Fioni gadis manis yang hari-harinya hanya di
sibuk kan dengan belajar tiba-tiba saja berubah sejak dia tak sengaja mengganggu pengganggu sekolah.
Niat baiknya untuk membela seorang gadis berujung buruk. Rupanya gadis itu lah yang berniat buruk pada pria itu.
Ketika tiba-tiba Bara memojokkan dia di dinding dengan muka menyeramkan, Fioni tahu dia salah, dan mungkin dia akan menerima pukulan.
"Kau bilang aku mesum, lalu akan aku tunjukkan tindakan yang sebenarnya."
Fioni hanya mampu menutup mata erat ketakutan. Namun, bukan pukulan yang dia dapat tapi sebuah ciuman. Fioni tercengang tanpa sadar hari-harinya akan berubah setelah ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cerryblosoom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 MAMA
Sebelumnya
"Kenapa kami tak boleh tahu," kata Mahesa dengan sedikit nada tinggi. Dia jadi ikut marah mendengar jawaban Bara yang terkesan asal-asalan.
Siapa sih gadis itu, sampa Bara harus begitu melindungi identitasnya dari kita yang notabennya teman baiknya.
"Yahh, kenapa?" tanya Nara menuntut penjelasan. Dia merasa Bara seperti melindungi gadis itu.
Tanpa keduanya sadari kisah cinta temannya itu sedikit menyedihkan.
****
Setelah beberapa hari Bara selesai menemui teman-temannya untuk meminta saran.
Dan tak ada yang bisa dia dapatkan, ketiganya malah berakhir bertengkar. Dan yang lebih mengesalkan teman yang lain ikut terang-terangan mengasingkan Bara.
Tapi memang namanya Bara, dia tak akan peduli meski dunia memusuhi nya.
Tentunya beda lagi jika yang melakukan itu Fioni Karena sekarang Fioni adalah yang paling dipedulikan oleh Bara.
Hari ini adalah waktu janjian mereka berdua untuk berkencan. Dari pagi Bara sudah sibuk berdandan layaknya para gadis.
Lihat saja kamarnya, semua baju di lemari ditumpuk di atas kasur. Segala macam sepatu baru dia keluarkan. Bara ingin penampilan kali ini harus setampan mungkin, agar Fioni bisa jatuh hati.
"Huft, harus aku apakan wajah ini. Kenapa bisa begitu tampan," kata Bara percaya diri.
Putar kiri putar ke kanan, Bara melihat penampilannya dari cermin.
"Fioni pasti terpana," kata Bara puas.
Tanpa berniat membereskan kamarnya yang berantakan. Bara langsung berangkat menuju ke tempat mereka janjian.
Bara tak bisa menjemput Fioni di rumahnya. Dirinya tak ingin membuat gadisnya dalam masalah. Itulah kenapa mereka membuat janji untuk bertemu di tempat lain.
Saat sampai di depan rumah nya, sudah ada nenek Dona yang tengah sibuk memangkas daun. Tentu saja penampilan tak biasa Bara, langsung menarik perhatian nenek Dona.
"Kamu mau kemana?" tanya nenek Dona penasaran.
"Main, nek," jawab Bara lugas.
"Dengan dandanan semacam ini. Kamu yakin tidak ingin kencan," tebak nenek Dona tepat sasaran.
"Uhukk, nenek bisa saja. Penampilanku seperti biasa kok," kilah Bara.
Jelas sekali dia tengan berbohong. Bara bahkan tak berani menatap nenek Dona.
Hidup lama tentu saja membuat nenek Dona cukup peka untuk memahami ada yang berubah dari cucunya.
Semangat berangkat sekolah, pulang di saat masih sore, dan masih banyak lagi tingkah Bara yang berubah. Sudah jelas cucunya itu pasti sedang jatuh cinta. Hanya cinta yang bisa merubah pria secepat itu.
"Kalau begitu aku pergi dulu, nek," pamit Bara buru-buru pergi. Dia takut nenek nya akan bertanya yang macam-macam lagi.
"Salam untuk gadis itu dari nenek," seru nenek Dona sebelum Bara pergi jauh.
Bara yang masih mendengarnya tentu saja merasa malu. Tak disangka nenek nya akan menyadari secepat itu. Tapi untungnya melihat reaksi nenek nya. Itu berarti sang nenek tak menolak kehadiran Fioni.
Karena pikiran nenek nya itu yang paling diperhatikan oleh Bara.
Dia tak peduli bagaimana tanggapan orang tuanya.
Tapi jika nenek nya melarang nya, maka Bara kemungkinan akan melepaskan Fioni. Itulah kenapa Bara ingin menyembunyikannya dulu. Baru kemudian mengenalkan pelan-pelan hingga nenek menerima baik Fioni.
Namun, tak disangka dia tak perlu menunggu terlalu lama.
