kita dapat saling melihat, berkomunikasi, bahkan mengirimkan sesuatu pada seseorang di 'dunia lain' nya. Tak ada yang namanya portal antar dimensi, dua dunia ini hanya menyatu sejak sebuah meteor menimpa bumi. mengubah persepsi orang-orang tentang dunia itu sendiri.
meskipun dapat saling melihat dan mendengar, penghuni dunia 'Nyata' dan 'Maya' tak dapat saling menyentuh. tubuh mereka akan saling menembus.
kadang, tiba-tiba salah satu diantara dua dunia itu menghilang begitu saja. tanpa jejak, seolah memang tak pernah ada. Tapi tiba-tiba pula muncul kembali seolah tak pernah terjadi apa-apa.
Apa yang akan terjadi bila ada yang berusaha menembus batasan antar dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aria_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kota Andarel
Ting!
[selamat datang di kota keselamatan 'andarel']
mengusap peluh yang membasahi wajahnya, Hiora mentapi bangunan bangunan aneh berbentuk seperti cangkang keong besar dengan dekorasi beserta pintu dan jendela. dapat ia lihat beberapa penduduk yang keluar dari bangunan aneh tersebut, beberapa orang berkumpul dan berbisik melihat dirinya yang diam mematung di tengah-tengah pintu gerbang kota.
*tuk!*
"hoi pria berbaju aneh disana! minggir! tak kah kau lihat kereta kuda ku mau lewat?!"
seseorang melempari Hiora sebuah koin perak yang terasa asing baginya. Hiora memungut koin itu lalu melirik kebelakang. seorang pria tua dengan perut besar dan kumis mirip lele mengerutkan keningnya dengan urat-urat lehernya yang menonjol. Sembari meneriaki Hiora.
apa tadi katanya? pria? berbaju aneh? hei tuan lihatlah wajah orang yang kau sebut pria ini, apakah wajahnya tak cukup cantik untuk diakui sebagai wanita? lagian yang menurutnya lebih aneh itu sesuatu yang disebut orang asing itu sebagai 'kuda', kuda mana yang memiliki dua taring tajam yang keluar dari sudut bibirnya, serta tubuh yang lebih tinggi dan besar dari dua orang dewasa.
'inimah monster namanya'
Hiora menggerutu dalam hati, tapi masih cukup waras untuk tak mengucapkannya secara langsung, takut jika tubuhnya akan dikoyak-koyak si 'kuda' apabila kuda itu mengerti apa yang ia ucapkan.
dengan berat hati, Hiora menyingkir dari sana. kereta 'kuda' itu melaju dengan kecepatan tinggi dan membuat debu jalanan berterbangan.
menatapi langit berwarna hijau, tanah yang gersang dan penuh retakan, serta penduduk kota yang terlihat pucat seperti tubuh mereka tak dialiri oleh darah selain itu terdapat anggota tubuh tambahan yang tak biasa, ada yang punya kepala dua, ekor hewan, bahkan sepenuhnya berbentuk bayangan dan tidak terlihat jelas bentuknya. Kini Hiora yakin bahwa dia tidak berada di dunia nyata maupun Maya, melainkan dunia paralel lain yang lebih aneh lagi.
[temukan dan bunuhlah satu monster diantara para penduduk kota]
[konsekuensi apabila gagal : terjebak disini selamanya]
Hiora sekarang mulai meragukan kemampuan memahami kata yang dimiliki oleh orang-orang yang mengirim pesan-pesan melalui persegi hitam transparan. Apabila orang itu mengerti, pasti nya yang tertera pada bar notifikasi itu adalah 'seluruh' monster yang ada, karena dimatanya sejauh ini hanya melihat monster yang berjalan dengan dua kaki dan bicara seperti manusia. Sekalipun ada yang lebih normal bagi Hiora adalah orang yang memiliki mata ketiga di tengah-tengah keningnya.
mengacak surai pirang pendek nya kasar, Hiora mulai memacu langkah menyusuri kota yang ramai dan berisik. apalagi ketika memasuki sebuah area yang terlihat seperti pasar. Bedanya yang dijajakan oleh para pedagang bukanlah buah, sayur, ataupun daging dan makanan yang menggiurkan. melainkan bebatuan hitam yang bagi Hiora terlihat sama saja antara satu pedagang dengan pedang lainnya.
