Indonesia
NovelToon NovelToon
Kayla

Kayla

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Dosen / Nikahmuda / Cintapertama / Berondong / Tamat
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: mylovemom

Kayla gadis manis yang masih SMA kelas 3 yang tinggal di panti asuhan dari bayi harus banting tulang untuk memenuhi kebutuhan sekolahnya dan adiknya di panti harus kerja di sebuah cafe. hingga suatu hari saat dia lulus SMA, dia kerja double di rumah sakit swasta untuk biaya dia kuliah dan adiknya sekolah di rumah sakit itu Kayla bertemu dokter muda yang bernama yislam, dia dokter tengil dan berjalannya waktu dokter itu mencintai Kayla, tanpa sengaja adik dari dokter tersebut adalah cinta pertamanya kayla dan di rumah sakit juga banyak kejadian tak terduga mulai dari kecurangan yang terjadi di rumah sakit milik org tua dokter yislam dan Kayla menemukan fakta mengenai orang tuanya dan Fadil yang hadir kembali di hidup kayla hingga mereka terlibat cinta segitiga.
kecurangan apa yang terjadi di rumah sakit? siapakah orang tua Kayla? akankah Kayla menerima cinta yislam atau Kayla lebih memilih Fadil cinta pertamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mylovemom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pov. Fadil (kekecewaan Fadil 1)

Ketika aku tiba di rumah, langkahku bergegas menuju kamar mandi, membiarkan air mengalir membersihkan tubuhku, Ketika aku mengeringkan diri dan melilitkan handuk di sekitar tubuhku, aku melihat ponselku yang aku letakan di meja. Ada beberapa pesan masuk dari Bobby dan Angga menyapa layar, mengingatkan bahwa hari ini ada latihan band untuk persiapan acara perpisahan sekolah yang semakin mendekat.

Setelah meletakkan ponselku setelah membalas pesan dari keduanya, aku berganti mengenakan baju santai. Langkahku meluncur turun ke lantai satu menuju dapur. Sesampainya di dapur, aku disambut oleh kehadiran Bi Ijah yang sedang sibuk mencuci piring. Bau harum kopi dan aroma masakan hangat menyambut indra penciumanku.

"Pagi, den," sapa bi ijah padaku sambil tersenyum.

"eh, pagi bi," balasku singkat. Segera aku membuka kulkas dan mengambil satu buah apel merah. Tiba-tiba, seseorang memukul pundakku dengan lembut.

"Darimana kau semalam? Kenapa ga pulang?" cetus ka yislam, mencoba mengagetkanku.

"Hadeuhhh," keluhku sambil menoleh ke arah ka yislam yang ada di belakangku.

"Aku abis dari panti ka, nganter temen sekolah. Eh, kak tau gak?" paparku.

"Ga tau," sela Ka Yislam memotong pembicaraanku.

"Dengerin dulu dong, semalam ada yang buang bayi di depan panti. Bayinya dimasukkan ke dalam plastik hitam," jelasku pada ka yislam.

"Terus?" potong ka yislam.

"Ya, aku bawa masuk ke dalam. Terus bayinya dibawa ke rumah sakit sama pengurus panti," aku menjawab.

"Kamu ga hubungi kantor polisi?" tanya ka yislam.

"Hubungin ka, Cuma sampe sekarang belum ada kabar lagi bayinya sekarang seperti apa kondisinya," ucapku, penuh kekhawatiran.

Setelah cerita tentang bayi tadi, Ka Yislam memutuskan untuk sarapan. Dia pun memesan kepada Bi Ijah, yang dengan sigap langsung menyiapkan makanan pagi. Aku ikut duduk di meja makan, ditemani oleh aroma harum nasi goreng dan ayam katsu yang menggoda selera.

Ka Yislam duduk dengan santai di depanku, dan tak berapa lama kemudian, Bi Ijah dengan kepiawaiannya menempatkan piring berisi nasi goreng ayam katsu di hadapan Ka Yislam.

Melihat Ka Yislam menyantap sarapannya, aku tak bisa menahan ingatan tentang saat sarapan di panti tadi. Meskipun hanya satu piring nasi dan ceplok telur, rasanya begitu lezat. Mungkin karena suasana di panti yang ramai, berbeda dengan suasana di rumah yang hanya dihiasi oleh kehadiran aku dan Ka Yislam.

