Di sebuah lembah tersembunyi yang jarang dikunjungi siapa pun, hiduplah sebuah keluarga kecil yang tampak biasa saja — seorang ibu lemah yang bekerja keras sebagai pembantu, seorang paman nelayan yang ramah, dan seorang putri kecil bernama Angel. Tidak ada yang tahu siapa mereka sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon catsickle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Bayang-Bayang Dewa dan Asal-Usul Keluarga Kita
Angin pagi berhembus lembut di tepi sungai, membelai dedaunan pohon besar tempat mereka duduk. Yofaith menarik napas panjang, menatap permukaan air yang berkilau terkena cahaya matahari, lalu mulai bercerita dengan suara dalam namun tenang — suara yang membawa beban ribuan tahun perjuangan dan kesunyian.
"Dengarkan baik-baik, Nak…" ucapnya pelan, namun setiap kata terdengar begitu berat. "Dunia tempat kita tinggal ini bukanlah satu-satunya dunia. Di atas langit yang kau lihat setiap malam, ada tempat yang disebut Alam Dewa. Di sana, para dewa berkuasa atas segala hal — namun tidak semua dari mereka memiliki hati yang baik. Sebagian besar dari mereka haus akan kekuasaan, haus akan pujian, dan haus akan pengakuan. Bagi mereka, dunia manusia bukanlah tempat kehidupan — melainkan panggung untuk membuktikan siapa yang paling kuat, siapa yang paling layak disembah."
Angel mendengarkan dengan saksama, matanya tak berkedip sedikit.
"Para dewa jahat itu," lanjut Yofaith, suaranya perlahan mengeras seakan mengingat kembali pertempuran yang dahsyat, "selalu bersaing satu sama lain. Mereka menginginkan takhta tertinggi. Mereka ingin seluruh alam semesta tahu betapa hebatnya diri mereka — bahkan jika itu berarti menghancurkan dunia manusia, menghapus kehidupan demi menunjukkan kekuatan mereka. Bagi mereka, kita hanyalah pion dalam permainan kekuasaan yang abadi. Dan selama ribuan tahun, ancaman itu tak pernah benar-benar hilang. Mereka selalu mencari celah, selalu mencari cara untuk turun ke bumi dan menegaskan dominasi mereka."
Yofaith berhenti sejenak, menatap ke kejauhan seakan melihat bayangan masa lalu yang kelam.
"Aku… adalah orang yang ditugaskan untuk berdiri di antara mereka dan dunia ini. Selama ratusan tahun, aku bertempur sendirian di garis depan. Aku menahan serangan para dewa itu, aku membasmi siapa pun yang berani menginjakkan kaki di dunia ini dengan niat jahat. Aku menjadi perisai dunia manusia — satu-satunya penghalang yang mencegah kehancuran datang. Namun tugas itu tidak ada akhirnya. Setiap kali satu dewa dikalahkan, yang lain muncul. Selama bertahun-tahun, aku hidup dalam pertempuran yang tak pernah berhenti… kesepian, tanpa tempat untuk pulang."
Suaranya melembut, matanya perlahan beralih menatap wajah putrinya.
"Hingga suatu hari… takdir mempertemukanku dengan Ibumu — Rebeca. Saat itu aku sedang terluka, lelah, dan hampir menyerah. Tapi Ibumu tidak takut padaku. Ia tidak melihat kekuatan yang mengerikan ini — ia hanya melihat seseorang yang butuh tempat untuk beristirahat. Bersama Ibumu, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasakan kedamaian. Aku merasakan apa itu rumah. Dan dari cinta kami berdua… lahirlah engkau, Angel."
Yofaith mengulurkan tangan, menyentuh bahu putrinya dengan lembut namun penuh kasih sayang.
