"Apakah aku mulai mencintai gadis bodoh itu?" gumam sang pemuda dengan perasaan yang berdebar hebat.
Cinta Diantara Dua Mafia yang selalu terlibat cekcok tanpa ada niatan untuk saling membunuh, seiring berjalannya waktu semua terasa semakin dekat, semakin akrab, hingga pada akhirnya terkuak sebuah rahasia besar hingga memutuskan hubungan keduanya untuk menjadi asing lalu saling menjauh.
"Apa ini? Apa aku mulai jatuh cinta kepadanya? Pemuda sialan itu?" ucap sang gadis sembari menatap kepergian pemuda tampan nan gagah dari hadapannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NANAMHA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 19 - Nomor Asing
Seperti hari-hari biasanya, Adrian selalu menjemput Keisha setelah selesai urusan Sekolahnya. Sama seperti kemarin, pemuda itu sudah berada di depan gerbang DANGEROUS SMA untuk menjemput gadis yang sudah ia gandrungi sejak pertama bertemu.
Keisha tersenyum lebar ketika melihat Adrian sudah menunggunya, bersandar di kap mobil mewahnya. Tidak memungkiri jika teman-teman kelasnya ataupun yang sudah menjadi seniornya selalu memandang iri ketika Keisha dijemput oleh pemuda tampan dengan sebuah tumpangan Mercedes Benz mengkilat tersebut.
"Apa aku terlalu lama Kak?" sapa sang gadis merasa tidak enak. Adrian tentu saja menggelengkan kepalanya sambil tersenyum begitu manis.
"Ayo, kita berangkat sekarang." ajak sang pemuda seolah tidak sabar dengan rencana yang sudah ia persiapkan.
Sebelum memasuki jok kemudi, Adrian memutar langkahnya untuk membukakan pintu di jok samping kemudi. Tentu saja itu untuk Keisha. Maka, dengan senang hati gadis itu segera tersenyum kemudian masuk kedalam mobil.
Gangguan pikiran sejak semalam tentang ucapan Indira yang mengatakan bahwa Adrian telah menyembunyikan seorang kekasih darinya telah punah, dihancurkan dengan kenyataan yang ia hadapi saat ini. Sikap manis yang begitu membuainya.
******
Hari ini, Chris kembali mengambil beberapa baju indira yang bersih. Baju yang kotor dari Rumah Sakit akan ia laundry setelahnya. Sebuah benda pipih berwarna putih turut ia masukkan kedalam tas untuk ia bawa ke Rumah Sakit. "Pasti Kak Indira tidak akan bosan dengan PSP ini." ucap sang pemuda.
Ujian Sekolah yang membelenggunya beberapa hari ini sudah selesai hingga membuat pemuda tampan itu bisa menghela nafas dengan lega. Bisa menemani sang Kakak sepuasnya di Rumah Sakit tanpa terbebani Pekerjaan Sekolah yang tidak bisa di sepelekan.
Setelah merapikan seluruh barang yang hendak ia bawa, Chris kemudian mengutik gawainya untuk memesan sebuah taksi online. Sembari menunggu kendaraan yang ia pesan datang, Chris kemudian mulai mengulik sebuah nomor yang sejak beberapa hari terakhir masuk kedalam nomor di gawainya.
Nomor yang tidak di kenal oleh Chris. Nomor asing yang baru pertama kali menghubungi pemuda tampan tersebut. Pesan yang dikirim adalah sebuah pesan singkat yang merujuk pada sebuah peringatan. Seperti, "Jangan lupa makan!'', atau, "Jangan tidur terlalu malam, mata pandamu semakin terlihat."
Hati mungil sang pemuda tentu saja tersentil dengan perhatian kecil seperti itu. Hingga akhirnya, Chris memutuskan untuk membalas pesan yang sudah ia abaikan beberapa hari terakhir.
Chris. [Hallo, ini dengan siapa?]
Sapa sang pemuda dengan formalitas seadanya.
Hingga tidak perlu menunggu terlalu lama, rupanya nomor asing tersebut cepat memberikan sebuah balasan yang membuat sang pemuda bingung.
