Dikhianati oleh kekasih dan sahabatnya, Yi Xun pun sudah tak percaya lagi dengan adanya ketulusan dan cinta sejati. Ia sempat berpikir andaikan dia hidup di zaman kuno, akankah dia bertemu dengan seorang pria tulus di sana? Akankah dia bertemu dengan cinta sejatinya?
Namun siapa sangka, angan-angannya mengantarkannya ke tempat yang tidak seharusnya. Yi Xun terbangun di tubuh seorang gadis bangsawan dari keluarga ternama. Akan tetapi, realita tak sesuai dengan ekspetasinya. Xun Tian, tubuh gadis bangsawan yang disinggahi jiwa Yi Xun adalah seorang gadis buangan yang kerap mendapat perlakuan kasar dan tidak senonoh dari keluarganya sendiri.
Mengapa Yi Xun tiba-tiba terbangun di tubuh Xun Tian?
Akankah dia sanggup menjalani kehidupan yang lebih buruk dari kehidupan sebelumnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen Nis Ca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TRANSAKSI TAKDIR
"Diam saja di situ," perintahnya dengan semena-mena.
"Hei, setidaknya beritahu aku, sebelum hal buruk terjadi padaku. Apa yang ingin kau lakukan?" desaknya.
Pagi ketika Chang Ling terbangun dari lelapnya, sontak saja dia terkejut tatkala mendapti dirinya dalam keadaan terikat. Ia mengira bahwa semalam saat ia tertidur, para bandit berhasil menemukan. Namun ternyata, tebakannya salah besar. Orang yang mengingat tubuhnya bukanlah siapa pun, melainkan Xun Tian.
Tidak tahu bagaimana dia bisa berada di ruangan yang tampak asing. Ia tidak ingat apa yang telah terjadi semalam saat ia tidur. Ada banyak pertanyaan yang membuatnya penasaran. Namun semua dapat terjawab dari suara dan suasana. Dia menebak, saat ini mereka telah sampai di kota.
Entah apa yang direncanakan oleh Xun Tian, tetapi yang jelas bukanlah pertanda baik bagi Chang Ling.
"Menurutmu, kau akan laku berapa?" tanya Xun Tian sembari memagutkan dagunya sendiri.
"Aku? Pertanyaan macam apa itu? Apa kau benar-benar berniat menjualku?" cecarnya.
"Aissh ... Tinggal jawab saja, apa susahnya? Kau laku berapa kira-kira?" tanyanya sekali lagi.
"Konyol. Karya seni sepertiku bahkan bisa membeli satu kota. Tidak, satu negara!" cetusnya dengan sikap yang tak kalah narsisnya dengan Xun Tian.
"Auuh ... Aku benci mendengarnya," ujar Xun Tian sembari memincingkan ujung bibirnya. "Jika benar begitu, pasti akan banyak yang membeli lukisanmu," sambungnya.
"Apa? Dasar gila. Aku tidak mengerti," celetuknya.
"Hei, kita harus menghasilkan uang untuk bertahan hidup. Satu hal yang harus kau tahu, kita sangatlah miskin!" cetusnya.
"Baiklah. Kali ini, aku akan membiarkanmu." Sebenarnya, Chang Ling tidak yakin jika Xun Tian dapat melukisnya dengan baik. Lebih dari itu, ia sangat tidak yakin jika karya Xun Tian akan laku. Menilai dari ide bodohnya.
Sementara Xun Tian, dia telah bertekad untuk melukis wajah Chang Ling. Dia pun pergi meninggalkan Chang Ling di ruangan itu. Selang beberapa saat kemudian, ia datang kembali. Bersama dengan seorang pria yang dikenalnya secara tidak sengaja. Nama pria itu adalah Chen Zheyuan. Dia adalah seorang pemilik toko karya seni, khususnya lukisan.
"Bagaimana menurutmu? Bukankah dia sangat tampan?" Xun Tian meminta pendapatnya kepada Chen Zheyuan.
"Dia memang sangat tampan. Namun, alasanku membawa kalian bukan untuk itu," kata Zheyuan.
"Lalu? Kenapa sebelumnya kau bersikeras menawarkan pekerjaan bagus?" Xun Tian mulai penasaran dengan tujuan Zheyuan membawa mereka ke kota.
"Sepertinya, kita memang berjodoh. Saat pertama kali aku melihat kalian, sekilas saja aku dapat menemani jika kalian berdua memiliki aura positif yang sangat kuat. Juallah aura positif kalian padaku?" ujarnya.
Xun Tian tidak mengerti maksud perkataan Zheyuan. Ia hanya menatapnya dengan mulut menganga dan kedua alis yang dinaikkan.
"Apa mungkin ... Kau seorang dukun? Kau bisa membeli aura seseorang? Bagaimana caranya? Tidak, tidak. Aku yakin kau memiliki maksud yang tidak baik." Xun Tian pun mulai curiga.
