Jinna menyembunyikan identitasnya untuk mencari keberadaan seorang hacker yang menghancurkan keluarganya.
Tapi sifat aslinya malah terbongkar di depan senior dingin yang bernama Johan. Dia jadi harus membungkam mulut Johan demi meneruskan rencananya.
Akankah Johan membongkar rahasia Jinna?
Siapakah hacker yang dia cari?
dan apakah akan ada kisah cinta di antara keduanya?
.
.
.
(Archery universe)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sal_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nasya
Huft!!
Akhirnya aku berada di dalam ruang UGD ini. Melihat seorang perawat dan juga dokter itu bingung dengan keadaanku saat ini, membuatku tidak bisa berbohong lagi.
Iya! Sebenarnya aku berbohong.
Sebenarnya saat tau rasa kopi itu aneh, aku sudah mengerti jika ada yang berniat meracuniku. Apalagi dengan memakai kopi yang tidak mungkin aku minum di siang hari.
Awalnya aku memang tidak berniat meminum kopi itu. Tapi.... Aaghhrr.....!!! Tanpa sadar aku meminumnya karena perasaan aneh saat melihat David.
Dan untuk menutupi kelebihan mata unguku, aku sampai harus berpura pura pingsan dan membuat David juga orang kantor khawatir. Maafkan aku David!
"Kalian tidak perlu berbuat apa apa! Sebentar lagi perawat pribadiku akan datang."ujarku membenarkan posisi duduk yang jelas membuat mereka memandangku aneh.
Cklak!
Itu dia! Nasya Marcella, perawat pribadi keluarga Alexandra akhirnya tiba juga. Untungnya tadi aku sempat memanggilnya saat David dan Fero sedikit lengah di dalam ambulance.
"Kak Aley, kau baik baik saja kan? Apa ada luka gores?"
Wanita setahun lebih muda yang sudah kuanggap seperti adikku sendiri ini sudah terbiasa memanggil nama tengahku seperti itu yang sempat membuat Eddy ingin ikut memanggilku begitu.
Setelah memastikan tidak ada lecet di tubuhku, dia melihat ke arah dokter tadi dengan malu, "Anu... Apa saya bisa mengambil alih pekerjaan ini?"
Dia memang seorang perawat yang kaku, pemalu dan menggemaskan bagiku. Tapi jika tentang masalah kesehatanku, dia bisa sangat kompeten.
Dokter dan para perawat yang masih bingung dengan situasiku ini terus menanyakan pertanyaan pertanyaan pada Nasya yang membuatnya kewalahan.
Melihat sifatnya yang tidak bisa berdebat itu akhirnya aku memutuskan membantunya dengan mengungkap jadi diriku pada para staf rumah sakit itu.
Mereka sedikit melongo dan jelas malah bertanya tanya tentang mengapa aku menyembunyikannya lah, tentang seperti apa keluargaku lah, pokoknya sangat heboh.
Untungnya kehebohan itu tidak sampai terdengar sampai keluar. Dan itulah salah satu sebabnya aku tidak mau menunjukkan mata unguku.
Iya, karena itu merepotkan.
Meskipun ada sedikit cekcok dengan para staf itu, akhirnya mereka bisa memahami situasiku dan memutuskan untuk pergi melalui pintu samping yang langsung terhubung dengan lab.
Mereka berniat membantu menangani zat apa yang berada di dalam kopi yang tadi ku minum.
"Maaf kak, gara gara aku, kakak sampai harus menunjukkan mata ungumu,"ujar Nasya menunduk. Sepertinya dia merasa bersalah. "Ga papa, lagi pula aku yang salah sudah berpura pura didepan ahlinya."
Mendengar jawabanku, Nasya kembali melihat ke arahku dan langsung memelukku.
"Kak Aley, aku terkejut kau tiba tiba menelpon tanpa berkata apapun. Dan saat mendengar suara kebisingan dan nama rumah sakit ini, aku pun langsung meluncur ke sini. Apa kau baik baik saja?"tanyanya tergesa gesa.
"Tenang saja! Kekebalan tubuhku ini sangat tinggi, mana mungkin aku tumbang hanya karena racun dari sebuah kopi? Tapi! Berani beraninya ada orang yang mau meracuniku!!!"
Amarahku memuncak. Mungkin jika Nasya tidak menepuk pundaku, aku pasti sudah berteriak dan membongkar kebohonganku ini.
Kami berencana menunggu sampai hasil lab tiba sambil membicarakan hal yang random.
"Oh ya kak, sepertinya kakak benar benar populer ya? Didepan ada 3 pria yang sepertinya mencemaskan kakak,"
Hah? 3 pria? Bukannya yang datang tadi cuma David dan Fero? Kenapa nambah satu lagi? Oh, mungkin itu John.
"Biasalah, mereka itu karyawan gila. Sangat gila. Tapi diantara mereka pasti David yang paling sedih."
"David? Apakah pria tinggi dengan tatapan tajam itu namanya David? Dia yang paling khawatir dari ketiga orang itu. Bahkan tadi dia menanyakan keadaanmu padaku dengan garang. Aku awalnya takut. Tapi semakin melihatnya, aku jadi merasa kasihan,"
Apa? Pria tinggi dengan tatapan tajam kan hanyalah John. Apa dia datang karena benar benar khawatir?
Duh.... Kenapa ingatan dipantai terlintas lagi....
"Kak? Ada apa? Kenapa wajah putihmu itu jadi memerah? Apa kau sakit?" Tangan hangat Nasya menyentuh dahi ku membuatku tersadar dari lamunan itu. "Ah, gapapa kok! Hahaha..."
