Mohon maaf karya ini berhenti di tengah jalan karena masih dalam perbaikan🙏🏻
lebih baik baca karyaku yang aktif update ya🤭 👉🏻Dear Dara
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma .R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Mendekati calon keluarga baru
Di luar, tampak Dinda tengah berbicara dengan Erik setelah keduanya turun dari mobil.
"Makasih ya pak Erik, saya benar-benar beruntung bisa kenal pak Erik, saya nggak nyangka pak Erik ternyata sebaik ini, nggak seperti kata orang-orang," ucap Dinda sembari tersenyum karena kebaikan Erik padanya.
"Emang kata orang-orang saya gimana Bu Dinda?"
"Katanya sih pak Erik jarang bergaul dengan guru lain,"
"Masa sih..mungkin karena saya terlalu sibuk kali, soalnya selain jadi guru saya juga ada bisnis lain," lanjut Erik yang semakin nyaman mengobrol dengan Dinda. Jelas saja ia tampak akrab dengan Dinda, karena sebenarnya Pak Erik tampak tertarik dengan kepribadian Dinda yang selalu semangat dan ceria saat mengajar.
Keduanya tampak akrab mengobrol. Hingga Raka semakin geram melihatnya. Raka yang mengintip di kaca tak henti komat-kamit karena kesal.
"Kak Raka kenapa?" tanya Dika, ia terheran melihat sikap aneh Raka yang tampak kesal melihat pemandangan di luar.
"Apa Dinda memang selalu di antar laki-laki itu?" tanya Raka sedang tatapannya masih tertuju ke arah kaca.
"Baru kali ini kak Dinda di antar sama om itu, aku juga nggak kenal sama dia kak,"
"Hh..kamu aja sadar kalau laki-laki itu seperti om om..gantengan mana, aku atau laki-laki itu?" tanya Raka pada Dika yang masih polos.
"Om yang itu kelihatan gagah, badannya bagus," jawab Dika apa adanya.
"Lihat baik-baik dong Dika, aku tuh lebih tinggi dari pada om yang di luar itu, aku lebih ganteng, lebih keren lagi," lanjut Raka seolah bersikap kekanak-kanakan di hadapan Dika.
"Iya deh kak, lebih kerenan kakak," jawab Dika yang pasrah.
Tak lama kemudian, Erik pun pulang. Setelah mobil Erik berjalan jauh, Dinda pun mulai masuk ke dalam rumah. Ia membuka pintu rumah yang tak di kunci. Bagai kejutan yang membuat jantungan. Tiba-tiba saja wajah Raka muncul begitu ia membuka pintu.
"Astaghfirullah..." ucap dinda dengan spontan karena ia begitu kaget, terlebih wajah Raka tampak marah.
"Se kaget itu? Emang saya setan?" tatapan Raka begitu tajam seolah sedang memalak di pasar.
"Pak Raka ngapain di sini? jelas saya kaget lah, pak Raka tiba-tiba ada di dalam rumah saya," tegas Dinda menunjukkan bahwa ia benar-benar tak senang dengan kehadiran Raka.
"Katanya kak Raka ini calon kakak ipar aku kak, benar ya kak Dinda?" tanya Dika dengan polosnya.
Mendengar itu Dinda langsung menatap Raka dengan tajam. Ia kesal mengapa Raka berkata demikian pada Dika seolah mereka benar-benar akan menikah.
"Kan emang benar," balas Raka dengan santainya.
"Pak Raka mendingan pulang ya, saya mau istirahat pak," suruh Dinda sembari memberi jalan untuk Raka pergi.
"Saya ini tamu loh, kamu ngusir saya?"
"Tapi bapak bertamu di rumah yang tidak tepat, saya sedang tidak menerima tamu," cetus Dinda dengan wajah masam karena ia kesal.
"Ya Allah nak..kok Raka nya di usir sih, bukannya di suruh masuk," ucap Ibu yang tiba-tiba datang.
Raka seolah berada di puncak kemenangan karena sang pembela telah tiba. Pasti ibu Dinda akan berpihak padanya.
