Indonesia
NovelToon NovelToon
Mertolulut: Pendekar Sakti Tanpa Tanding

Mertolulut: Pendekar Sakti Tanpa Tanding

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Petualangan / Contest / Pendekar / Fantasi Timur / Tamat
Popularitas:25.5k
Nilai: 5
Nama Author: C4703R

Tentang Mertolulut, pendekar sakti tanpa tanding.
Itu harapannya.
Kenyataannya ia hanyalah seorang yang begitu-begitu saja.
Dan sangat ketakutan kalau kehilangan cintanya pada sang putri pujaannya,
dan pekerjaan yang sangat dibanggakannya.
Makanya saat ada musuh dia mesti lari. Bersembunyi dari pengejaran. Hidup sunyi, dan memprihatinkan. Dia juga mesti menyelamatkan Putri dari musuh dan berusaha merebut kembali negeri yang sudah lepas dan juga pekerjaannya agar tidak diambil dari orang lain.
Yang jelas kesaktian nya kini dipertaruhkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon C4703R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Daun

Mereka ke sungai mencari ikan. Siapa tahu kali ini dapat yang lumayan banyak. Untuk itu, mencari kira-kira dimana ada tempat yang penuh genangan airnya. Sebab pada tempat-tempat seperti itu, habitat ikan akan tumbuh dengan suburnya. Mereka bertahan dan membiarkan diri pada tempat tersebut sebagai tempat tinggalnya, sampai ada sesuatu yang memaksa mereka berpindah. Bisa jadi binatang pemangsa, atau justru banjir besar dari atas gunung yang mesti menyeret mereka untuk hanyut hingga muara sungai yang tenang, untuk bisa kembali ke air tawar sungai tersebut.

“Ada tidak ya.“

“Coba terus, agak ke dalam.“

“Ini sudah, tapi tak menangkap apapun.“

“Ditengah.“

Setelah ketemu tempat yang diperkirakan banyak ikan, disana dia masuk ke air. Hanya dengan tubuh terbukanya. Supaya lebih mudah bergerak dan rasa dinginnya sedikit terkurangi, jika dibandingkan dia masih mengenakan pakaian yang justru bertambah dingin. Serta lama kejadiannya karena menunggu pakaian yang kering oleh pemanasan tubuhnya.

“Ih dalam.“

“Ada tidak.“

“Hanya air yang dingin.“

Si Ronggo asik mencari ikan. Nampak senang dia. Rupanya benar perkiraannya. Di suatu kedung yang dalam itu, terdapat banyak ikan. Berkali-kali dia menyentuh, bahkan menangkap ikan-ikan sungai yang nikmat itu. Namun tidak selamanya kena. Terkadang ikan-ikan itu seakan menggoda. Bisa disentuh tapi tak ingin ditangkap. Pada tangan Ronggo terasa ada yang menyenggol. Kalau diburu, dia segera menyelinap diantara bebatuan alam yang hitam berkilauan basah oleh air. Meskipun begitu dia terus memburunya, tak kenal lelah, dan merasa kalau kali ini akan ada hasil. Lain waktu belum tentu bisa mendapatkan ikan sebanyak ini. Mungkin mereka bakalan pindah tempat, atau naik ke atas lagi untuk bertelur.

“Nah dapat,“ Ronggo berhasil menangkap ikan. Nampak ada yang bergerak ditangannya. Setelah ditangkap itu ikan betulan, yang nampaknya lezat kalau sudah masak nanti.

“Mana?“

“Ini.“

Dia melemparkannya pada putri. “Tangkap ya.“

“Sini.“

“Masukkan ke tempatnya.“ Segera putri memasukkan ikan tersebut pada tempatnya. Dia berjalan agak ketengah. Kemudian menuju tepian saat membawa ikan dari tangan pengawal kesayangannya.

Dia berenang kesan-kemari sepanjang sungai yang tergenang air demikian banyak, dan membentuk cekungan tersebut. Sembari tangannya terus meraba-raba pada sela-sela bebatuan. Kalau-kalau ada ikan didalamnya, sebab dalam air tersebut, tak kelihatan gerak ikannya. Dan sekali tempo, dia membidik senjatanya pada ikan yang nampak. Dengan begitu, maka ikan yang lumayan besar akan mudah ditangkap. Daripada hanya memakai tangan yang sangat sulit menangkapnya. Bahkan kalau kena, juga bisa lepas lagi akibat licin. Baru bisa diam kalau kepalanya dipijit sampai tak bergerak. Dan mudah memasukkan ke tempatnya.

