunin gue ya Tik?"

"Eeeeeeeh, jangan salah ya Ri, udah tiga atau empat kali gue bangunin elo, tidur lo itu kayak orang yang seratus tahun belum tidur tahu!'

"Apa ya Tik?!"

"Makanya kalo tidur jangan larut malam, kesiangankan jadinya!"

"Siapa yang tidur larut malam. Aku tuh kemarin tidur jam 10".

"Ya udah, elo bawa bekal aja!"

"Nggak usah, aku langsung berangkat.

Assalamuallaikum!"

"Eh ya nggak boleh gitu. Nih bawa! Kalo nanti tiba-tiba kamu pingsan gimana?"

Tika Agustina teman sekamarku mengulurkan sekotak roti donat padaku. Aku terpaksa menerimanyanya, nanti kalo nggak aku terima bisa panjang urusannya. Dan aku malah makin telat.

Dengan sigap aku setengah berlari menuju kelas karena kebetulan hari ini ada presentasi makalah yang aku buat. Sesampainya di depan kelas Asrama Lembah Hijau ternyata dah pada mulai penyajian makalahnya. Aku langsung berlari. Berlari cepat, sangat cepat menuju kelas tempat dimana presentasiku akan di sajikan.

Tiba-tiba

Brukkkk

Hatiku seperti melayang terbang di angkasa. Bersama peri-peri yang asyik berdansa dengan irama musik Cha Cha yang asik di dengar telinga. Dengan cinta dan bahagia, senyum tawa menyertainya.

Saat kutatap matanya aku langsung bangkit.

"Maaf, aku nggak sengaja. Aku nggak bermaksud nabrak elo" ucapku tertunduk.

"Nggak papa, nggak masalah kok, cewek aneh!"

Aku tak menganggapnya dan segera pergi menggapai tujuanku semula.

"Tari aku duluan ya. Bye!" pamit Tutik, saat aku masih merapikan bukuku.

Aku tersenyum kepadanya dan melambaikan tangan.

Kelas tempat dimana aku presentasi tadi sudah mulai sepi, tiba-tiba hp-ku bergetar. Nomornya nggak dikenal tetapi aku tetap membacanya.

To: Tari Wahyuningsih

Aku minta maaf! Sekarang aku tunggu di lapangan basket. Jangan takut aku bukan orang jahat. Aku mohon. Plisss Tari!

Aku bingung, tapi aku tetap menemuinya. Kulangkahkan kakiku segera. Sebelum waktu berlalu dengan sendirinya. Aku berdiri di tepi lapangan basket. Lama sekali. Hingga aku tak sabar.

"Sorry, udah nunggu lama ya? Malah jadi elo yang nungguin aku".

Aku berbalik ke suara itu.

"Rudiono!" ucapku lirih.

"Aku minta maaf, soal kemarin. Aku udah emosi sama elo. Dan aku udah ngata-ngatain elo ya Ri. Abisnya elo juga sih! Elo yang mulai duluan!"

Aku sedikit menatapnya tajam.

"Udahlah, lupain masalah itu! Sekarang yang mau aku omongin bukan masalah itu. Aku mau ngomong kalo aku emm ak- aku...?"

Aku tetap mendengarkanya meski kata-katanya tidak terlalu jelas dan patah-patah.

"Oke! Jujur, pertama kali ketemu dengan elo, aku udah tertarik dan aku suka sama elo Ri"

"Suka dalam arti?"

"Aku mencintai elo Ri"

Hening seketika.

"Elo mau nggak, jadi pacar aku!"

Aku tetap diam.

"Elo nggak suka dengan perkataan aku?"

"Bukan! Bukannya gitu. Aku kaget aja, orang sebaik elo, seganteng elo, sepede elo, dan seperfect elo, suka sama aku. Cewek nggak jelas, yang nggak sesempurna malaikat!".

"Liat orang jangan luarnya aja. Mandang orang jangan kelebihannya aja. Itu kan yang ada di pikiran elo. Dan aku sangat-sangat suka cara berpikir elo Ri"

"Gimana ya. Ak- aku bingung"

"Kalo elo nggak mau nerima aku, nggak apa-apa kok"

"Elo serius?"

