*** baca aja yuk ***Cerita ini menceritakan sepasang remaja yang sangat populer disekolahnya terkenal dingin tapi mesum.
mereka terkenal bukan hanya karena kecantikan dan ketampanan mereka, tapi mereka sangat terkenal dengan prestasi mereka, keduanya terlihat bersikap dingin dan tak dekat satu sama lain di sekolah.
Seorang guru yang sangat kaget memergoki mereka berdua, terlihat beberapa kali memastikan penglihatannya sebelum akhirnya dia mulai berteriak.
"Estu, Aeri". ucapnya marah dan kaget ketika meneriakkan kedua nama sepasang anak muda didepannya.
kejadian itu menjadi berita besar dan membuat kaget seluruh sekolah mereka.
"mereka pacaran". itu ungkapan bingung setiap orang memastikan hubungan Estu dan aeri.
karena Estu dan Aeri pasangan yang terlihat dingin satu sama lain, tidak ada gelagat mereka pacaran, mereka sibuk dengan aktivitasnya masing-masing disekolah.
Estu sibuk dengan tim basketnya, dan Aeri sibuk dengan tugas OSIS dan kegiatan sekolahnya.
Pasangan ini terlihat dingin satu sama lain tidak ada yang curiga sama pasangan ini, ayo mari mampir Baca dulu kak, kisah mereka, pasti dijamin sangat seru.
Selamat menikmati 🤗😇
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zahreeta Jinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Pertama yang tertunda
Setelah pemotretan Estu mengajak Aeri ke suatu tempat, mereka menggunakan kendaraan pribadi nya masing-masing, Aeri terus aja mengikuti mobi yang dikendarai Estu, dia terus mengikutinya tanpa sebelumnya bertanya kemana mereka pergi.
Tak lama kemudian Estu telah keluar dari jalan tol dan menuju ke sebuah komplek perumahan, Aeri melihat ke sekeliling nya, matanya celingak-celinguk memperhatikan sekelilingnya sambil fokus menjaga jarak agar tidak kehilangan jejak Estu. Estu berhenti pas didepan sebuah rumah minimalis modern klasik, ketika melihat Estu turun Aeri juga mengikutinya sambil mengamati dengan bingung.
"sayang kemari". panggil Estu sambil mengulurkan tangannya menyuruh Aeri mendekat. Aeri langsung mendekat ke astu kemudian meraih tangan Estu, tangan mereka saling bertautan.
"ini rumah siapa?". Tanya Aeri penuh kebingungan
"apa kamu suka". Tanya Estu
"iya sih, terlihat nyaman". Jawab Aeri kemudian sambil memperhatikan seksama rumah didepannya
"tapi ini rumah siapa?". Tanya Aeri kembali dia masih bingung tapi bukannya menjawab Estu malah tersenyum dan mencium lembut tangan Aeri. Kemudian dia mengajak Aeri masuk kedalam rumah itu, Aeri merasa langsung terkesima dengan setiap ruangan rumah itu, simple tapi sangat cocok untuk mereka berdua. Ini penuh dengan gaya remaja, rumah nya sederhana dan estetik. senyum Aeri merekah saat melihat sekeliling rumah nya.
" kamu suka". Tanya Estu kemudian tatapan sendari tadi tidak lepas dari raut wajah Aeri, dia terus memperhatikan pandangan Aeri terhadap rumah itu.
"suka yank, tapi ini rumah siapa?". tanya Aeri kembali, sambil mendekat ke Estu
"kalau kamu suka, berarti ini akan jadi rumah kita". Jawab Estu yang membuat mata Aeri terbelalak
"iya sayangku, ini rumah kita". Ucap Estu untuk menyakinkan Aeri yang terlihat masih tidak yakin dengan apa yang didengarnya
"kamu serius". Tanya Aeri
"tapi kita masih nyicil setahun lagi sih".ucap Estu
"bagaimana caranya kamu beli, bukanya ibumu tidak setuju kita tinggal bersama, darimana uang ini". Tanya Aeri menyelidikinya
"semua ini hasil tabunganku sayang, aku habiskan semua untuk membeli rumah ini". Jawab Estu jujur
"tabungan kuliahmu". Tanya Aeri kaget, Estu mengangguknya sambil tersenyum
"tapi itu untuk pendidikan kamu, apa kamu akan menenggelamkan impian kamu untuk kuliah di spanyol". Tanya Aeri yang sudah mulai sedih
"no, tapi aku akan ambil jalur beasiswa, aku tidak akan tetap disana, sebagaimana planning awal kita, cuma caranya sedikit berbeda". jawab Aeri
Aeri terlihat terharu dia memeluk erat Estu,
"orang tua kita tidak akan setuju ide ini". ucap Aeri
" aku tau, tapi aku punya cara lain agar mereka setuju". ucap Estu dengan seringai serigala nya
"bagaimana". Tanya Aeri bingung
"ikut aku" jawab Estu dan dia terburu buru menarik tangan Aeri dan membawa nya menuju sebuah ruangan dan itu adalah kamar utama mereka
"apa yang kamu pikirkan". Tanya Aeri penuh curiga
"malam pertama kita yang tertunda". Jawab Estu penuh gairah
"no". Teriak Aeri kaget
"why". Tanya Estu memelas dengan pupil sedih manjanya
"apa kamu lupa yang ibu mu katakan, kita telah berjanji tidak akan melakukannya". Aeri mencoba memberikan penjelasan
"honey bukan melarang melakukan nya, tapi no pregnant, come on ayolah honey, aku udah turn on". Estu memelas dengan penuh gairah nya
Aeri berfikir sejenak, melihat Aeri yang terlihat ragu, Estu buru buru mengangkat tubuh Aeri dan membawa kekasur, tidak membiarkan Aeri berteriak seakan mahir dalam melakukannya dia terus melumatkan bibir Aeri, mereka telah larut dalam adegan mereka, satu persatu pakaian mereka tanggalkan, Estu sudah larut dalam asupan nutrisi nya, dia memain lama dibagian itu, tangannya terus meremas, mulut nya terus berkerja,
"i Miss you". bisik mesra Estu disela-sela kegiatannya
Dia terus menjelajahi semua, sampai akhirnya penyatuan itu terjadi, Aeri berteriak kesakitan saat benda tumpul itu menerjang dirinya.