083850524425 [Ini aku.]
"Astaga! Apa dia tidak punya nama? Apa namanya adalah aku?'' kesal Chris membaca pesan tersebut.
Chris. [Aku siapa? Apa kamu tidak punya nama?]
0i3850524425 [Kamu tidak perlu tahu. Aku hanya pengagummu.']
"Oh My God! Apa-apaan? Pengagum? Aku masih kelas 6 SD! Mana ada pengagum?" hentak Chris dengan dada kembang kempis. Pengagum macam apa di jaman yang sudah modern ini?
"Dia tidak mengaku? Kenapa? Apa dia jelek dan aku tampan?" monolog Chris dengan rasa percaya dirinya yang tidak pernah hilang sejak dulu. Menggelengkan kepalanya, kemudian Chris kembali memasukkan gawai itu kedalam sakunya.
Memilih untuk tidak melanjutkan obrolan tidak penting seperti barusan, Chris kemudian beranjak untuk pergi meninggalkan kamar karena sebuah deru mobil sudah terdengar di luar rumah.
"DANGEROUS HOSPITAL."
******
Sedang di Rumah Sakit yang hendak di tuju oleh Chris, Aksa tengah memeriksa kondisi Indira seperti hari-hari biasa. Meski belum menyelesaikan kuliahnya, Aksa sudah bisa memiliki peranan penting di Rumah Sakit besar ini karena kecerdikan otaknya. Bahkan, pemilik Rumah Sakit tersebut justru meminta Aksa untuk bekerja disana, menjadi Dokter muda yang begitu hebat.
Cita-cita Aksa untuk menjadi seorang Dokter muda yang hebat tentu saja meraung, meminta untuk segera diwujudkan meski ia harus meninggalkan sebuah perusahaan besar yang sudah ia kelola beberapa tahun terakhir.
Tahu, menjadi seorang penerus nama Arion bukanlah hal yang mudah. Maka, menjadi seorang Dokter bagi Aksa adalah yang terbaik. Namun, tidak juga harus meninggalkan perusahaan yang sudah dibangun sang Ayah sejak awal hingga kini.
Meski begitu, Aksa benar-benar memikirkan tawaran yang menggiurkan baginya. Tidak menyandang nama Arion pun tidak apa, justru pemuda itu akan bebas dari belenggu dokumen-dokumen mematikan setiap malamnya, bebas dari belenggu rencana-rencana pilu untuk mengalahkan tender perusahaan saingannya, juga bebas dari belenggu-belenggu musuh seperti kemarin hingga menyebabkan korban banyak berjatuhan.
"Hah!" engah Indira berteriak membuat Aksa yang tengah melamun terperanjat kaget. Tangan kekar yang memegang gunting langsung terjatuh begitu saja ke atas lantai.
Melihat gunting, Indira kemudian melihat kearah lengannya. Rupanya, pemuda itu tengah mengganti perban kasa serta gips di lengannya dengan yang baru.
"Kamu dari mana? Kenapa lama sekali?" ucap Indira membuat Aksa mengurungkan niatnya untuk berkomentar tentang jantungnya yang seperti mau jatuh dari tempatnya.
Menghela nafas panjang, Aksa mencoba bersabar dengan pasiennya yang super menyebalkan ini. Mengingat, ia sendiri yang meminta kepada atasan Rumah Sakit untuk merawat Indira sepenuhnya sampai gadis itu keluar dari Rumah Sakit.
"Ada apa? Kamu merindukanku?"
"Apa katamu? Tidak akan aku melakukannya."
"Lalu?"
"Tenggorokanku kering. Ambilkan minum!" suruh Indira seenak jidatnya sendiri. Aksa hanya bisa kembali menghela nafas sembari menatap sorot mata sang gadis yang kini tengah mendengus kesal.
"Ini." memberikan segelas air putih yang berada diatas meja sejak pagi tadi.
"Bantu aku meminumnya. Aku tidak bisa melakukannya sendiri."
