menceritakan seorang gadis yang sangat tangguh menjalani hidup nya ,sampai pada akhir nya nanti Alloh mempertemukan dia dengan jodohnya yang tidak dia sangka sangka sebelum nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bismillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Setelah selesai terawih terlihat ada Faaz yang sedang tiduran di kamarnya, namun terlihat gelisah.
Bu Nyai yang tidak sengaja lewat
depan kamar Faaz, kebetulan pintu
kamar Faaz sedikit terbuka,
Bu Nyai pun melihat Faaz seperti
sedang gelisah, dan Bu nyai pun
menghampiri Faaz.
"Assalamualaikum," ucap Bu Nyai
sambil mengetok pintu Faaz.
"Waalaikumsalam, eh Umi! sini Umi
masuk."
Bu Nyai pun masuk dan duduk di
samping Faaz .
"Kamu kenapa?"
Faaz yang mendengar pertanyaan
ibu nya itu, dia heran kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu.
"Hah! kenapa apa nya Umi?"
"Iya, dari tadi Umi perhatiin kamu
kok kaya lagi gelisah gitu, ada Apa sih nak? coba cerita dong sama Umi."
Faaz pun bingung harus mengawali
ceritanya dari mana.
"Sebenarnya ... aku juga bingung
Umi, harus cerita dari mana, intinya
ini tentang Naira Umi."
"Naira! Ada apa sama Naira?"
Tanya Bu Nyai dengan sedikit
terkejut, karna tidak biasa nya Faaz bercerita tentang perempuan pada nya.
"Entah lah Umi, semenjak pertama aku bertemu Naira, wajah nya itu selalu terbayang-banyang Umi."
Bu Nyai pun menyadari kalau anak nya itu sedang jatuh cintA.
"Kamu ... suka sama Naira?"
Faaz pun sangat terkejut dengan pertanyaan ibu nya.
"Apa! kok Umi bisa bilang gitu sih, emangnya kelihatan yah?"
Bu Nyai pun tersenyum dan melanjutkan pembicaraannya.
"Umi ini ibu kamu, apapun perasaan di hati kamu, Umi pasti bisa merasakannya, lagi pula selama ini Umi selalu memperhatikan kamu,
bagai mana kamu berbicara dengan perempuan dan sikap kamu pada Naira itu beda."
Faaz pun merasa lega karna dia tidak perlu menjelaskan apapun pada ibu nya, karna ternyata ibu nya sangat memahami dia.
"Yang Umi bilang barusan benar juga, aku selalu bertanya pada diriku sendiri, apa kah aku jatuh cinta pada Naira? karna setiap aku melihatnya hati ku menjadi tenang, dan saat aku mendengar suara nya, suara itu persis dengan suara yang selalu ada dalam mimpi aku, setiap aku selesai shalat istikharah."
Perasaan bu Nyai yang mendengar itu sebenarnya campur aduk, antara senang dan cemas.
"Umi ... sangat senang mendengar ini Nak, tapi Umi juga cemas dengan Fatma, kamu tau sendiri dia sudah lama menunggu kamu, Umi hanya khawatir, bagaimana saat dia tau kalau kamu memilih wanita lain."
Faaz yang mendengar itu mencoba menjelaskan perasaan nya pada ibunya.
"Umi, aku mengerti maksud Umi, aku juga selama ini sudah ber ikhtiar mencari jawaban, aku sholat istikharah dan selalu berdoa supaya Alloh tunjukan jodoh yang terbaik untukku,dan selama itu pula aku merasa malah makin jauh dari Fatma, dan saat aku mencoba membuka hati ku untuk dia, Alloh malah datangkan Naira di kehidupan Aku."
Bu Nyai yang mendengar penjelasan Faaz pun merasa apa yang dikatakan Faaz itu benar.
"Hemm iya Nak, Umi sangat mengerti, Umi selalu berdo'a siapapun jodoh mu nanti, dia adalah wanita yang Sholehah, karna sebaik-baiknya perhiasan dunia adalah wanita Solehah."
"Jadi menurut Umi bagaimana,
apakah aku boleh mengungkapkan perasaanku pada Naira?"
Bu Nyai pun terdiam sejenak, lalu dia pun menganggukkan kepalanya.
"Iya boleh Nak, nanti Umi akan bantu kamu untuk bicarakan ini pada Naira, tapi Umi juga harus istikharah dulu Nak."
