Tiga tahun sejak munculnya Dewa Tertinggi Deus, Dungeon, Artifact, dan The Chosen, bumi yang dulunya damai kini menjadi tempat yang penuh dengan persaingan dan kekacauan.
Ananda Dika atau yang sering dipanggil Dika ini hanyalah pemuda biasa dengan serba keterbatasan, yang berusaha keras untuk bertahan hidup sebagai Dungeon Porter.
Keseharian Dika dilalui dengan mengumpulkan Artifact yang The Chosen dapatkan setelah berhasil membunuh monster di dalam Dungeon. Pekerjaannya ini tergolong cukup sangat berbahaya karena nyawanya bisa saja melayang jika disergap oleh monster.
Suatu hari, peristiwa yang sangat Dika tidak inginkan pun terjadi, ia harus terjebak di dalam Dungeon yang muncul secara tiba-tiba tanpa bantuan seorang pun. Dengan tekad, pengetahuan, serta sifat pantang menyerahnya, ia berhasil keluar hidup-hidup dari Dungeon sebagai manusia biasa.
Lalu ternyata takdir memberinya kesempatan, Dika akhirnya menjadi seorang The Chosen, dan dari sinilah lembaran barunya terhampar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xyle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 19 - Menukar Artifact.
“Fatal Throw.”
Dika melempar batu di tangannya ke arah salah satu Hurl yang berada di kerumunan, hanya dengan satu lemparan ia berhasil menghasilkan lubang di kepala monster itu. The Chosen lain yang melihat kekuatannya sangat terkesan dengan betapa kuatnya dampak dari serangan itu walaupun hanya menggunakan sebongkah batu.
Akan tetapi, karena perbuatannya itu cukup mencolok, Dika akhirnya mulai dikenali oleh The Chosen yang ada di sekitar Snatcher Temple, dan lagi-lagi ia lebih dikenal dengan kesan buruknya sebagai seorang penyuap.
‘Jika bukan karena rasa kemanusiaan, aku akan memecahkan kepala orang yang menyebarkan rumor ini.’
Dika mengambil lebih banyak batu dan menghabisi lebih banyak Hurl yang saat ini sedang melempari dirinya dengan benda yang sama. Ia memang memiliki Skill lain untuk menyerang seperti Dark Arrow, tapi ia tidak ingin menggunakannya di depan umum, kecuali dalam keadaan tertentu.
“Kau butuh bantuan? Aku dapat menggunakan kemampuanku untuk menghabisi makhluk mengerikan ini.” Diana menawarkan bantuannya.
Dika masih sempat mengirimkan jempolnya pada Diana. “Sepertinya untuk saat ini tidak perlu, aku dapat mengatasi mereka semua.”
Kepercayaan diri Dika bisa dibilang cukup tinggi jika ia harus menghadapi segerombolan Hurl, tapi ia tetap waspada karena tidak ingin menarik terlalu banyak perhatian dari monster pengecut ini.
Satu demi satu Hurl berhasil Dika tumbangkan dengan menggunakan variasi Skill yang ia miliki, dan yang cukup sering ia andalkan adalah Non Physical. Alasannya karena Skill Non Physical ini memungkinkan dirinya untuk menghindari batu-batu yang dilemparkan oleh Hurl jika ia tidak sempat menghindar.
“Tidak kuduga Skill yang awalnya hanya ditujukan untuk santet ini dapat bermanfaat dengan sangat baik dalam pertarungan.” Dika bergumam dan melemparkan batu dengan Fatal Throw pada Hurl terakhir.
Diana melayang ke arah mayat Hurl terakhir yang Dika habisi karena matanya sekilas menangkap benda terjatuh dari mayat monster tersebut.
“Dika lihat ini. Monster ini menjatuhkan sebuah bola.” Diana menunjuk bola kristal di sebelah mayat Hurl.
Dika langsung bergegas untuk mengambil bola kristal yang dimaksud oleh Diana karena ia memiliki firasat jika benda itu adalah sebuah Artifact. Sama seperti The Chosen kebanyakan, begitu ia mengambil bola kristal yang dijatuhkan oleh Hurl terakhir, sebuah layar muncul di hadapannya.
