Arien Riena Ridwanto menyembunyikan identitas sejatinya Kaisar Arbella J. Milea Inesh, penguasa Vinesha. Ratusan tahun ia hidup terpisah dari enam saudaranya, terus bereinkarnasi menggunakan segel sihir Mata Elang — menjadi bayangan mereka karena rasa bersalah masa lalu.
Di kehidupan ke-17 ini, ia hanya wanita biasa, istri dan ibu yang mencintai keluarga kecilnya. Namun ancaman terhadap Alan dan Arumie memaksanya membuka rahasia yang akan mengguncang dunia!
"Akulah asal mula semua yang telah terjadi. Akulah sang Pengendali...! sang Segel Elang…! Kaisar Suci Vinesha...! Kaisar Arbella!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arni Arlinawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
“Ateu!” seru Arien spontan.
Tebakannya benar. Sosok itu adalah Dila, adik kandungnya sendiri. Senyum Arien langsung mengembang. Rasa lelah dan kesalnya seketika menguap saat berjalan menghampiri Arumie dan adiknya yang tiba-tiba berkunjung. Bagi masyarakat Sunda, sudah menjadi kebiasaan bagi seorang ibu untuk menyamakan sebutan dirinya dengan panggilan sang anak. Arien sengaja memanggil adiknya dengan sebutan “Ateu” — Tante — agar Arumie terbiasa memanggil Dila demikian.
Arien segera mengambil alih Arumie ke dalam gendongannya. Dia membalikkan badan, menuntun ibu mertua dan adiknya untuk masuk ke dalam rumah.
Hayu Mah, Dila… mam heula abi tos masak!
"Ayo Mah, Dila… makan dulu, aku sudah masak!" ajak Arien ramah.
Rumie calik sareng Ateu nya!
"Arumie duduk sama Tante, ya!" ucap Arien lembut seraya menurunkan sang putri dari pangkuannya.
Arien kemudian melangkah cepat ke dapur untuk mengambil piring dan sendok dari rak. Kontrakan yang mereka tinggali memang tidak terlalu luas. Tidak ada ruang makan ataupun meja makan khusus di sana. Area dapur terlalu sempit untuk ditaruh perabotan besar. Alhasil, ruang tengah yang menjadi area terluas di rumah itu selalu disulap menjadi tempat makan lesehan bersama. Dengan telaten, Arien menyajikan semua masakan yang sudah dia siapkan tadi di atas lantai yang bersih.
Wah… aya sambel oge, enak!
"Wah… ada sambal juga, enak!" seru Dila refleks. Matanya berbinar kegirangan.
Dila memang paling tidak bisa menolak masakan kakaknya yang selalu menggugah selera. Apalagi jika menunya sudah dilengkapi dengan sambal terasi, tempe goreng, tahu goreng, dan ikan asin tandipang atau japuh. Dila dijamin akan makan dengan lahap sampai menambah porsi nasinya.
Nya sok mam… Kabeneran Teteh masak sambel karesep lin?
"Ya sudah, silakan makan… Kebetulan Kakak masak sambal kesukaanmu, kan?" sahut Arien sambil tersenyum melihat tingkah adiknya.
Arien kemudian menatap putri kecilnya.
Dede ge mam nya, dihuapan ku Mbu?
"Arumie juga makan, ya, disuapin sama Ibu?"
Arumie hanya mengangguk gembira. Bocah itu tampak senang karena bisa makan bersama dengan tantenya yang sudah lama tidak dia temui.
Sudah menjadi tradisi yang mengakar di lingkungan tempat tinggal Arien bahwa hidangan pendamping harus selalu ditemani oleh sambal. Bagi lidah masyarakat setempat, menu apa pun akan terasa berkali-kali lipat lebih nikmat jika ada sensasi pedas yang membakar lidah. Satu hal lagi yang tak boleh lewat: harus makan nasi. Belum bisa dikatakan “sudah makan” jika perut belum diisi nasi, meskipun mulut sudah mengunyah berbagai camilan berat sebelumnya.
Ibu mertua Arien mulai meraih sendok kayu untuk menyendokkan nasi hangat ke atas piringnya. Namun, gerakan tangannya mendadak terhenti. Beliau teringat pada anak laki-lakinya dan langsung menanyakan keberadaannya.
Rien… kamana si Aa? Tos uih damel na?
"Rien… ke mana Alan? Sudah pulang kerjanya?" tanya sang ibu mertua tiba-tiba.
