Indonesia
NovelToon NovelToon
Istri Manis Tuan Regan

Istri Manis Tuan Regan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Balas Dendam / CEO
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Romanova

Zara Adhitama, ia dijodohkan dengan seorang pria bernama Regantara Benedict. Seharusnya perjodohan itu dilakukan oleh saudari tiri Zara, yaitu Selene namun Selene menolak keras dengan alasan takut karena Regantara terkenal kejam. Pada akhirnya mau tak mau Zara lah yang dipilih untuk menikahi pria itu.

"Selamat datang, Nyonya Benedict." ucap Regantara saat itu.

Namun ternyata kehidupan baru tidak membuat Zara menjadi sosok yang lemah, saat Regantara pergi meninggalkannya di altar waktu itu dan tak terlihat di kediaman Benedict karena ia pergi melakukan perjalanan bisnis. Zara langsung memanfaatkan waktu kekosongan itu untuk membalas dendam pada Ibu tirinya dan tentu saja saudari tirinya yang tersayang.

Bagaimana kehidupannya Zara setelah ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Romanova, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Bagi Regantara Benedict, apa yang terjadi malam ini adalah murni soal harga dirinya yang telah terusik, bukan soal wanita itu.

Zara adalah wanita yang secara resmi menyandang nama Benedict dibelakang namanya sekarang. Di mata publik, menampar Zara sama saja seperti melayangkan pukulan langsung ke wajah Regantara sendiri.

Hendra, pria tua yang serakah itu telah melewati batasannya, ia pasti mengira ikatan darahnya dengan Zara akan memberinya hak untuk bertindak sesuka hati, tanpa sadar bahwa status Zara saat ini telah berubah menjadi istri Benedict.

Mengusik Zara sama saja dengan mengusik Benedict secara tidak langsung.

Regantara mengambil sapu tangan dari dalam saku kemejanya, lalu menyapu perlahan jemarinya seolah ia baru saja menyentuh sesuatu yang kotor.

"Jangan salah paham." ucap Regantara dengan suara yang dingin, matanya menatap tajam ke arah mata Zara yang mulai meredup.

"Aku tidak peduli seberapa rumit perselisihan keluargamu itu..." lanjut Regantara, sambil melangkah semakin dekat hingga bayangan tubuhnya menutupi sosok Zara sepenuhnya.

"Tapi saat kau melangkah keluar dari rumah ini dan membawa nama belakangku, setiap tamparan yang mendarat di pipimu adalah penghinaan terbuka untukku."

Regantara menyunggingkan senyuman culas seorang penguasa yang tidak akan mentolerir sedikit pun kelancangan yang ditujukan padanya.

"Hendra Adhitama pikir dia sedang memberi pelajaran pada anaknya yang membangkang, kan? Tapi sayang sekali, kau bukan lagi ada di bawah naungan Adhitama..." bisik Regantara di dekat telinga Zara. "Esok pagi, aku akan memastikan dia paham, bahwa barang yang sudah berpindah tangan ke dalam cengkeramanku tidak boleh disentuh oleh siapa pun. Bahkan oleh orang yang melahirkannya sekalipun." ucapnya.

Regantara berbalik sambil melemparkan sapu tangan itu ke atas pecahan vas yang berserakan di lantai, lalu melangkah pergi menyusuri lorong yang gelap tanpa menoleh lagi.

Zara berdiri membatu di tempatnya.

Senyuman tipis yang sarat akan kepahitan perlahan terukir di bibirnya.

Ya, ia tahu betul.

Di dunia yang kejam ini, perlindungan yang ia dapatkan dari pria itu bukanlah berasal dari cinta, melainkan dari ego sang penguasa.

Begitu langkah tegap Regantara menghilang di balik lorong, Zara baru bisa menghembuskan nafasnya.

"Nyonya."

Suara parau yang penuh kekhawatiran itu terdengar. Bibi Tara berlari kecil menghampiri Zara, dengan ekspresi yang tampak cemas.

Ia mengabaikan pecahan vas di lantai dan langsung merengkuh bahu Zara dengan sangat lembut.

"Astaga, Nyonya... Mari, Nyonya, ikut Bibi. Kita kompres lukanya dulu di kamar." bisik Bibi Tara, matanya berkaca-kaca saat melihat luka memar yang tercetak jelas di pipi kiri Zara.

Sentuhan Bibi Tara begitu berbeda.

Tidak seperti Regantara yang terasa mengintimidasi tadi, dan juga tidak seperti Roselin yang beracun atau tidak seperti keangkuhan Hendra.

Sentuhan wanita itu murni dari rasa iba dan kehangatan seorang ibu, sesuatu yang sudah sangat lama tidak dirasakan oleh Zara.

"Bibi..." suara Zara terdengar sangat pelan.

"Iya, Nyonya. Bibi di sini." sahut Bibi Tara dengan lembut sambil menuntun Zara pelan-pelan melewati puing-puing vas, menuju kamar utama di lantai atas.

"Tuan memang terlihat sangat galak dan menakutkan kalau sedang marah besar seperti tadi. Tapi Bibi tahu, hati Nyonya pasti jauh lebih sakit dari ini. Jangan ditahan ya, Nyonya."

Sambil berjalan menyusuri tangga, Zara hanya bisa menunduk. Setidaknya ada Bibi Tara yang akan selalu menjadi kehangatan untuk Zara.

Di ruangan lain.

PRANG!

