" Aku selalu mencintaimu.. Tidak ada rasa ini berkurang sedikit pun untukmu.. Selena ku. " Arjuna.
" Mencintai mu tidak harus memiliki ragamu.. hati ini selalu terisi penuh dengan nama mu, Arjuna ku. " Selena.
" Apa Daddy tidak mencintai mommy ku lagi? Daddy sudah melupakan mommy ku? Selena mu? Jadi benar, aku di lahirkan ke dunia karena suatu kesalahan? lalu kenapa Daddy mempunyai anak lainnya? aku membenci mu dad! sangat membenci mu! sebelum aku mencintaimu! " Renard.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon susi sartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengakhiri dan memulai
Arjuna benar-benar menepati janjinya pada Cintya. Berkencan di akhir pekan sebelum hubungan mereka berakhir.
" Terimakasih, kau sudah mau memberikan satu hari yang mungkin tidak akan pernah aku lupakan. " ucap Cintya merasa senang. Arjuna hanya mengangguk dan tersenyum tipis pada Cintya.
Mereka kini berada di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota itu. Tanpa Cintya ketahui, bahwa Arjuna adalah salah satu pewaris pemilik gedung tempat mereka berpijak saat ini.
" Kumohon, jangan mendiami ku. " lirih Cintya yang mendapati Arjuna hanya diam. " Berpura-pura lah mencintai ku sehari ini saja. " ucapnya begitu mengiba.
Arjuna menatap wajah Cintya yang terlihat sendu. " Kau mau kemana dulu? "
" Kita ke bioskop, ada film yang aku sukai. " Cintya segera menautkan tangannya di lengan Arjuna.
" Baiklah.. " Arjuna.
Arjuna dan Cintya mulai menonton film yang baru di putar beberapa menit yang lalu. Kali ini Arjuna menikmati film tersebut, karena film yang Cintya pilih ber-genre action. Cintya sangat tepat memilih film itu, sehingga Arjuna duduk hingga film itu berakhir. Tidak seperti biasanya, Arjuna akan memilih berpura-pura pergi ke toilet lalu menghilang entah kemana.
" Kau menyukainya? " tanya Cintya.
" Hm. " Arjuna.
Cintya menautkan jemarinya dengan jari Arjuna. Pria itu tidak menolak, membiarkan Cintya melakukan yang di sukainya. " Aku lapar.. "
" Kau mau makan apa? " tanya Arjuna.
" Kita makan makanan Jepang saja. Apa kau suka? "
Arjuna mengangguk. " Iya.. "
Cintya terkekeh. " Tentu saja kau suka. Aku lupa jika daddy ku pernah tinggal lama di Jepang. "
" Kau tau darimana? " Aku terkejut mendengar Cintya mengetahui jika daddy nya menghabiskan waktu sedari kecil di Jepang.
" Tentu saja aku tahu semua tentang mu! " Arjuna adalah pria idaman Cintya. Sebanyak mungkin Cintya telah mengetahui apapun tentang Arjuna, tentu informasi yang mudah di dapatkan melalui media sosial. Bukan informasi yang bersangkutan dengan dunia bawah.
Arjuna menatap kembali wajah Cintya. " Kenapa? "
Cintya menghela nafasnya panjang. " Karena aku menyukai mu. " lirihnya.
" Sebaiknya luapkan aku! " Arjuna takut perasaan Cintya akan menyakiti hatinya sendiri. Arjuna tidak bisa membalas perasaan itu.
" Itu hak ku, mau melupakan mu atau tidak. Kau tidak bisa melarang ku. " seru Cintya.
" Cintya! " Arjuna.
" Please! bisakah kau membuatku senang meski hanya sehari saja? "
" Baiklah.. sebaiknya kita cepat memesan makanan. Aku sangat lapar. " ujar Arjuna yang ingin menghindari Cintya. Melihat raut wajah Cintya yang sendu membuatnya tak tega. Untuk hari ini dan satu kali saja dia kan mengikuti kemauan Cintya agar rasa bersalah pada gadis itu berkurang.
" Ini sudah sore, ayo kita pulang. " ucap Arjuna setelah menyelesaikan kegiatan makannya.
" Tapi aku belum ingin pulang. " ucap Cintya. Rasanya waktu begitu singkat. Cintya tidak rela berpisah dengan Arjuna. Karena sepulang kencan ini, hubungan mereka benar-benar akan berakhir. Cintya ingin menundanya lebih lama, bahkan kalau bisa membatalkannya.
" Aku kan membawa motor bukan mobil. Di luar sangat mendung, nanti kita kehujanan di jalan. " Arjuna mencoba menjelaskan. Bisa di lihat dengan jelas dari kaca jendela yang sangat besar, menampilkan cuaca di luar sana.