Ka Yislam menatapku heran dan bertanya, "Kamu ga makan?" tanya Ka Yislam.

"Gak kak, udah tadi di panti," jawabku singkat sambil melanjutkan menggigit apel

"Oh, jadi semalam kamu nginep di panti asuhan yang kemarin kamu cerita itu. Terus, kamu nginep karena ada bayi yang dibuang di panti?" ujar Ka Yislam, sorot matanya tajam menelisik.

Aku hanya mengangguk sebagai jawaban.

"Cewek apa cowok temenmu itu?" tanya Ka Yislam, mencoba mengetahui lebih banyak detail.

"Cewek," jawabku cuek, sambil tetap fokus pada apel yang kugigit. Tatapannya membuatku merasa seakan dia ingin menyelusuri lebih dalam ceritaku.

Ka Yislam tersenyum lebar, lalu melanjutkan sarapannya. Setelah selesai, dia meminum air putih dan tanpa basa-basi langsung berkomentar, "Kamu naksir dia ya," goda kak yislam sambil tersenyum licik.

Aku membalas tatapan liciknya dengan senyuman misterius. "Mungkin saja," kataku dengan santai, lalu berdiri dan meninggalkannya.

Tak lama kemudian, Kak Yislam memanggilku kembali. "Dil, bayinya sehat dan bisa pulang ke rumah hari ini!" teriaknya.

Langkahku terhenti dan aku kembali menghampiri Kak Yislam. Hatiku berbunga-bunga mendengar kabar baik itu.

"Benarkah, Kak?" tanyaku dengan wajah berbinar.

Kak Yislam mengangguk tegas. "Iya, benar. Tapi sebaiknya kamu segera mengurus surat ke kantor polisi supaya bayinya bisa diurus di panti asuhan yang telah kau bicarakan sebelumnya," jelasnya serius.

Senyumku semakin melebar. Aku merasa senang dan terharu atas kabar itu. "Tentu, Kak. Aku akan segera mengurusnya," jawabku dengan bersemangat.

Dengan langkah cepat, aku segera bergegas mengganti pakaian, kemudian melangkah dengan mantap ke arah motor. Tanpa banyak kata, aku menunggangi motorku dan memacu mesinnya menuju kantor polisi. Angin pagi yang sejuk membawa sensasi kegembiraan dan kekhawatiran yang bercampur aduk di hatiku.

Tiba di kantor polisi, aku segera memasuki gedungnya. Untungnya, aku tidak harus berputar-putar lama di dalam, karena langsung disambut oleh seorang kepala polisi yang berdiri di pintu masuk. Senyumnya ramah, namun terlihat serius.

"Saudara yang membawa bayi tadi malam, bukan?" tanyanya dengan tatapan tajam.

Aku mengangguk, "Iya, Pak. Saya ingin memberikan update tentang keadaan bayi tersebut."

Dia mengangguk, memberi izin untuk melanjutkan cerita. Dengan hati-hati, aku mulai menceritakan semua kejadian semalam, memberikan rincian yang diperlukan untuk mengurus bayi yang ditemukan. Suasana ruangan terasa tegang, setiap kata yang terucap terasa membebani, namun aku yakin ini adalah langkah yang benar.

Tiba-tiba, suasana kantor polisi menjadi lebih dramatis saat ibu dari bayi tersebut tiba. Dia didampingi oleh dua polisi yang menjaganya di sebelah kanan dan kiri. Kehadirannya seperti hembusan angin segar yang membawa suasana baru. Tatapannya yang mencari-cari di antara orang-orang di ruangan membuatku merasa tegang.

Sambil memberi hormat, polisi yang sedang berbicara denganku memberi penjelasan kepada ibu tersebut. Wajah ibu itu penuh dengan ekspresi campuran antara kekhawatiran dan harapan. Aku merasa hatiku berdebar, tidak sabar untuk mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya.

api sayangnya, aku masih belum diizinkan untuk mengetahui hasilnya. Dengan penuh kesabaran, aku terus menunggu proses integrasi ibu tersebut. Waktu berlalu begitu cepat, dan tak terasa sudah pukul 5 sore. Aku mulai merasa cemas dan penasaran.

