Setelah dua kali mengalami keguguran membuat Vivienne Laurent rela mempertaruhkan segalanya demi satu harapan terakhir. Atas permintaan suaminya, Dominic Ashcroft, ia menjalani program bayi tabung.
Namun, kebahagiaan itu runtuh seketika ketika sebuah pesan datang dari Killian Prescott, pria yang selama ini menjadi musuh abadinya.
"Bayi yang kau kandung bukan berasal dari sel telurmu. Dominic telah menukarnya dengan sel telur Giselle Moreau—selingkuhannya."
Vivienne menolak mempercayainya. Hingga satu demi satu bukti mengungkap kenyataan yang jauh lebih kejam: rahimnya telah dijadikan alat untuk mengandung anak hasil pengkhianatan suaminya.
Akankah Vivienne mempertahankan bayi yang tumbuh di dalam rahimnya atau menggugurkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Tiba-tiba ponsel Giselle berdering. Wanita itu tersentak dan menatap layar. Nomor tidak dikenal. Beberapa detik ia hanya menatapnya sebelum akhirnya mengangkat panggilan.
"Halo?" sapa Giselle dengan suara waspada. Tidak ada jawaban.
"Siapa ini?" tanyanya lagi. Tetap hening.
Kemudian sambungan terputus. Giselle menurunkan ponselnya perlahan. Jantungnya berdetak semakin cepat. Ia segera mengunci pintu apartemen, kemudian memeriksa jendela satu per satu sebelum menutup seluruh tirai.
"Aku tidak boleh takut," gumam Giselle sambil memeluk tubuh sendiri. Namun, ketakutan itu sudah telanjur tumbuh.
Sementara itu, Vivienne masih berada di rumah sakit. Kondisinya mulai stabil setelah mengalami pendarahan. Kandungannya yang telah memasuki usia tujuh bulan membuat dokter meminta Vivienne lebih banyak beristirahat dan menghindari tekanan yang berlebihan.
Estelle duduk di samping tempat tidur. Ia baru saja selesai membaca pesan dari dokter ketika Vivienne membuka mata.
"Estelle ...." panggil Vivienne pelan.
Estelle langsung menoleh. "Kamu bangun?" tanyanya sambil mendekat.
Vivienne mengangguk kecil. "Sudah berapa lama?"
"Beberapa jam," jawab Estelle sambil menuangkan air ke dalam gelas. "Minum sedikit."
Vivienne menerima gelas itu dan meneguk beberapa kali. Setelah itu, tangannya langsung bergerak mengusap perutnya.
"Bayiku?" tanya Vivienne dengan suara cemas.
Estelle segera tersenyum lega. "Masih baik."
Vivienne mengembuskan napas panjang. Ia memejamkan mata sebentar sambil terus mengusap perutnya. "Syukurlah, dia kuat."
Estelle menggenggam tangannya. "Kamu juga harus kuat."
Vivienne membuka mata dan mengangguk. "Aku akan kuat."
Ada kelembutan dalam tatapannya. Bukan karena semua masalah sudah selesai, melainkan karena sekarang ia memiliki alasan yang jauh lebih besar untuk bertahan. Tangannya kembali mengusap perutnya.
"Aku tidak akan membiarkan siapa pun mengambil anakku," ujar Vivienne dengan suara lembut tetapi tegas.
Estelle tersenyum. "Dan aku akan selalu membantumu."
Vivienne menatap sahabatnya. "Terima kasih."
Estelle menggeleng. "Jangan berterima kasih dulu."
Vivienne mengernyit. "Kenapa?"
Estelle mengangkat alis. "Karena setelah kamu keluar dari rumah sakit, masih banyak pekerjaan yang harus kita lakukan."
Vivienne tertawa kecil. "Kamu benar."
Keduanya saling menatap. Ada kebahagiaan kecil di tengah situasi yang masih berat. Vivienne tahu jalan di depannya belum selesai. Namun kali ini, ia tidak lagi berjalan sendirian.
Sementara itu, di balik jeruji penjara, Dominic duduk dengan wajah kusut sambil memandangi dinding kosong di hadapannya. Pikirannya hanya tertuju kepada satu orang, yaitu Vivienne.