"Iya!"

"Aku nggak bisa"

"Nggak apa-apa kok, itu hak elo Ri!"

"Maksudnya aku nggak bisa nolak elo Rud!"

"Beneran? Serius?"

Aku mengangguk.

-------------------------------

Jatuh Cinta Saat Hujan

Aku menatap keluar jendela, hujan deras tengah terjadi diluar sana. Jam di dinding menunjukkan pukul 13:30. Aku menghembuskan nafas perlahan!?

Detak jam dinding kamar berbunyi, seakan tidak peduli dengan semua yang ada dengan segala keadaan dia hanya tahu kalau tugasnya harus di lakukan setidaknya sampai baterainya habis.

Aku melihat Anak-anak kelas A (Bebek) pulang dari PKMD di desa Menoreh Kecamatan Borobudur berhamburan turun dari bis yang mereka tumpangi, Ada yang langsung pulang dengan payung ada yang memakai jas hujan dan ada yang nekat menerobos derasnya air hujan, tapi ada beberapa yang memilih untuk menunggu hujan reda.

Aku di Ruang Asrama Pembelajaran yang berada di lantai dua tepat di atas Aula Asrama Bukit Hijau, sesekali aku mengobrol dengan teman temanku, meskipun tidak terlalu akrab dan hanya sebagai basa basi untuk menghabiskan waktu.

Aku masuk ke Ruang Asrama Pembelajaran di mana disana tersusun buku-buku seperti perpustakaan umum dan beberapa meja dan kursi pun terlihat tersusun dengan jarak yang sama. Setengah jam aku mencari-cari buku yang ingin aku baca sebuah buku tentang "Manajemen Rumah Sakit Pasien Dengan Gangguan Jiwa". Setelah mencari sesuai katalog susunan buku ternyata buku itu sudah tidak ada di tempatnya. Apakah sudah ada yang meminjamnya? Tanyaku dalam hati.

Akhirnya kuputuskan menunggu di koridor Asrama Pembelajaran namun hujan belum juga reda. Aku mulai resah, bagaimana jika hujan reda masih lama, bisa basah juga aku kembali ke Asrama Beras Kencur nama asramaku?

Satu persatu teman temanku yang tadi sedang menunggu hujan reda pun mulai bertindak nekat, mereka menerobos hujan karena hampir sejam hujan tidak juga reda.

Mereka membiarkan seragam mereka basah, padahal hari esok masih akan dipakai. Terlintas di benakku untuk ikut menerobos, namun aku berfikir dua kali.

Kuputuskan untuk menunggu, hanya ada aku sendirian di koridor Asrama Pembelajaran itu. Aku menatap sekitar, ada beberapa anak kelas sebelah yang juga sedang menunggu hujan reda.

Ternyata masih ada seseorang cowo' yang belum pulang, dia baru saja keluar dari ruang dalam Asrama Pembelajaran. Sejak tadi dia di dalam ternyata. Namanya Pak Ridwan dosen pembimbing yang membuat hati ini terasa melayang jika bicara atau berdekatan dengannya, ia mengucek matanya lalu mendekatiku yang sedang menikmati hujan.

"Belum pulang Len?" Tanyanya, aku sedikit terkejut melihatnya.

"Belum Pak.." jawabku. "Aku kira Bapak sudah pulang duluan" lanjutku.

"Enggak. Aku ketiduran tadi di ruang Asrama Pembelajaran setelah membaca buku ini "Manajemen Rumah Sakit Pasien Dengan Gangguan Jiwa", habis suasananya enak buat tidur." Ucap Pak Ridwan sambil nyengir.

Aku tersenyum simpul, "Ternyata buku yang aku cari dari tadi dengan dia, sudah mencari kesana kemari tih buku hanya di buat alas bantal tidur" batinku lalu kembali aku melihat rinai air hujan.

"Kenapa nggak nerobos hujan aja Len?" Tanya Pak Ridwan kepadaku.

"Enggak ah, takut sakit ntar" jawabku.

