Indonesia
NovelToon NovelToon
Poor Girl

Poor Girl

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Romansa / Guru Jahat
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: melciballu

Khayla adalah gadis dengan reputasi buruk di masa sekolahnya. Bar-bar, keras kepala, pembuat masalah, itulah yang orang-orang ingat tentangnya. Namun di balik sikapnya yang liar, ia hanyalah remaja yang sepi dan haus akan kejujuran, kasih sayang, dan pengakuan.

Hidupnya berubah drastis setelah dikhianati oleh orang yang ia percayai sepenuh hati, dijebak oleh orang-orang yang membencinya, dan kehilangan semua arah dalam satu peristiwa yang nyaris merenggut jiwanya. Sejak hari itu, Khayla memilih diam. Tak lagi membalas, tak lagi melawan. Ia menyimpan semuanya dalam-dalam, termasuk rasa sakit yang tak pernah selesai.

Setelah lulus, ia meninggalkan masa lalu dan memulai hidup baru di kota lain. Ia memilih bekerja di rumah keluarga kaya yang penuh misteri, Khayla berusaha tetap tak terlihat. Namun hidup membawanya kembali pada jejak yang tak pernah benar-benar hilang.

Satu kamar, satu nama yang dikenalnya, dan satu wajah yang tak asing, membuka kembali pintu-pintu luka yang telah ia kunci rapat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon melciballu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

part 19

Sudah lebih dari dua bulan Khayla bekerja di rumah keluarga Evantha. Rumah itu besar, tenang, dan asing. Tidak ada tawa atau sapaan hangat. Hanya rutinitas yang begitu disiplin, serta aturan-aturan diam yang tidak pernah tertulis, tapi jelas terasa.

Satu aturan yang paling mencolok: jangan dekati kamar ujung lantai dua. Kamar yang pernah dilihatnya terbaring seorang pria dengan dipenuhi selang ditubuhnya.

Kamar itu dijaga dua perawat dan hanya boleh dibersihkan oleh staf tertentu. Kamar yang selalu sunyi. Namun semakin lama, rasa penasaran Khayla tumbuh diam-diam. Kenapa pria yang terbaring kaku dengan dipenuhi alat medis itu begitu sangat dirahasiakan? ada apa sebenarnya.

Dan lagi, tak ada satu pun dari penghuni rumah yang menyebut nama pemilik kamar itu.

Ia hanya disebut sebagai “Tuan Muda.”

Tidak pernah ada nama.

**

Suatu hari, saat sedang membantu Bu Mira membersihkan ruang penyimpanan linen, Khayla tanpa sengaja menjatuhkan sebuah kotak file tua. Kertas-kertas berserakan. Sebagian sobek, sebagian penuh debu.

Di antara kertas-kertas itu, ia menemukan amplop lusuh dengan cap rumah sakit.

Tanpa sadar, matanya menangkap baris nama pada lembar catatan medis yang terlipat separuh:

“Bara Dirgantara Evantha”

Khayla diam sejenak, seperti mengingat sesuatu. Nama itu… terasa aktab tapi samar.

Ia buru-buru menyerahkan semua berkas itu pada Bu Mira, yang langsung menegurnya tajam.

“Jangan pernah membuka dokumen pribadi. Dan jangan sebut nama itu pada siapa pun.”

Nada suaranya begitu dingin, membuat Khayla tak berani bertanya lebih jauh.

Namun malam itu, nama itu terus terngiang di kepalanya.

Bara.

**

Beberapa hari setelahnya, Khayla mendapat tugas menggantikan staf yang biasa mengantar makanan untuk perawat di kamar ujung.

Ia hanya boleh meletakkan nampan makanan di meja lorong, tanpa mengetuk, tanpa bicara. Begitu aturan rumah itu.

Tapi ketika ia sampai di depan pintu itu, langkahnya terhenti.

Dari celah pintu yang terbuka sedikit, ia menangkap bayangan tempat tidur besar… dan sesosok tubuh yang terbaring diam, dihubungkan oleh kabel-kabel infus dan alat bantu pernapasan.

Pria yang pernah dilihatnya beberapa minggu yang lalu, masih dengan kondisi yang sama.