[Elemental Crystal Orb]
Elemental Ball: Menembakkan bola dengan elemen yang disesuaikan pada kecocokan pengguna tanpa menguras Mana. Dapat dipakai kembali setelah 30 menit.
Absorb Magic: Membentuk pembatas di sekeliling pengguna untuk menyerap serangan sihir yang datang, hingga batas tertentu.
Sebuah bola kristal dengan berbagai elemen tersimpan di dalamnya, kristal ini mampu meningkatkan Kecerdasan dan Kebijaksanaan ketika berada di tangan pengguna. Bola Kristal ini juga memiliki kemampuan untuk menembakkan bola elemen dan menyerap serangan sihir hingga batas tertentu.
[•••]
“Hm ... ini tidak buruk, aku tidak akan menduga jika Artifact tingkat bawah ini akan jatuh dengan cepat.” Dika mengamati Elemental Crystal Orb lebih dekat.
Artifact tidak dapat jatuh dengan mudah pada monster biasa, karena umumnya monster biasa hanya akan menjatuhkan Mana Orb yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan. Namun, dalam kasus Dika kali ini, ia tidak mendapatkan satu pun Mana Orb setelah menghabisi segerombolan Hurl, tapi untungnya ia berhasil mendapatkan sebuah Artifact tingkat bawah.
“Bagaimana? Apakah benda itu bermanfaat?”
“Ini cukup bagus untuk digunakan pada The Chosen tanpa kemampuan bela diri seperti diriku. Apa kau ingin memegangnya?”
“Apakah boleh?”
“Tentu saja.”
Menggunakan Skill Non Physical, Dika membuat Elemental Crystal Orb di tangannya kehilangan fisiknya lalu menyerahkan bola kristal itu pada Diana.
Ketika Diana menyentuh Elemental Crystal Orb, ia dapat merasakan jika bola kristal itu dipenuhi oleh energi. Tidak lama kemudian bola kristal itu mengeluarkan cahaya biru dan berkedip beberapa kali sebelum akhirnya berhenti.
“Bola kristal ini sepertinya sangat cocok denganmu.”
“Secocok apa pun bola kristal itu denganku, akan sia-sia saja jika aku tidak bisa menyentuhnya.” Diana menyerahkan kembali Elemental Crystal Orb kepada Dika.
“Kau benar.” Dika menerima kembali Elemental Crystal Orb dan menyimpannya ke dalam ransel agar tidak terlalu menarik perhatian. “Jika Skill milikku ini tidak terbatas oleh Mana, aku pasti akan memberikan bola kristal itu padamu.”
Skill yang Dika maksud adalah Non Physical, Skill yang dapat mengubah apa pun menjadi sesuatu menjadi kehilangan fisiknya, yang menyebabkan hal itu menjadi tidak dapat tersentuh oleh makhluk hidup.
(Skill Non Physical ini memiliki cara kerja yang sama dengan Kamui dari mata kanan Uchiha Obito, yang mengirim sesuatu ke dimensi lain dan tetap terlihat dalam pandangan seseorang.)
“Aku tidak akan begitu berharap, tapi berjuanglah.” Diana sebenarnya ingin mengatakan hal yang sebaliknya.
Dika kemudian mulai mengumpulkan Greenish Hurl Scale dari mayat Hurl yang ada di tanah agar Quest yang ia ambil dapat diselesaikan. Ia harus berhati-hati saat memisahkan Greenish Hurl Scale karena jika sisik itu rusak, maka ia tidak dapat menyerahkannya kepada pembuat Quest.
Butuh beberapa waktu bagi Dika untuk memisahkan Greenish Hurl Scale dari mayat Hurl yang ia bunuh, dan karena ia butuh lebih dari 10 sisik, maka ia harus menghabiskan waktu lebih untuk itu.
Waktu dengan cepat berlalu jika seseorang sangat fokus dengan sesuatu yang mereka kerjakan, Dika yang saat ini tengah mengumpulkan Greenish Hurl Scale kedelapannya dihampiri oleh lima orang dengan peralatan yang cukup baik.
“Hei, namaku Raihan Adam, maaf mengganggu waktumu.”
Dika menghentikan pekerjaannya sejenak untuk berbicara pada orang yang baru saja menegurnya itu.
