Diabaikan keluarga sendiri, disiksa oleh ibunya, diabaikan keberadaannya oleh ayahnya dan adik yang juga membuatnya menderita.
Suatu hari dia menikah dengan lelaki yang sejak awal terlihat mencintainya, dia berharap banyak dengan pernikahan tersebut yang mampu mengakhiri penderitaannya, ternyata suatu ketika Erina tahu bahwa suaminya mencintai adiknya. Dia juga berhadapan dengan Ibu mertua yang otoriter dan adik ipar yang memperlakukan Erina seenaknya. Di rumah tersebut dia menantu tapi nyatanya diperlakukan layaknya seorang babu.
Erina sadar dikemudian hari saat sebuah kecelakaan menimpanya, dia sadar bahwa benar harapan semua orang yang dianggapnya keluarga menginginkan dia mati. Suatu hari dia bertemu dengan pria yang juga memiliki masa lalu dan keluarga yang suram, mereka akhirnya bekerja sama untuk saling membalas apa yang telah mereka dapatkan dimasa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuhume, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Gusti tertawa sedikit keras dan mengelus pipi Sindi, dia berbisik sangat manis di hadapan Sindi, bahwa dia tidak peduli dengan tujuan Sindi kedepannya, yang Sindi harus tahu bahwa dia sangat mencintainya dan hanya dia yang bisa bersama dengannya suatu hari nanti.
Sindi mendengar itu dengan geram menghempaskan tangan Gusti.
"Sindi sudahlah, tidak mungkin Erina masuk ke hotel seperti ini, dia tidak akan ....."
"Dia sudah dua jam berada di dalam sana, kau pikir apa yang pria dan wanita lakukan dalam satu kamar" Timpal Sindi sinis.
Gusti terdiam dan masih dengan wajah yang tidak percaya dengan ucapan sindi. Gusti tahu bahwa Erina sedikit berubah, tapi dia tidak berani melangkah sejauh itu, bahkan Erina tidak mampu menatap pria tanpa busana, mengapa dia bisa tidur dengannya?
Gusti tidak ingin berpikir terlalu jauh, Dia kemudian menawarkan tumpangan dan meminta Sindi menangkan diri terlebih dahulu jika yang dia katakan benar, Gusti meminta Sindi tenang agar dia bisa membuat rencana yang baru untuk memenuhi ambisinya.
...----------------...
Pukul 03.00 dini hari.
Erina tidur dengan nyenyak, tiba-tiba posisinya berubah, dia berbalik dan tangannya terasa menyentuh sesuatu yang keras berada di dekatnya, mata Erina pun perlahan terbuka.
Masih terlihat samar dan perlahan semakin jelas, ada wajah seorang pria di dekatnya dengan wajah yang sangat tampan mencerminkan aristokratnya, hidungnya, bibirnya. Semuanya terlihat begitu sempurna. Untuk beberapa saat Erina menikmati pemandangan bangun tidurnya di dini hari.
"Apakah aku mimpi?" Gumam Erina.
"Hmm dia tampan sekali" Timpal Erina lagi dengan tersenyum.
Tiba-tiba otaknya merespon dengan cepat. Segelimat bayangan berseliweran di kepala Erina saat dia meneguk minuma segelas itu full tanpa jeda.
"Ah kepalaku" Ucap Erina lagi dengan meringis.
"Ah?! aku ketiduran? ini dimana?!" gumam Erina panik.
"HAH?? Apakah semalam aku melakukannya?"Ucap Erina.
Erina kemudian spontan bangun dari tempat pembaringannya dan segera memeriksa tubuhnya. Dia merasa sangat lega karena gaun yang dikenakannya masih melekat ditubuhnya bahkan bagian pundak yang seharusnya terlihat begitu jelas, Ansel melapisi tubuh Erina dengan jubah tidur miliknya.
Dia menatap Ansel yang tertidur pulas bagaikan bayi yang tidak berdosa.
Erina meraih ponselnya dan melihat begitu banyak panggilan yang tidak terjawab dari Sindi, Widya dan juga Gusti. Dia tersenyum sinis dan menatap wajahnya lekat dalam pantulan cermin dengan cahaya lampu yang remang dalam ruangan tersebut.
"Aku akan menghancurkan kalian, aku tidak akan menyerah bahkan mati sebelum itu terjadi" Gumam Erina.
Dia kemudian beranjak dari pembaringan dan menuju kamar mandi yang begitu luas. untuk sesaat Erina terpukau dengan ruangan tersebut, bahkan fasilitasnya sangat lengkap. Kamar mandinya bahkan lebih luas dari kamar tidur Erina di kediaman Nugroho.
Mengingat itu Erina hanya tersenyum pilu.