"Terus kamu mau nunggu sampai reda disini?" Tanya Pak Ridwan lagi. Aku terdiam, sepertinya hujan masih lama untuk reda.

"Aku sebenernya bawa payung, kamu mau ikut nggak? Kayaknya asrama dan perumahan kita searah deh." Ucap Pak Ridwan, aku menoleh pada Pak Ridwan. Jika tahu dia bawa payung sudah sejak tadi aku akan meminta ikut kebetulan sekali bisa dekat dengan cowo' yang sudah membuat bunga-bunga cinta di hati sempat bangkit berdiri walaupun tertahan karena tahu dia adalah dosen pembimbingku dalam Praktek Kerja Lapang Universitas Jurusan Kedokteran Kerakatau Lampung.

"Aku ikut deh kalo gitu Pak." Ucapku. Pak Ridwan merogoh tasnya dan mengeluarkan payung lipat yang berukuran tidak terlalu besar.

"Ya udah, yuk" ajaknya. Kami menuruni tangga dan membelah derasnya air hujan dengan payung yang Pak Ridwan pegang.

Sebenarnya payung ini terlalu kecil untuk dua orang, namun ini jalan satu satunya agar aku bisa pulang. Tas ranselku dan lengan kananku sedikit basah terkena tampias air hujan. Pak Ridwan merangkul bahuku agar aku tidak terkena air hujan. Betapa indahnya suasana hari ini, walau hujan begitu teras akan tetapi hatiku ceria dan cerah sekali.

"Maaf bukannya aku nyari kesempatan atau apa, baju sama tas kamu kena air hujan" ucap Pak Ridwan. Aku mengangguk. Saat itu detak jantungku tidak dapat aku kontrol, wajahku memerah.

"Kita nunggu di kursi taman yah, disana kita berteduh sebentar" ucap Pak Ridwan, aku mengangguk.

Sampai di taman di depan Ruang Asrama Pembelajaran aku segera memeriksa baju dan tasku yang sedikit basah. "Basah sedikit, bisa kering kok kalo disetrika" ucap Pak Ridwan melihat bajuku basah setengah. Aku mengangguk sambil tersenyum kecut. Aku melihat baju Pak Ridwan yang ternyata juga basah, melebihi basah di bajuku.

"Baju Bapak juga basah?" ucapku.

"Nggak apa apa." Ucapnya sambil nyengir. Aku tertegun kenapa aku baru menyadarinya bahwa Pak Ridwan terlihat sangatlah menawan. Padahal umurnya mungkin beda 5 tahun atau 7 tahun ya antara itu dengannya, ia terlihat biasa saja. Saat ini ia terlihat sangat menawan.

Pak Ridwan menoleh padaku, aku terkejut ketahuan sedang memandanginya.

"Kenapa Len?" Tanya Pak Ridwan.

"E.. enggak kok" jawabku gugup.

"Aku tau kamu tadi diam diam liatin aku" ucap Pak Ridwan lalu nyengir, wajahku sontak memerah. Aku membuang pandanganku, tidak ingin Pak Ridwan melihat wajahku yang sudah seperti kepiting rebus.

"Tenang Len, aku cuma becanda kok." Ucap Pak Ridwan lalu dengan santainya ia mencubit pipiku.

Ada apa denganku? Aku merasa hampir ingin jatuh karena ulah Pak Ridwan tadi, padahal pipiku sering jadi sasaran empuk tangan tangan nakal teman-temanku. Ada apa dengan Pak Ridwan? Ia seperti sudah mengenalku sangat dekat, padahal sehari harinya ia bersikap biasa saja malah kadang sifat dan sikapnya cuek dan masa bodo dengan ku. Detak jantungku sedari tadi sudah tidak normal.

"Aku suka hujan" ucap Pak Ridwan.

"Aku sebenarnya juga suka hujan" ucapku.

"Aku menyukai seseorang saat hujan" ucap Psk Ridwan. Aku menoleh.

"Siapa?" Tanyaku.

