Serena Madison rela menghalalkan segala demi ketenaran dan popularitas. Dia bahkan bersedia menjadi istri simpanan seorang pria tua yang merupakan pimpinan rumah produksi film ternama demi memenuhi ambisinya.
Bukan hal mudah menjadi istri simpanan, selain menyimpan rapat-rapat statusnya, dia juga harus menghadapi kebencian sang istri pertama.
Hingga suatu ketika, dia dipertemukan dengan seorang pria yang mampu menggetarkan hatinya. Dia menjalin hubungan secara diam-diam di belakang suaminya. Dia juga berniat mengakhiri pernikahannya dan menjalin hubungan serius dengan pria itu.
Namun, bagaimana jadinya ketika sebuah kenyataan mengejutkannya? Akankah dia berhasil mewujudkan niatnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbak miss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Kekhawatiran Ernest
"Akh, sial! Aku kecolongan," umpat Ernest ketika mengecek ponsel.
Jadwal hari ini lumayan padat, sehingga ia tak terlalu memerhatikan benda pipih itu. Dia baru mengetahui jika siang tadi ibunya mendatangi tempat mantan kekasihnya pada saat hendak pulang kantor. Seketika berbagai kekhawatiran membayangi pikiran. Tanpa basa-basi lagi, pria itu segera mengenakan jasnya, lalu menyambar kunci mobil bergegas ke tempat Serena.
Pria itu berkendara dengan kecepatan penuh agar cepat sampai tempat tujuan. Dia takut terjadi apa-apa pada wanita pujaannya. Beruntung jalanan sore itu lumayan lenggang karena jam pulang kantor masih beberapa jam ke depan. Dan hal itu sangat menguntungkan usahanya.
30 menit berkendara, tibalah Ernest di depan ruko bertuliskan 'MDS bakery'. Dia memarkirkan asal mobilnya, kemudian bergegas memasuki tempat itu.
Ketika sampai di depan toko, tempat itu lumayan sepi, terlihat Aurel tampak membereskan loyang-loyang yang telah kosong. Ernest mencoba mengintip di balik kaca, mengedarkan pandangan ke seluruh tempat untuk mencari keberadaan Serena, tetapi wanita dicari tak kunjung menampakkan batang hidungnya.
Tak ingin menunggu lagi, pria itu bergegas masuk. Suara dentingan lonceng memenuhi ruangan itu, Aurel yang tengah berada di dapur tergopoh-gopoh menghampiri pelanggan yang datang.
"Maaf ... Kedai sudah tut—" Wanita itu menggantungkan ucapan ketika melihat sosok jangkung menjulang di hadapannya.
"Mau apa kemari?"
Raut wajah Aurel seketika berubah sinis saat melihat kehadiran Ernest di sana.
"Di mana Serena?"
Bukannya menjawab, Aurel justru menyilangkan tangan dengan angkuh.
"Hei, apa kau tuli? Aku tanya, di mana Serena?" tanyanya dengan nada membentak.
Ernest tak bisa lagi membendung kesabaran ketika tak kunjung mendapat jawaban. Percayalah, kekhawatiran terhadap wanita yang dicari semakin membayangi pikiran.
"Mau apa kau mencarinya? Kau ingin membongkar rahasia Serena, seperti dilakukan ibumu tadi, heh!" Aurel melirik sinis. "Ibu dan anak sama saja."
"Hanya itu ‘kan yang dilakukan mama?"
Pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir tebal Ernest yang berhasil memantik api amarah dalam diri Aurel. Wanita itu semakin menatap sengit pria yang pernah mengisi hari-hari sahabatnya.
"Hanya itu? Kau bilang hanya itu ... Enak sekali kalau ngomong." Aurel menyanggah tidak terima.
"Bu-bukan begitu ... Ma-maksudku mama tidak sampai melukai Serena, ‘kan?"
"Tidak!"
"Lalu, di mana dia sekarang?"
"Kamu gak perlu tau! Yang jelas, Serena gak mau lagi berurusan dengan kalian."
"Sebaiknya kamu pergi sekarang! Kedai mau tutup." Dengan tanpa perasaan Aurel mengusir pria itu, bahkan mengabaikan permohonannya yang bersikukuh ingin menemui mantan kekasihnya.
"Please, Aurel ... Pertemukan aku dengan Serena. Aku ingin bertemu dengannya sebentar saja."
Akan tetapi, Aurel telah menulikan telinga. Wanita itu justru berusaha sekuat tenaga mendorong tubuh jangkung itu.
"Aurel, kau itu hanya sebatas manajer. Kau tidak berhak mengatur kehidupan Serena. Biarkan aku menemuinya."
Ernest berusaha untuk menahan diri untuk berada di dalam ruangan, tetapi tenaga Aurel lumayan kuat hingga berhasil mendorongnya sampai ke ambang pintu.
"Serena! Rena! Aku datang ... Keluarlah!"
Tak kehabisan akal, pria itu berteriak memanggil wanita yang dicari, berharap teriakannya bisa terdengar sampai ke telinga Serena. Namun, hingga beberapa menit berlalu, wanita itu tak kunjung menampakkan batang hidungnya, entah sengaja atau tidak mendengar ia tak tahu.