Pertanyaan yang meluncur tak terduga itu seketika menghantam dada Arien. Kilasan tentang kebohongan Alan kembali berputar di kepalanya, menimbulkan rasa perih yang coba dia tahan kuat-kuat. Arien berusaha sekeras mungkin menjaga ekspresi wajahnya agar tetap tenang. Dia tidak ingin merusak suasana makan malam, apalagi membuat ibu mertuanya khawatir.
Lembur, Mah…
"Lembur, Mah…" jawab Arien singkat, mencoba tersenyum seadanya untuk menyembunyikan badai yang sedang berkecamuk di dalam hatinya.
...****************...
Waktu telah berlalu. Arien baru saja selesai mencuci beberapa piring bekas makan bersama ibu mertua, adik, dan anaknya. Untuk nasi dan lauknya sendiri, sudah Arien pisahkan lebih dulu di meja makan. Berjaga-jaga jika Alan, suaminya, tiba-tiba pulang ke rumah.
Sambil merapikan ruang tengah, Arien memasukkan satu per satu piring yang telah dikeringkan ke dalam rak. Ia kemudian mengambil beberapa potong buah melon dari dalam lemari pendingin. Potongan buah segar itu ia tata di atas dua helai piring kertas yang diambilnya dari dalam kantong plastik di bawah rak.
Dede Rumie... Dila... Yeuh aya melon, mbuu tadi meser heula uih damel!
"Ade Arumie... Dila... Nih ada melon, Mbu tadi beli dulu sepulang kerja!" seru Arien.
Arumie yang melihat ibunya membawa buah melon favoritnya langsung bangkit dan berlari menghampiri. Dila menyusul dari belakang, mengekor di sela langkah kecil keponakannya.
Asik... asik...! Aya melon...! Candak Ateu, mam-na di payun we sareng Ateu, dihuapan...!
"Asik... asik...! Ada melon...! Ambilin Tante, makannya di depan aja sama Tante, disuapin...!" celoteh Arumie gembira.
Arien sangat tahu tabiat anaknya. Jika sudah ada sang tante, Arumie pasti akan langsung manja dan meminta segala hal dilakukan bersama tantenya.
Candak dua nana yeuh, pang huapan keun si Dede! Teteh can beres beberes dapur na,
"Ambil dua-duanya nih, suapin aja Arumie-nya! Kakak belum beres beberes dapurnya," timbal Arien sambil menyodorkan piring kertas berisi melon kepada adiknya.
Nya...
"Iya..." jawab Dila.
Hayu, De... Di mana mam-na?
"Ayo, De... Di mana makannya?"
Di tengah kesibukannya, Arien sesekali melamun. Ia menggelengkan kepala sambil memegangi gelas plastik berisi air putih dengan ekspresi kesal. Pikirannya kembali melayang pada kejadian tadi siang, tepatnya setelah kedatangan rekan-rekan kerja Alan. Arien didera kebingungan yang teramat sangat karena sampai detik ini pun Alan sama sekali tidak menghubunginya.
Dila dan Arumie yang sedang asyik bermain ternyata menyadari perubahan sikap Arien. Melihat sang kakak terus berdecak kesal dengan raut wajah yang begitu serius, Dila akhirnya memutuskan untuk membawa Arumie keluar jajan. Ia ingin memberi ruang agar kakaknya bisa menenangkan pikiran sejenak.
Teh... Abi bade ngajak Arumie kaluar sakedap, bade jajan! Teteh bade nitip?
"Kak... Aku mau ngajak Arumie keluar sebentar, mau jajan! Kakak mau titip?" tanya Dila.
Arien mengangguk, menerima tawaran adiknya.
Usus garing we! Lima rebu eun dua bungkus! Tong di aida an! Atom hungkul!
"Usus goreng kering aja! Lima ribuan dua bungkus! Enggak usah pakai bubuk cabai! Bumbu penyedap aja!"
Dila mengangguk paham. Ia menyambar jaket Arumie yang menggantung di sisi jemuran luar rumah, memakaikannya ke tubuh mungil itu, lalu bergegas pergi menggunakan sepeda motornya.
Brummm...
Arien melambaikan tangan melepas kepergian Arumie dan Dila. Di dalam hati, ia tersenyum tipis menyadari betapa pekanya adik dan anaknya itu. Mereka tahu kapan harus memberikan ruang untuknya.
'Hah... Kalian memang peka ya! Dasar...' gumam Arien dalam hati setelah bayangan mereka hilang dari pandangan.
^^^Bersambung...^^^
kasian Bu haji ocoh😭😭
berarti masalahnya di situ.
si oenguasa gk seneng juga tuh pasti kalo ada yg nanya gitu.
tapi si Vano nemunya kok di TPS Singapura cincinnya?🤔🤔
reaksinya keras soalnya 😖