"Cinta pertama tidak boleh diumbar umbar kan?" Ucap Pak Ridwan tersenyum. Aku tidak ingin tahu siapa dia, yang terpenting sekarang aku harus menghilangkan perasaan aneh yang sedang menyelimuti hatiku. Aku terlalu terbawa suasana tadi, aku yakin itu.

Akhirnya kami kembali berjalan menyusuri jalan setapak yang di kanan kiri di tumbuhi tanaman pagar yang terurus, hujan nyaris sudah mulai berhenti hanya germecik air menetes satu persatu dari langit deras tapi tak deras, lebat tapi tak juga lebat, itu suasana hati aku dan Pak Ridwan mingkin saat itu, penuh dengan tanda tanya yang hanya diri sendiri yang mampu menjawabnya.

Aku sampai di depan asrama Beras Kencur terlebih dulu, sedangkan perumahan Pak Ridwan masih cukup jauh.

Sesampainya di kamar asrama, terdengar suara notifikasi dari ponselku. Ada pesan masuk.

"Kamu Len" isi pesan itu singkat, dari Psk Ridwan. Aku masih belum paham apa maksudnya.

Hingga beberapa hari kemudian aku tahu bahwa pesan itu adalah jawaban dari percakapan terakhir kami sebelumnya.

Apa rasa hati cukup aku yang tahu, yang pasti semua akan terlihat di hari-hari kelanjutannya.

-----------------------------------------

Cinta bukanlah sesuatu hal yang tabu lagi untuk dikenal. Banyak orang merasa bahagia karena cinta. Cinta akan menjadi sebuah kasih sayang...

Jika orang yang dicintai membalas cinta yang diberikan. Namun, cinta akan menjadi amarah….

Jika orang yang dicintai malah mendustainya….

Cinta takkan pernah mati, melainkan akan tetap tumbuh di setiap pori-pori dan aliran darah umat manusia.

Hingga akhir waktu…

Magelang benar-benar indah di kala pagi hari. Udaranya sejuk, suasananya damai dan terasa

menyenangkan. Tanpa ku sadari tiga minggu sudah aku berada di kota ini.

Hmmm, semakin di pandang semakin terasa damai. Pagi yang cerah ini aku dihadapakan dengan alam yang hijau dan langit yang cerah untuk menyambut datangnya sinar mentari pagi. Sesekali di arah timur, terlihat kemuning emas yang membahana, suara kendaraan yang berlalu lalang dan suara si jago merah yang selalu membangunkan seluruh umat di pagi hari.

Meskipun semuanya terasa bising dan tak

enak didengar. Namun bagiku itu semua adalah keterpaduan suara musik yang indah. Hembusan angin pun seolah tak mau kalah untuk memberikan nadanya sendiri. Hati, jiwa, dan perasaanku pun ikut terbawa dengan semua itu. Maha besar Allah yang telah menciptakan semua keindahan ini.

Subhanallah….

Hari kedua di tahun baru ini, aku menemukan sesuatu yang baru dalam hudupku yang InsyaAllah yang begitu baik dan terbaik buat hatiku. Dia selalu ada di setiap waktunya saat aku dahulu sempat melupakan semua jenis cowo' yang ada di muka bumi karena masa lalu yang selalu ku bawa dengan Taufik Rahmansya, seseorang yang ku cintai dalam diam akhirnya sampai ajal menjemputnya terlebih dahulu, perasaan hati itu hanya tinggal rasa yang tak terungkapkan. Dia adalah Fakih Alfarizi.

Awalnya aku tahu hanya sebatas nama saja di ceritakan oleh kakak sepupuku, belakangan aku mengerti kalau mamah dan papah lah yang ada di belakang ini semua. Teh Lisa itu panggilan ku untuk kakak sepupuku itu. Dia sengaja datang dan menginap kerumahku dengan alasan kagen dengan mamah dan papah, tiap hari Teh Lisa selalu menemuiku di kamar karena hari-hari ku lalui banyak hanya mengurung diri di kamar saja. Teh Lisa bercerita dengan kisah yang awalnya ku anggap biasa saja, wajar-wajar saja tentang seorang cowo' yang ganteng, putih bersih, pintar, supel dan selalu siap sedia membantu orang lain baik itu kawan maupun lawan dia tidak pernah pandang bulu untuk selalu membantu sehingga semua mahasiswa baik seangkatan dengan dia, kakak kelas dia ataupun adik kelas memandang positif dan respect dengannya. Bukan itu saja, Teh Lisa juga berkisah dosen-dosen dari yang tua sampai yang muda sangat menyukai dia.