" pendatang baru disana! lihatlah produk terbaru kami yang sangat berkualitas ini!"
seorang pedagang pria dengan telinga runcing dan berleher panjang memanggil Hiora. Melihat gerak-gerik Hiora yang menunjuk dirinya sendiri, si pedagang mengangguk sembari tersenyum ramah.
merasa tertarik dengan berbatuan berwarna warni yang di jual oleh si pedagang, sungguh berbeda dengan para pedagang lain di sekitarnya. Batu-batuan itu terlihat berkilau dan indah, seharusnya para penduduk lebih tertarik dengan toko ini dibandingkan dengan toko lainnya. namun tak terlihat ada yang tertarik barang untuk sekedar singgah dan melihat-lihat.
"lihatlah permata indah ini pendatang baru! kau pasti tak akan menyesal membeli satu atau dua bantuan indah yang terbentuk secara alami ini!"
orang itu mempromosikan dagangannya dengan tawa garing ketika Hiora berjalan mendekat dan melirik satu persatu barang dagangannya.
Pedagang itu menatapi Hiora dari atas hingga bawah, lalu memasang ekspresi aneh ketika melihat pedang indah yang masih tersampir di pinggang Hiora.
Hiora yang sadar dipelototi begitu seksama oleh si pedagang berpura-pura tak sadar.
"Ah, ngomong-ngomong pak, bisa saya bertanya?"
Pedagang itu meng iya kan dan melirik tangan Hiora yang merogoh sesuatu dari dalam kantong mantel.
"Saya ingin menanyakan jenis batu permata yang saya miliki ini"
Hiora mengeluarkan batu permata berwarna ungu tua yang ia dapatkan di misi pertama pada hamparan Ilusi. Ketika Hiora meletakkan permata tersebut keatas meja pembatas antara sisi luar toko dengan bagian dalam. Langsung saja si pedagang melangkah mundur.
Bunyi berisik suasana pasar mendadak hening. Para pengunjung dan pedagang memusatkan perhatian pada Hiora dan permata yang barusan ia letakkan. Wajah mereka yang sedari awal sudah pucat semakin menjadi. Beberapa diantara para penduduk bahkan tersentak sembari menahan nafas.
Pedagang yang semula ramah menunjuk wajahnya dengan jari telunjuk yang bergetar hebat, suaranya bahkan terbata-bata.
"Ka-kau! Da-dari mana kau mendapatkan permata kutukan itu?!"
Memiringkan kepalanya heran, Hiora mengatakan bahwa ia mendapatkannya dari seseorang ketika ia menyusuri jalan menuju kota ini. Merasakan ada yang tak beres, ketika orang-orang lengah, ia memasukkan permata ungu tadi kembali ke dalam kantong mantelnya.
"Dia Bohong! Aku melihatnya muncul begitu saja di depan gerbang kota! Aku melihatnya sendiri! Orang aneh ini pasti utusan iblis putih!"
"Tangkap dia! Bawa menghadap tuan Nue!"
Hiora memilih pasrah dan membiarkan beberapa orang dewasa mengikat pergelangan tangan nya dengan tali, sesekali melawan ketika tali tersebut diikat begitu kencang hingga pergelangan tangan nya terlihat memerah.
Melirik sekilas pada bar notifikasi yang menerangkan batas waktu pelaksanaan misi. Hiora menatap tajam orang yang menyeret dan mendorongnya masuk kedalam gerbong kecil yang pada bagian jendelanya dihalangi oleh jeruji besi yang kokoh.
"Ya sudah lah, walaupun tak begini caranya, rencana awalku memang ingin menemui pemimpin tempat ini "
[ Batas waktu : 5 jam 47 menit ]
3 bab 3 like 3 komen
gw deh yg like dan komen