Indonesia
NovelToon NovelToon
Bertahan Di Hari Kiamat

Bertahan Di Hari Kiamat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyeberangan Dunia Lain / Hari Kiamat / Barat / Fantasi / Petualangan
Popularitas:688
Nilai: 5
Nama Author: iqmail

Seorang guru SMA yang baru dilantik di sekolahnya, terbangun dari tidurnya dan mendapati dirinya berada di tengah hari kiamat. Syukurlah dia tidak sendiri. Pak Guru ditemani oleh seekor naga yang selalu menjaganya ke mana-mana. Si naga bisa berbicara dan menghembuskan nafas api, namun sayangnya Naga itu hanya berukuran seperti manusia dewasa, dan nafas apinya pun hanya bisa sampai 30 cm. Siapakah si naga sebenarnya? Dapatkah mereka berdua bertahan dalam kejamnya hari kiamat?
Ikuti petualangan seru nan lucu dari pak Guru nanggung dan Naga receh!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iqmail, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eps. 20. Mereka Akhirnya Sampai

"Akhirnya!" Bakri dan tim kini berdiri di hadapan sebuah pondok sederhana berpintu hijau. Bangunan tua ini tampak sama sekali tak terpengaruh semua kejadian di sekitarnya.

"Bapak yakin ini tempatnya?" Mawar bertanya dengan nada sangsi.

"Seharusnya iya." Farhu yang menjawab "Tadi setelah melihat peta di ji-map aku sudah menghafalkan titik tujuan kita dan ini memang sudah tepat."

"Terima kasih, Farhu. Si Mawar ini selalu menganggapku tidak becus." Bakri berujar dengan sebal sambil melemparkan tatapan benci pada Mawar.

Mawar hanya mengedikkan bahu.

"Oke, Baiklah." Bakri yang sebenarnya agak gugup memberanikan diri untuk mengetuk pintu hijau itu.

"Halo...?" Dia mengetuk lagi. "Halo..? Selamat siang." Dia mengetuk lagi. "HALLLOOOOO... Ada orang nggaaaak." Bakri mulai jengkel.

Hampir saja dia mengetuk lagi saat pintu itu tiba-tiba terbuka dan membuatnya linglung. Mawar tertawa. Farhu juga tak bisa menahan dengusan geli-nya.

"Oh... Kamu ya, Bakri." Wajah seorang Bapak-bapak tua nampak di balik pintu.

Bakri sangat kaget. "Loh, kenapa anda mengenal saya? Saya tidak mengenal Bapak!"

"Oh.. Ayolah... Kedatangan kalian sudah berbulan yang lalu dikabarkan padaku oleh seorang nenek-nenek suka ikut campur di tempat asalmu."

Bakri tahu siapa yang dia maksud, itu nenek yang mengenal kedua orang tuanya, yang memberikan mereka peta. "Kalian berdua saling mengenal?"

"Hmpf. Kita semua saling mengenal! Hanya ada saja yang selalu lupa" Bapak tua itu tampak sangat marah untuk alasan yang Bakri tak mengerti, saat mengatakan ini. "Tapi ya sudahlah. Kalian masuk dulu." Lalu bapak itu memperhatikan teman seperjalanan Bakri.

Seekor naga, dan satu lagi makhluk berwarna hijau yang meski aneh namun kelihatan bersahabat. "Seorang khurasan selalu saja membawa masalah kemanapun mereka pergi." Ujar Pak Tua sambil menggelengkan kepala.

>>>

Arya mendesah ngos-ngosan di samping Farhe yang sama sekali tak berkeringat, meski Arya tidak tahu scalligon bisa berkeringat atau tidak.

Di hadapan mereka, dua ninja telah terkapar. Wakazashi mereka kini ada di tangan Farhe. "Untuk apa kau mengambil itu? Bukankah perubahan wujud tanganmu cukup?"

"Benda ini terlihat keren. Keren. Aku sudah cocok menggunakan kata itu?"

"Huh! Aku bukan duolinggo! Tapi ya, wakazashi memang keren."

Lena sendiri masih dalam keadaan sadar, namun kondisinya tak lebih baik dari para pengawalnya. "Kau... Monster!" Matanya menatap benci pada Farhe. Setelah bergabungnya Farhe dalam pertarungan, Lena dan kedua ninja sama sekali tak berkutik.

Pada awalnya mereka masih bisa mendaratkan satu dua serangan, namun seiring waktu Farhe semakin paham dengan gaya bertarung mereka dan menyesuaikan dengan gaya bertarung Arya. Seolah makhluk itu tak pernah berhenti berpikir bahkan saat bertarung.

"Dan kau yang mau bekerja sama dengan mereka... Menjijikkan!"

"Apa ini artinya kita putus?" Arya merespon dengan santai. Mulai menyarungkan goloknya. Bersiap meninggalkan arena.

"Cuihhh!" Hanya itu jawaban Lena.

Untuk sepersekian detik, ekspresi Arya menunjukkan kemuraman, namun segera berlalu. "Yah... Terima kasih untuk segalanya selama ini. Bye" Arya mulai melangkah pergi. "Ayo Farhe!"

