Indonesia
NovelToon NovelToon
Kontrak Rahasia Sang Istri

Kontrak Rahasia Sang Istri

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:241
Nilai: 5
Nama Author: fareva

Dila harus menjadi pendamping Azam dan merahasiakan hubungan mereka dari siapa pun.

Awalnya Dila mengira semuanya hanya tentang uang. Namun, semakin ia mengenal Azam, semakin banyak kejanggalan yang muncul.

Mengapa Azam memilih dirinya?

Dari mana pria itu mengetahui kehidupan Dila?

Dan mengapa ia memiliki foto masa lalu Dila?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18 — Jejak Ban di Tanah Basah

Dilla tidak tidur semalaman.

Sejak kedipan lampu mobil di seberang sawah itu hilang ditelan gelap, matanya tidak bisa terpejam. Di kepalanya berputar terus kalimat itu: Jangan biarkan Dilla membaca halaman terakhir.

Fadil terbangun jam empat subuh karena bahunya yang memar berdenyut. Ia melihat istrinya masih duduk di tepi ranjang, memeluk buku hitam Larasati, menatap jendela yang sama.

"Sayang, kamu belum tidur sama sekali?" bisik Fadil pelan, suaranya serak.

Dilla menggeleng tanpa menoleh. "Mas, kalau dia memang ayah kandungku... kenapa dia pergi lagi? Kenapa cuma kasih kode lampu? Kenapa tidak masuk dan peluk aku?"

Fadil duduk di sampingnya dan merangkulnya dengan satu tangan yang masih sehat. "Mungkin dia takut kamu belum siap. Atau mungkin... dia takut kamu benci dia."

"Benci? Kenapa aku harus benci dia?"

Fadil tidak menjawab. Ia hanya mengusap rambut istrinya. Ia tahu, kebenaran tentang Mahendra yang akan Dilla ketahui nanti akan jauh lebih menyakitkan daripada sekadar ditinggalkan.

Azan subuh berkumandang dari mushola kecil di ujung desa. Embun masih tebal.

Tanpa kata, Dilla berdiri, memakai sandal jepitnya, dan berjalan keluar rumah.

"Sayang, mau ke mana?" Fadil langsung ikut, meski bahunya nyeri.

Dilla tidak menjawab. Ia berjalan lurus ke arah sawah, ke tempat di mana semalam mobil hitam itu terparkir. Tanahnya masih basah dan becek karena embun.

Di sana, jejak ban mobil itu masih jelas. Dua garis panjang yang masuk ke pematang dan keluar lagi.

Fadil menyusul dengan napas terengah. "Dilla, pelan-pelan, licin."

Dilla berjongkok di ujung jejak ban itu. Di sana, di atas batu pematang, ada sesuatu yang tidak ada semalam.

Sebuah amplop cokelat kecil, sudah sedikit basah oleh embun, ditindih dengan sebuah batu agar tidak terbang tertiup angin.

Jantung Dilla berdegup kencang.

Ia mengambil amplop itu dengan tangan gemetar.

Fadil berjongkok di sampingnya. "Dari dia?"

Dilla membuka amplop itu. Di dalamnya hanya ada dua benda.

Pertama, sebuah foto polaroid lama yang sudah agak pudar. Foto Larasati yang masih sangat muda, mungkin seusia Dilla sekarang, sedang tertawa lepas sambil memegang perutnya yang sedikit membuncit. Di sampingnya, seorang pria muda yang tampan — bukan Jatmiko, bukan Rangga — memeluk Larasati dari belakang dengan wajah yang penuh cinta. Di belakang foto tertulis dengan spidol: Laras & Mahendra - 3 bulan sebelum Dilla ada. 1988.

Dilla menutup mulutnya, air matanya langsung tumpah. Ini pertama kalinya ia melihat ibunya tertawa sebahagia itu.

Benda kedua adalah selembar kertas sobekan kecil, tulisan tangannya bergetar, seperti ditulis terburu-buru di dalam mobil yang gelap.

Dilla,

Maafkan Ayah. Ayah terlambat 28 tahun.

Semalam Ayah lihat kamu di jendela. Kamu mirip sekali ibumu. Cantik, pemberani.

Ayah belum berani masuk karena Ayah belum pantas dipanggil Ayah. Ayah yang buat ibumu menderita.

Jaga buku ibumu baik-baik. Jangan buka halaman terakhirnya sebelum kita bertemu langsung. Tolong. Itu permintaan terakhir ibumu padaku dulu.

Kalau kamu butuh Ayah, Ayah ada di Jakarta. Di alamat yang ada di kartu nama itu.

Jaga Arif baik-baik. Anakmu dalam bahaya karena darah Ayah.

- M

Tangan Dilla gemetar hebat hingga kertas itu hampir jatuh ke lumpur. Fadil dengan sigap menangkapnya.

"Mas... ini tulisan ayah kandungku..." isak Dilla pecah. Untuk pertama kalinya, ia menangis bukan karena bingung siapa dirinya, tapi karena rindu pada seseorang yang bahkan belum pernah ia temui. "Dia di sini semalam, Mas... dia nungguin aku..."

