Sarah pikir dengan melarikan diri ke tempat terpencil akan membuatnya aman dari orang-orang di masa lalunya. Tapi siapa sangka, pelarian aman itu hanya berlaku untuk beberapa tahun saja.
"Kamu sudah menikah?" tanya pria itu dingin.
"Belum," jawab Sarah tenang.
Pria itu lalu menarik napas dalam sebelum kembali bertanya.
"Lalu... apa kamu punya pacar?"
"Tidak," jawab Sarah lagi.
Raut wajah pria itu seketika berubah. Tidak ada wajah dingin dan intimidasi lagi. Kini ia tersenyum lebar dan tertawa pelan.
"Baguslah," katanya sambil menepuk pelan pundak Sarah. "Sekarang hadapi mereka dulu."
****
Ikuti author di sosmed
Ig : @tulisanmumu
Fb : Mumu Author
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi nyaring, memecah konsentrasi para murid yang langsung bersorak gembira. Sarah membereskan buku absen dan perangkat mengajarnya dengan gerakan lambat. Obrolannya dengan Tini tadi siang terus berputar di kepalanya bagaikan kaset rusak. Rasa sesak akibat membuka kembali luka lama membuat energinya terkuras habis.
Ia sengaja mengulur waktu di dalam ruang kelas sembilan dan juga di ruang majelis guru, berharap pria itu sudah bosan menunggu dan memilih pergi. Namun, harapan Sarah kembali layu. Saat ia melangkah keluar dari koridor dan berjalan menuju gerbang depan, sosok tegap itu sudah berdiri di sana.
Ardhana ternyata benar-benar menepati janjinya. Pria itu bersandar pada jok motor kopling merahnya di bawah rindangnya pohon yang tumbuh lebat. Begitu melihat Sarah berjalan mendekat sembari menuntun motor maticnya, wajah Ardhana yang tadinya datar langsung berubah cerah. Ia menegakkan tubuhnya, mengulas senyum lebar yang entah mengapa kini terlihat sangat menjengkelkan di mata Sarah.
Beberapa guru dan juga murid-murid yang masih tersisa di sekolahan yang lewat sempat melirik genit, bahkan Tini yang pulang lebih dulu menggunakan motor suaminya sempat membunyikan klakson dua kali sembari mengerlingkan mata jahil ke arah Sarah. Sarah hanya bisa mendengus pasrah.
“Lama banget keluarnya, Sar? Aku hampir jamuran nungguin di sini,” keluh Ardhana begitu Sarah menghentikan motornya tepat di depannya.
“Nggak ada yang menyuruh kamu menunggu, Ar. Aku kan udah bilang dari kemarin, aku nggak mau,” sahut Sarah ketus, tangannya bergerak mengencangkan tali helmnya tanpa mau menatap langsung mata pria itu.
Ardhana tidak terpengaruh oleh nada dingin Sarah. Ia justru melangkah mendekat, memperkecil jarak di antara mereka hingga Sarah bisa mencium aroma parfum maskulin yang samar dari tubuh pria itu.
“Nggak ada penolakan untuk hari ini, Kak Sarah. Pokoknya aku mau nganterin kamu pulang,” ucap Ardhana, kali ini menyisipkan panggilan 'Kak' yang sengaja ia tekankan untuk mengingatkan Sarah pada kedekatan mereka dulu.
Sarah menghentikan gerakannya, lalu mendongak menatap Ardhana dengan dahi berkerut dalam. “Mau ngapain lagi, sih? Kamu nggak punya kerjaan apa?”
Pria yang masih memakai seragam lengkap itu tersenyum lebar menatap Sarah yang masih menatap jengkel padanya. “Ini kan aku lagi kerja. Memastikan kamu pulang dengan selamat sampai kos.”
Jawaban pria itu membuat Sarah semakin jengkel, hingga Ardhana menambahkan ucapannya. “Sekalian ada yang mau aku omongin.”
“Mau ngomong apa lagi? Semuanya sudah lewat bertahun-tahun yang lalu, Dhana. Aku sudah punya kehidupan baru di sini, dan kamu juga sudah jadi polisi. Nggak ada yang perlu dibahas lagi,” jelas Sarah dengan tegas.
“Ada banyak, Sar. Banyak banget yang belum sempat aku luruskan ke kamu,” potong Ardhana cepat. Sorot matanya mendadak berubah menjadi sangat dalam dan serius, mengikis habis kesan tengil yang sejak tadi ia pamerkan. “Termasuk alasan kenapa aku tetap mempertahankan motor merah ini.”
Dada Sarah berdesir hebat mendengar kalimat itu. Bayangan hari di mana Ardhana menyatakan perasaan di depan motor merah ini kembali melintas, diikuti oleh rasa sakit saat ia dilabrak di komunitasnya tanpa pembelaan dari pria di hadapannya ini.
“Aku mau pulang ke kosan. Capek,” elak Sarah, bersiap menghidupkan mesin motor maticnya.
“Aku buntuti dari belakang seperti kemarin. Kita bicara di depan kosan kamu, atau kita cari tempat makan lain. Pilihannya cuma dua itu, Sar. Kalau kamu nekat kabur, aku bakal terus nongkrong di depan gerbang sekolah ini setiap hari sampai kamu mau mendengarkan aku,” ancam Ardhana dengan nada tenang.
Sarah menatap Ardhana dengan pandangan tidak percaya. Sifat keras kepala pria ini benar-benar telah berevolusi menjadi sesuatu yang sangat sulit ditundukkan. Ditambah lagi, statusnya sebagai polisi sekarang membuat Ardhana tampak jauh lebih percaya diri dan dominan daripada saat ia masih menjadi anak SMA kelas dua dulu.
“Kamu benar-benar pemaksa, ya,” desis Sarah tajam.
Ardhana kembali tersenyum tipis, sebuah binar kelegakan terpancar dari matanya karena tahu Sarah mulai mengalah. “Hanya kepada orang tertentu saja. Ya sudah, ayo jalan. Kamu di depan, aku jaga dari belakang.”
Sarah tidak menjawab. Ia langsung menyalakan mesin motornya dengan sentakan kasar, lalu menarik gas dalam-dalam, meninggalkan Ardhana yang terburu-buru memakai helm hitamnya. Di sepanjang jalan aspal yang membelah perkebunan sawit siang itu, deru halus motor matic Sarah berpadu dengan suara berat motor kopling merah Ardhana yang setia mengawal dari belakang.
Matahari siang yang terik membakar aspal, seakan menggambarkan suasana hati Sarah yang kembali membara oleh konflik masa lalu yang siap meledak kapan saja. Kali ini, Sarah tahu ia tidak bisa lagi melarikan diri ke ujung dunia mana pun, karena takdir telah membawa Ardhana tepat berada di belakang punggungnya.
Yakin gak akan mikirin Ardhana lagi🤭🤣🤣
Panas....cemburu melanda😂
kalau aku jadi sarah juga bakalan marah..😤😤😤😤