"Baiklah, tapi ngomong omong bagaimana kelanjutan rencananya? Apa sudah hampir selesai?"
Nasya sudah mengetahui rencanaku sejak awal karena hanya dia yang ku percaya akan merahasiakan keputusanku. Lagi pula dengan siapa dia akan comber? Dia kan tidak punya teman.
"Selesai apanya, yang ada aku malah bingung karena berbagai teka teki. Padahal sudah hampir ketemu si Hacker si*lan itu!"jelasku sebal. Dia menatapku dengan berbinar-binar menunggu kelanjutan ceritanya.
Aku pun menceritakan segalanya dari kejadian hacker J palsu yang membobol database perusahaan, majalah dari Roy, dan juga kejadian dua tahun lalu yang pelaku utamanya adalah si Joe.
Aku juga menjelaskan dugaan dugaan pelaku yang sekarang sedang kuawasi. Antara lain, Fero, David, John, dan sang pelaku utama Joe dan juga istrinya. Ditambah Pak Yo yang mungkin terlibat.
Nasya mendengarkan ceritaku dengan seksama seperti saat aku menceritakan dongeng. Sesekali Nasya bertanya kehidupanku di kantor yang kujawab seadanya.
"Dan kau tau, beberapa kali seperti ada yang bergetar di organ bagian dalamku. Seperti saat David merubah sikapnya menjadi Dewasa, Eddy yang tiba tiba berusaha melindungiku dan saat menatap John dari jarak dekat. Aku takut, mungkin ada suatu penyakit yang bersarang di organ dalam itu. Kau harus segera memeriksanya!"
Nasya tersenyum senyum melihatku membuatku kesal. "Aku ga bercanda, Nasya!"
"Aku tau kok, kak! Hanya saja itu sepertinya bukan penyakit. Jadi aku tidak bisa mengobatinya. Kakak sendiri yang harus mengobatinya."jawab Nasya masih tersenyum manis menatapku.
"Aku ga bercand-"
"Iya iya, aku ga bilang kakak bercanda kok!"ujarnya yang kemudian berdiri menyudahi obrolan kami.
"Untuk sementara ini, Kak Aley harus berpura pura tidur karena obat. Kakak bisa kan? Atau mau disuntikkan obat tidur beneran? Sepertinya kau juga ga tidur dengan benar?"
Tangan Nasya menyingkirkan beberapa helai rambut sebahunya yang menutupi wajah cantik miliknya. Gadis itu sangat polos dan juga cantik. Sebagai seorang perawat, sifat ramahnya itu membuat semua pasien senang bersamanya. Begitu pula aku.
Bahkan dialah yang mengajariku untuk bersikap ramah agar bisa memikat rekan kerja. Dialah guruku dalam hal kebaikan.
"Nasya, kau beneran belum punya pacar kan? Apa jangan jangan...."
"Apaan sih! Jangan ngelantur, kakak mau disuntik beneran?" Wajah memerah karena malu yang dia sembunyikan itu sangat lucu.
Tidak pernah bosan kalau urusan menggoda Nasya.
"Jadi bagaimana? Setelah ini aku dan Dokter tadi akan keluar memberikan laporan. Jadi kemungkinan, kakak harus berpura pura tidur sampai 5 jam an. Bisa kan?"
"Tenang aja Sya, aku sudah berpengalaman kalau masalah berpura pura. Dulu juga seperti itu kan."jelasku tersenyum agar dia bisa merasa lega.
Tapi melihat wajahnya saat ini, sepertinya dia malah merasa sedih. Itu membuatku kesal,"Baiklah Kak, aku ke lab dulu. Kakak teruslah berpura pura."ujarnya berbalik menuju ke lab.
Punggungnya yang terlihat rapuh itu membuatku merasa bersalah membiarkan dia ikut dalam rencana jahatku.
Sekarang berbaring adalah pilihan yang tepat. Menatap langit langit rumah sakit dan berpura pura tertidur. Sesuai arahan Nasya. Tapi kenapa aku merasa berat untuk berpura pura saat ini? Apa karena melihat wajah sedihnya tadi?
Padahal dulu juga sebelum aku bertemu dengannya, aku sudah sering berpura pura. Padahal seharusnya yang jahat adalah si Hacker itu. Tapi kenapa aku yang seolah terlihat jahat?
Sesuai permintaannya, aku harus berpura pura tertidur untuk waktu yang lama. Haah ... Sangat tidak berguna. Percuma saja waktuku terbuang sia sia.
Tapi 5 jam bukanlah waktu yang lama dibandingkan dulu.
Iya, dulu bahkan sejak usia 5 tahun pun aku bisa berpura pura meskipun didepan keluargaku sendiri.
Tapi itu dulu. Dulu.... Sekali. Bahkan sebelum aku tau seperti apa dunia luar itu.
Flashback
"Jinna.... Perkenalkan, dia akan jadi teman barumu." Ayah dengan gembira mengandeng bocah berusia 6 tahun yang masih malu malu menatapku.
"Itu... Anu... Aku Edward. Senang bertemu denganmu...Itu... Siapa ya-"
"Jinna! Aku jinna! Laki laki itu harusnya lebih tegas, Bodoh! Mulai sekarang kau adalah pengawal ku!! Panggil aku Noona!"
"Ah! I-IYA NONA!!"seru pria kecil itu gugup sampai membuat suaranya melengking tinggi.
Itulah saat pertama kali aku bertemu dengan Eddy.