“Panggil saja Dika, apa ada yang bisa aku bantu?”
“Begini, salah satu temanku ini melihatmu mendapatkan Elemental Crystal Orb dari membunuh Hurl. Jadi aku ingin membelinya darimu dengan harga yang sesuai.”
Meskipun itu merupakan kabar baik, tapi saat ini Dika tidak memiliki rencana untuk menjual Artifact yang belum lama ini ia dapatkan.
“Maaf aku tidak bisa menjualnya, tapi aku dapat menukarnya dengan Artifact yang setara atau sedikit lebih rendah berupa pisau.”
Dika mungkin tidak begitu membutuhkannya dalam melakukan penyerangan pada monster, sebab ia lebih memilih untuk melakukan serangan jarak jauh dibandingkan serangan jarak dekat. Ia menginginkan Artifact berbentuk pisau, karena benda itu ia butuhkan untuk berurusan dengan mayat monster yang ia bunuh.
“Kalau begitu kebetulan, aku baru saja mendapatkan Artifact itu.” Raihan Adam mengeluarkan sebuah pisau berwarna biru dengan gagang yang terlihat kokoh.
“Boleh aku melihatnya?” Dika ingin tahu seberapa baik pisau yang ada di tangan Raihan Adam.
“Tentu.”
[Blue Iron Knife]
Sharpening: Meningkatkan ketajaman pisau secara besar-besaran selama 5 detik, tanpa menguras Mana pengguna. Dapat dipakai kembali dalam 15 menit.
Sebuah pisau yang dibuat dari Blue Iron dan ditempa dengan baik hingga memiliki daya tahan dan ketajaman yang jauh lebih tinggi dari pisau pada umumnya.
[•••]
‘Pisau ini lebih rendah dari Elemental Crystal Orb.’
Dika berpikir ulang untuk menukar Elemental Crystal Orb dengan Blue Iron Knife yang cukup lemah dan hanya memiliki kemampuan untuk menguatkan serangan.
“Aku tahu pisau ini lebih rendah dari Elemental Crystal Orb ja-”
“Tidak apa, aku akan mengambilnya.”
Teman Raihan Adam yang menginginkan Elemental Crystal Orb tidak bisa menahan diri untuk terkejut, sebab Dika baru saja setuju untuk menukar Artifact yang nilainya lebih rendah dari Elemental Crystal Orb.
“Eh benarkah!?”
“Aku serius, tunggu sebentar.” Dika mengeluarkan Elemental Crystal Orb dan memberikannya pada teman Raihan Adam. “Kau bisa memilikinya, dan aku akan mengambil Blue Iron Knife ini.”
“Terima kasih banyak Dika. Aku akan mengingat kebaikanmu ini.” Raihan Adam menjabat tangan Dika.
“Tidak masalah, lagi pula seseorang pernah mengatakan jika kekuatan suatu Artifact tidak akan berguna jika digunakan untuk sesuatu yang tidak sesuai.” Dalam hal ini yang Dika maksud adalah pekerjaannya untuk mengumpulkan Greenish Hurl Scale.
“Kau benar, sekali lagi, terima kasih karena telah membiarkan kami mendapatkan Elemental Crystal Orb.”
“Sama-sama.”
Setelah mendapatkan apa yang mereka butuhkan, Raihan Adam dan teman-temannya pun pergi meninggalkan Dika yang langsung kembali melanjutkan pekerjaannya.
Dika kali ini tidak begitu kesulitan memisahkan Greenish Hurl Scale berkat Artifact yang baru saja ia tukar dengan Elemental Crystal Orb.
“Terima kasih atas peringatannya Diana.”
Saat akan menukar Elemental Crystal Orb, Diana mengatakan pada Dika jika ada beberapa orang yang tampak mengawasinya dari kejauhan. Karena hal ini, Dika merasa jika The Chosen yang sangat senang merebut Artifact dari The Chosen lain tengah mengawasinya. Jadi bukan hal yang buruk untuk melepaskan sesuatu yang dapat membuatnya jatuh ke dalam sarang singa.
“Kau tidak perlu berterima kasih, melindungimu adalah kewajibanku.”