Indonesia
NovelToon NovelToon
SISTEM PINTAR MENJADI SUPERSTAR

SISTEM PINTAR MENJADI SUPERSTAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Stevan Alvaro kehilangan segalanya dalam semalam ketika sebuah konspirasi menghancurkan pita suaranya dan merenggut mimpinya menjadi penyanyi besar, yang disusul oleh pengkhianatan kekasihnya yang memilih pergi meninggalkannya di titik terendah. Namun, di saat dunia seakan runtuh, sebuah suara misterius dari Sistem Pintar bangkit di dalam benaknya, memberinya kemampuan absolut dalam komposisi, produksi, dan penguasaan alat musik meski tanpa suara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Stevan tersenyum sangat tipis di balik maskernya.

Ia menekan tombol jeda pada rekaman itu lalu mengetikkan satu pesan terakhir di layar ponselnya.

Ia meletakkan ponsel itu tepat di tengah meja agar semua orang bisa membacanya dengan jelas.

"Saya memiliki bukti transaksi perbankan dan rekaman kamera CCTV taman kampus."

"Jika kalian mendiskualifikasi kami berdasarkan rumor palsu..."

"Semua bukti ini akan kuserahkan ke pihak kepolisian dan seluruh media televisi nasional dalam waktu lima menit."

Ancaman itu tertulis dengan sangat rapi, singkat, dan mematikan.

Pak Surya menelan ludahnya yang terasa sepahit empedu.

Ia tahu betul bahwa jika skandal suap juri ini terungkap ke publik, label Mega Bintang Sejahtera akan hancur lebur malam ini juga.

Bukan hanya reputasinya, tapi ia bisa berakhir membusuk di penjara karena kasus penyuapan.

"B-baiklah... mari kita selesaikan masalah ini secara damai," ucap Pak Surya dengan suara yang tiba-tiba melunak dan sedikit bergetar.

Dion menatap manajernya itu dengan tidak percaya.

"Pak Surya! Kita tidak bisa membiarkan mereka menang begitu saja!" bisik Dion dengan nada memprotes.

"Tutup mulut bodohmu itu!" bentak Pak Surya pada Dion dengan suara tertahan.

Pak Surya kemudian menoleh ke arah Pak Budi dengan senyuman canggung yang dipaksakan.

"Pak Budi, saya rasa ada kesalahpahaman di sini," ucap Pak Surya mencoba mencairkan suasana.

"Bagaimana jika kita biarkan The Zeros membuktikan diri mereka di babak semifinal nanti?"

"Jika mereka benar-benar lipsync, publik akan menilainya sendiri di atas panggung."

Pak Budi yang masih sangat marah sebenarnya ingin langsung mendiskualifikasi Dion dan memecat Pak Barata saat ini juga.

Namun, ia juga harus menjaga nama baik Festival Musik Nusantara agar tidak tercoreng skandal besar.

Jika berita suap juri ini meledak, seluruh festival ini bisa dibatalkan secara sepihak oleh para sponsor.

"Baiklah," ucap Pak Budi pada akhirnya sambil menghela napas panjang.

"The Zeros akan tetap tampil di babak semifinal minggu depan."

Mata Pak Budi kemudian beralih menatap Stevan dengan tatapan yang sangat serius.

"Tapi karena rumor lipsync ini sudah terlalu masif, panitia memberikan satu syarat khusus untuk kalian."

"Di babak semifinal nanti, kalian tidak diizinkan menggunakan musik latar belakang dalam bentuk digital apa pun."

"Kalian harus tampil secara akustik murni di hadapan ribuan penonton untuk membuktikan keaslian suara vokalis kalian."

Mendengar syarat itu, Dion dan Natasha kembali tersenyum lega.

"Tampil akustik di panggung sebesar itu? Suara mereka pasti akan tenggelam dan terdengar sangat sumbang," batin Dion dengan senang hati.

"Ini adalah hukuman yang sangat pantas untuk peretas sombong itu."

Clara menoleh ke arah Stevan dengan tatapan cemas di balik topengnya.