Karena Teh Lisa sering bercerita saat di rumah Magelang atau saat dia pulang ke Lampung dia selalu sering menelponku dan selalu Fakih Alfarizi Mahasiswa Jurusan Kedokteran Kerakatau Lampung yang di bicarakan sehingga membuat diriku akhirnya mulai perlahan-lahan tertarik mendengar kisahnya.

Teh Lisa selalu menanyakan kapan main ke Lampung, "Iya teh nanti kalau Vita tidak sibuk ya teh" itu yang aku katakan pada Teh Lisa.

Hingga sampai ada rencana Mahasiswa Jurusan Kedokteran Kerakatau Lampung akan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Magelang, dua kelas, kelas Bebek dan kelas Angsa.

Kelas (A) Bebek dan Kelas (B) Angsa itu julukan untung setiap kelas karena angkatan mereka yang awalnya berjumlah 80 orang mahasiswa, saat kenaikan tingkat semester tiga berkurang menjadi 78 orang mahasiswa karena keluar dari kampus tidak kuat menerima pelajaran jurusan kedokteran yang terkenal berat, saat kenaikan tingkat semester lima berkurang menjadi 76 orang mahasiswa tinggal kelas dengan beberapa kasus yang cukup berat, saat kenaikan tingkat semester tujuh berkurang menjadi 74 orang mahasiswa tinggal kelas dengan beberapa kasus yang cukup berat juga.

Julukan Bebek dan Angsa terjadi karena dua kelas itu tidak pernah bisa akur , kadang ribut dalam persaingan apa pun atau mengenai apa pun di semua bidang, baik pendidikan, lomba-lomba sains, lomba olahraga dan sebagainya selalu terjadi di antara mereka, tetapi di lain waktu jika untuk membawa nama kampus mereka akan bahu membahu untuk membuktikan kalau kampus mereka Universitas Jurusan Kedokteran Kerakatau Lampung adalah yang terbaik.

Aku mendengar penjelasan Teh Lisa kalau Mahasiswa Jurusan Kedokteran Kerakatau Lampung berencana akan praktek di Magelang selama satu bulan enam hari, empat hari perjalanan pulang pergi, dua hari untuk istirahat, jadi full satu bulan tidak kurang dan tidak lebih, PKMD di Desa Menoreh Kecamatan Borobudur dan Rumah Sakit Jiwa Magelang jadi penasaran dan ada keinginan dalam hati untuk mengenal lebih dekat dengan sosok cowo' yang selalu di bicarakan teh Lisa padaku.

Selama ini aku tak menyadarinya, karena dulu aku tergolong orang yang kurang bergaul dan juga pendiam. Aku mungkin salah satu di antara mahasiswi yang ku anggap terkadang tak pernah beruntung. Ada satu hal yang mesti diubah olehku, sikap malasnya yang selalu menggerogoti diri. Terkadang aku juga sering datang terlambat disaat jam kuliah sudah dimulai. Bahkan ada yang lebih parah dari itu, banyak tugas yang aku lalaikan. Aku cukup terkenal di kampus dengan julukan si malas. Aku hanya butuh motivasi. Entahlah apa yang membuat dia seperti itu. Akupun tak tahu. Terlalu sulit bagiku mencari teman yang bisa di percaya, itulah yang menyebabkanku berusaha untuk menjaga hati ini.

