Tidak ada satu pun wanita di dunia ini yang berharap rumah tangganya hancur. Semua wanita akan mengharapkan rumah tangga yang berjalan mulus dan tetap utuh.
Begitu pula dengan Renata, wanita itu mencoba untuk mempertahankan rumah tangganya dengan sekuat tenaga. Menahan sakit caci maki dari mertua, dan juga sakit akibat perlakuan suaminya.
“Apa dengan bersetubuh dan menikah secara diam-diam dengan wanita lain. Baru itu tindakan yang benar? Apa seperti itu, huh, Baji*ngan?!”
Akan tetapi, dia menyerah, saat hadir sosok orang ketiga yang tiba-tiba sudah menjadi madunya. Hatinya sakit, hancur, dan dia pun memberontak, menjadi berani demi mendapat keadilan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my_el, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nomor Asing
Mustahil untuk tidak khawatir dan takut, ketika sang suami tak kunjung memberi kabar. Sudah satu minggu lebih Renata menanti kabar Bagas, selama itu pula Renata bingung akan kehidupannya.
Renata juga telah menghubungi salah seorang teman Bagas—Pak Agung, untuk menanyakan keadaan Bagas yang tidak memberinya kabar. Namun, tak ada tanggapan yang pasti.
Beliau hanya bilang, “Bagas ada, kok, Bu. Bekerja seperti biasanya. Namun, memang beberapa hari ini saya jarang melihatnya di mes.”
Hal itu membuat hati dan pikiran Renata kacau. Belum lagi dia harus dihadapi dengan pertanyaan-pertanyaan dari sang anak akan papanya, yang sudah lama tidak menghubunginya dan berbicara padanya.
Sesibuk itukah kamu di sana, Mas?
Sebenarnya pekerjaan macam apa yang kamu lakukan, sampai tak ada waktu untukmu mengirim kabar pada istri dan anakmu?
...****************...
“Ma ... lusa Ghea ada lomba tari. Terus ada iuran buat nyewa bajunya,” ucap Ghea dengan mata yang berbinar antusias.
Renata tersentak dari lamunannya. Kemudian menoleh kepada anaknya yang masih meneruskan bercerita akan segala hal yang terjadi di sekolahnya. Wanita itu tersenyum miris.
Dia tidak tega, apabila menghancurkan semangat sang anak yang akan ikut lomba. Namun, uang yang ada di dompetnya hanya tersisa selembar uang lima puluh ribu. Di mana hanya cukup untuk makan setidaknya dua atau tiga hari ke depan.
“Mama, kok, gak jawab?” Ghea memberengut kesal.
“Iya ... kenapa, Sayang?” Renata memaksakan senyumnya dan mengelus lembut puncak kepala sang anak, agar tidak terlalu kesal.
“Mama bisa, kan, hadir saat lomba. Terus uang iurannya besok harus dikumpul ke Bu Guru,” jelas anak kecil itu kembali bersemangat.
Melihat itu mau tidak mau Renata tersenyum dan mengangguk. Membuat Ghea terlonjak senang dan mencium pipinya dan berlalu kembali ke kamarnya untuk bermain dengan boneka-bonekanya.
Selepas perginya sang anak, Renata kembali bingung. Akan dapat uang dari mana untuk kebutuhan sang anak. Sedangkan suaminya masih belum mengiriminya uang.
Bohong, apabila dia bilang selama ini tidak kesulitan, saat uang bulanan yang diberikan Bagas terus berkurang. Sebagai istri, Renata tak jarang mengambil uang tabungannya hingga habis untuk memenuhi kekurangan nafkah yang Bagas kasih, demi kelangsungan hidupnya dan sang anak, tanpa sepengetahuan Bagas.
Wanita itu menutupi keadaan ekonomi rumah tangganya, kepada sang suami. Agar tidak memicu pertengkaran. Jujur saja, pertengkaran terakhir kali, juga membuat dirinya sedikit trauma. Terlebih, kejadian itu berimbas ke buah hatinya.
Kini, hanya cincin pernikahanlah satu-satunya harta yang dia punya. Sungguh, hatinya sangat berat. Dirinya dilema akan keputusan yang akan dia ambil. Namun, dia juga tidak punya pilihan lain. Dia juga tidak mungkin meminjam kepada orang tuanya. Di saat orang tuanya juga harus memenuhi kebutuhan sang adik yang masih kuliah. Apa lagi mengadu ke mertua. Itu hal yang sangat dihindari Renata. Mengingat sikap mertuanya yang tidak pernah suka kepadanya. Yang ada, dirinya malah dapat cacian kembali.
Mungkin ini keputusan yang berat. Namun, dia juga tidak punya pilihan lain. Dia harus menjual cincin pernikahan itu demi sang buah hati.
...****************...
Pak Agung yang tidak sengaja papasan dengan Bagas saat jam pulang bekerja. Sontak memanggil Bagas. Kedua orang itu memang dekat, sejak Bagas bekerja di Wills Company. Bahkan, keduanya tak jarang saling bersilaturahmi ke rumah masing-masing bersama sang istri. Maka tak heran, jika Renata memiliki nomor ponsel Pak Agung, dan menghubungi beliau saat tak mendapat kabar dari Bagas.
Bagas yang merasa terpanggil pun menoleh dan cukup terkejut, mendapati Pak Agung yang sudah berlari kecil ke arahnya. Lantas pria itu menormalkan kembali ekspresinya sembari menunggu Pak Agung sampai ke tempatnya.