"Keluar! Gak usah buat keributan di tempat gue," bentak Aurel dengan muka merah padam yang menandakan jika emosinya telah sampai ke ubun-ubun.
"Loe pergi atau gue teriakin maling!"
"Serena, keluarlah. Aku Ernest, aku datang! Please, Rena ... Temui aku!" Ernest terus berteriak memanggil mantan kekasihnya.
Dia masih bersikukuh dengan keinginannya, bahkan mengabaikan kemarahan Aurel.
Aurel yang merasa kesal diabaikan, langsung mendorong tubuh kekar itu hingga keluar ruangan hingga Ernest nyaris limbung ke belakang.
"Pergi gak usah balik lagi!"
BRAKK!
...----------------...
Serena yang tengah terlelap dikejutkan dengan suara pintu pintu yang dibanting kasar. Wanita itu berdecak sebal, kepala yang semula terasa pening semakin berdenyut karena dipaksa untuk bangun.
"Ya ampun itu anak ... Apa gak bisa nutup pintu pelan-pelan? Ganggu orang tidur aja."
Serena yang sulit untuk terpejam memilih untuk bangun dengan menyandarkan tubuh di kepala ranjang. Dia memejamkan mata berharap itu bisa mengurangi rasa pusing yang sejak tadi mendera.
"Rena keluarlah! Aku datang!"
Mata yang semula terpejam kembali terbuka ketika mendengar suara seseorang yang sangat dikenal. Suara yang beberapa hari belakangan teramat ia rindukan.
"Ernest! Mungkinkah itu dia?"
Wanita itu segera beranjak dari tempat tidur, kemudian berjalan ke arah jendela untuk mengintip suara yang berada di bawah sana.
"Ernest, dia datang menemuiku!" Serena memekik senang. Dia bergegas keluar kamar untuk menemui pria itu.
Namun, saat hendak menuruni tangga dia berpapasan dengan Aurel yang hendak menuju kamarnya. Dia menyadari raut wajah Aurel seperti menahan kekesalan mendalam.
"Loe kenapa?"
"Gak apa-apa."
Serena mengernyit mendengar jawaban super singkat yang keluar dari bibir wanita itu. Dia berusaha menerka-nerka, apa yang yang telah terjadi hingga membuat Aurel semarah itu.
"Apa karena kejadian tadi siang, ya?" gumamnya dalam hati.
Namun, sejurus kemudian dia mengedikkan bahu acuh, mungkin Aurel sedang badmood atau kedatangan tamu bulanan. Wanita itu tidak menyadari jika beberapa menit yang lalu, Aurel meluapkan segala amarah kepada pria yang hendak ia temui.
Serena membiarkan sahabatnya menenangkan diri, lalu bergegas menuju lantai bawah.
Sesampainya di lantai bawah, dia bisa melihat dengan jelas siluet seorang pria yang tengah membelakanginya. Postur tubuh yang sangat ia kenal, punggung kekar yang dulu ia jadikan sandaran kala rindu mendera.
"Ernest, akhirnya aku bisa bertemu kembali denganmu."
Tanpa terasa setetes air mata lolos membasahi pipi yang tidak terpoles apapun. Perlahan namun pasti, Serena melangkah mendekati pintu, lalu membukanya dengan pelan nyaris tanpa suara.
"Er-Ernest," panggilnya dengan suara bergetar.
Entah kenapa dia merasa sangat emosional kali ini.
Pria yang merasa terpanggil pun berbalik. Senyumnya mengembang sempurna kala wanita yang sangat ingin ditemui nyata berada di depan mata.
"Rena, akhirnya aku bisa menemuimu."
Ernest langsung menubruk tubuh langsing itu, menghirup dalam-dalam aroma yang teramat ia rindukan. Aroma tubuh yang dulu selalu menenangkannya dikala gundah.
"Ba-bagaimana kau bisa ada di sini? Si-siapa yang memberitahumu?"
Pria itu mengurai dekapannya, lalu menatap lekat wajah wanita yang masih bertahta di hatinya.
"Bukan dari siapa-siapa, tapi dari aku sendiri."
Serena memandang dengan kening berkerut, sebab tidak memahami maksud perkataan pria itu.
"Sudahlah! Itu tidak tidak penting. Aku kemari karena khawatir denganmu. Kamu tidak terluka, ‘kan? Mamaku tidak melukaimu, ‘kan?" Ernest memutar tubuh wanita itu berkali-kali. "Katakan! Mana yang sakit? Di mana saja mama menyentuhmu?"
"Aku tidak apa-apa, mamamu tidak melakukan apa-apa. Dia bahkan tidak menyentuhku sama sekali."
Ernest menghela nafas lega mendengarnya. "Syukurlah!"
"Dari mana kamu tau kalau Nyonya Rosalind menemuiku?" tanya Serena dengan mata memicing, "jangan bilang selama ini kau memata-mataiku."
"Bukan kau, tapi mama."
"Untuk apa?"
"Mama berencana menyebarkan bukti-bukti pernikahanmu dengan papa, dan aku berusaha untuk menggagalkannya."
Sedih, sih, lihat nasib Serena. Semoga masa depannya akan bahagia. 🤧🤧