"sakit, no no pelan". Rancau Aeri ditengah kegiatannya
Estu terus berpacu dengan semangatnya sampai akhirnya mereka menuntaskan kegiatan mereka.
"are you oke sayang". Tanya Estu kemudian memeluk dan mencium kening Aeri lama
"no, im tired". Jawab Aeri sambil menenggelamkan badannya ketubuh Estu
Estu mendekap erat tubuh Aeri, sambil dia pandangi asupan energinya, dia kembali mengubah posisinya, saat ini dia berada di pertengahan gunung itu, dia kembali memainkannya.
"sayang". Rengek Aeri yang merasa geli tapi dia membiarkan saja Estu melakukan nya, (karena sering terjadi kali).
***
Aeri mengusap matanya ketika dia terbangun oleh suara HP yang berdering, dia menelusuri sekeliling mencari tahu letak telepon genggamnya yang berdering.
Estu melakukan pemberontakannya ketika dia merasakan pergerakan tubuh Aeri, ya itu mengganggu dia yang sedang bersandar nyaman di asupan nutrisi nya.
Aeri meringis miris, ketika Estu mengigit kecil bobanya, dan mengembalikan posisi nyaman di mulut Estu.
Dia melihat telepon genggamnya terletak di bawah ranjang mereka, sedikit memiringkan badannya tertera jelas siapa penelpon yang sendari tadi menghubungi nya.
"Abah". Teriak Aeri panik
cepat cepat dia bangkit, di ikutin dengan Estu yang ternyata juga kaget dengan teriakan Aeri. Sama gelagapan membenarkan posisinya.
"dimana Abah". Tanya Estu setengah sadar dia terlihat panik
"ssttt" . Ucap Aeri sambil menutup mulut Estu dengan jari telunjuk nya
"assalamualaikum Abah". Ucap Aeri setelah dia mengangkat telepon genggamnya
"waalaikum salam" suara Abah terdengar jelas di gendang pendengaran Aeri membuat hati Aeri dag Dig dug gak karuan, Estu juga terlihat menempelkan telinganya menyatukan pipi mereka sambil mencuri dengar pembicaraan ayah dan anak itu.
"Aeri Abah dan eomma masih terjebak kemacetan dijalan, kamu tolong Abah jemput adik kamu sebentar di lapangan, dia tadi tidak membawa kendaraan, kalau menunggu Abah takutnya akan sangat terlambat ". Ucap Abah panjang lebar, hati Aeri sedikit tenang ketika mendengar maksud ayahnya, dia tadi sedikit panik mengira abahnya mengetahui apa yang sudah dia lakukan
"baik Abah". Jawab Aeri kemudian dengan hati yang lega, kemudian dia menarik nafas lega sambil mengelus dadanya, sesaat setelah telepon genggamnya di matikan.
"ahhh au". Teriak Aeri tiba-tiba
"why are you oke". Tanya Estu panik ketika melihat wajah pucat aeri
"oke, tapi aku kaget, ini perih yank". Jawab Aeri menjelaskan kondisinya
"gimana bisa kamu jemput adikku kamu dalam kondisi jalannya gitu". Tanya Estu sambil memperhatikan jalan Aeri
"terus gimana dong". jawab Aeri kesal
" kamu sih mainnya kasar banget". Sambung nya lagi
"maaf". Ucap Estu sambil memeluk Aeri
" yasudah adik kamu biar aku jemput, kamu pulang aja dulu dirumah, istirahat saja yank ya". Putus Estu kemudian
"Aeri mengangguk patuh, dia kemudian langsung kekamar mandi yang disusul Estu, mereka buru2 mandi mengingat hari sudah sore, setelah itu Aeri maupun Estu langsung mengendarai mobilnya masing-masing menuju tujuan mereka.