Gelas kristal melayang dan menghantam dinding di ruang kerja pribadi Regantara.

Sisa cairan wiski berwarna keemasan menyiprat ke segala arah, hingga mengalir turun bersama pecahan kaca yang berserakan di atas karpet.

Alaric yang berdiri beberapa langkah di depan meja kerja tuanya bahkan tidak berani untuk mengedipkan matanya. Pria itu tetap berdiri tegap dengan posisi tegak, meski ia sadar bahwa tuannya sedang berada di puncak emosi.

Regantara menyandarkan punggungnya ke kursi, urat-urat yang menonjol di lengannya tampak begitu tegang. Tatapannya lurus menatap titik kosong di mana gelas itu baru saja hancur.

"Hendra Adhitama..." desis Regantara.

Ia menuangkan kembali wiski dari botol kaca yang berada di atas meja, dan langsung menenggaknya habis tanpa menggunakan gelas.

Rasa terbakar yang menjalar di tenggorokannya sama sekali tidak mampu meredakan gejolak emosi yang menguasai dadanya saat ini.

"Semua dokumen aset atas nama Isabella Adhitama sudah siap, Tuan." ujar Alaric dengan nada datar.

Regantara meletakkan botol wiski itu dengan suara keras.

"Ubah rencananya, Alaric." perintah Regantara dingin.

Alaric sedikit menaikkan alisnya.

"Tuan?"

"Bekukan lebih dulu dana ke Adhitama, dan katakan jika ia ingin dana itu kembali cair maka ia harus menyerahkan aset atas nama Isabella kepadaku."

.

Keesokan paginya, Zara bangun terlambat karena kelelahan malam tadi. Bekas memar di pipi kirinya juga sedikit memudar berkat kompresan dari Bibi Tara semalam, meski rasa ngilu tipis itu masih tersisa saat ia menggerakkan rahangnya.

Ponselnya bergetar pelan.

Zara menyentuh tombol hijau dan menggesernya.

"Halo, Paman Arya?"

"Zara... maafkan Paman, tapi aset atas nama Ibumu sudah diambil alih oleh pihak lain." ucap suara di seberang sana.

Suara Pak Arya dipenuhi dengan nada penyesalan dan kepanikan.

"Apa maksud Paman?" tanya Zara. "Aset Ibu? Bukankah seluruh dokumen jaminan dan sertifikatnya masih tertahan di bawah nama Adhitama Corp? Bagaimana mungkin ada pihak lain yang bisa mengambil alih tanpa persetujuan Hendra Adhitama."

"Itulah masalahnya, Zara." potong Pak Arya cepat dengan napas terengah. "Ini bukan tindakan penyitaan paksa dari bank atau lelang eksekusi. Pagi ini, sebuah firma hukum bayangan melampirkan berkas pengalihan kepemilikan yang sangat legal dan sempurna tanpa celah. Hendra Adhitama sendiri yang menandatangani dokumen penyerahan sukarela itu demi suntikan modal segar jam delapan pagi tadi!"

Jantung Zara berdegup kencang.

Pihak lain? Firma hukum bayangan? Penyerahan sukarela dari Hendra Adhitama?

Mata Zara menyipit tajam.

"Aku akan memastikan dia paham... bahwa barang yang sudah berpindah tangan ke dalam cengkeramanku tidak boleh disentuh oleh siapa pun."

Zara menghembuskan napasnya pelan, ia menggenggam ponselnya lebih erat.

"Paman Arya, siapa nama lembaga atau pihak yang memegang berkas pengalihan aset Mama sekarang?" bisik Zara.

Pak Arya terdengar menghela napas panjang, ia membalikkan lembaran kertas dokumen yang baru saja ia terima pagi ini.

"Zara..." suara Pak Arya terdengar serak, dipenuhi keraguan. "Pihak yang mengambil alih semua aset mendiang Ibumu bukan instansi sembarangan. Mereka menggunakan entitas anak perusahaan Martinez Holdings."

Zara menyipitkan matanya, nama itu terasa tak asing baginya.

"Dan Paman tahu siapa pemilik utama di balik perusahaan itu?" tanya Zara, meski hatinya sudah meyakini sebuah nama.

"Regantara Benedict. Ia membeli seluruh aset peninggalan Ibumu langsung dari tangan Hendra Adhitama satu jam lalu. Hendra terdesak karena seluruh jalur banknya dibekukan secara misterius tadi malam, jadi dia menandatangani penyerahan aset Ibumu sebagai jaminan kompensasi. Secara hukum, sekarang suamimu yang memegang kendali mutlak atas seluruh peninggalan Isabella."

Jantung Zara berdegup kencang, sambungan telepon itu perlahan ia putus setelah mengucap terima kasih singkat pada Pak Arya.

Regantara ternyata tidak sekadar menghancurkan bisnis Hendra.

Namun, tindakan Regantara ini bagai pisau bermata dua bagi Zara.

Di satu sisi, aset ibunya kini lepas dari cengkeraman licik Hendra dan Roselin.

Tapi di sisi lain, seluruh warisan ibunya kini berada di bawah genggaman penuh Regantara, pria yang tidak pernah melakukan apa pun tanpa imbalan yang sepadan.

1
jenny
coba Zara dibawa sama kakek Sehari... kira² Regan kelabakan gak tuh?? 😄
Ipan Pratama
menarik
Ipan Pratama
lanjut dong thorr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!