- Cinta Yang Menyembuhkan Trauma-
Damarlangit hanya salah satu dari orang yang memiliki trauma dalam hidupnya. Bahkan trauma itu dirasakan sejak usia Damar 10 tahun hingga saat ini, dan sampai dia berhasil menjadi super model, trauma itu masih Damar rasakan.
Hingga pada suatu hari, seorang wanita penghibur datang untuk menyembuhkan lukanya, namanya, Arundaya. Dipertemukan dengan tidak sengaja, membuat mereka mengenal satu sama lain, hingga kedekatan mereka jauh dari hubungan hanya seorang teman. Hingga hubungan gelap mereka jalin karena Ibu Damar tidak menginginkan Damar dekat dengan wanita seperti Arundaya yang dia pikir akan merusak karir Damar.
Bagaimanakah kisah selanjutnya? Dapatkah mereka menjalin hubungan saat Ibu Damar melarangnya, dan apakah trauma Damar akan sembuh saat bertemu dengan Arundaya yang ingin membantu Damar untuk sembuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noeryanthi Kusnadii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
Hari ini Damar ada pertemuan untuk membahas pekerjaan beberapa hari lagi. Walau kondisinya kemarin tidak baik, dia tetap pergi karena sudah menjadi tanggung jawab pikirnya.
"Dia juga datang. Lihatlah dia menghampirimu," bisik Rio saat rekan model Damar menghampiri mereka yang baru datang.
Dan benar saja, Zyan langsung memeluk tubuh Damar begitu saja. Damar meringis sambil memejamkan mata saat lukanya tersentuh oleh temannya itu.
"Lama tidak bertemu denganmu. Bagaimana kabarmu?" tanya Zyan. Dia melepaskan pelukannya dan menatap Damar yang hanya diam. Rio yang di sampingnya juga hanya bisa diam. Dia tidak bisa bilang jika punggung Damar terluka.
"Aku baik." Damar memang tidak banyak bicara. Dia sangatlah berbeda saat dengan orang terdekatnya.
"Supermodel Damarlangit. Welcome," sapa teman yang lain. Mereka juga para model yang akan bekerja bersamanya. Jadwal padat Damar membuatnya tidak ada hari libur, karena dia butuh menghidupi Ibunya yang selalu menghabiskan uang Damar dengan berfoya-foya.
Damar duduk di dekat tempat Zyan. Mereka sebenarnya teman lama. Zyan salah satu dari banyaknya murid di sekolah modeling Brata. Dia sempat iri dengan kedekatan Damar dan Brata, dia menganggap Brata menganak emaskan Damar dan membandingkan dengan yang lain.
"Aku dengar rumor jika kau menerima kontrak film bersama Yuri. Apa itu benar?" tanya Zyan. Padahal baru kemarin Damar membahas itu dengan sang Ibu, tapi Damar tidak tau jika pemeran wanitanya adalah Yuri, wanita yang sempat menyukainya dulu, namun terhalang oleh karir mereka masing-masing.
"Rumor dari siapa?" tanya salah satu teman yang lain.
"Siapa lagi kalau bukan Tante Sarita. Dia bertemu denganku beberapa waktu lalu," jawab Zyan. Kedengarannya ini memang sudah Sarita rencanakan.
"Aku pikir kau tidak menerima kontrak syuting. Namun, kau sekarang menerimanya. Apa menjadi supermodel tidak cukup untukmu?" Pertanyaan Zyan membuat mereka menatap Damar yang hanya diam. Dia hanya enggan berdebat dengan Zyan. Bagaimanapun hubungan mereka sebenarnya tidak baik-baik saja. Namun, dia bersikap baik di depan banyak orang.
"Biarkan saja. Itu pilihannya, kenapa kau bicara seperti itu. Bukankah kau baru mendapatkan brand besar juga," timpah salah satu teman model.
"Aku permisi sebentar," ucap Damar. Jujur saja dia muak dengan obrolan mereka. Dia memilik untuk ke kamar mandi sebelum meeting di mulai. Jika bukan karena sebuah kontrak, Damar engan bertemu dengan Zyan. Dia bermulut besar, dan Damar tidak mau dengannya karena itu.
Damar menatap tubuhnya di cermin kamar mandi. Di ikuti Rio yang ada di sampingnya. Dia menatap khawatir Damar karena ulah Zyan tadi.
"Apa lukamu terasa perih?" tanya Rio.
"Apa kita akan lama di sini?" Damar hanya ingin kegiatannya hari ini selesai dengan cepat. Zyan tidak akan hanya berdiam diri saja. Dia akan menyudutkannya.
"Mungkin hanya akan membahas apa yang kita lakukan di hari pertama lusa. Aku nanti akan bicara agar kau tidak satu frame dengannya."
"Bagaimana bisa. Biarkan saja. Aku tidak akan terpengaruh ucapannya," jawab Damar.
