Dikhianati oleh suami dan adik sepupunya sendiri membuat dunia Intan Kalista Atmaja hancur. Namun ia tetap mencoba untuk kuat. Sampai dirinya dipertemukan dengan Giovanni Abiyan Prayoga, laki-laki yang umurnya lebih muda delapan tahun darinya.
Pertemuan awal yang tak mengenakan membuat keduanya saling membenci. Namun siapa sangka, Pemuda itu justru membawa delima pada Intan saat kenyamanan mulai tumbuh dalam hatinya.
Akankah mereka bersama atau justru Giovanni hanya dijadikan pelampiasan oleh Intan?
Yuk ikuti ceritanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SWB Chapter 18
Klek
Pintu kamar terbuka. Pandangan Intan langsung bertemu dengan Ilham. Cahaya matahari dari jendela koridor jatuh tepat di ambang pintu, menyorot sosok Ilham yang berdiri tepat di depan pintu kamarnya. Pria itu jelas sekali baru saja bangun. Dia mengeluh, meringis sambil memegangi pundaknya. Sepertinya pukulannya semalam masih meninggalkan rasa sakit di tubuh Ilham.
Intan reflek menahan napas. Jantung Intan kembali berdetak kencang, memukul dada seolah ingin keluar. Namun Intan berusaha untuk tetap tenang. Tidak ingin menunjukkan jika kehadiran pria itu masih mampu mengguncang jiwanya.
Tanpa berkata apa pun, Intan memutuskan untuk melewatinya. Sepatu haknya berdetak pelan di lantai. Namun langkah itu terhenti ketika suara Ilham masuk ke dalam indera pendengarannya.
"Intan, maaf," ucap Ilham.
Intan peduli? Jelas tidak.
Kalimat yang nampak sederhana tapi kosong. Dan untuk Intan kalimat itu tidak bernilai apa pun.
Intan tetap berdiri membelakangi Ilham, tidak menoleh sedikit pun. Dalam hati Intan memaksakan ketenangan, berusaha menekan rasa perih yang belum benar-benar sembuh. Namun suara Ilham kembali memecah kesunyian di tempat itu.
"Intan, aku benar-benar minta maaf. Aku khilaf semalam. Harusnya aku tidak memaksa kamu," ucap Ilham lagi.
Kata khilaf itulah yang membuat Intan kehilangan kendali atas emosinya. Ia berbalik perlahan, tatapannya tajam, menusuk seperti belati yang sudah lama diasah. "Kamu pikir semua bisa selesai hanya dengan minta maaf, Mas?" kata Intan. Suaranya menusuk, dingin, dan penuh tekanan.
Ilham menelan ludah, saat melihat tatapan dingin sang istri. "Lalu apa yang harus aku lakukan agar kamu bisa kembali seperti dulu?"
Pertanyaan itu membuat Intan tersenyum, senyum pendek dan terlihat menyakitkan. Senyum yang tidak menunjukkan kebahagiaan, melainkan rasa lelah. Intan lantas menghela napas sebelum berkata, "Setelah apa yang kamu lakukan padaku ... kamu masih berharap aku bisa kembali seperti dulu? Kamu masih waras kan, Mas?"
Ilham terdiam, tatapannya mulai goyah, ada rasa bersalah, penyesalan, dan ketidakmengertian yang membuat Intan semakin muak. Seakan pria itu tak sepenuhnya menyadari luka yang sudah ia ciptaan.
"Tapi, Intan —" Ilham belum menyelesaikan ucapan, tetapi Intan lebih dulu memotongnya.
"Sudahlah, Mas." Intan memotong cepat. "Aku tidak ingin berdebat dengan kamu. Masih ada hal penting lainnya yang harus aku lakukan."
Setelah mengatakan kalimat itu Intan pergi meninggalkan Ilham. Langkahnya begitu tegas, tetapi di balik itu dadanya merasa sesak, tetapi harus memaksa dirinya untuk tetap kuat.
Sementara Ilham masih berdiri di tempatnya, menatap punggung Intan sebelum wanita itu benar-benar menghilang dari pandangannya. "Ah ... sial," umpatnya.
-
-
Intan berdiri di luar gerbang, menanti taksi online yang dipesannya. Udara pagi yang dingin terasa menusuk, namun pikirannya lebih dingin dari itu. Perutnya kosong, ia melewatkan sarapannya. Napsu makannya lenyap saat melihat wajah Ilham. Bayangan pria itu sangat jelas, membuat mual dan ingin segera menjauh.
Tak lama, terlihat lampu mobil dari kejauhan. Rupanya taksi yang ia pesan datang. Tanpa ragu Intan membuka pintu mobil lantas masuk. Ia duduk di bangku penumpang belakang. Di perjalanan, jemarinya lincah mengetik pesan singkat untuk Davina. Mereka telah sepakat untuk bertemu di sebuah tempat yang ada di pusat kota.
Waktu berlalu, Intan melihat waktu pada jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah lebih dari setengah jam perjalanan, tetapi belum sampai juga. Ada yang aneh. Intan mulai merasa curiga saat mobil itu berbelok ke jalan yang semakin sepi. Pepohonan tinggi menjulang di kedua sisi jalan. Jantungnya mulai berdetak tidak karuan.
"Pak, kenapa lewat sini? Ini kita mau ke mana?" tanya Intan suara bergetar. Nada paniknya tak bisa ia sembunyikan.
Sopir itu terdiam, tak menjawab pertanyaannya. Detik berikutnya mobil berhenti mendadak, membuat Intan terlonjak kaget. "Loh, Pak. Kenapa berhenti."