Waktu Kini Telah Berubah

Hari-hari baru mulai kulalui dan menggelut dalam hidupku, Fakih Alfarizi saat ini menjadi teman baikku selalu hadir di setiap lembar hari-hariku. Semakin lama, aku merasa semakin berubah dan perubahan menjadi seorang anak cewe' yang manis. Sekarang aku sudah mulai belajar membuang rasa malasnya dengan selalu tepat waktu mengikuti jadwal kuliah dan selalu mengerjakan tugas-tugas kampus kadang pula ku mengerjakan tuga-tugas kampus itu bersama dia. Hari-hari ku lalui semakin berwarna, pelangi yang dulu abu-abu kini semakin jelas dengan warga yang indah menggoda.

Hah...aku...!!! bahagia dengan perubahan ini, hidupku sekarang mulai ceria. Hal itu membuatku semakin yakin akan sebuah perubahan. Ternyata banyak hal-hal yang baik terjadi juga. Memang benar apa yang sering di katakan oleh Guru SMA ku dulu, “Selalu ada jalan untuk menuju ke arah yang lebih baik.” Namun, tak jarang jalan yang kita tempuhi itu selalu mulus. Tetapi ada cara

untuk memuluskannya yaitu jangan pernah melupakan Tuhan di setiap hal apapun yang kita lakukan. Dan keyakinan untuk berubah harus lebih besar dari pada sebuah keegoisan pada diri sendiri.

Yakinlah!!!! Tuhan selalu ada di setiap hal apapun yang kita lakukan. Dan yang pastinya Dia selalu mengawasi kita. Hari yang cerah untuk jiwaku yang cerah saat ini. Entahlah apa yang tengah terjadi denganku. Aku merasa semuanya terasa menyenangkan bila bersama dengan Fakuh Alfarizi. Ya Tuhan… apakah persaan ini adalah cinta? Aku takut menghancurkan segala yang sudah berjalan menuju kebaikan dan aku pun sadar apa- apa yang sudah menjadi baik jangan sampai menjadi sebuah mimpi hanya karena keegoisanku untuk memilikinya.

Setiap kali bertemu dengan Fakih, pasti hatiku terasa deg-degkan. Namun, aku saat sekarang tidak berusaha lagi menyembunyikannya dan berusaha agar dia tidak tahu apapun yang aku rasakan terhadapnya. Semua itu membuatku sangat bahagia. Saat dia mengatakan rasanya kepadaku, masih teringat dalam kepalaku tatapan bola matanya itu benar-benar membuat hati ini terasa dihujam ribuan pisau dan sebuah tatapan penuh keindahan. Matanya mencerminkan suatu ketulusan yang membuatku langsung terpaku menatapnya.

Sambi menggoreskan tinta di atas kertas putih diaryku. “Apa sebenarnya yang dipikirkan Fakih Alfarizi?”

Lambat laun setelah semua yang kulalui, kini aku menikmati kebersamaan dengannya, menata kehidupanku yang baru. Tak ada yang harus aku sesali dari masa laluku, semua mungkin memang harus dilalui dengan segala permasalahan yang kita sukai atau tidak memang harus terjadi di kehidupan yang aku alami. Aku hanya butuh sebuah keyakinan untuk bisa selalu bangkit menjadi diriku Vita Mahania. Menjadi pribadi yang selalu tegar tanpa harus menangisi kenyataan yang pernah menimpaku.

Dunia ini begitu luas, sehingga kita tak seharusnya merasa sempit untuk hidup di dunia ini.

-----------------------------------------

Semuanya akan berjalan dengan baik. Itulah kata yang selalu ku tanamkan di dalam hatiku agar bisa melegakan apapun yang aku lakukan. Tetap optimis dan membuat keyakinan bahwa semuanya akan berakhir dengan bahagia.

Bahagia bukan berarti harus membuatnya selalu menjadi sempurna. Tapi bagaiman kita bisa membuat orang lain tersenyum tanpa harus membuat sesuatu terlihat istimewa.

Hm…. Awan hitam menutupi cerahnya langit sore di Magelang. Mungkin sebentar lagi bakalan turun hujan. Di beranda Kamar Perumahan Asrama, aku duduk sendiri terkadang tersenyum bahagia sembari memegang buku diaryku.