Aku pun menghampiri petugas polisi untuk bertanya apakah masih membutuhkan waktu lama atau tidak. Mereka memberi jawaban yang cukup vage, "Mungkin sebentar lagi." Meskipun demikian, aku merasa sudah tak bisa menunggu lebih lama. Aku sudah berjanji untuk menjemput Kayla, dan waktu terus berjalan Aku memutuskan untuk memohon izin kepada petugas polisi, dengan janji akan kembali membawa Kayla ke kantor polisi setelah menjemputnya. Meskipun ragu, mereka akhirnya mengizinkanku pergi.

Aku kembali menggeber motorku menembus keramaian jalanan Jakarta yang padat. Ketika melihat jarum jam di pergelangan tangan, kekhawatiran mulai menyelinap karena waktu terus berjalan dan aku tak ingin terlambat sampai di kafe tempat Kayla bekerja.

Beruntungnya, ketika tiba di kafe, aku melihat Kayla masih sibuk di dapur, dengan seragam hitamnya yang berkilau karena tetesan keringat. Tanpa ragu, aku memutuskan untuk menunggunya di dalam kafe, sekalian mencari tempat untuk beristirahat sejenak.

Di dalam kafe, aroma kopi yang menggoda memenuhi udara, namun aku memutuskan untuk memesan secangkir es teh manis. Aku memilih kursi yang terlihat paling nyaman dan segera menunggu pesananku tiba. Tak lama kemudian, seorang pelayan membawa pesananku: es teh manis yang segar dan sepiring nasi goreng yang terlihat menggoda.

Aku mulai menikmati hidangan dengan lahap, mencicipi setiap gigitan nasi goreng yang lezat dan menyeruput es teh manis yang menyegarkan. Waktu terasa berjalan dengan lambat, dan meskipun sajian di depanku telah habis, Kayla belum juga muncul. Rasa penasaran membuatku menoleh ke arah dapur, tetapi yang terlihat hanyalah teman Kayla yang sibuk membuat minuman.

Aku merasa seperti dalam sebuah drama yang penuh dengan misteri, menantikan momen ketika Kayla akan muncul dari balik layar dapur. Dalam keheningan kafe, pikiranku terus melayang, mencoba membayangkan apa yang mungkin membuatnya terlambat.

Saat aku sedang menunggu dengan cemas, aku terus melihat ke arah dapur di mana Kayla sedang sibuk bekerja. Aku merasa gelisah dan ingin mengiriminya pesan singkat, ketika tiba-tiba seorang wanita berambut pendek dengan make up yang tebal menghampiriku. Dia memiliki wajah yang centil dan senyum yang menggoda.

"Permisi, teman Kayla ya?" tanyanya sambil memasang senyum centilnya.

"Hmm, iya," jawabku dingin. "Dimana Kayla?" tanyaku tanpa melihat ke wajahnya.

"Kenalin, aku Sisil, teman kerja Kayla," ucapnya tanpa menjawab pertanyaanku.

"Kayla minta tolong sama aku, katanya dia nunggu di depan, terus kata Kayla kamu mau kenalan sama aku" jelasnya dengan senyum centilnya.

"Oke, salam kenal. Sekarang, dimana Kayla?" kataku dengan nada dingin.

Lalu, aku bangun dari tempat dudukku dan menghadap langsung ke wajah wanita tersebut dengan tatapan dingin.

"Boleh minta nomor handphonenya?" pintanya tanpa basa-basi.

Dengusan frustrasi melintas dari bibirku saat mataku terpaku pada wanita yang berdiri di hadapanku, yang bernama Sisil. Aku melotot padanya tanpa senyum, hatiku mengerut dalam rasa heran yang membingungkan. Tanpa kata sepatah pun, aku pergi dengan langkah tegar menuju kasir untuk membayar pesanan yang telah aku konsumsi dengan penuh ketidaknyamanan. Tidak ada waktu lagi untuk membuang-buang dari hidupku pada wanita seperti Sisil.

Rasa kekecewaan itu semakin mengemuka saat teringat pada kejadian yang baru saja terjadi. Kenapa Kayla, perempuan yang sejak lama membuat hatiku berdegup tak karuan, harus meninggalkanku hanya dalam satu detik saja, dan kemudian mengenalkanku pada teman kerjanya yang entah dari mana datangnya? Rasanya aku seperti seorang boneka di tangan perempuan itu, dengan tindakan-tindakannya yang begitu tak terduga.

1
—kjh
1 mawar mendarat, semoga menambah semangat up. /Good//Good/
Fiiefiet: terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!