"Dasar pembuat onar. Hei, di mana kau mengenal pria aneh ini, hah? Menjual aura positif hanya demi beberapa koin? Jangan harap!" timpal Chang Ling.
Xun Tian membisu karena tidak tahu harus berkata apa. Sepertinya memang benar yang dikatakan oleh Chang Ling, dia memang telah membawa masalah yang rumit. Sesaat dia lalai karena membutuhkan uang. Dunia kejam, hati manusia tidak bisa ditebak. Seharusnya dia mengingat kalimat itu.
"Hehe, Tuan, aku tidak tahu akan seperti ini. Aku pikir ... ." Xun Tian belum sempat menuntaskan perkataannya dan langsung dipotong oleh Chang Ling.
"Omong kosong! Cepat lepaskan aku sekarang juga!" perintah Chang Ling dengan nada menyentak.
"Mohon tenang, Mohon tenang. Aku tidak seperti yang kalian pikirkan," kata Chen Zheyuan dengan senyum tersungging.
"Memangnya, kau tahu apa isi pikiran kami? Kau pria licik!" timpal Xun Tian.
"Eiit ... Kau tidak bisa berkata seperti itu. Sebelumnya, aku sudah memberi kalian tumpangan. Hutan sangatlah berbahaya ketika malam hari. Bayangkan saja bagaimana nasib kalian malam itu, jika aku tidak membawa kalian bersamaku. Selain itu, biaya perjalanan tidaklah murah. Aku adalah seorang pebisnis. Semua yang kukeluarkan tidaklah gratis. Namun jika kalian bersedia membuat kesepakatan bersamaku, aku pastikan tidak akan menghitung semuanya. Bahkan, aku bisa memberikan beberapa tael perak. Bagaimana?" Zheyuan ingin mencapai kesepakatan dengan strategi liciknya.
"Kau memang rubah licik. Jika tahu seperti ini, lebih baik mati diterkam binatang buas di hutan!" celetuk Xun Tian karena kesal.
"Kau lihat, semua gara-gara tindakan cerobohmu itu!" Chang Ling turut menyalahkan Xun Tian.
"Baiklah. Jika kalian tidak setuju, aku akan menghitung semua biaya yang harus kalian bayar. Biaya perjalanan sangatlah jauh. Karena aku baik, aku akan memberi harga 20 tael perak. Tunggu, apa itu terlalu murah? Bagaimana jika 30 tael perak? Ah, benar. Kalian juga telah menginap di sini selama semalam. Selain itu, kau gadis, makanmu sangat banyak. Jika dijumlah, total keseluruhan yang harus kalian bayar adalah 70 tael perak," cetus Zheyuan.
"Kau! Kau sangat berlebihan. Kau memang rentenir licik!" umpat Xun Tian.
"Sudah kubilang, aku seorang pebisnis. Aku tidak melakukan sesuatu secara cuma-cuma. Jika kalian tidak bersedia menjual takdir kalian, tidak bersedia membayar semua hutang, maka siap-siap menjadi budakku. Jika kalian bersikeras tidak ingin melakukan semua itu, jangan salahkan aku yang akan melaporkan kalian sebagai pencuri," ancamnya.
Mendengar hal itu, Xun Tian dan Chang Ling hanya terdiam seribu bahasa. Mereka tidak pernah tahu jika mereka akan terjerat dengan seorang penipu ulung. Chang Ling semakin membenci Xun Tian karena merasa semua hal buruk terjadi kepadanya, semenjak dia mengenal Xun Tian.
"Tidak pernah ada hal baik sejak aku bertemu denganmu. Semua salahmu!" Chang Ling menyalahkan Xun Tian atas segalanya.
"Kau! Dasar para pria. Selalu saja menyalahkan wanita. Hei, jika bukan karena kau, aku tidak mungkin terlibat sejauh itu. Selain itu, salahmu membuang semuanya!" balas Xun Tian yang tidak ingin kalah.
"Diam!" Zheyuan menghentikan keduanya, sebelum melanjutkan perdebatan panjang beronde-ronde.
"Kau yang diam!" balas Xun Tian dan Chang Ling secara bersamaan.
Zheyuan pun tertegun. Kini, dia menjadi target yang paling disalahkan oleh mereka berdua.
"Kau bilang kau membeli takdir. Apa maksudnya? Bukankah kau penjual lukisan?" Xun Tian mulai penasaran.
"Ehem, kau salah besar. Aku bukanlah penjual lukisan, tapi pembeli takdir," cetusnya.
"Lalu bagaimana dengan lukisan-lukisan itu? Apa kau tidak menjualnya?" tanyanya.
"Tentu saja tidak. Karena sebenarnya, semua lukisan itu bukanlah lukisan biasa. Semua lukisan yang ada di toko ini adalah bukti transaksi. Semua orang memiliki takdirnya, dan tidak ada seorang pun yang dapat merebut takdir orang lain," jelasnya.
Xun Tian bagai mendengar suara angin. Tidak ada satu pun yang dia mengerti.
"Apa maksudnya?"