Akupun terdiam dan memikirkan semua yang telah terjadi. Sambil mengingat kembali semua kenangan-kenangan pahit maupun manis bersama semua sahabat-sahabatku. Setelah itu aku pun teringat Fakih Alfarizi, orang yang mengambil bagian dari ruang hatiku dan mengisi lembaran-lembaran Diaryku yang awalnya abu-abu menjadi warna-warna yang jelas dengan segala pesonanya. Sambil mengingat kenangan bersamanya, aku meggoreskan tinta hitam diatas kertas putih diaryku.

“Aku mencintainya bukan karena keegoisanku, tapi aku mencintainya karena dia adalah milik Yang Maha Kuasa. Aku tak harus menuntutnya untuk mengikuti semua apapun yang aku mau. Yang aku inginkan hanyalah kebersamaan di setiap langkah.

Bila diri ku ada kekurangan agar dia dapat menyempurnakannya, begitu juga dia jika dia terlihat kekurangannya agar diriku dengan ikhlas menyempurnakannya.

Aku yakin Allah akan memudahkan jalannya untuk bisa menemukan dan menjaga serta menyatukan rasa ini. Tetaplah bahagia bersama, walau itu berarti harus siap dengan segala onak dan duri yang akan ada dalam setiap langkah-langkah aku dan dia. Aku sudah mengikhlaskan semuanya dengan rasa cinta dan sayang kepadanya. Mungkin ini adalah jalan terbaik untukku, aku tak ingin menyakiti hati ini lagi dengan cara yang sama.

Genggaman selalu tanganku dengan cinta, karena cinta adalah anugrah dari yang

Maha Kuasa. Semua orang memilkinya Dan berhak mendapatkannya. Cinta bukanlah suatu musuh yang harus di benci.

Terimakasih Ya Tuhan…. Karena telah memberikan banyak cinta di sekelilingku. Melalui sosok orang-orang yang selalu menyayangiku. Aku berharap, Engkau takkan pernah meninggalkanku dan takkan pernah melepaskan genggaman cinta-Mu untukku…. Yang Maha Pemilik Cinta.

Hidup memang susah untuk di tebak. Semuanya berjalan seakan sebuah cerita. Cerita hidup yang harus kita jalani dan lalaui satu persatu. Aku berfikir, bila aku sudah melangkah kedepan, maka aku akan terus melangkah walau tekadang harus membuatku terjatuh. Namun, aku takkan pernah berhenti untuk terus melangkah. Aku

akan menganggap di cerita hidup ini akulah yang jadi tokoh utamanya. Dan aku tak ingin digantikan menjadi peran pembantu di cerita hidupku sendiri.

Tetap tersenyum dengan semua cobaan yang kuhadapi. Akan ku katakan pada setiap

masalah yang kuhadapi, kalau aku tidak sendiri dan aku masih dia dan masih punya Tuhan yang selalu menyayangiku. Aku tahu disetiap serat lembar kehidupanku selalu ada cinta yang terselip untukku. Cinta itu datang dari Tuhanku, kedua orang tuaku, keluargaku, sahabat-sahabatku, dan orang-orang yang menyayangiku.

-----------------------------------------

“ Tak ada cinta yang lebih indah selain cinta yang diberikan Allah SWT kepada kita.

Jagalah cinta yang ada pada dirimu saat ini!

Jangan nodai cintamu hanya karena sebuah keegoisan.

Jika kamu salah memberi cinta, maka cinta itu hanya akan menyakiti dirimu sendiri.”

1
YUSIKO
keren!
Gadis Sandman
Thor aku ini manggil author lho bukan Thor temennya Kapten Amerika, jadi dimohon segera untuk up bab selanjutnya!
YUSIKO
🙏🙏🙏👍👍👍🙏🙏🙏
YUSIKO
👍👍👍🙏
YUSIKO
lanjutkan kakak!
YUSIKO
lanjut seru!!!
YUSIKO
👍👍👍👍
YUSIKO
👍👍👍👍👍
YUSIKO
👍👍👍
YUSIKO
semakin seru!!!
YUSIKO
Tancap Gas!
YUSIKO
lanjut Bos!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!