Erina melihat tubuhnya, dan melihat wajahnya detail. Ide di kepala Erina muncul dengan tiba-tiba. Dia memberi beberapa polesan lipstik yang masih tersisa di bibirnya untuk di poleskan pada beberapa bagian di lehernya, bisa dibilang agar polesan tersebut lebih mirip terlihat seperti bekas ci***.
Erina pun sedikit merapikan rambut dan juga sedikit riasannya. Setelah itu dia kembali memasuki kamar dan melihat Ansel yang masih tertidur sangat nyenyak.
"Hmm apakah aku harus berterimah kasih?" Gumamnya kembali.
Erina berjalan dan mencari beberapa bahan makanan di dapur kemudian di olahnya menjadi sarapan. Entah apa yang erina pikirkan saat itu, mungkin saja kebiasaan untuk bangun cepat dan segera ke dapur membuat erina bisa menyiapkan sarapan kepada orang asing sekalipun.
"Hmm mungkin aku sudah gila" Gumam erina yang sibuk dengan isi kepalanya.
Dia menulis sebuah pesan singkat tepat di meja makan sarapan itu disiapkan, kemudian tersenyum dan berjalan kembali memasuki kamar untuk mengambil tasnya. Dia ingin meninggalkan tempat tersebut tanpa harus bertegur sapa dengan Ansel lagi.
"Hmmmmm", Ansel bergerak.
Erina mendengar itu, menghentikan langkahnya dan segera berbalik untuk melihat Ansel. Matanya terbuka dengan lebar saat melihat ansel kini memamerkan otot dada dan perutnya.
"Ya ampun, apa yang dia lakukan" Gumam Erina.
Dengan langkah yang pelan Erina berjalan mendekati Ansel. Erina ingin membantu menutupi tubuh Ansel dengan selimut tapi matanya masih terpaku dengan beberapa otot yang berada di tubuh Ansel.
"Aku tidak boleh melakukan ini" Ucap Erina.
Dengan cepat Erina menyelimuti tubuh Ansel dan berlari meraih tasnya kemudian meninggalkan kamar hotel tersebut.
Fajar menyapa, Erina tiba di kediaman Nugroho. Dia memasuki rumah seperti biasa, dia yakin bahwa saat itu rumah pasti sepi tapi itu di luar dugaannya. Saat Erina memasuki ruangan di sana telah berada Widya, Sindi, Nugroho dan asisten kepercayaan keluarga Widya, Theo.
Mereka semua sedang menunggu kedatangan Erina sejak semalam, mereka semua benar-benar butuh penjelasan Erina tentang maslaah tersebut.
Wajah Sindi terlihat sembab dengan mata yang bengkak, Erina yakin bahwa semalam suntuk dia menangis dengan sangat keras karena keinginannya tidak bisa dia capai, Erina sangat mengenal watak Sindi edngan sangat baik.
"Aku benar-benar merobek harga dirimu dan menghancurkan mahkota cinderella yang kau selalu bangga-banggakan itu" Batin Erina.
Widya yang melihat kedatangan Erina dengan langkah yang cepat, dia langsung memberi tamparan yang cukup keras ke wajah Erina hingga membuat Erina terduduk di lantai.
"Dasar anak sialan, berani sekali kau merebut lelaki yang adikmu sukai!"Teriak Widya.
"Dia adalah pria yang perjodohannya akan segera di jadwalkan pertemuan mereka, kenapa kau merusak semuanya? hah?" Teriak Widya kembali.
Nugroho kemudian mengambil alih pembahasan, dia segera meminta Erina kembali kepada Gusti karena dia sangat tahu, sebelum dia memberi restunya. Erina lah yang selalu datang meminta pernikahannya dengan Gusti di restui dan juga Erina selama ini mengaku sangat mencintai Gusti.
"Kau kembali dengan Gusti, dan adikmu biarkan bersama dengan pria yang dia sukai" Ucap Nugroho tegas dan dingin.
"Pa, aku memang mencintainya tapi dia mencintai wanita lain dan..."
"Omong kosong apa yang kau katakan?! Hah?!" Teriak Widya.
"Itu memang benar, Gusti tidak mencintaiku, mama bisa menanyainya secara langsung" Timpal Erina.
"Bagaimana mungkin itu terjadi, siapa yang kau katakan, selama ini Gusti hanya selalu berada di sekitarmu, tidak ada wanita lain seperti yang kau jelaskan itu" Ucap Widya dengan garang.
Erina tidak menyahut, dia hanya menatap Sindi dengan sinis, seakan jawaban dari tatapannya begitu sangat jelas.
"Maksud kakak Gusti mencintai aku?"Ucap Sindi.
Erina tersenyum sinis, dia sangat tahu bahwa saat itu Sindi akan mulai drama di hadapan Nugroho kembali. Dia akan memutar balikkan fakta, menangis dan akhirnya Erina yang akan di salahkan.