"Kehadiranmu mengubah segalanya, Nak. Tiba-tiba, aku bukan hanya pelindung dunia — aku juga seorang ayah. Aku punya seseorang yang harus aku lindungi lebih dari apa pun. Itulah sebabnya… itulah alasan mengapa aku pergi saat engkau baru lahir. Karena aku tahu, jika para dewa itu mengetahui keberadaanmu… jika mereka tahu aku memiliki keluarga, memiliki seseorang yang paling aku cintai… engkau akan menjadi sasaran empuk bagi mereka. Mereka akan menggunakanmu untuk memaksaku tunduk pada kehendak mereka. Dan aku… aku tidak bisa membiarkan hal itu terjadi."
Air mata perlahan menetes di pipi Yofaith, namun kali ini bukan air mata kesedihan — melainkan air mata kelegaan, karena akhirnya ia bisa menceritakan semuanya kepada putrinya.
"Aku pergi bukan karena tidak mencintaimu, Angel. Aku pergi agar engkau bisa hidup. Agar engkau bisa tumbuh dengan selamat, jauh dari peperangan dan kebencian para dewa itu. Setiap detik yang berlalu tanpamu di sisiku adalah hukuman terberat bagiku — tapi aku rela menanggungnya, asalkan engkau aman. Dan sekarang… semuanya berbeda. Sekarang aku ada di sini. Dan tidak peduli apa pun yang terjadi ke depannya — tidak peduli dewa mana pun yang berani datang — aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti keluargaku lagi."
Angel terdiam sejenak, mencerna setiap kata yang baru saja ia dengar. Rasa bingung, sedih, dan haru bercampur menjadi satu di dadanya. Ia akhirnya memahami — pengorbanan ayahnya, alasan kepergiannya, dan beban berat yang dipikulnya sendirian selama bertahun-tahun. Perlahan, Angel mengulurkan tangannya dan memeluk ayahnya erat-erat.
"Ayah…" bisiknya dengan suara bergetar namun penuh kasih sayang. "Terima kasih… terima kasih telah melindungiku. Dan maaf… maafkan aku yang sempat membenci Ayah."
Yofaith membalas pelukan itu dengan tangis haru. Suasana di tepi sungai itu masih terasa hangat, diiringi suara air yang mengalir lembut di antara percakapan ayah dan anak yang akhirnya saling memahami. Namun di tengah keheningan yang damai itu, tatapan Yofaith perlahan berubah — ia menatap tajam ke arah semak belukar yang rimbun di tak jauh dari mereka, seakan mampu menembus dedaunan yang lebat itu.
"Kenapa kalian bersembunyi di balik semak-semak di situ?" ucap Yofaith dengan suara tenang namun terdengar jelas, memecah keheningan pagi itu.
Angel terkejut seketika, menoleh ke arah semak yang ditunjuk ayahnya. Tak lama kemudian, dedaunan itu bergerak pelan, dan dari baliknya muncul tiga sosok yang saling berdesak-desakan — Rebeca, Kael, dan Lazark. Ketiganya tampak menunduk dalam, wajah mereka memerah padam karena malu tertangkap basah sedang mengintai.
Rebeca melangkah maju sedikit, tubuhnya membungkuk penuh rasa bersalah, lalu menatap Yofaith dengan tatapan memohon maaf.
"Maafkan aku, Sayang…" ucap Rebeca pelan namun penuh penyesalan. "Ini… ini semua ide dari Lazark."
Sambil berkata begitu, Rebeca menunjuk ke arah Lazark di sebelahnya yang juga ikut membungkuk dalam-dalam. Tak berhenti di situ, ia perlahan menoleh ke samping, tepat ke arah Kael, seakan memberi isyarat agar Kael juga menunduk dan membungkuk mengikuti posisi mereka berdua.