Meski hanya sepersekian detik, Farhe juga sempat menyadari ekspresi muram yang sama pada wajah Lena saat melihat Arya memutuskan untuk pergi.

Inikah yang disebut perpisahan? Setiap scalligon terhubung dengan gelombang otak yang begitu kuat sehingga rasanya tak pernah ada jarak yang cukup membuat mereka merasa jauh dari satu sama lain. Apa yang kini disaksikan kedua mata Farhe, dapat dengan mudah disaksikan pula oleh Farha dan Farhu. Bahkan kematian hanya sebuah siklus yang telah begitu umum terjadi pada setiap scalligon. Farhe tak paham bagaimana rasanya perpisahan.

"Kita berdua belum selesai, Macan Gila! Jangan anggap semua ini telah berakhir!". Lena berteriak dengan nada mengancam yang serak dan putus asa.

Ah, sepertinya bukan. Pikir Farhe.

Dia mulai berbalik dan menyusul langkah Arya yang mulai menjauh. Untuk sepersekian detik, mata tajam Farhe melihat Arya tersenyum.

***

"Sebenarnya aku malas memperkenalkan diri, tapi aku tak bisa membiarkan kalian terus-terusan memanggilku pak tua di belakangku."

Setelah meletakkan barang di kamar yang tersedia, mereka sekarang sedang minum teh sambil makan biskuit yang dihidangkan.

"Namaku Haris. Nah, sudah. Aku tahu namamu Bakri. Kan kau si Naga, Mawar, kan? Bagaimana dengan kau? Kau paham bahasa manusia juga?"

Farhu langsung menyukai Haris. Orang ini mungkin berwajah keriput dan ketus, tapi dia memandang Farhu tanpa ekspresi merendahkan atau menjijikkan "Namaku Farhu. Aku berasal dari spesies scalligon."

"Huh. Mirip merk sepeda." Haris mengeluarkan seringai mengejek.

Farhu tidak tahu apa maksud Haris, tapi dia tertawa, begitu juga Bakri.

"Betul juga. Aku baru kepikiran." Bakri menepuk pahanya spontan.

Mawar hanya menggelengkan kepala. "Maaf memotong sesi lawak kalian. Tapi aku punya pertanyaan serius, Pak Haris"

Haris menyeruput tehnya. "Silahkan."

"Nenek Tua yang memberikan kami peta.."

"Namanya Malika." Haris memotong.

"...oke, Bu Malika bilang di sini akan ada bantuan untuk kami. Bantuan seperti apa itu?"

Haris menatap lurus pada Bakri. "Itu semua tergantung."

"Apa?" Bakri yang sedang asyik mencelupkan biskuit di teh langsung menoleh.

"Apakah nak Bakri sudah siap atau tidak."

"Siap untuk apa?" Bakri merasa dia tidak akan menyukai jawaban Haris.

"Kayu dan Batu. Keringat dan darah." Haris menjawab serius.

Kata-kata itu melempar Haris jauh ke masa kecilnya. Dia sering mendengar orang-tuanya menyebutkan kata-kata itu. Terutama ayahnya.

Akhirnya setelah terdiam cukup lama. Bakri menjawab. "Aku siap."

Haris tersenyum mendengar jawaban itu. Senyum tulus pertamanya sejak mereka bertemu. "Ikutlah denganku ke lantai atas."

"Hey! Bagaimana dengan kami?" Mawar protes.

Haris berbalik. "Oh... Jangan khawatir. Sabarlah. Kalian berdua, juga dua teman kalian yang sedang menuju kesini, akan mendapat bagian. Kami sudah menyiapkan semuanya sejak jauh hari."

Tanpa menjelaskan apa-apa lagi, Haris bersama Bakri menghilang ke lantai dua.

Meninggalkan Mawar yang masih bertanya-tanya. Kami? Siapa kami? Bagaimana Haris tahu tentang Arya dan Farhe?

***

Si Bos akhirnya tiba di markas pusat. Staf resepsionis menyambutnya dengan ramah. "Selamat datang, Pak Bos. Rapat akan dimulai 30 menit lagi. Silahkan menuju ke ruang tunggu."

"Rapat? Aku tidak tahu akan ada rapat." Si Bos menunjukkan ekspresi bingung. "Aku hanya datang untuk menyampaikan laporan lengkap setelah kemarin menyampaikan laporan singkat lewat telepon."

"Betul, Pak Bos. Namun setelah mempelajari dengan singkat situasi yang ada, laporan pak Bos membuat Pak Ketua memutuskan untuk menginisiasi sebuah rapat darurat, mengingat urgensi dari laporan Pak Bos."

Si Bos merasa tersanjung, namun juga tiba-tiba dia diserang rasa gugup. Sebuah rapat darurat di markas utama? Itu bukan sesuatu yang terjadi setiap hari. "Siapa-siapa saja yang diundang dalam rapat ini?"

Staf resepsionis tersenyum. Senyum licik yang pertama kali membuat si Bos sadar bahwa orang di hadapannya sama sekali bukan sekedar staf biasa. "Silahkan Pak Bos langsung ke ruang tunggu saja dan saksikan sendiri."

"Oke." Si Bos melangkah ke ruang tunggu.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!