Menyanyi akustik tanpa efek gema atau equalizer di panggung auditorium raksasa adalah sebuah tantangan bunuh diri bagi penyanyi mana pun.

Namun, Stevan justru menganggukkan kepalanya pelan ke arah Pak Budi, tanda bahwa ia menyetujui syarat tersebut tanpa keraguan sedikit pun.

Ia mengambil ponselnya kembali, lalu berdiri dari kursinya.

Sebelum melangkah keluar dari ruang rapat, Stevan menatap Dion dan Pak Surya dengan tatapan sedingin es.

Ia menunjuk kedua matanya dengan dua jari, lalu menunjuk ke arah mereka berdua bergantian.

Sebuah isyarat tanpa kata yang berarti: "Aku mengawasi setiap pergerakan kotor kalian."

Langkah kaki Stevan bergema pelan saat ia berjalan keluar dari ruangan itu, diikuti oleh Clara yang masih sedikit gemetar.

Setelah pintu ditutup, keheningan mencekam masih menyelimuti ruang rapat tersebut.

Pak Surya menyeka keringat di dahinya menggunakan sapu tangan mahal miliknya.

"Orang bisu bertopeng itu... dia bukan musisi indie biasa," gumam Pak Surya dengan suara bergetar.

"Dia adalah iblis yang sedang bermain-main dengan kita."

Dion meremas ujung kemejanya dengan kuat, matanya memancarkan rasa takut bercampur dengan amarah yang semakin mendidih.

Ia tidak akan pernah membiarkan The Zeros mempermalukannya lagi di babak semifinal nanti.

Sementara itu, di lorong gedung panitia yang sepi.

Clara berjalan menyamai langkah Stevan sambil menatap punggung seniornya itu dengan penuh kekaguman.

"Kak Stevan, kakak hebat sekali tadi!" bisik Clara dengan nada penuh semangat.

"Aku tidak menyangka kakak sudah menyadap pembicaraan mereka dan punya bukti CCTV segala!"

Stevan berhenti melangkah dan menoleh ke arah Clara.

Ia mengetik balasan di ponselnya dengan senyuman tipis di balik maskernya.

"Aku berbohong soal rekaman kamera CCTV itu," ketik Stevan santai.

"Aku hanya punya rekaman suara mereka di ponselku, itu pun sudah cukup untuk menggertak mereka yang sedang panik."

Mata Clara terbelalak kaget membaca kejujuran nakal dari seniornya itu.

"Hah?! Kakak menipu manajer label raksasa itu dengan ancaman palsu?!" pekik Clara sambil menutup mulutnya karena tidak percaya.

Stevan mengangkat bahunya perlahan, menunjukkan sikap acuh tak acuh.

"Di dunia yang dipenuhi oleh kebohongan ini, terkadang gertakan palsu jauh lebih tajam dari pedang yang asli," ketik Stevan lagi.

Clara tertawa pelan mendengar prinsip keras dari pria di depannya ini.

Ia tidak peduli lagi apakah metode yang digunakan Stevan sedikit licik atau manipulatif.

Yang Clara tahu, selama ia berdiri di belakang pria ini, tidak ada satu orang pun yang bisa menyakitinya lagi.

Mereka berdua berjalan kembali menuju kampus, bersiap untuk menghadapi latihan akustik paling keras dalam hidup mereka.

Minggu depan, di atas panggung semifinal, dunia akan mendengarkan suara murni tanpa manipulasi.

Dan saat itu terjadi, semua rumor murahan akan hangus terbakar menjadi abu tak bersisa.

1
Rifqy Channel
nah gini dong 😭🙏🤣🤣
Rifqy Channel
tolong dong itu the zeros mereka harus ungkap identitas biar supaya mereka shock itu. jangan pelit dengan hadiah nya lah.
Nissa Safira: Sabar yaa kak🤣🙏
Aku mau mereka shocknya pas lagi di atas tahta, bukan pas masih di tangga. Tunggu final, hadiahnya bukan cuma identitas yang kebuka, tapi satu industri yang runtuh. Janji deh gak bakal pelit hadiahnya🤣🤣🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!