Fadil tidak berkata apa-apa. Ia hanya memeluk istrinya yang terduduk di pematang sawah yang becek itu, membiarkan punggung istrinya terguncang hebat. Ia tahu, pelukan adalah satu-satunya bahasa yang Dilla butuhkan pagi ini.

Sementara itu di dalam rumah, Azam dan Jatmiko tidak tidur sama sekali.

Laras datang dengan laptopnya, wajahnya tegang. "Pak Azam, Pak Jatmiko, dapat."

Azam langsung berdiri. "Arif?"

"Bukan Arifnya, Pak. Mobilnya. CCTV warung di pertigaan Karangrejo merekam mobil penyerang semalam jam 02.14 pagi. Masuk ke arah gudang penggilingan padi tua. Gudang yang sudah kosong 15 tahun."

Jatmiko yang mendengar kata gudang penggilingan padi langsung pucat pasi. Cangkir teh di tangannya jatuh dan pecah.

"Gudang itu..." bibir Jatmiko bergetar. "Gudang tempat Ayah disekap 11 tahun... Suryanto tahu tempat itu. Hanya dia dan ayahku yang tahu tempat itu."

Bu Ratih yang sejak tadi diam di sudut ruang tamu, mendengar itu langsung menangis dan berdiri.

"Biar saya yang ke sana," kata Bu Ratih dengan suara serak. "Suryanto masih dengar omongan saya. Dulu saya yang urus makannya waktu dia jadi sopir. Biar saya jadi umpan."

"Tidak, Bu!" Sekar langsung menahan tangan ibunya. Untuk pertama kalinya, Sekar — yang selama ini antagonis — berdiri di pihak Dilla. "Biar aku yang pergi. Suryanto kenal aku. Dia tidak akan curiga kalau aku yang datang bawa buku."

Azam menatap Sekar dengan tajam. "Kamu yakin? Ini berbahaya."

Sekar mengangguk, air matanya jatuh. "Selama ini aku jahat sama Dilla karena aku pikir Dilla mau rebut warisan ayahku. Ternyata... Dilla bahkan bukan pewaris Wiratama. Dilla pewaris Mahendra. Ayahku yang merebut harta ayah Dilla. Aku... aku harus tebus dosa ayahku, Pak Azam."

Di luar, Dilla dan Fadil kembali ke rumah dengan amplop basah di tangan. Wajah Dilla sembab, tapi sorot matanya sudah berbeda. Tidak lagi bingung. Ada tekad.

Azam melihat amplop itu. "Dari dia?"

Dilla mengangguk dan menyerahkan surat itu pada Azam dan Jatmiko. Jatmiko membacanya, lalu memejamkan mata, air matanya jatuh.

"Mahendra..." bisik Jatmiko. "Dia masih dengan kebiasaannya... nulis surat pendek kalau takut..."

Pranoto yang membaca surat itu dari belakang, menarik napas panjang. "Dia tidak pergi jauh. Dia masih di sekitar sini. Dia menunggu Dilla siap."

Dilla menggenggam foto ibunya yang sedang tertawa itu erat-erat.

"Mas," Dilla menatap Fadil.

"Ya, Sayang?"

"Kita harus selamatkan Arif dulu. Setelah Arif selamat... kita ke Jakarta. Aku mau bertemu ayah kandungku. Aku mau tanya langsung, kenapa dia biarkan Ibu meninggal sendirian."

Fadil mengangguk mantap, meski bahunya masih sakit. "Kita jemput Arif dulu. Sama-sama."

Jatmiko berdiri dan mengambil jaketnya. "Ayah ikut. Ayah tahu seluk-beluk gudang itu. Ada pintu belakang yang bahkan Suryanto tidak tahu."

Azam mengambil kunci mobil. "Kita berangkat sekarang. Laras, kamu di sini jaga Bu Ratih. Sekar ikut kami."

Dilla memasukkan buku hitam Larasati dan foto Larasati-Mahendra ke dalam tas kainnya. Buku itu terasa berat, bukan karena fisiknya, tapi karena isinya yang belum selesai.

Di dalam tas itu, halaman terakhir yang disobek masih ia simpan. Belum ia baca. Sesuai permintaan dua ayah — Jatmiko yang membesarkannya dan Mahendra yang baru saja meninggalkannya jejak ban di sawah — ia belum membukanya.

Tapi di dalam hatinya, Dilla tahu. Cepat atau lambat, halaman itu harus ia buka. Karena di halaman itulah tertulis jawaban kenapa darahnya dikejar-kejar selama 28 tahun.

Dan pagi itu, dengan mata sembab dan kaki yang masih belepotan lumpur sawah, Dilla, Fadil, Jatmiko, Azam, dan Sekar berangkat bersama menuju gudang tua tempat Arif disekap — gudang yang sama tempat Jatmiko disekap 11 tahun lalu.

Di belakang mereka, dari kejauhan, mobil sedan hitam semalam kembali mengikuti pelan, menjaga jarak.

Mahendra belum pergi. Ia masih menjaga anaknya dari jauh.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!