Melihat itu, Kael yang biasanya tenang dan tegas, kini tampak sedikit canggung. Ia perlahan ikut menunduk dan membungkuk pelan, menyesuaikan diri dengan posisi kedua orang di sebelahnya, seakan mengakui bahwa ia juga ikut terlibat dalam rencana kecil yang memalukan itu. Lazark di samping mereka hanya bisa menahan senyum canggung, sementara Yofaith dan Angel saling bertukar pandang — lalu seketika itu juga, keduanya tak kuasa menahan tawa melihat pemandangan ketiga orang yang begitu perkasa namun kini berdiri membungkuk malu seperti anak-anak yang ketahuan mengambil kue.
"Kalian benar-benar…" Yofaith menggelengkan kepala sambil tersenyum lebar, seluruh keseriusan dan beban berat yang tadi menyelimuti hatinya seketika lenyap. "Tidak berubah sama sekali."
Angel ikut tertawa lepas, dan di tepi sungai yang tenang itu, suasana yang tadinya penuh dengan kisah masa lalu yang berat kini berubah menjadi hangat dan penuh tawa. Rebeca perlahan mengangkat kepalanya, ikut tersenyum melihat suami dan putrinya tertawa, lalu berjalan mendekat dan duduk di samping mereka. Kael dan Lazark pun ikut duduk, melengkapi kehangatan keluarga yang kini berkumpul menjadi satu di tepi sungai itu.
Sementara kehangatan menyelimuti tepi sungai, di ruangan kerja Kepala Akademik, Ellion sedang duduk di mejanya bersama para bawahannya. Tangan-tangan sibuk menulis dan menyusun laporan mengenai tingkat kelulusan murid-murid tahun ini. Suasana ruangan itu tenang dan teratur — hingga tiba-tiba, seluruh tubuh Ellion menegang.
Ia merasakannya. Sebuah energi yang begitu dahsyat, dingin, dan mengerikan, seakan seluruh udara di ruangan itu mendadak membeku. Namun di tengah rasa takut yang muncul, ada sesuatu yang lain — samar-samar, ia mengenali aura itu. Seolah-olah ia pernah merasakannya dulu, bertahun-tahun yang lalu.
Belum sempat ia memproses perasaan itu, pintu ruangan terbuka secara tiba-tiba. Penjaga gerbang datang dengan napas terengah-engah, wajahnya pucat pasi.
"Tuan Kepala Akademik…!" suaranya bergetar. "Ada seseorang… seseorang yang memaksa masuk. Ia ingin mencari sesuatu di sini… dan kekuatan yang ia miliki… saya tidak sanggup menahannya."
Hati Ellion berdebar kencang. Ia tahu — energi mengerikan yang baru saja ia rasakan berasal dari orang itu. Dan ia tahu, jika ia tidak segera bertindak, bahaya akan menimpa seluruh penghuni akademik.
"Tetap di sini," ucap Ellion singkat namun tegas, lalu bergegas berjalan keluar ruangan menuju gerbang depan.
Sesampainya di sana, Ellion melihat sosok itu. Di hadapan gerbang yang tertutup rapat, berdiri sesosok tubuh raksasa yang mengenakan jubah berwarna abu-abu gelap, tampak mengerikan dan misterius. Punggungnya menjulang tinggi, dan di balik kain jubah itu, terlihat sepasang sayap yang besar dan perkasa — persis seperti sayap malaikat, namun memancarkan aura yang jauh dari kasih sayang.
Sosok itu menatap Ellion, lalu tersenyum tipis.
"Wah, wah… ternyata apa yang dikatakan oleh Ayah memang benar. Bahwa takdir akan membuat kita bertemu kembali satu sama lain," suaranya berat dan bergema, seakan bergetar di udara. "Halo, Paman. Lama tidak berjumpa."
Perlahan, tangan besarnya bergerak membuka jubah yang menutupi wajahnya. Saat wajah itu terlihat jelas, mata Ellion membelalak seketika. Ia mundur selangkah, tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Kau… kau adalah Ezra Maleaki…!"