Wajahnya tak terlihat jelas, hanya sebagian rahangnya dan rambut hitam pekatnya. Tapi dadanya bergerak lambat, nyaris tak terlihat. Seperti bernapas hanya karena mesin yang memaksa tubuhnya tetap hidup.

Ia menahan napas. Mencoba mencuri pandang untuk melihat lebih jauh sosok itu tapi tiba-tiba pintu dari dalam tertutup rapat. 'ah tetap nggak bisa' Lalu meletakkan nampan itu dengan hati-hati dan mundur perlahan.

**

Di malam yang sunyi, Khayla termenung di balkon kamar pelayannya. Hujan turun pelan. Di tangannya, secangkir teh yang mulai dingin. Ia terus memikirkan nama itu.

Bara Dirgantara.

Mengapa terdengar begitu familiar?

Ia memejamkan mata, mencoba mengingat.

'pak Bara? nggak mungkin… kayaknya hanya kebetulan’

Malam itu Khayla tidur dengan penasaran. Bukan hanya sosok yang terbaring itu, tapi tentang keluarga misterius itu.

**

Pagi itu, langit sedikit mendung. Aroma tanah basah dari sisa hujan semalam masih terasa di udara. Khayla berjalan perlahan melewati taman depan menuju galeri seni keluarga Evantha, tapi langkahnya terhenti ketika Bu Mira memanggil dari belakang.

“Khayla,” suara itu terdengar lebih tegas dari biasanya.

Ia berbalik, sedikit gugup. “Iya, Bu?”

“Mulai hari ini, kamu bantu di lantai dua. Tugasmu berubah. Tidak perlu ke galeri lagi untuk sementara.”

Khayla menelan ludah. “Lantai dua, Bu?”

“Ya. Gantikan Santi. Dia harus cuti mendadak. Kamu akan membantu perawat di kamar Tuan Muda.”

Khayla tak langsung menjawab. Sempat terdiam. Matanya menatap ke arah tangga yang menuju lantai dua. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.

“Kenapa saya, Bu?” tanyanya hati-hati.

Bu Mira hanya menatapnya dengan sorot tak bisa dibaca. “Karena kamu satu-satunya staf yang cukup teliti dan bisa dipercaya untuk ini. Tidak banyak yang boleh tahu kondisi Tuan Muda. Lakukan tugasmu dengan baik. Tidak perlu bertanya, tidak perlu bersikap lebih.”

Dan seperti itu saja, keputusan dibuat. Tidak ada ruang untuk menolak.

**

Khayla berdiri di depan pintu kamar itu lagi. Kali ini dengan nampan berisi handuk hangat, gel antiseptik, dan beberapa perlengkapan kecil lainnya yang diminta perawat. Hatinya gugup bukan main.

Pintu dibuka oleh seorang perawat paruh baya bernama Bu Tanti. Perempuan itu mengenakan seragam putih bersih, wajahnya penuh ketenangan yang nyaris tanpa emosi.

“Masuklah. Tapi jangan buat suara berlebihan,” ucapnya tanpa senyum.

Langkah Khayla perlahan melintasi ambang pintu.

Kamar itu besar dan sangat sunyi. Hanya suara lembut dari alat bantu pernapasan yang terdengar konsisten seperti detak jam. Di tengah ruangan, terbaringlah pria itu masih dalam posisi yang sama. Wajahnya kini lebih jelas terlihat. Mata terpejam rapat, kulit pucat, dan rambut yang mulai sedikit memanjang di sisi pelipis.

Khayla menahan napas saat melihat lehernya. Ada luka bekas sayatan yang sudah sembuh. Seperti bekas operasi. Dadanya masih naik turun perlahan, mesin di sampingnya terus berdetik dalam irama yang mengerikan. Tapi yang membuat Khayla tercekat, adalah ketika ia benar-benar menatap wajah itu.

Wajah itu…

Ia kenal. Walau tertutupi oleh venturi mask, tapi Khayla dapat mengenal dengan jelas sosok itu.

“Letakkan handuknya di sini,” ujar Bu Tanti, menyadarkan Khayla dari lamunan.

Dengan tangan gemetar, Khayla meletakkan barang-barang itu di meja kecil. Ia berusaha tidak menatap terlalu lama, tapi mata itu… meski terpejam, ia merasa seperti sedang diawasi.