Sang sopir berbalik perlahan senyum sinis terukir di wajahnya, membuat bulu kuduk Intan meremang. Kemudian sang sopir menodongkan senjata tajam ke arah Intan. "Serahkan barang Anda!"
Mata Intan terbelalak, tubuhnya bergetar hebat rasa takut menjalar ke seluruh tubuhnya. Reflek ia memeluk tasnya erat-erat, seolah tas itu adalah satu-satunya yang bisa melindunginya.
"Cepat berikan!" bentak Sopir itu, suaranya kasar dan penuh ancaman.
Intan menggeleng kuat. Air mata mulai membasahi pipinya. Ia semakin erat memeluk tasnya. "Tidak!"
"Mau mati, hah?" hardik sopir itu, amarah terpancar dari matanya. Pisau itu semakin dekat, menari-nari di depan wajah Intan.
Jantung Intan berdegup kencang, memompa adrenalin ke seluruh tubuhnya. Air mata berenang di pipi, namun di balik ketakutan yang mendalam, muncul keberanian yang tak terduga. Ia tidak ingin menjadi korban, ia harus melawan.
"Tidak!" teriak Intan dengan suara bergetar, namun perlu tekad. Ia memeluk tasnya semakin erat seolah menyalurkan kekuatan dari benda itu.
Sopir itu cukup terkejut dengan penolakan Intan. Ia lantas mencoba merebut tas itu dari pelukan Intan. "Jangan macam-macam! Berikan tasnya atau kamu akan menyesal!"
Intan menggeleng keras, dengan sekuat tenaga ia menendang kursi di depannya, membuat sang sopir itu sedikit terguyur. Kesempatan itu tidak disia-siakan. Intan membuka pintu mobil dan melompat keluar. Ia jatuh tersungkur di jalan beraspal yang kasar. Lututnya terasa sakit, namun ia tidak peduli. Intan bangkit secepat mungkin dan berlari sekencang-kencangnya.
Suara langkah kaki sopir itu terdengar mengejar di belakangnya. Intan terus berlari, napasnya tersengal-sengal. Ia menoleh ke belakang melihat sopir itu semakin dekat. Namun dalam ketakutannya seseorang tiba-tiba datang menghadang langkah sopir itu. Seseorang dengan motor sportnya.
Intan berhenti dan berbalik. Matanya menyipit untuk mempertajam penglihatannya. Ia cukup familiar dengan seseorang itu, meskipun tidak terlalu yakin.
Detik kemudian seseorang itu membuka helm full casenya dan memperlihatkan wajah tampannya. Dia adalah Giovanni. Melihat itu Intan akhirnya bisa menarik napas lega.
"Masih pagi ngapain main kejar-kejaran," kata Giovanni diikuti dengan senyuman miring seolah sedang mengejek pria dewasa yang ada di hadapannya.
"Minggir bocah!" bentak pria itu.
Giovanni masih dengan santai berdiri bersandar pada motornya. "Kalau gue nggak mau ... lo mau apa?" tanya Giovanni terkesan menantang pria itu.
"Dasar bocah sialan! Rasakan ini!" Pria itu maju sambil mengarahkan pisau ke arah Giovanni. Ekspresinya begitu marah.
Giovanni sendiri nampak tidak terpengaruh, ia tetap diam di tempat. Saat pria itu hampir menyentuhnya, Giovanni mengarahkan pukulan ke wajah pria itu.
BUGH!
Dalam sekali pukulan pria itu jatuh dan langsung tidak sadarkan diri.
"Aaaa!"
Giovanni refleks menoleh saat mendengar teriakan Intan. Segera ia berbalik dan melangkah ke tempat Intan berada.
"Anda tidak apa-apa?" tanya Giovanni.
Alih-alih menjawab pertanyaan dari Giovanni, Intan justru bertanya hal lain yang membuat Giovanni tertawa. "Apa dia mati?"
Giovanni terkekeh pelan, merasa lucu dengan ekspresi wajah Intan. "Tidak … dia hanya pingsan."
"Hufff, syukurlah!" Intan menghela napas panjang. "Jika dia mati. Kita bisa berada dalam masalah nanti."
Giovanni hanya mengulas senyum tipis mendengar kata-kata Intan. "Oh iya Anda mau ke mana sebenarnya?" tanya Giovanni mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Sebenarnya aku ada janji dengan Davina. Tapi di jalan aku hampir saja terkena masalah," jawab Intan sambil melihat waktu pada jam yang terpasang di pergelangan tangannya. "Dia pasti sudah nunggu lama."
"Kalau begitu ayo … saya akan mengantar Anda," tawar Giovanni.
Intan menggeleng, menjadi tanda penolakan. "Kamu bukannya mau sekolah."
Giovanni tidak langsung merespon ucapan Intan, ia diam seraya melihat waktu pada jam tangan yang dipakainya. "Sudah telat juga."
"Hah … maaf aku sudah membuatmu terlambat," kata Intan tidak enak hati.
"Lupakan saja! Nggak penting juga," balas Giovanni. "Ayo saya akan mengantar Anda ke tempat yang akan Anda datangi."
Intan tidak langsung mengiyakan tawaran Giovanni. Namun belum sempat Intan bicara, Giovanni menarik tangannya, mengenggamnya begitu erat, membuat Intan terkejut. "Eh, Gio."
"Jangan lama-lama mikirnya. Nanti cepet tua," ucap Giovanni tanpa menghentikan langkahnya.
Siapa sangka sentuhan kecil itu mampu membuat jantung Intan berdetak lebih cepat dari biasanya dan perasaan aneh muncul, yang Intan sendiri tidak tahu namanya.
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
❤️❤️❤️❤️❤️