Tanpa menunggu lama, Ellion segera menyuruh penjaga gerbang membuka pintu gerbang yang tertutup itu. Meski hatinya penuh tanda tanya dan kekhawatiran, ia mengajak sosok itu — Ezra — berjalan menuju ruang kerjanya.
Sesampainya di ruangan itu, Ellion menyuruh semua bawahannya berhenti sejenak dari pekerjaan mereka dan meninggalkan ruangan. Kini tinggal tiga orang di sana — Ellion, Ezra, dan istri Ellion yang sedang menunggu di ruangan itu.
Istrinya tampak bingung dan heran. Selama ini, Ellion jarang sekali membawa tamu ke ruang kerjanya — bahkan bisa dikatakan tidak pernah. Dan kini, ia mendatangkan sosok yang begitu besar dan memancarkan kekuatan yang menakutkan.
"Siapa yang kau undang, Sayang?" tanyanya pelan, namun penuh rasa ingin tahu.
Ezra menoleh ke arah wanita itu, lalu memperkenalkan dirinya dengan tenang namun penuh wibawa.
"Nama saya Ezra Maleaki. Saya berasal dari Area Barat."
Ellion melengkapi penjelasan itu dengan suara yang berat, seakan setiap kata membawa beban masa lalu yang panjang.
"Ezra… adalah kakak Angel yang pertama. Kakak angkat yang diangkat oleh Rebeca. Istrinya menganggap Ezra sebagai anaknya sendiri."
Ellion berhenti sejenak, membiarkan kata-kata itu meresap, lalu melanjutkan dengan nada yang serius.
"Di dalam keluarga kami, ada aturan yang tak tertulis namun selalu dijunjung tinggi. Setiap anak yang diangkat oleh Yofaith — ia harus melayani Yofaith dengan seluruh kekuatan dan kesetiaannya. Namun setiap anak yang diangkat oleh Rebeca… maka ia dianggap sebagai anak kandung dari Yofaith dan Rebeca sendiri. Dan Ezra… adalah anak pertama yang mendapat kasih sayang itu."
Ruangan itu seketika hening. Kehadiran sosok yang tak pernah dibicarakan sebelumnya, kakak yang tak diketahui keberadaannya, kini berdiri di hadapan mereka — membawa dengan dirinya rahasia masa lalu, kekuatan dari Area Barat, dan sebuah pertemuan yang tak lagi bisa dihindari.
Ellion tak berlama-lama. Ia langsung berganti topik, menatap Ezra dengan tatapan penuh pertanyaan sekaligus kewaspadaan.
"Jadi… apa yang membuatmu datang hingga ke wilayah pusat langit, Ezra?"
Ezra terdiam sejenak, seakan sedang mengingat kembali perasaan yang memicu perjalanannya itu.
"Saat aku sedang menjaga Gerbang Monster di Area Barat," jawabnya perlahan namun mantap, "aku tiba-tiba merasakan sebuah energi yang begitu dahsyat. Energi itu terasa sangat familier… seakan-akan itu milik Ayah. Apakah aku benar?"
Ellion mengangguk pelan, namun raut wajahnya justru berubah gelisah. Ucapannya terdengar ragu dan penuh ketakutan.
"Benar… itu memang energi dari keluarga kita. Tapi itu bukan milik Tuan Yofaith… melainkan milik adikmu, Angel."
Detik itu juga, aura di dalam ruangan itu berubah seketika. Kekuatan yang jauh lebih mengerikan meledak dari tubuh Ezra, membuat udara menjadi berat dan sesak. Suaranya menggelegar bergema, penuh amarah dan kekhawatiran yang meluap-luap.
"WAH… WAH! SIAPA KALI INI YANG BERANI MENYAKITI ADIKKU YANG TERSAYANG?! Adikku yang bahkan belum pernah kutemui sejak ia masih kecil! Aku tak pernah sempat bertemu dengannya, tak pernah sempat mengobrol layaknya kakak dan adik — karena Ayah menugaskanku menjaga Gerbang Monster di Area Barat itu! Beritahu aku, Paman! SIAPA YANG BERANI MENYAKITINYA?!"
