Di rumah dia hanyalah ibu rumah tangga biasa, wanita lembut yang sayang anak dan cekatan mengerjakan pekerjaan rumah tangga.
Namun, bagaimana bila ternyata dia menyimpan rahasia yang tak biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#19
#19
“A-ap-apa?” gumam Lizie datar, jujur amat sangat terkejut, meski di dalam pikirannya semua kemungkinan masih saling bersahutan.
“Dari pihak kami belum berani memastikan, hanya saja, laporan terakhir dari rekan satu tim yang bekerja bersamanya, saat ledakan terjadi, Komandan Zion ada di dalam gudang senjata, yang disamarkan sebagai kantor ekspedisi.”
Deg!
Deg!
Air mata Lizie mengalir, apa ini? Sepanjang ia menjalani pernikahan dengan suaminya, baru kali ini ia mendengar bahwa suaminya mengalami keadaan yang sungguh belum sanggup dibayangkan olehnya? Semuanya masih belum pasti.
“Tidak, ini tidak mungkin,” gumam Lizie.
Wanita itu terduduk, mendadak kilasan demi kilasan masa lalu berputar di kepalanya. Apakah semesta memang tak merestui dirinya untuk hidup normal? Seperti layaknya para wanita yang memang dikodratkan sebagai istri dan juga ibu? Kenapa hanya dirinya saja yang mengalami nasib seperti ini?
Impian Lizie hanya satu, menjadi wanita biasa, normal, menjalani peran sebagai ibu dan sebagai istri, apakah itu salah? Kenapa keluarga Romanov tak bisa membiarkannya pergi begitu saja? Toh selama ini ia juga diam, tak satu rahasia pun yang keluar dari mulutnya, tapi mereka terus saja mengusik ketenangannya, dan kini suaminya—
Lizie masih duduk meringkuk, menangis meratapi kerasnya jalan hidup yang harus ia lalui untuk bisa sampai di kehidupan normalnya saat ini.
Tiba-tiba pintu depan terbuka, nampak Mommy Dhera datang dengan nafas memburu, wajahnya basah bersimbah air mata sama seperti menantunya.
“Sayang—” Mommy Dhera buru-buru datang setelah mendapatkan kabar langsung dari atasan Zion, tentang kabar ledakan itu.
“Mommy—”
Mommy Dhera melangkah mendekati Lizie yang duduk menangis pasrah seorang diri, lalu memeluknya erat-erat.
“Mommy, aku harus gimana?” Raungan Lizie semakin keras, tangisan pasrah seolah tak tahu lagi harus berbuat apa.
“Ssshhtt, masih ada Mommy, ada Daddy, kami akan selalu bersamamu, hmm? Kamu tak sendirian,” bisik Mommy Dhera sedikit terbata.
Sekarang dirinya pun merasakan, mungkin ibunya dulu juga was-was setiap kali ia terjun ke lapangan menjalankan tugas, bertaruh nyawa yang mungkin bisa melayang kapan saja. Tapi Tuhan masih melindunginya hingga saat ini.
“Zion akan selamat, kan, Mom?”
“Pasti, Mommy yakin, anak Mommy akan baik-baik saja. Sejak dalam kandungan Zain dan Zion, sudah terbiasa berhadapan dengan bahaya, meski Mommy harus bertaruh nyawa demi mereka. Tapi, mereka juga yang membuat Mommy kuat sampai sekarang, yakin bahwa kedua jagoan Mommy adalah pria-pria luar biasa.”
Mommy Dhera terus memberikan dukungan, serta semangat, ia tak mau melihat menantunya patah semangat, atau sampai hilang arah hanya karena berita yang belum pasti.
Untung saja Zea masih di sekolah, jika tidak, mungkin gadis kecil itu akan ikut menangis histeris serta turut menanyakan kabar papanya. “Jangan buru-buru percaya— Mommy yakin akan ada keajaiban, pasti ada keajaiban.”
Pelukan mommy Dhera terlepas, lalu mengusap kedua pipi Lizie yang basah bersimbah air mata. “Daddy langsung ke markas AG untuk berkoordinasi, dan kemungkinan malam ini juga mereka akan terbang ke Rusia untuk memastikan keadaan Zion saat ini.”
Mendengar kabar tersebut, Lizie seketika mendongak, menatap wajah sang mertua dengan penuh harap. “Mom, bolehkah aku ikut bersama mereka?”
Pertanyaan itu, membuat Mommy Dhera terhenyak sejenak, ia tahu menantunya pernah tinggal dan bekerja di sana, tapi masalah ini bukanlah masalah yang bisa diselidiki masyarakat awam.
Perlu strategi, perlu ketrampilan di bidang militer, dan yang pasti hanya agen intelijen negara yang bebas melakukan penyelidikan, karena Zion terdaftar sebagai anggota pasukan khusus.
“Tidak, sampai kapanpun, Mommy tidak akan mengizinkan anak perempuan Mommy, pergi le rimba hutan belantara tempat para penjahat bersarang!” tolak Mommy Dhera dengan tegas, ia pernah merasakan, mengalaminya sendiri, dan yang pasti ia sudah sangat yakin dengan kemampuan yang dirinya miliki pada saat itu.
Tapi Lizie?
Menantunya ini, wanita yang sangat lembut dan keibuan, bagaimana mungkin Mommy Dhera tega melepaskan kepergiannya tanpa Ziom disisinya?
“Mom, please—” Lizie terus memohon, namun, Mommy Dhera tetap tegas menggeleng.