Terasa Aksa ingin mencekik saja leher sang gadis hingga gadis itu tidak bisa bernafas hingga mati tergeletak tak berdaya.
Namun, yang pemuda itu lakukan hanyalah bersabar. Kemudian, Aksa membuka laci meja untuk mendapatkan sebuah sedotan kecil untuk membantu Indira meminum air di gelas. Kemudian, pemuda itu duduk di sisi ranjang, mencoba membangunkan tubuh sang gadis agar air di dalam gelas tidak tumpah.
"Hah, leganya. Sejak tadi aku haus dan tidak ada yang datang kemari." lega sang gadis setelah menghabiskan satu gelas air mineralnya. Kembali berbaring, dan Aksa kembali berdiri sembari mengembalikan gelas di atas meja.
"Tidak usah banyak bicara, atau aku jahit mulut kecilmu itu!" jengah sang pemuda menghela nafas. Namun, gadis yang diomeli itu hanya mengendikkan bahunya tidak peduli.
"Apa lukamu sudah membaik? Sesekali gerakan tanganmu agar terlatih,"
"Kamu yang memeriksa luka ku setiap hari, kenapa bertanya kepadaku? Kalau digerakkan masih terasa sakit, bagaimana?"
"Itu artinya kamu belum sembuh, Stupid Girl!"
"Sudah ku katakan, jangan memanggilku seperti itu!''
"Karena memang kamu Stupid! You stupid ****!" ejek sang pemuda di akhir kalimatnya.
"**** You!!! Aku akan membunuhmu setelah ini!"
"Benarkah?"
"Hiyaakk!!!!" teriak Indira kemudian menendang bokong Aksa hingga pemuda itu menjerit tertahan.
"Akh! ****! Kamu membuatku patah tulang, Stupid Girl!" kesal CEO Arion Company tersebut
"Jika aku sudah sembuh, tidak hanya tulangmu yang aku patahkan!"
"**** you!"
"Kamu yang sialan!"
"Terserah! Aku tidak akan memperdulikanmu!" berucap sembari berlalu begitu saja, meneruskan pun akan percuma jika hanya saling meneriaki satu sama lain.
Meski kesal, namun Aksa tetap profesional terhadap pekerjaan yang ia tekuni saat ini. Yaitu, merawat Stupid Girl yang begitu menjengkelkan untuknya.
Seorang pemuda datang dengan tergopoh, membuka pintu secara brutal karena kedua tangannya sibuk menenteng berbagai barang bawaannya yang dikantongi kresek.
"Apa kalian sudah gila? Tidak punya malu?" cerocos pemuda itu sembari meletakkan barang-barangnya diatas sofa.
"Ada apa denganmu Chris? Masih ingat ada aku yang sekarat disini? Aku kira kamu sudah menemukan Kakak baru.'' sinis Indira menyambut kedatangan adik bungsunya.
"Sebenarnya, aku juga malas menengokmu Kak. Tapi, aku kasihan padamu. Siapa lagi kalau bukan Adikmu yang tampan ini?''
"**** you Chris!" maki sang gadis menatap kesal.
"Teriakan kalian berdua itu sampai di Loby depan. Apa tidak malu? Disangka ada KDRT didalam ruangan ini!" jelas Chris karena omelannya saat pertama kali datang tidak digubris oleh dua manusia mirip iblis dihadapan. Namun tetap saja, yang diomeli tidak akan memperdulikannya.
"Aku pulang dulu Chris. Jaga Kakakmu. Jika ada kendala apa-apa, panggil Dokter atau perawat yang berjaga." pesan Aksa sembari membereskan seluruh barang-barangnya.
"Pulang sana." gumam Indira dengan lirih. Meski begitu, Aksa tetap masih mendengar dengan jelas. Hanya saja, pemuda itu memilih untuk diam saja karena sudah sangat malas untuk berdebat.
"Kak Aksa tidak kembali lagi?" tanya Chris memastikan. Ada raut tidak enak di wajah tampan yang kini sedang ia tatap.
"Aku akan kembali jika Kakakmu itu sudah overdosis!" jawab Aksa tanpa menatap Chris, apalagi Indira.