Dengan setiap kata yang terucap, kekuatan yang dipancarkan Ezra semakin mengamuk. Seluruh bangunan bergetar hebat, debu-debu jatuh dari langit-langit, seakan setiap jengkal ruangan itu akan runtuh kapan saja.
Ellion segera bertindak. Ia melangkah maju, menatap lurus ke arah Ezra, lalu berbicara dengan suara tegas namun menenangkan, berusaha meredakan amarah pemuda itu.
"Tenanglah, Ezra! Kau tidak perlu meledak seperti ini! Apakah kau ingin menghancurkan tempat di mana adikmu belajar dan tumbuh besar? Apakah kau ingin menghancurkan kenangan-kenangannya di sini? Dan percayalah — ancaman itu sudah selesai. Semua bahaya telah berlalu, karena Tuan Yofaith dan Lazark sudah datang dan melindunginya. Saat ini, mereka tepat berada di lokasi acara kelulusan Angel."
Mendengar itu, wajah Ezra seketika berubah cerah. Senyum lebar merekah di wajahnya, matanya berbinar penuh harap.
"Begitukah? Kalau begitu, sepertinya aku harus segera menemui mereka — terutama adikku, Angel. Aku ingin berbicara dengannya. Aku ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi kakak yang baik untuknya."
Ellion mengangguk pelan, namun segera muncul kekhawatiran di wajahnya.
"Tapi bagaimana dengan wilayah Barat? Bukankah daerah itu dipenuhi monster-monster yang mengerikan? Siapa yang menjaganya jika kau pergi?"
Ezra tertawa kecil, lalu menjawab dengan tenang, "Tidak perlu khawatir, Paman. Area yang dipenuhi monster itu sudah ada penggantinya. Aku kini bebas dari tugas penjagaan itu. Aku bisa pergi ke mana saja, dan sekarang… aku ingin berada di sini."
Mendengar itu, seketika ide cemerlang muncul di benak Ellion. Matanya berbinar, dan ia berkata dengan semangat,
"Kalau begitu… aku punya ide bagus. Bagaimana jika kau menjadi pengajar di akademik ini? Angel sebentar lagi akan memasuki jenjang ajaran yang baru. Jika kau menjadi gurunya, kau bisa menunjukkan padanya bahwa kakakmu adalah seseorang yang hebat, kuat, dan bisa diandalkan. Kau bisa menjadi kakak yang keren di matanya."
Ezra terdiam sesaat, lalu tersenyum lebar — senyum yang penuh antusiasme dan kegembiraan.
"Wah, wah! Itu ide yang luar biasa bagus! Jadi kapan aku bisa mulai, Paman? Hehehehe… aku sudah tidak sabar untuk melihat wajah adikku sendiri!"
Ellion tersenyum melihat semangat pemuda itu, namun segera menunjuk ke sekeliling ruangan yang penuh retakan dan debu sambil tersenyum tipis.
"Tentu saja. Tapi sebelum itu… bisakah kau membantuku merenovasi bangunan ini? Lihatlah kekuatanmu tadi — bangunan ini nyaris runtuh. Kita harus memperbaikinya sebelum kau mulai mengajar."
Ezra menatap sekeliling, lalu tersenyum canggung sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia berpura-pura bodoh sambil terkekeh, "Hehehehe… maafkan aku, Paman… aku tidak sengaja."
Dan sejak saat itu, pekerjaan pembangunan dan renovasi pun segera dimulai. Dengan kekuatan yang dimilikinya, Ezra membantu memperbaiki dan membangun kembali bagian-bagian yang rusak — menjadikan gedung itu lebih kokoh dan megah dari sebelumnya, seakan menyambut kedatangan seorang guru baru yang istimewa.