Faaz yang mendengar jawaban ibu nya pun sangat bahagia sekali dan langsung memeluk ibu nya.
"Alhamdulillah, terima kasih banyak yah Umi."
"Iya sama-sama."
Keesokan harinya saat Faaz akan masuk ke madrosah untuk mengisi pengajian, terlihat Naira dan Rere pun menuju ke sana juga.
Secara tidak sengaja dari kejauhan
Faaz dan Naira saling bertatapan,
Faaz pun tersenyum melihat Naira,
dan Naira yang melihat senyuman
Faaz juga tersenyum walaupun
sedikit canggung.
Rere pun sangat gemes melihat
tingkah Naira dan faaz .
"Ya ampun, pagi-pagi udah
disuguhin adegan romantis gini,
aku jadi ikut baper deh ngelihat
kalian berdua."
"Romantis apanya sih Re, udah ah ayo." ajak Naira sambil menarik Rere.
Singkat cerita pengajian pun sudah di mulai.
”Mencari jodoh dengan cara
berpacaran adalah salah satu
contoh mendekati maksiat, seperti
pegangan tangan, duduk berduaan
dengan yang bukan mahram,
dan yang paling bahaya adalah jika
sudah berani melakukan zina.”
Jadi kita terutama perempuan jangan mau merelakan diri pada orang yang bukan mahram nya.
Alloh SWT berfirman dalam
(QS An-Nur :26)
اَلۡخَبِيۡثٰتُ لِلۡخَبِيۡثِيۡنَ وَالۡخَبِيۡثُوۡنَ لِلۡخَبِيۡثٰتِۚ وَالطَّيِّبٰتُ لِلطَّيِّبِيۡنَ وَالطَّيِّبُوۡنَ لِلطَّيِّبٰتِۚ
”Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji,
dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula).
Sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik,
dan laki-laki yang baik untuk
perempuan-perempuan yang baik (pula).”
Ayat di atas memberikan tanda
untuk kita, bahwa mencari jodoh
adalah sebuah proses untuk
menjadi baik, karna proses yang baik, akan mengantarkan kita kepada jodoh yang lebih baik,
begitupun sebaliknya.
Ada kriteria-kriteria yang harus kita
perhatikan dalam mencari jodoh,
supaya tidak menimbulkan
permasalahan kedepannya.
ke 1.Agamanya.
ke 2.Rupanya,
ke 3.Akhlaknya
ke 4.Keturunannya.
Mempunyai kriteria dalam berumah tangga itu harus.
Tapi ada kriteria yang jangan kamu hilangkan dari benak mu yaitu agama dan akhlaknya.
Wallohu'alam, wassalamu'alaikum
warahmatullahi wabarokaatuh."
"Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarokaatuh."
Saat menunggu kajian selanjutnya
dari ustad yang lain, tiba-tiba santriwati di samping Naira nyeletuk
dengan polos.
"Masya Allah, kang Faaz ini teh
benar-benar calon suami idaman
pisan, udah mah kasep pisan,
Sholeh, pinter, pengusaha lagi,
Ya Alloh mudah-mudahan atuh
yang jadi jodohnya saya teh
kang Faaz, tapi, kalau ternyata
bukan Kang Faaz, duplikat nya kang
Faaz juga gak apa-apa Ya Alloh."
Naira yang mendengar celetukan
santriwati di pinggirnya itu hanya
bisa tersenyum sambil
geleng-geleng.
Tiba-tiba santriwati itu bertanya
Pada Naira.
"Eh Teh, Teteh setuju kan apa yang
saya bilang barusan?"
"Hah, bilang apa emangnya?"
tanya Naira keheranan.
"Iya itu, kang Faaz teh idaman
banget kan, Teteh juga pasti mau kan punya suami kaya kang Faaz?"
Sontak Naira sangat terkejut dengan
pertanyaan santriwati itu.
Tiba-tiba Rere nyeletuk.
"yah jelas dong mau, yah kan Nai?"
Entah kenapa Naira menjadi
gugup saat di beri pertanyaan
seperti itu, dia hanya bisa terdiam.
Dan tiba-tiba detak jantung nya
berdebar lebih cepat.
”Ya Alloh kenapa aku malah gugup
gini, tinggal bilang iya atau tidak aja
Kok susah banget sih,”
gerutu Naira dalam hati.
dikasih jeda atau tanda kalau mau pindah cerita dari Yang sebelumnya