“Ku tombak dia.“

“Ih, lolos.“

“Yang itu coba.“

Dicobanya lagi. Kali ini lebih terarah. Dia diam memandang pada ikan yang berkilau didalam air. Dia mencoba tenang. Setelah yakin akan arah tombaknya, maka langsung dilepaskan dengan cepat. Dan tertancap lah ikan itu, menggelepar sejenak, berikutnya diam dengan mata tetap melotot.

“Nah dapat lumayan.“

Putri ikut masuk ke sungai. Sembari membawa ikan tangkapan Ronggo. Yang tertangkap itu di masukkan pada tempat krusu bambu. Terus dan terus. Tiap ada yang tertangkap dimasukkan. Apalagi kali ini mendapat banyak hasil, baik besar maupun kecil. Dia ikut mencoba menangkapnya. Sulit. Sesekali saja dia berhasil.

“Sudah banyak ini. Hampir penuh.“

“Dipenuhi saja, nanti biar mudah membawanya.“

Putri nakal. Saat melihat rekannya tengah asik berendam di sungai tersebut, dia lalu naik ke darat, dan menyembunyikan baju si Ronggo.

‘Rasakan’ pikirnya. Habisnya tiap malam main nakal saja tanpa berbuat dan bertanggung jawab. Kali ini pembalasan akan diberikan untuk orang itu. Enak saja. Tahu rasa dia. Bagaimana merasakan dingin, tidak selalu hangat.

“Sudahlah pulang,“ ujarnya sembari tertawa cekikikan, dalam hatinya, sambil membawa ikan tangkapan yang kali ini dapat lumayan banyak dalam tempat dari bambu. Dia ngeloyor. Terus menjauh.

“Waduh bajuku mana ini....“ Ronggo terus mencari. Perasaan tadi menaruh disitu. Kok nggak ada. Mungkin disana. Pada tempat yang dituju juga dicari. Tetap tak ada.

“Eh tunggu,“ ujar Ronggo kelimpungan menghadapi dirinya tak pakai baju dan benda yang dicarinya tersebut tak ada disitu. Jangan-jangan hanyut atau terbawa clurut yang suka mencuri baju untuk dibawa lari kemana-mana sembari main-main.

“Aku mau pulang duluan ah. Sudah kedinginan ini.“ Putri terus ngeluyur. Alasannya yang dibuat terlampau naif. Padahal menunggu sebentar kan bisa. Atau memeluk batu jika masih kedinginan. Tapi si putri tetap pergi.

“Eh, tunggu sebentar kenapa. Pakaianku hilang ini,“ ujar Ronggo terus mencari dan mencari.

“Kau sembunyikan ya!“

“Ah mana aku tahu. Kebawa arus sungai, kali.“

Sementara si Putri sembari cekikikan hilang menuju rumah. Sembari langkahnya dipercepat. Seiring cepat dan kerasnya dia tertawa. Namun karena semakin jauh, maka hampir tak terdengar oleh Ronggo. Dia hanya mendengar gemerincik air sungai dan degub jantungnya yang semakin kacau.

Akhirnya kini si Ronggo sendirian saja dalam kebingungan. Sedih dan dingin. Dan terlampau sendu yang tak bisa di tahankan. Hilangnya baju, hilang juga harapan. Bagaimana dia pulang nanti. Masa harus telanjang. Kan tidak bisa jalan. Atau berjalan menyusuri pohon. Tiap pohon dia menyelinap. Agar tak ketahuan oleh para tetangga, binatang hutan, dan ilalang-ilalang liar. Dan akhirnya dia hanya bisa mengeluh.