Senyum Bara melebar hatinya membuncah merasa gembira, sekarang dia hanya perlu membuat Fioni jatuh cinta padanya.
****
Apa yang dirasakan Bara, beda lagi dengan perasaan yang Fioni alami.
Situasi nya saat ini tak memungkinkan gadis itu untuk merasa senang. Sebelum dia bisa pergi kemanapun. Sang ibu mulai membuat masalah lagi.
"Kau dengar ibumu kan," kata Syahnaz dengan suara tinggi. Matanya menatap dengan sorot tak menerima penolakan.
"Aku mengerti," balas Fioni pasrah.
"Bagus, kamu memang anak kebanggaanku. Kau harus menurut, aku ini ibumu jangan coba berfikir yang aneh lagi," kata Syahnaz mengancam lagi.
Syahnaz lalu pergi meninggalkan kamar Fioni. Dia menutup pintu, 'Ceklekk' lalu menguncinya dari luar.
"Breng- Huftt, tenang Fioni," Fioni menarik nafas mencoba menenangkan diri. Tapi pada akhirnya dia tak bisa menahannya lagi.
"BRENG-SSEKK KAU SIAA-LAAN..."
Untungnya Syahnaz sudah berada jauh dari kamar Fioni. Jika tidak maka sudah pasti Syahnaz akan langsung marah.
Fioni tak bermaksud untuk tidak menghormati ibunya. Dia hanya sudah tak tahan lagi dengan tindakan ibunya itu.
Tadinya Fioni tengah meminta izin untuk keluar. Sama seperti sebelumnya, dia membuat alasan membeli buku baru. Rama, ayah tirinya tentu saja tak mempermasalahkan dan langsung mengizinkan.
Ibunya pun di depan ayah nya pura-pura menyetujui. Tapi saat ayah tirinya itu pergi. Sang ibu langsung berubah pikiran.
Fioni diseret di kamar dan di kunci tanpa bisa melawan.
Dan alasan dari tindakan ibunya ini tidak lain, karena kehadiran mantan istri dari ayah tirinya.
Flashback
"Jadi ini anak tirimu yaa," kata Nandini ramah.
Saat ini keluarga Sagara tengah mengadakan makan malam bersama. Nandini yang baru saja kembali pun diundang.
Berbeda dengan pasangan mantan yang menjadi musuh, maka Nandini masih begitu disambut dengan hangat di keluarga Sagara. Yahh, lagi pula dia telah melahirkan tiga putra. Jadi siapa yang akan mengabaikan posisinya sebagai ibu kandung pewaris keluarga Sagara selanjutnya.
Dan itu juga yang menjadi alasan kenapa Syahnaz begitu merasa terancam saat ini.
"Benar, Fioni kenalkan ini Nandini ibu dari kakak tirimu," kata Rama memperkenalkan.
Fioni tersenyum dan menyalami Nandini dengan sopan. "Hallo, tante."
"Anak manis, jangan panggil tante. Panggil saja Mama," kata Nandini penuh kasih.
Tentu saja permintaan Nandini itu membuat semua yang disana terkejut. Fioni sendiri adalah anak dari istri baru mantan suaminya. Bukankah orang normal harusnya memusuhi nya.
"Ini..." Fioni bingung harus menjawab apa. Dia sendiri tak menyangka akan mendapatkan sambutan semacam ini.
Dilihat dari sikap nyonya Nandini, Fioni tak melihat sikap permusuhan. Matanya menatap Fioni dengan tulus, seolah benar-benar menyayangi dirinya.
"Ini pasti hanya ilusinya," batin Fioni tak percaya.
"Kamu bisa juga ya bercanda," kata Syahnaz mencoba masuk dalam pembicaraan. Dia tentu tak akan mengizinkan mantan istri suaminya itu mengejeknya.
"Aku tidak bercanda," balas Nandini tanpa memandang Syahnaz. Dengan lembut Nandini menggenggam tangan Fioni. Dan memandangnya dengan hangat. "Aku berharap memiliki putri semanis Fioni."
Fioni tertegun, sesuatu seperti menerobos hatinya. Perlakuan hangat dari seorang ibu sudah lama tak dia rasakan. Perlakuan ibu kandung kakak tirinya, membuat Fioni kembali ke kenangan lama.
Dimana keluarganya masih utuh, dengan ayah dan ibu yang mencintainya dengan tulus.
"Kalau begitu biarkan Fioni memanggil mama. Nandini juga kan ibu kandung kakak tiri nya," kata Rama mendukung.
Syahnaz yang mendengar dukungan suaminya menahan marah. Dia menatap Fioni mengancam, seolah berkata.
"Jangan coba-coba."
Tapi Fioni tak sempat memperhatikan ibunya. Di bibirnya yang tipis, terucap sebuah panggilan halus.
"Mama."
😱😱
iasshhh...😤
sepelumnya?🤔
omma...
tapi masih bayik...