Mendengar jawaban yang begitu menohok, Indira tentu kembali merasa kembang kempis. Matanya bahkan sudah membulat dengan sempurna. Ingin melempar sesuatu kepada sang pemuda karena ingin menendang seperti tadi pun rasanya tidak bisa, sebab pemuda itu sedang jauh dari jangkauannya.
Maka, ketika mata indah itu melirik kearah meja dan menemukan sebuah gawai tergeletak begitu saja, langsung meraih benda pipih tersebut dengan rasa muak dan emosi menggebu.
Melemparkannya kearah Aksa hingga tepat mengenai kepala sang pemuda dengan suara yang begitu nyaring ditelinga Chris.
"AAKKHHHH SIALAAANNN!!!!!" teriak Aksa mengerang, benar-benar merasakan kesakitan luar biasa.
"Kamu mau membunuhku, Stupid Girl? Hah! Mau membuatku gegar otak?'' bentak Aksa sudah merasa emosi di ubun-ubun.
"Itu akan lebih baik untuk dirimu." sahut Indira begitu santai tiada dosa. Padahal, dalam hati sudah bersorak dengan sangat riang dan merasa puas.
"Sudah, aku mau pulang!" hentak Aksa kemudian meraih tas dan ponselnya yang terjatuh diatas lantai, untung saja gawai itu tidak tercerai berai.
Chris hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan jengah. Melihat pemandangan seperti itu sungguh membuat jantungnya tidak terkontrol. Seperti ingin terjatuh dari tempatnya.
"Bagaimana keadaanmu Kak?" tanya Chris selepas kepergian Aksa.
"Baik-baik saja."
"Ujianmu bagaimana?"
"Baik juga."
"Apa kamu tidak mau bertanya kabarku Kak?" lanjut Chris membuat Indira melontarkan senyum sinisnya.
"Apa kamu melucu?"
"Barangkali kamu merindukan diriku." ucap Chris mengendikkan bahunya.
"Tidak akan."
Chris diam, tidak melanjutkan perdebatan tersebut karena kini pemuda itu sudah meraih PSP-nya dari dalam tas.
"Chris, kamu tidak memberitahu Ayah soal diriku bukan?" selidik Indira merasa cemas.
"Tidak."
"Baiklah, kamu cukup cerdas." lega sang gadis. "Kemarikan PSP-mu," lanjut Indira membuat Chris langsung melemparkan benda pipih tersebut.
Indira langsung menangkap benda tersebut dengan presisi. Sedang Chris kini sudah meraih sebuah kamera yang dulu ia selamatkan ketika Indira hendak tertabrak sepeda motor.
"Kak, aku foto ya?" pinta sang pemuda.
"Terserah kamu saja." tanggap Indira tanpa memandang sang adik yang kini sudah menangkap gambarnya.
Ketika tengah asik menangkap foto sang Kakak, ponsel di dalam sakunya bergetar, menandakan sebuah pesan singkat telah masuk kedalam nomornya.
083850524425 [Hai,]
Chris menggelengkan kepalanya membaca pesan dari nomor asing yang tadi sempat ia ulik.
Meletakkan kembali gawai tersebut diatas meja, Chris sama sekali tidak berniat untuk membalas pesan tersebut. Memilih untuk terus bermain dengan kamera tersayangnya.
"Besok masih masuk Sekolah?" tanya Indira disela kesibukannya bermain game.
"Tidak tahu."
"Bagaimana ujianmu?"
"Tadi kamu sudah bertanya Kak!" kesal Chris menurunkan lensa kamera diri pandangan mata. Setelah itu, ia kembalikan lagi lensa dihadapan matanya lalu mulai membidik wajah sang Kakak.
"Lulus, atau tidak?"
"Tidak tahu."
"Sekali lagi kamu berkata tidak tahu, aku lempar PSP-mu ini keluar jendela!" ancam Indira merasa gemas.
"Karena memang aku tidak tahu Kak!" pasrah sang pemuda.
BERSAMBUNG.....