Dan benar saja, sejak tadi Zyan coba mendekati Damar. Dia tertawa seakan hubungan pertemanan mereka baik-baik saja. Damar hanya banyak diam sambil membaca materi yang akan digunakan pemotretan lusa.
"Kau sedang live?" tanya Zyan pada orang yang duduk di samping Damar.
"Ya, aku sedang live. Bisakah kalian menyapa," jawabnya.
Mereka kemudian menyapa di live nya, tapi Damar tetap diam walau ponsel temannya itu disorotkan padanya. Tidak akan sedikitpun ingin ikut menyapa. Namun, diamnya Damar membuat para penggemar di livenya heboh menanyakan apa Damar sedang tidak enak badan, kenapa dia banyak diam. Tidak hanya itu, mereka memuji ketampanan Damar, padahal dia hanya diam.
"Lihatlah, mereka fokus padamu," ucap Malik, teman model Damar yang sedang live.
Damar menatap ke layar ponsel Malik dan tersenyum manis. Senyumanny itu membuat mereka kembali memberikan komentar manis untuk pria berusia 27 tahun itu.
"Kalau seperti ini followers ku akan banyak karenamu. Kenapa kau tidak bermain seperti ku juga," tawar Malik. Karena tidak mungkin jika Damar tidak akan banyak memiliki penggemar. Meski Damar jarang memposting di media sosial, tapi apa yang dia posting selalu mendapatkan like banyak.
"Tidak." Damar menggelengkan kepala pelan. Dia tidak berkeingina melakukan live semacam itu.
"Padahal kau akan semakin terkenal jika menyapa fans mu dengan live," sahut Zyan.
"Kenapa tidak kau saja?" tanya Damar.
"Dia tidak akan berani. Berapa kali akunnya di banned, benar tidak?" timpah Malik. Zyan memang kasar, banyak netizen yang tidak suka padanya, tapi walau begitu yang suka juga sama banyaknya. Entah apa yang fans nya lihat pada orang seperti Zyan, bukan hanya suka mencari masalah, kadang ucapannya tidak sesuai realita.
"Sepertinya ide bagus jika kegiatan kita live kan. Jarang-jarang fans kalian akan melihat setiap kegiatan kalian. Dan ini bisa menarik orang bisa kenal dengan brand yang kita pasarkan." Salah satu penanggung jawab mengusulkan hal yang tidak Damar inginkan.
"Maaf, tapi saya tidak setuju," jawab Damar.
"Kenapa kau begitu membenci di rekam. Apa agar kau tidak terkenal atau kau malu semua orang mengetahui drama hidupmu," ejek Zyan. Dan lagi, Zyan bicara yang tidak-tidak di depan banyak orang. Membuat Damar tidak nyaman dengan ucapannya.
"Jaga bicaramu." Rio yang sejak tadi berusaha tenang dan diam, tidak tahan lagi dengan yang Zyan katakan.
"Kenapa? Memang begitu adanya. Hidupnya penuh drama. Dia hanya bersikap dingin untuk menutupi kekurangannya. Benar begitu Damarlangit?" Zyan masih belum puas juga dengan menyudutkan Damar.
"Cukup!!" Rio terpancing emosinya, dia langsung berdiri dan saat akan menghampiri Zyan, namun Damar mencegahnya. Dia menatap Rio dan menggelengkan kepala, agar meredahkan emosinya.
"Oh ... oh ... lihatlah, kau itu selalu sembunyi dibalik orang lain. Kau itu pintar sekali mencari muka, kau tau itu. Damarlangit, kau memang hebat," ucap Zyan. Dia tertawa melihat Rio yang marah padanya. Semua orang membela Damar, itu yang Zyan tau. Seperti menjadi budak Damar, orang lain selalu membelanya.
"Zyan cukup. Kenapa kau terus saja bicara. Kau terus menyudutkan Damar. Kau seperti tidak suka dengan Damar di sini. Ingat jika Damar pernah menyelamatkan karirmu," ucap Malik. Dia sampai mematikan live nya begitu saja karena Zyan terus menyudutkan Damar.
"Sebaiknya aku pulang. Bukankah apa yang kita bahas selesai. Jika ada apa-apa bapak bisa komunikasikan pada Kak Rio, aku akan pelajarinya." Daripada suasana semakin panas, Damar memilih pergi dari tempat meeting.
"Oh baiklah. Lagian semua sudah aku sampaikan semua. Tinggal kita kerjakan sesuai persetujuan kalian nanti. Maaf jika suasananya tidak membuatmu nyaman," ucap penanggung jawab brand itu.
"Tidak masalah." Damar setelahnya pamit dan berjalan meninggalkan tempat meeting. Dia membiarkan Zyan yang hanya diam di tempat duduknya. Padahal dia tadi yang terlihat heboh menyambut kedatangan Damar, nyatanya dia hanya meluapkan sakit hatinya saja.