Dengan berat hati Cintya mengiyakan. " Yasudah.. kita pulang. "
Benar saja, di tengah perjalanan hujan mulai turun begitu deras. Arjuna menepikan sepeda motornya untuk berteduh. Pakaian mereka sudah basah kuyup karena di guyur hujan.
" Apa ku bilang.. hujan akan turun deras. Kau malah minta di antar ke toko Aksesoris. " gerutu Arjuna. Di perjalanan menuju parkiran, Cintya tiba-tiba berhenti dan meminta Arjuna menemaninya sebentar ke toko pernak-pernik yang sangat menggoda bagi kaum remaja, terutama seorang gadis. Nyatanya, Cintya tidaklah sebentar. Gadis itu sangat lama memilih barang kesukaan nya.
" Iya maaf.. tapi aku mendapatkan apa yang ku mau. Dan kau membelikan nya untuk ku. Hitung-hitung kalung ini sebagai tanda perpisahan kita. " Cintya memandangi kalung berliontin kelopak bunga. " Terimakasih.. " ucapnya senang.
" Hem. " Arjuna.
Hujan tak kunjung reda, membuat tubuh keduanya menggigil kedinginan. Bibir Cintya sudah membiru. " Kau kedinginan? " Cintya mengangguk cepat.
Arjuna meneliti sekitar. Mereka berteduh di emperan minimarket. " Bertahan lah sebentar, aku akan menghubungi orang rumah untuk menjemput kita. " Arjuna segera menghubungi Rangga agar memberitahu bawahan Mario untuk menjemputnya.
" Sini.. mendekatlah.. " Arjuna menarik tubuh Cintya untuk mendekat, mengurangi hawa dingin. Walau sebenarnya pakaian yang ia kenakan pun basah kuyup.
Cintya merasakan senang mendapatkan perlakuan manis dari Arjuna. Untuk pertama kalinya, Arjuna memeluk Cintya begitu erat. " Begini saja aku sangat bahagia. " batin Cintya.
Tidak butuh waktu lama, bawahan daddynya sudah datang menjemput mereka. Lengkap dengan membawa pakaian ganti untuk Arjuna dan Cintya. Di dalam minimarket, Arjuna meminta ijin untuk menumpang berganti pakaian.
" Ayo.. aku antar kau pulang. " Arjuna.
" Motornya? "
" Nanti ada yang mengurus! ayo kita pulang! " Arjuna segera masuk ke dalam mobil di ikuti Cintya. Kencan seharian akan berakhir ketika ia berhasil mengantarkan Cintya ke rumahnya. Arjuna merasa lega sudah bisa terlepas dari Cintya. Pria itu bisa bebas mendekati Selena. Tinggal berharap, semoga Selena bisa membuka hati untuk nya.
***
Selena berbaring di atas ranjang, menatap langit-langit kamar. Dia ingin kebebasan seperti gadis lainnya. Tidak ada aturan ketat, bisa tertawa lepas, yang penting bisa menikmati masa-masa remaja pada umumnya. Tidak seperti dirinya yang hanya menghabiskan waktu dengan rutinitas yang sudah terjadwal oleh kedua orang tuanya. Sekolah, lalu mengikuti beberapa les khusus, kemudian pulang ke rumah, belajar dan belajar lagi. Tidak ada yang menyenangkan.
Selena meraih ponselnya. Kontak nama yang terblokir ia pandangi beberapa saat. " Sedang apa dia? "
" Aku sudah tidak ada hubungan dengan Cintya! kita sepakat untuk mengakhirinya. " ucapan Arjuna kala itu terngiang-ngiang di kepalanya. Dengan reflek, jemari Selena membuka kontak yang sudah terblokir. Beberapa saat kemudian ponselnya berbunyi.
" Arjuna.. " lirih Selena.
" Hallo.. " Selena menerima panggilan itu.
" Kau tidak lagi memblokir nomor ku? " suara Arjuna terdengar sangat senang.
" Emm.. i-iya.. " Selena.
" Aku sangat senang, jangan memblokir nomor ku lagi, please.. aku janji tidak akan menganggu mu. " Arjuna.
Obrolan melalui ponsel pun berlangsung lama. Selena merasa berbeda ketika berbicara dengan Arjuna. Merasa di kagumi, di sayangi, di cintai. Kata-kata yang keluar dari mulut Arjuna sungguh membuat hati Selena berbunga. Selena ingin mencoba hal baru dalam hidupnya. Melupakan segala peraturan yang mengharuskan dirinya menyembunyikan keinginan nya.
Berlangsung...
Nggak tau aja Arjuna anak siapa, holang kaya tau nggak