Pria itu masih berharap istrinya datang. Masih berharap Vivienne akan mengulurkan tangan. Masih berharap istrinya itu berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Dominic tidak tahu bahwa wanita yang selama ini ingin ia jadikan jalan menuju kekayaan justru sedang mempersiapkan akhir dari seluruh kebohongannya.
Giselle juga belum mengetahui satu hal. Rahasia yang mereka sembunyikan selama bertahun-tahun sudah mulai berada di tangan orang-orang yang tepat.
Kali ini, bukan Dominic yang memegang kendali. Bukan Giselle. Bukan pula keluarga Ashcroft. Melainkan Vivienne, istri yang selalu dimanfaatkan kebaikannya.
Beberapa hari setelah keluar dari rumah sakit, Vivienne mulai kembali mengurus hal-hal yang selama ini sengaja ia tunda. Kondisinya memang belum sepenuhnya pulih. Tubuhnya masih mudah lelah, dan dokter memintanya banyak beristirahat karena usia kandungannya sudah memasuki tujuh bulan.
Namun, ada satu keputusan yang tidak lagi ingin ia tunda. Perceraian.
Pagi itu, Vivienne duduk di ruang kerjanya. Sebuah map tebal berada di atas meja. Di dalamnya terdapat laporan audit Laurent Group, bukti transaksi yang dilakukan Dominic, serta beberapa bukti mengenai hubungan pria itu dengan Giselle.
Estelle duduk di seberangnya sambil membaca dokumen yang baru saja diberikan pengacara.
"Semua bukti ini sudah cukup kuat," ujar Estelle sambil merapikan beberapa lembar kertas. "Tapi kita tetap harus hati-hati. Jangan sampai ada celah yang bisa digunakan Dominic."
Vivienne mengangguk pelan. Ia mengusap perutnya yang besar.
"Aku tahu. Aku tidak ingin terburu-buru. Yang paling penting sekarang adalah anakku."
Estelle menatap perut Vivienne sebentar, lalu kembali menatap dokumen. "Kalau begitu, kita fokus pada perselingkuhan dan penyalahgunaan dana perusahaan."
Vivienne mengangguk. "Untuk sementara, iya."
Estelle memahami maksudnya. Tidak perlu bertanya lebih jauh. Mereka berdua sudah mengetahui rahasia tentang proses bayi tabung itu.
Vivienne sengaja tidak memasukkannya ke dalam gugatan. Bukan karena ia takut. Ia hanya belum ingin membuka kartu terakhirnya.
"Bagaimana dengan bukti hubungan Dominic dan Giselle?" tanya Estelle sambil mengangkat satu alis.
"Sudah diamankan," jawab Vivienne tenang.
"Dan rekaman dari acara ulang tahun Victoria?"
"Juga sudah ada."
Estelle tersenyum kecil. "Bagus."
Vivienne mengambil pena di atas meja. Untuk beberapa saat, ia hanya memandangi dokumen perceraian yang berada tepat di hadapannya. Tangannya perlahan bergerak. Sebelum menandatangani, ia berhenti.
Dulu, tanda tangan di atas surat pernikahan membuatnya merasa sedang memulai kehidupan bersama pria yang dicintainya. Sekarang, tanda tangan di hadapannya akan mengakhiri semuanya. Vivienne menarik napas panjang.
"Setelah ini tidak ada jalan kembali," ujar Estelle pelan.
Vivienne menatap sahabatnya. "Aku sudah tidak ingin kembali." Suara Vivienne tidak tinggi. Tidak pula bergetar.
Justru ketenangan itu yang membuat Estelle tahu bahwa keputusan Vivienne sudah benar-benar bulat.
Vivienne menunduk dan menandatangani dokumen tersebut. Ia meletakkan pena.
Estelle tersenyum tipis. "Selamat datang kembali di kehidupanmu sendiri."
Vivienne tertawa kecil. "Kalimatmu aneh."
"Tapi benar, kan?"
Vivienne terdiam. Kemudian senyum tipis muncul di wajahnya.
"Iya."
Ara pasti sangat menggemaskan pakai baju princess