"Eh ibu, apa kabar Bu," sapa Raka tersenyum ramah pada Ibu Dinda.
"Baik nak, ayo duduk di dalam dulu. Dika..buatkan teh untuk Kak Raka ya," suruh ibu hingga Raka pun kembali duduk di sofa ruang tamu.
Dika yang masih tak mengerti hanya menurut pada ibunya. Ia ke belakang untuk membuatkan teh.
Sementara Dinda tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia amat geram dengan kehadiran Raka yang mengganggu waktu istirahat nya.
"Tumben nak Raka kemari, ada apa nak?" sapa ibu menatap Raka. Kini mereka duduk bersama di ruang tamu.
"Begini Bu, papa mengundang ibu, Dinda sama Dika ke rumah buat makan malam bersama malam ini, nanti ada yang jemput kok Bu," tutur Raka dengan sopan, sikap kasarnya selama ini sungguh tak terlihat sama sekali.
"Kami nggak bisa pak," jawab Dinda dengan tegas.
"Dinda..nggak boleh gitu nak," tegur Ibu pada putrinya, ia memang selalu mengajari Dinda untuk bersikap baik kepada semua orang.
"Ya udah insyaallah Allah kami datang ya nak, jarang-jarang pak Egi mengundang kami seperti ini, mungkin ada hal penting yang mau dibicarakan," ujar Ibu yang akhirnya dengan mudahnya menyetujui untuk datang.
Dinda hanya bisa pasrah dan memasang wajah kesal karena sang ibu malah terlalu ramah pada Raka.
Dinda yang kesal langsung pergi ke kamar meninggalkan ibu dan Raka yang masih mengobrol. Namun meski pergi, ia masih mengintip dari pintu kamarnya.
Tak lama kemudian Dika pun membawakan teh untuk Raka. "Ini teh nya kak," kata Dika sembari meletakkan secangkir teh di meja.
"Maasyaa Allah..Dika ini emang anak baik ya, rajin lagi, saya bangga sama Dika Bu, apa lagi dia punya cita-cita untuk sekolah di pesantren," ujar Raka pada Ibu, ia menunjukkan kebanggaannya pada Dika.
"Iya nak Raka, Alhamdulillah Dinda dan Dika adalah anugrah terindah buat ibu, mereka berdua anak-anak yang Soleh dan Solehah," tutur Ibu yang tampak bersyukur memiliki kedua anaknya.
"Iya..tapi ternyata biaya di pesantren unggulan itu mahal Bu, teman aku bilang aku nggak akan bisa sekolah di sana, itu terlalu mahal," ucap Dika yang masih polos hingga mengungkit masalah keuangan di hadapan tamu seperti Raka.
Raka pun mendekat ke arah Dika. Ia menatap Dika dengan serius. "Bilang sama teman kamu kalau kamu pasti bisa sekolah di sana, kamu tenang aja, jangan pikirkan masalah biaya, biar itu jadi urusan kakak," ucap Raka seraya menyemangati Dika.
"Aduh nggak usah nak Raka, itu kan cuma omongan anak anak," Ibu merasa tidak enak karena keluarga pak Egi telah banyak membantunya.
"Udah nggak pa pa Bu, saya suka melihat anak seperti Dika yang semangat belajar agamanya tinggi, tolong izinkan saya membantu ya Bu," ucap Raka yang terlihat tulus menolong.
"Kak Raka baik sekali ya...memangnya kak Raka benar-benar akan menikah dengan kak Dinda?" Dika seolah sudah merasa akrab dengan Raka. Ilmu PDKT Raka sangat baik hingga dengan mudah mengambil hati keluarga Dinda.
Sementara itu, Dinda yang mengintip dari pintu kamarnya tampak geram melihat keakraban Raka dan keluarganya meski Dinda tak mendengar percakapan itu.
"Sebenarnya apa sih maksud dan tujuan si kepsek gila ini, wajahnya sangat ramah di depan keluarga ku, padahal aslinya kayak serigala!" batin Dinda yang amat kesal saat mengintip ke ruang tamu.