Pak Agung sedikit terengah, mengingat usianya yang sudah tak lagi muda. Kemudian menepuk pundak Bagas pelan. “Akhir-akhir ini, saya jarang lihat kamu di mes. Di kantor pun hanya sesekali. Apa ada masalah dengan pekerjaan kamu?” tanyanya.
Bagas tertegun. Kemudian mengangguk kaku. “Iya, Pak. Bisa dikatakan pekerjaan saya sangat banyak. Jadi, saat di mes, saya mengurung diri buat menyelesaikan pekerjaan,” paparnya dengan tenang.
“Saya kira kamu sakit, Pak Bagas.” Pak Agung berkata sembari berjalan beriringan dengan Bagas. “Oh, iya. Istrimu mengirimi saya pesan. Dia bertanya tentang keadaan kamu. Apa kalian ada masalah?” imbuhnya, yang lagi-lagi membuat Bagas tersentak.
“Ah ... tidak, Pak. Kita baik-baik saja. Seperti yang saya katakan sebelumnya. Terlalu banyak pekerjaan, membuat saya ... jarang melihat ponsel,” elaknya dengan gelagapan.
Pak Agung awalnya memicing curiga. Namun, tak lama dia menghela nafas lelah. Kembali menepuk-nepuk pundak Bagas.
“Lain kali jangan seperti itu, Pak Bagas. Kasihan istri di rumah. Pasti, Bu Renata khawatir sama keadaan Pak Bagas di sini. Saya saranin, sesibuk-sibuknya kita, jangan sampai membuat komunikasi terputus. Terlebih ada jarak yang cukup jauh, jadi luangkanlah sedikit waktu untuk sekedar berbicara sama istri dan anak.” Pak Agung menasihati Bagas dengan pelan dan bijak layaknya seorang ayah. Kemudian berlalu pergi. Meninggalkan Bagas yang terdiam di tempat. Memikirkan kata per kata yang Pak Agung lontarkan.
...****************...
Senyuman lebar tak henti-hentinya Ghea tebarkan ketika tampil di atas panggung dengan menatap seluruh penonton dengan percaya dirinya.
Senyuman itu semakin lebar dan memekik senang tatkala anak kecil itu dinobatkan sebagai pemenang lomba. Dengan langkah senang dan berlari kecil, saat turun dari atas panggung menuju sang ibu yang menatapnya penuh rasa haru dan bangga, hingga tak sadar meneteskan air mata.
Dipeluknya tubuh sang anak, begitu Ghea sampat di dekatnya. Kedua perempuan berbeda umur itu sama-sama tersenyum. “Anak Mama keren, dan luar biasa.” Renata memuji pencapaian sang anak, membuat Ghea senang.
“Terima kasih, ini buat Mama. Karena Mama yang terbaik,” ucap Ghea berbinar dengan memberikan piala yang dia dapatkan kepada sang ibu. Membuat Renata lagi-lagi tersenyum haru dan menerima piala itu.
“Sekarang ayo foto, terus kirim ke Papa. Biar Papa juga tahu, kalau Ghea menang lomba tari.” Ghea meloncat antusias membuat Renata mau tidak mau menurutinya. Berfoto ria dan mengirimkannya kepada sang suami yang masih belum mengiriminya kabar.
Hari ini Ghea lomba tari, dan anak kita menang.
Cantik dan pintar, ‘kan, anak kita.
...****************...
Renata yang sedang kebingungan akan ekonomi yang mengimpitnya. Tanpa sadar terpikirkan untuk kembali bekerja. Apa lagi dirinya sempat mendapat kabar, jika klinik tempatnya bekerja dulu, sedang membutuhkan satu orang bidan.
Di tengah-tengah pikiran tersebut terdengar notifikasi pesan masuk di ponselnya. Segera saja wanita itu mengambil ponselnya yang tergeletak di atas laci meja kamarnya. Berharap sang suami yang mengiriminya kabar.
Akan tetapi, kecewa yang dia dapat. Saat nomor asing yang mengiriminya pesan. “Yah ... bukan dari Mas Bagas,” keluhnya.
Tak dihiraukannya pesan tersebut, namun lagi-lagi mengiriminya pesan hingga beberapa kali.
+62824××××
Bersenang-senang tanpa peduli akan keadaan istri dan anaknya
+62824××××
Entah kamu akan percaya atau tidak. Faktanya suamimu sedang menikmati hidupnya tanpa memikirkan kamu dan anakmu
+62824××××
Saya tidak bermaksud untuk ikut campur. Hanya saja, saya merasa kasihan ke kamu. Terlebih kali ini suamimu membuat saya rugi
+62824××××
Siapkan hati kamu untuk melihat foto ini ;)
Sontak saja tubuh Renata merosot tatkala kedua netranya melihat foto-foto yang dikirim orang asing itu. Perutnya mual, hatinya meradang, jantungnya bagai terhenti memompa, air mata sudah mulai berjatuhan.
Renata lagi-lagi dikecewakan untuk sekian kalinya.
*
*
*
Hai author balik lagi
Persiapkan hujatan kalian kepada Bagas yang lebih ganas di part selanjutnya yaa 🤭
Jangan lupa like, komen, dan vote sebanyak-banyaknya ya kakak semuaa 🥰
See you next chapter yang akan lebih gilaa 😘😘😘
aku harus nyetok kesabaran juga nih bacanya 🥲