“Huu papa mama huu. Pingin pulang....“

Sesampainya di gua, Putri terus membakar ikan hasil tangkapan yang lumayan kali ini dan meletakkan pakaian Ronggo di batu agak tersembunyi dari kejauhan. Dia segera membuat api. Membersihkan ikan dengan cekatan. Dan menusuk satu demi satu pada batangan kayu kecil, yang sanggup menjajarkannya pada beberapa ekor ikan besar kecil, agar mudah masuk pada api. Juga pegangannya tak terlampau panas. Maklum semua serba sederhana. Bisa juga dimasukkan dalam daun, lalu dibakar dalam panggangan, atau cukup diasapkan saja. Seiring hangusnya daun, biasanya ikan juga masak. Tinggal menikmati dan dikasih segala bumbu yang menambah rasa. Bertambah nikmat lagi kalau sambalnya juga nikmat.

Nampak ada yang mendekat.

“Kebangetan kamu ya!“

Si Ronggo kembali sembari menahan dingin yang beku. Kelamaan dalam air. Hanya dengan daun pisang, menutupi tubuh bawahnya.

Dia terus mendekat sembari bergetar hebat dan duduk pada sebuah tempat.

Putri diam saja. Hanya terus membakar ikannya. Membolak-balik, dan mencoba menjadikan matang yang merata dan tak membuatnya gosong. Namun kalau ada kesempatan dia pura-pura membalik badan seraya menutup mulut untuk menahan cekikikannya.

Untung Ronggo melihat bajunya yang tergeletak dalam batu tersembunyi. Segera di pakai. Lalu duduk kembali didepan pemanggangan. Meskipun tubuhnya masih terus menggigil sembari menunggu bajunya mengering.

Mereka terus makan ikan, walau sembari sesenggukan, dan tubuh menggigil, sampai habis banyak sekali yang masuk perut.

1
Tara
Mantap.. Terus Kan Buat cerita 2 bagus lainnya Thor.. Semangat🤗🙏
Andrias CPC: thanks 🙏
yuk baca baca baca yang lain 👍
total 1 replies
Tara
Alo Thor.. La gsung follow, give 5🌟 n hadiah point. Don't forget follow back yach.. Thanks. Semoga sehat🤗🙏
Andrias CPC: thanks 👍
aku follow juga 😁
total 1 replies
myzi
semangat kak
Andrias CPC: oke😁😁👍
total 1 replies
Sutoyo Loano
gak enak banget bahasanya thor
Abdul
mantap..semoga kdpn lbh mantap lg
Andrias CPC: thanks 🙏
yuk lanjut yang lain 😁
total 1 replies
anggita
pekerjaan baru.,~Habis.😓? lik👍 lgi sja lah.
Andrias CPC: hehe😁
iya
ganti seri
total 1 replies
anggita
mundur.,?😓 like sja👍
Andrias CPC: thanks like nya 😁
total 1 replies
Andariasrtka
aku bawa bom like Thor.. mampir ke karya ku yaaa
Andrias CPC: iya😁😁
trims 🙏
total 1 replies
Andariasrtka
Dah tamat ajaaaaaaaa🔥🔥 aku like🥰
mampir ke karya ku juga yaaa
Andrias CPC: iya. ganti tema hehe😁😁
total 1 replies
Susi Ana
bagus lho.kok gk lanjut
Andrias CPC: iya😁
habis
lanjut ganti seri paling😁😁😁
total 1 replies
Andrias CPC
heeh bc😁😁
cahaya3112
yuk😁😁😁😁
ᶠᴮʳ͢°nɥɔ͠ɐɔᴉʌ٭🌀⃟
Aq singgah wahai pengagum rahasiaku 😊
Andrias CPC: terima kasih ctk 🙏 jadi semangat nich😁😁😁😁
yang lain juga y
total 1 replies
LanLynxC Anquan |^π•
Ini aku .Kenal ga?

Hehe...Semoga lancar saudara
Andrias CPC: trims ya 🙏 semoga 😁😁
total 1 replies
Joanne March⚘
hai sudah kuberi like & rate untukmu

jangan lupa beri vote di lapakku saat mampir nanti yaa😉terima kasih
Andrias CPC: oke 👍 trims 🙏
total 1 replies
sembiring meilala
semangat ya kk
cerita nya bagus kok

oh iya mampir lagi ke cerita aku Reborn little army
Andrias CPC: trims 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!