Tugas Khayla di kamar itu tidak berat secara teknis. Ia hanya membantu mengganti air, menyiapkan handuk bersih, mengatur posisi bantal, dan kadang mencatat apa pun yang diminta perawat. Tapi secara emosional, tempat itu menyedot energinya. Seolah seluruh udara di dalamnya membeku.

Hari demi hari berlalu, dan ia mulai hafal jadwal alat ganti cairan infus, cara mengatur suhu selimut pemanas, hingga rutinitas sterilisasi permukaan meja medis. Ia bekerja dalam diam, tetapi pikirannya terus bersuara.

Bara Dirgantara Evantha.

Nama itu terus menggema dikepalanya.

Ia mencoba mencari tahu lebih jauh, tapi informasi yang bisa didapat sangat terbatas. Setiap kali bertanya, para staf hanya memberi jawaban seadanya. Bahkan para penjaga di depan rumah hanya menunduk dan menghindari tatapan jika ditanya soal Tuan Muda.

**

Suatu malam, saat sedang mengganti wadah air steril, Khayla tak sengaja mendengar suara pelan dari pria yang berbaring itu. Suara seperti gumaman, nyaris tak terdengar.

“…Kai..la"

Tangannya membeku.

Matanya menatap leher pria itu, lalu wajahnya.

“Apa… barusan… dia bicara?” bisik Khayla lirih pada dirinya sendiri.

Tapi Bu Tanti yang tiba-tiba masuk ke kamar tampak tidak memperhatikan apa pun. Ia bahkan langsung menyalakan monitor EKG tambahan, mengecek tekanan darah, lalu mencatat sesuatu di buku harian medis.

Khayla menggigit bibir. “Bu… barusan, sepertinya dia menyebut…"

“Tidak usah dipikirkan. Tuan Muda sering menggumam hal tidak jelas saat sedang dalam siklus gelombang tidur aktif. Itu hanya refleks otak.”

“Tapi tadi rasanya seperti… nama saya-""

“Berhenti,” potong Bu Tanti cepat, kali ini dengan nada dingin. “Kamu ke sini untuk bekerja, bukan menganalisis kondisi medis.”

Khayla menunduk, merasa malu sekaligus bingung. Tapi di dalam dadanya, rasa penasaran itu tumbuh semakin besar.

**

Hari-hari berikutnya, Khayla mulai lebih sering ditugaskan di kamar itu. Bahkan perawat lain tampak mulai mempercayainya untuk hal-hal kecil seperti mencatat grafik suhu tubuh hingga mengganti selimut. Tapi ada satu hal yang terus ia lakukan diam-diam: memperhatikan pria itu.

Kadang, saat tak ada siapa-siapa, Khayla duduk di kursi pojok ruangan, hanya menatapnya dalam diam.

Dan di momen-momen seperti itulah… sesekali ia merasa, pria itu sedikit menggerakkan jari.

Atau kelopak matanya yang bergetar halus.

Lama-lama, potongan wajah itu tak terasa asing lagi.

Hidungnya. Bentuk rahangnya. Bahkan alisnya.

“Pak Bara,” ucapnya nyaris tanpa suara, suatu malam saat hanya ada ia dan pria itu di dalam kamar.

“Kalau memang Bapak… kenapa ada di sini?”

Tak ada jawaban.

Hanya suara mesin yang terus berdetak. Tapi Khayla tak bisa berhenti menatap.

**

to be continued…

1
Fidiya Ratu
lanjut thorrr...
falea sezi
krja donk bodoh
falea sezi
q kira kaya raya taunya miskin tp nakal
Tata Hayuningtyas
cerita nya bagus dan plot twist bgt
Tata Hayuningtyas
satu kata buat author....emejing...kata2 nya beraturan dan cerita nya plot twist bgt...bintang 5 buat authornya
Chimm: makasih kakak🥰
total 1 replies
Fidiya Ratu
bikin deg" an thorrr..../Smirk//Pray/
Chimm: ditunggu lanjutannya yah kak🥰
total 1 replies
Fidiya Ratu
lanjut thorrr...
Bunda Fariz
bagus lo crita ya lanjut doonggg
Chimm: ditunggu yah😊
akan aku usahakan buat update tiap hari😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!